Warung Kopi Klotok, Makan Menu Ndeso Pinggir Sawah

Facebooktwittergoogle_plusredditmail

Jogja, sebuah kota yang istimewa. Kata Joko Pinurbo, Jogja tercipta dari rindu, pulang dan angkringan. Kata saya, Jogja terbuat dari kenangan dan makanan.

Lahir dan besar di Jogja, menjadikan lidah saya akrab dengan rasa makanan Jogja yang sebagian besar manis. Meski begitu, kuliner Jogja tak melulu gudeg. Banyak kuliner lain yang wajib kamu cicipi jika datang ke Jogja. Apa saja makanan tersebut? Salah satunya adalah Warung Kopi Klotok di Jogja bagian utara.

Sejak pertama kali muncul, Warung Kopi Klotok sudah punya tempat tersendiri di hati pecinta kuliner. Saya penasaran, apa sih yang membuat Warung Kopi Klotok begitu digandrungi?

Suatu pagi, saya bersama suami bersepakat untuk sarapan di Warung Kopi Klotok. Kami menuju Jalan Kaliurang km 16. Dari jalan raya, kami belok ke sebuah gang yang berada di kiri atau timur jalan. Tak berapa lama, sampailah kami di sebuah warung yang sudah sangat ramai.

Mobil dan motor yang parkir di halaman rata-rata tidak berplat AB (Jogja), melainkan berasal dari luar kota. Bahkan saya melihat beberapa turis asing sarapan di Warung Kopi Klotok.

Ramai sekali ketika saya kesini

Bangunan Warung Kopi Klotok berbentuk joglo atau pendopo. Nuansa tradisional dan lampau kental terasa. Mungkin karena dekorasi ruangannya vintage. Lengkap dengan kursi dan meja jadul. Di dinding Warung Kopi Klotok, terpajang berbagai pigura yang berisi kesan dan tanda tangan para tokoh publik yang pernah makan di sini.

Saat saya ke Warung Kopi Klotok, antrian mengular. Warung ini mengusung konsep prasmanan sehingga pengunjung boleh mengambil makanan sebanyak apapun. Seperti dugaan saya, ternyata menu yang tersedia adalah lauk dan sayuran desa. Sebut saja tempe garit, tahu bacem, sayur asem, sayur lodeh kluwih, lodeh terong dan telur krispi.

Setelah mengambil makanan, saya dan suami mencari tempat duduk, tapi semuanya penuh. Akhirnya kami keluar dari joglo, dan ternyata pihak Warung Kopi Klotok menyediakan tikar. Jadilah kami menggelar tikar di halaman yang memang diperuntukkan bagi para pengunjung.

Menikmati makanan desa ditemani pemandangan yang luar biasa adalah kenikmatan tersendiri. Di depan saya terhampar sawah. Ibu-ibu petani menanam padi sambil bersenda gurau. Kata suami saya, obrolannya khas desa sekali.

Ngopi pagi bersama suami=)

Di belakang sawah, Gunung Merapi berdiri dengan gagah. Pemandangan yang istimewa. Apalagi sambil menyeruput kopi klotok bersama orang yang disayang. Kopi klotok berwarna hitam ini sensasi rasanya menggelora. Tidak terlalu pahit, manisnya pas, tetapi aroma kopinya kuat. Saat itu juga, kopi klotok menjelma menjadi kopi favorit saya.

Bagi yang belum tahu, kopi klotok dibuat dengan cara yang agak berbeda, yaitu bubuk kopi dimasak di dalam panci tanpa air. Setelah menebarkan aroma gosong, baru air dituang. Lalu kopi direbus hingga mendidih. Bubuk kopi yang terpanggang dan lengket di atas panci akan terkelupas saat disiram air. Dalam Bahasa jawa, bubuk itu disebut nglothok (mengelupas).

Masyaallah pemandangannya

Oh ya, selain telur krispi dan tempe garit, pisang goreng Warung Klotok tak kalah maknyus! Sama enaknya dengan wedang jahe geprek dan teh tubruk gula batunya. Membayangkannya saja sudah membuat saya meneteskan air liur.

Total harga yang saya bayar adalah 46.000 rupiah untuk dua porsi nasi sayur, dua telur krispi, dua tempe garit, segelas es teh, dan segelas kopi klotok. Sebuah harga yang wajar untuk menikmati makanan yang bisa membawamu bernostalgia dengan kehidupan di desa.

Alamat: Jalan Kaliurang Km 16, Pakembinangun, Pakem, Sleman.

Jam buka: 06.00- 22.00 wib

(Visited 17 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditmail

Leave a Reply

error: Content is protected !!