Selimut Polusi Bikin Bumi Kepanasan. Kita Bisa Apa?

Facebooktwitterredditmail

Selimut polusi bikin langit jadi suram. Langit biru kapan muncul lagi? Tak harus menunggu pandemi datang, kan?

Selimut polusi penyebabnya?

Siapa yang masih ingat dengan kondisi langit Jakarta yang mendadak berwarna biru, tak seperti biasanya. Langit biru tercipta kala Jakarta lengang, tanpa dilalui banyak kendaraan. Langit biru terjadi saat pabrik tak beroperasi. Langit biru yang dinanti-nanti oleh para warga ibukota. 

Tapi sekarang? Langit Jakarta keruh lagi, abu-abu. Kualitas udara di Jakarta dan kota lain menurun. Hari ini tanggal 19 Oktober 2022, tingkat polusi di Jakarta berada pada range “Tidak sehat bagi kelompok sensitif” dengan indeks kualitas udara 123 AQI US. Untuk polutan utamanya PM2,5 dengan konsentrasi  29,5 µg/m³. Nilai PM2.5 di Jakarta saat ini 5.9 kali nilai panduan kualitas udara tahunan WHO.

Untuk menjaga kesehatan masyarakat, bahkan terbit rekomendasi untuk menutup jendela agar terhindar dari udara luar yang kotor. Kelompok sensitif sebaiknya mengurangi aktivitas di luar. Iya, sengeri itu!

Bukan hanya berdampak pada kesehatan, selimut polusi membuat bumi semakin panas dan menyebabkan perubahan iklim.

Faktor perubahan iklim
Infografis dari IndonesiaBaik.id

Menurut UU No. 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, perubahan iklim merupakan iklim yang berubah sehingga mengakibatkan berubahnya komposisi atmosfer. Selain itu, terjadi pula perubahan kondisi iklim yang dicek pada rentang waktu tertentu.

Dampak perubahan iklim sangat luas mulai dari menurunnya kuantitas dan kualitas air, hingga berubahnya habitat, dan peningkatan wabah penyakit.

Dampak dari Perubahan Iklim

Lebih lengkapnya, perubahan iklim dapat mengakibatkan hal-hal di bawah ini:

Selimut polusi
Infografis dari IndonesiaBaik.id
  1. Meningkatnya suhu bumi

Menurut data dari NASA (National Aeronautics and Space Administration), suhu permukaan bumi pada tahun 2021 naik 0,86 derajat Celcius dibandingkan suhu rata-rata tahunan pada periode 1951-1980. Kenaikan suhu ini disebabkan oleh ulah manusia yaitu meningkatnya polusi karbon dioksida dan gas rumah kaca ke atmosfer bumi.

Berapa suhu bumi sekarang?

Pemanasan global ini berdampak ke semua lini. Termasuk berefek negatif ke lingkungan, seperti terjadinya kebakaran hutan, naiknya permukaan air laut, hingga pola migrasi hewan menjadi berubah.

  1. Terjadinya bencana

Saat suhu meningkat, uap air banyak menguap. Kondisi ini dapat mengakibatkan curah hujan ekstrem dan banjir hingga terjadi badai yang merusak. Badai tersebut menghancurkan bangunan, pohon, bahkan mengakibatkan kematian. Selain banjir dan badai, bencana kabut asap akibat kebakaran hutan juga terjadi akibat perubahan iklim.

  1. Pergeseran musim 

IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) menyebutkan bahwa pemanasan global akibat perubahan iklim bisa mengakibatkan terjadinya perubahan pola hujan yaitu musim hujan akan berlangsung cepat dengan intensitas curah hujan yang lebih tinggi.

Bila drainase tidak bagus, dan selokan tertimbun sampah, curah hujan tinggi bisa menyebabkan banjir dan tanah longsor (sudah terjadi di Indonesia dan di dunia). Akibatnya, sanitasi menjadi buruk sehingga memicu penyakit seperti diare dan penyakit kulit.

Akibat kemarau panjang

Pergeseran musim lainnya adalah musim kemarau menjadi lebih panjang. Akibatnya, terjadi kekeringan di area yang tadinya tidak pernah kekeringan. Tak hanya itu, kemarau berkepanjangan mempengaruhi kehidupan beberapa spesies. Jutaan spesies flora dan fauna akan menghilang karena tidak dapat beradaptasi dengan bumi yang semakin panas.

Akibat kebakaran hutan

Selain itu, kemarau panjang menjadikan virus, bakteri, jamur, dan parasit berkembang dengan cepat akibat tingginya kelembapan udara. Kemarau panjang juga dapat menyebabkan kebakaran hutan menjadi lebih sulit untuk dipadamkan. Akibatnya, masyarakat sekitar akan mengalami infeksi pada saluran pernapasan karena kabut asap dan kualitas udara yang buruk.

4. Berkurangnya sumber air

Ketersediaan air ikut terpengaruh di beberapa wilayah. Hal ini bisa berdampak pada sektor pertanian dan perkebunan. Akibatnya, terjadi pengingkatan risiko terjadinya krisis persediaan makanan karena potensi gagal panen meningkat, dan akibat adanya krisis air bersih.

5. Meningkatnya permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub

Mencairnya lapisan es di kutub mengakibatkan meningkatkan volume air laut. Kondisi ini mengancam komunitas di pulau dan pesisir. Yang menyedihkan adalah, ketika terjadi perubahan iklim, emisi karbon dioksida meningkat. Padahal jika karbon dioksida lebih banyak terserap oleh lautan, terumbu karang dan berbagai kehidupan biota laut akan terancam.

Selain itu, meningkatnya permukaan air laut akan mengakibatkan tenggelamnya pulau-pulau kecil dan daerah pesisir.

Sebenarnya, apa saja sih penyebab polusi udara?

Penyebab Polusi Udara

Ada banyak penyebab polusi udara, baik yang disebabkan oleh polutan partikulat dan dan pollutan gas. Polutan partikulat berasal dari aktivitas industri, kendaraan, hingga kebakaran hutan. Sedangkan polutan gas misalnya CO yang berasal dari pembakaran lahan gambut dan SO2 dari bahan bakar yang mengandung sulfur.

Kenapa bisa ada selimut polusi?

1. Penambangan 

Aktivitas penambangan dapat menyebabkan pencemaran udara. Karena adanya penggunaan alat berat. Sehingga ketika proses penambangan terjadi, debu dan bahan-bahan kimia akan dilepaskan ke udara. Hal inilah yang mengakibatkan polusi.

2. Asap Pabrik 

Sumber polusi udara berikutnya adalah asap pabrik. Asap ini biasanya dikeluarkan melalui cerobong asap yang langsung terhubung ke udara. Asap pabrik menjadi penyumbang terbesar gas karbon di udara. Polusi yang ditimbulkan dari asap pabrik membuat lingkungan jadi berkabut dan rentan terkena sakit saluran pernapasan.

3. Penggunaan Listrik 

Penggunaan listrik yang berlebihan dapat mengakibatkan pencemaran udara karena produksi listrik di Indonesia mengandalkan batu bara yang menghasilkan limbah pollutan. Begitu juga dengan penggunaan AC dan kulkas. Barang-barang elektronik tersebut menggunakan gas buatan bernama chlorofluorocarbon (CFC) atau klorofluorokarbon.

Mengutip dari buku karya Saidal Siburian, M.M berjudul Pencemaran Udara dan Emisi Gas Rumah Kaca, satu unit molekul CFC dapat merusak 100.000 unit molekul ozon.

Oleh karena itu, penggunaan AC dan kulkas dengan kandungan gas CFC dapat membuat lapisan ozon semakin rusak. Selain itu, CFC merupakan zat yang dapat menghasilkan efek pemanasan ribuan kali dari karbon dioksida sehingga terjadi efek rumah kaca. 

4. Kendaraan Bermotor 

Di Indonesia, orang-orang lebih suka mengendarai kendaraan pribadi dibanding naik transportasi umum atau berjalan kaki. Padahal, asap kendaraan bermotor/ asap dari knalpot justru menyumbang polusi udara.

5. Pembakaran Lahan 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa untuk membuka lahan baru, banyak perusahaan yang mengambil cara cepat yaitu membakar lahan lama. Tak jarang, area yang dibakar adalah hutan gambut.  Akibatnya asap mengepul di udara sehingga mengakibatkan polusi termasuk kabut asap. Jika lahan gambut yang dibakar, emisi karbon terlepas ke udara mengakibatkan selimut polusi yang mempercepat pemanasan global. 

6. Limbah Rumah Tangga 

Membakar sampah plastik dan kertas sudah dilarang oleh pemerintah, tapi masih ada saja masyarakat yang melakukannya. Padahal asap yang dihasilkan justru mencemarkan udara.

Pembakaran yang tidak sempurna dapat memunculkan gas beracun seperti gas sulfur dioksida, nitrogen oksida, karbon dioksida, dan partikulat. Gas-gas tersebut akan membahayakan lingkungan. 

Sampah organik yang dibungkus plastik juga melepaskan gas metana yang bisa meledak bila terakumulasi dan terperangkap. Gas metana juga mudah terbakar sehingga seringkali terjadi kebakaran di TPA. Seharusnya, lakukan 3R yaitu reduce, reuse, dan recycle. Sedangkan sampah organik bisa dibuat kompos.

Pencegahan Polusi Udara

Lalu bagaimana caranya agar polusi udara berkurang sehingga tidak mengakibatkan selimut udara?Berikut ini adalah beberapa usaha yang dapat sahabat ismi lakukan untuk mencegah pencemaran udara:

  1. Mengurangi emisi (pencemaran udara dari aktivitas manusia)

Emisi bisa dikurnagi dengan berbagai cara, antara lain memilih untuk menggunakan transportasi publik dibanding kendaraan pribadi, rutin mengecek emisi kendaraan pribadi, dan tidak lagi membakar sampah/ membungkus sampah organik dengan plastik kresek.

  1. Mendaur ulang barang

Mendaur ulang barang bermanfaat agar barang yang masih layak pakai tidak menjadi sampah. Gunakan barang sampai benar-benar rusak. Barang yang telah rusakpun masih bisa didonasikan ke pihak ketiga yang mampu mendaur ulang. Daur ulang bisa dalam bentuk memanfaatkan menjadi barang baru yang lebih bernilai seperti menjadi kerajinan tangan, atau bahkan dihancurkan untuk menjadi bentuk baru (misal sampah kertas/koran bekas jadi kertas daur ulang).

  1. Konsumsi produk yang  lebih sustainable

Mulailah beralih ke produk yang ramah lingkungan. Misalnya saja lebih memilih minyak kelapa, dibanding minyak sawit. Selain itu, gunakan barang-barang organik (yang bisa terurai) dibanding berbahan plastik.

  1. Pengelolaan limbah yang ramah lingkungan

Limbah pabrik maupun limbah rumah tangga bila dikelola dengan baik akan berdampak pada polusi udara. Misalnya saja sisa makanan (food waste) dimasukkan ke biopori justru bagus untuk tanah. Sedangkan asap pabrik diusahakan untuk dikurangi sehingga tidak mencemari lingkungan.

  1. Hemat energi

Pilih barang elektronik yang hemat energi (low watt). Selain itu, sahabat ismi bisa mulai untuk mengurangi pemakaian listrik dan penggunaan AC. Cara ini dapat mengurangi jejak karbon dan dampak gas emisi rumah kaca yang berpengaruh pada pemanasan global.

Jaga Hutan Untuk Mengurangi Polusi dan Menghambat Perubahan Iklim

Hutan diketahui memiliki banyak manfaat yang bisa mencegah terjadinya perubahan iklim. Hutan adalah supermarket, asuransi jiwa, sumber air, penyimpan karbon, hingga penyembuh mental. Bila biodiversity pada hutan tidak dijaga, maka siklus karbon akan berjalan tidak ideal.

Oleh karena itu, penting untuk memastikan pengelolaan hutan berkelanjutan dan reforestasi sehingga hutan bisa menyerap, menyimpan karbon dan melepaskan oksigen. Dalam bahasa awam, hutan yang terjaga dengan baik akan mengurangi emisi karbon dan mencegah perubahan iklim.

Yuk, Kolaborasi Untuk Atasi Perubahan Iklim

Untuk mencegah perubahan iklim dan terjadinya selimut polusi, tidak bisa dilakukan sendirian. Butuh kerjasama berbagai pihak, baik stakeholder dan masyarakat. #TeamUpForImpact pastinya akan mempercepat berkurangnya selimut polusi. 

Sebagai WNI, yang bisa sahabat ismi lakukan antara lain mulai dengan mengurangi penggunaan produk tidak ramah lingkungan. Dukung kebijakan yang pro lingkungan. Sahabat ismi juga dapat berpartisipasi untuk menjaga hutan.

Kalau saya memiliki kesempatan membuat kebijakan untuk mengurangi polusi demi mengatasi perubahan iklim, saya akan menerapkan setiap rumah wajib memilah sampah dan memiliki komposter/ biopori. Ya, satu rumah satu komposter. #UntukmuBumiku tidak ada lagi yang namanya sampah menumpuk di TPA. Tidak adalagi emisi karbon yang dihasilkan dari pembakaran sampah atau akibat tumpukan sampah. 

Dengan demikian, #MudaMudiBumi akan memahami bahwa pengelolaan sampah memerlukan waktu, dan tenaga. Harapannya, mereka akan lebih bijak dalam konsumsi. Baik konsumsi makanan, barang elektronik, dan lainnya. 

Selain itu, saya juga akan mewajibkan satu hari dalam seminggu tidak ada kendaraan pribadi di jalanan Indonesia. Setidaknya ada satu hari dimana polusi udara menurun. Lebih lanjut, hal tersebut akan berdampak pada berkurangnya #SelimutPolusi.

Semoga apa yang saya tuliskan di atas dapat membuat pembaca menjadi tergerak hatinya untuk ikut serta dalam mengurangi perubahan iklim. Agar kelak anak cucu tidak “kepanasan” di bumi ini. Ya, mengurangi selimut polusi adalah tugas kita bersama.

Referensi:

https://www.sciencedirect.com/journal/environmental-pollution/about/call-for-papers#non-exhaust-emissions-impacts-on-urban-air-quality-and-health

https://www.iqair.com/id/indonesia/jakarta

(Visited 72 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

22 thoughts on “Selimut Polusi Bikin Bumi Kepanasan. Kita Bisa Apa?

    • Dian Reply

      Selimut polusi ini bisa mempercepat laju perubahan iklim ya mbak
      Tentu kita harus berbuat bersama mengurangi emisi penyebab polusi ini ya

  1. Reyne Raea Reply

    Sedih sih ya sekarang, musim jadi bergeser, bahkan jadi aneh.
    Ada hujan di tengah musim kemarau, ada terik di tengah musim hujan.
    Bahkan lucunya, ada banjir di tengah musim kemarau.

    Merindukan masa lalu ya, di mana bumi belum serusak sekarang.

  2. Jihan Reply

    Ngeri sih emang mbaa makin kesini makin sereemmm efek perubahan iklim makin terasa. tapi kalo ngga cepet dimulai untuk memperbaiki mau sampai kapan? Mau sejauh mana kita membiarkan bumi ini rusak ya mba? huhu

  3. Mei Daema Reply

    sedih sekali kalau sudah melihat kondisi bumi seperti ini, semoga makin berkurang kerusakan alam yang terjadi. selama saya di kalimantan sering sekali melihat kebakaran. yang bisa kita lakukan adalah memulai mengurangi aktifitas atau menggunakan produk yang dapat merusak lingkungan.

  4. Nur Amelia Reply

    Kayaknya memang harus ada edukasi tentang pengolahan sampah ke rumah tangga, khususnya daerah2. Orang aja masih buang sampah sembarangan.
    Bisa juga ke sekolah2, biar generasi muda lebih sadar akan pentingnya menjaga lingkungan.

  5. Juwita Reply

    Banyak hal yang bisa kita lakukan dari hak terkecil ya mb. Masya Allah jika kita juga bisa menularkan pada keluarga dan lingkungan kita.

  6. saraah megha Reply

    memang jadi tantangan jaman sekarang ya mbak, untuk keberlansungan peradaban di masa depan, dimulai dengan diri sendiri, keluarga dan lingkungan terkecil terlebih dahulu

  7. Nurul Rahma Reply

    Duh klo bicara soal polusi ini miriiiisss aja bawaannya ya mba.
    Semoga langkah2 yg kita lakukan bisa ber-impact baik utk kondisi Bumi.
    Gimanapun juga, kita wajib support planet ini

  8. Anggita R. K. Wardani Reply

    Luar biasa sekali dampak perubahan iklim ya. Aku jadi kepikiran untuk bikin komposter biopori, soalnya emang sampah rumah tangga paling gede

  9. Oemy Ikbar Reply

    Serem banget dampak perubahan iklim ini, dan lebih mebakutkannya lagi belum ditemukan teknologi untuk menghentikannya. Jadi perlu kerjasama dan kesadaran dari seluruh penduduk bumi ya…

  10. Uniek Kaswarganti Reply

    Iya juga nih, hawa semakin sering panas dibandingkan sejuk. Belum lagi musim yang kian tak menentu. Bumi sudah tidak baik-baik saja nih, salah satunya karena polusi yang kian tebal menyelimuti. Tugas kita bersama untuk membersihkan kembali bumi tempat kita hidup ini.

  11. Aisyah Dian Reply

    Langit biru di Jakarta memang sangat dirindukan ya mbak. Susah memang ya mendapatkannya Karena Jakarta terlalu padat penduduk juga tingkat polusinya sangat tinggi

  12. Dyah Kusuma Reply

    keren idenya mbak, satu komposter tiap rumah, saya bingung untuk buat ini selain lahannya belum ada, belum belajar lagi mmebuat komposter untuk lahan terbatas

  13. Widyaningsih Reply

    Masyaalloh. Semoga kita masih bisa menjaga dan melakukan hal terbaik untuk bumi kita yang semakin menua. Terima kasih sudah berbagi

  14. Wied Reply

    Semoga kita bisa menjaga dan memelihara bumi yang sudah semakin tua dengan hal sederhana yang kita bisa

  15. Shafira-ceritamamah.com Reply

    melihat sampah setiap hari keluar dari rumah tangga minimal 1 kantong kresek, sudah membuatku overthinking. Mau sampai kapan kita mencemari bumi kita. huhu. semoga langkah-langkah kecil kita dengan menghemat listrik dan mengurangi sampah bisa menyelamatkan bumi.

  16. Shafira-ceritamamah.com Reply

    melihat sampah setiap hari keluar dari rumah tangga minimal 1 kantong kresek, sudah membuatku overthinking. Mau sampai kapan kita mencemari bumi kita. huhu. semoga langkah-langkah kecil kita dengan menghemat listrik dan mengurangi sampah bisa menyelamatkan bumi. aamiin

  17. lendyagassi Reply

    Mari bersama kita menjaga bumi agar lebih sehat.
    Optimis banget kalau edukasinya dilakukan secara masif dan semuanya bergerak bersama. Terus dorong pemerintah untuk mendukung program terkait lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.