Krisis Iklim dan Harapan yang Digantungkan pada COP30

Facebooktwitterredditmail

Apa yang sahabat ismi ketahui tentang krisis iklim? Bumi yang makin panas? Sering banjir dan terjadi bencana alam lainnya? Atau Anda sudah tahu bahwa kekayaan alam Indonesia dikeruk oleh orang-orang serakah tanpa memperhatikan lingkungan? Ya, semua itu benar adanya. Yang paling menyakitkan adalah masyarakat adat yang selama ini menjaga hutan, terkena imbasnya.

Masalah yang dihadapi masyarakat adat di Indonesia

Rukka Sombolinggi perwakilan dari Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara menyampaikan bahwa masalah yang dihadapi oleh masyarakat adat cukup pelik. Wilayah adat alamnya dirusak untuk tambang. Meskipun krisis iklim diklaim dapat diatasi melalui adaptasi dan mitigasi berupa transisi energi, tapi yang menjadi korban adalah masyarakat adat.

Hutan-hutan terbaik yang dijaga masyarakat adat dihancurkan untuk tambang nikel, dibuat bendungan, geo termal, nuklir, dan biofuel.  Semua itu ada di wilayah yg dijaga oleh masyarakat adat. Masalahnya adalah urusan korporasi. Di Indonesia, hutan-hutan terbaik justru diberikan dalam bentuk izin kepada industri. Dengan kata lain, sama saja dengan hutan dihancurkan, karena diberikan ke perusahaan untuk diambil uangnya untuk karbon market. Bahkan konstitusi melalui Mahkamah Konstitusi mengatakan bahwa hutan adat adalah milik masyarakat adat (saat ini sekitar 350 ribu hektar), tapi karbonnya milik negara sehingga karbonnya/hasilnya diambil oleh negara. Menyedihkan bukan?

masyarakat adat di indonesia

Termasuk Papua sedang dihancurkan untuk energi estate. Tanah masyarakat adat dihancurkan tanpa inform consent, tidak ada izin. Hutan justru dialih fungsikan menjadi food estate dan energy estate. Padahal hutan adalah ekosistem bagi flora dan fauna, sekaligus “supermarket” untuk masyarakat adat. Negara kita memang lemah, karena membuat UU yang terus melegitimasi merampas wilayah adat.

Selain itu, banyak masyarakat adat mengalami kriminalisasi, dan perampasan wilayah adat dilegalkan oleh hukum. Sebenarnya masyarakat adat tidak menolak pembangunan, ingin berkontribusi sepenuhnya oleh pembangunan, tapi mereka tidak mau dan tidak rela jika pembangunan berdiri di atas darah dan airmata, atau berdiri di atas kepunahan masyarakat adat.

Bagaimana dengan masyarakat adat dan komunitas lokal di negara lain?

Mereka mengalami hal yang sama. Di dunia ini, ada negara pengkontamininasi bumi yang menolak membayar dampak krisis iklim. Ada pula negara yang sudah “tenggelam” karena krisis iklim. Selain itu, ada negara yang hidup dari minyak bumi sehingga tidak akan berhenti mengeksplotasi minyak dari fosil. Lalu siapa yang pertama kali merasakan dampaknya? Tentu saja masyarakat adat.

masyarakat adat di brazil

Tantangan lainnya yang dihadapi oleh masyarakat adat adalah dukungan global dari filantropi dan donor hanya di atas kertas. Ada pendanaan tapi uangnya tidak msuk ke kampung-kampung, hanya sampai lembaga-lembaga intermediary. Padahal dana tersebut dibutuhkan untuk menjaga dunia.

Padahal panel dunia mengakui bahwa saat ini bumi masih bisa bertahan karena sebagian besar alam-alam terbaik, ekosistem terbaik dijaga oleh masyarakat adat. Di tengah krisis iklim, salah satu hal yang bisa membawa keluar dari krisis adalah masyarakat adat sehingga kita harus melindungi dan mendukung masyarakat adat.

Pertanyaan berikutnya adalah apa yang bisa kita lakukan?

bantuan untuk masyarakat adat

Masyarakat adat di Indonesia berkumpul di AMAN, dengan lebih dari 500 komunitas, dan lebih dari 200 juta jiwa. AMAN memiliki barisan pemuda adat nusantara, persekutuan perempuan adat, persatuan pengacara, dan yang terbaru pada tanggal 9 Agustus launching asosiasi jurnalis masyarakat adat. Jurnalis-jurnalis dari kampung ini menjadi tonggak komunikasi masyarakat adat, dan advokasi. AMAN mendirikan sekolah adat, membantu bagaimana masyarakat adat berhadapan dengan masalah adat, memperkuat ekonomi masyarakat adat, serta melakukan upaya-upaya pemulihan di wilayah adat akibat perusakan perusahaan atau kerusakan alam akibat krisis iklim. AMAN memanggil anak-anak muda untuk pulang kampung menjaga dan memelihara wilayah adat. Anak muda yang depresi dan tidak cocok hidup di kota, pulang untuk hidup yang lebih baik. Kalau sahabat ismi ingin tahu lebih detail tentang AMAN, langsung cek ke www.aman.or.id

aman komunitas masyarakat adat

Selain melalui AMAN, masyarakat adat dan komunitas lokal di seluruh dunia dapat menggantungkan harapannya melalui COP30.

Apakah itu COP30, dan bagaimana COP30 dapat membantu masyarakat adat?

ada apa di cop30 Brazil?

Pada sosialisasi COP30 yang diikuti oleh berbagai perwakilan masyarakat adat dan komunitas lokal di dunia, Laila Zaid dari Brazil mengatakan bahwa COP30 merupakan acara besar yang dipimpin oleh PBB. Hampir 200 negara berkumpul untuk menghadapi krisis iklim. COP30 di selenggarakan di dalam hutan, di Amazon Brazil sehingga amat simbolik. Mata dunia perlu melihat adanya deforestikasi, ketidaksetaraan sosial yang tengah terjadi, dan pentingnya krisis iklim. Di COP30, para pemimpin dunia akan duduk dan bernegosiasi apa yang bisa dilakukan untuk beradaptasi terhadap krisis iklim.

Selain itu, Lucia Ixchiu dari Spanyol menyatakan pentingnya merasakan darimana asal kita, dimana masyarakat adat tumbuh dikelilingi pohon-pohon. Masyarakat adat diharapkan dapat melakukan advokasi di COP30 sehingga dunia memahami hak dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat adat saat ini.

Yang perlu digaris bawahi adalah, apakah suara kita sebagai rakyat bisa berdampak?

Masyarakat adat mempunyai ilmu pengetahuan yang diturunkan yang berguna untuk menjaga ekosistem terbaik. Mereka perlu dukungan finansial secara langsung. Oleh karena itu, kita seharusnya merekognisi dan melindungi para guardian penjaga planet dan peradaban. Melindungi masyarakat adat berguna untuk seluruh dunia. Kesimpulannya adalah, dimanapun kita berada sebaiknya kita mengubah gaya hidup menjadi yang lebih adil dan lestari.

cara mengatasi krisis iklim

Kini keputusan ada di tangan sahabat ismi, mau diam saja melihat krisis iklim yang menggerogoti kelestarian masyarakat adat? Atau tetap berisik sampai pemerintah dan pemimpin dunia menyadari keberadaan masyarakat adat yang harus dijaga dan dilindungi? The choice is yours!

(Visited 68 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

20 thoughts on “Krisis Iklim dan Harapan yang Digantungkan pada COP30

  1. Tanti Amelia Reply

    ternyata perjuangan melawan krisis iklim buat sebagian besar masyarakat adat dan dibantu COP 30 itu gak kaleng-kaleng ya, bukan cuman headline numpang lewat misiii misiiii

    Yang jelas kita suarakan isi hati kita dengan maksimal. Didengar atau tidak? O tentu saja didengar – walau yang “berkepentingan” tidak peduli hiks hiks

    dengan konsisten meyuarakan minimal kita bisa “menggeser jarum” ..s emangaaattttt

  2. Okti Reply

    Iklim sekarang memang sudah memperlihatkan dampaknya ya
    Bencana sudah terjadi dimana-mana dengan tidak mengenal waktu dan tempat
    Semoga saja upaya masyarakat adat untuk kelestarian alam dan bumi banyak yang mendukung…

  3. Rahmah Reply

    Harusnya bukan lagi orang luar yang nyemangatin kita
    Tapi kita yang nyemangatin diri bahwa krisis iklim itu nyata
    Perlu aksi nyata untuk dilakukan secara masif
    Setidaknya ada harapan untuk lebih baik

  4. Mugniar Reply

    Miris baca kisah² masyarakat adat. Mereka sudah berabad-abad menjaga alam terpinggirkan untuk nafsu penguasa. Semoga COP30 bisa membantu mengembalikag hak masyarakat adat secara perlahan.

  5. Myra Reply

    Saya memilih untuk tetap berisik. Permasalahan krisis iklim ini udah sangat butuh tindakan segera. Saya yakin kalau semakin banyak masyarakat yang mulai menyadari masalah ini, pemimpin dunia juga terpengaruh dengan suara masyarakat.

  6. Okti Reply

    Sosialisasi COP30 semoga semakin meluas dan sampai kepada masyarakat terbawah. Masalah iklim ini yang kena dampaknya kan masyarakat bawah juga. Mereka para pemilik tambang asyik aja berfoya-foya sementara dampak dari tambang yg merusak alam dan lingkungan tidak bisa kita hindari lagi ya

  7. Rosanna Simanjuntak Reply

    Jujur, setelah kian lama absen dari rimba persilatan eh per blog-Walking-an, aku merasa seperti tertinggal jauh. Hihihi.
    Untung mampir di sini jadi tahu apa kepanjangan AMAN.
    Namun secara pribadi, kadang kala nurani aku sering merintih dengan beberapa kebiasaan adat ini.
    Saat bekerja di pertambangan emas di pedalaman Kalimantan sekitar tahun 1992, aku pernah menyaksikan langsung acara adat di suatu daerah di Kaltim di mana kerbau, hidup, gendut, sehat ditusuk berkali-kali sehingga bermandikan darah. Betapa tersiksanya dia. Hiiks.

  8. Lusi Reply

    Memang seharusnya ada yang bantu sih. Anak-anak muda keluar dari komunitasnya karena ingin mencari penghidupan yang lebih baik. Jika komunitas itu diberi fasilitas yang baik untuk mengembangkan diri, mereka akan bertahan dan membangun daerahnya.

  9. lendyagassi Reply

    Masku dapet tugas mengajar di Kabupaten Keerom, Papua.. ka Di.
    Dan mashaAllaah.. ada banyak sekali tantangan masyarakat adat ini.
    Tapi sungguh dengan pemikiran sederhana mereka, hutan Indonesia bisa terjaga dan tetap dengan fungsinya, yakni “paru-paru dunia” yang menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida, serta berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem global.

  10. Naqiyyah Syam Reply

    ternyata soal iklim ini kita emang harus saling bahu membahu ya termasuk masyarakat adat jangan sampai cuek dengan kebutuhan masa depan kita. Anak muda juga perlu diedukasi nih.

  11. Aisyah Dian Reply

    Pernah tinggal di beberapa wilayah Borneo membuat saya sedikit banyak mengetahui tentang suku adat dllnya. Semoga masalah ini cepat ada jalan keluarnya ya

  12. April Hamsa Reply

    Aku tu suka kasihan sama masyarakat adat, sekarang terpinggirkan, sayangnya tak bisa berbuat apa2 selain bantu sebarkan berita dan bantu doa.
    Lha gimana, rezim pemerintahan yang sekarang aja keknya pada nggak sinkron kebijakan2nya terkait alam. Ada yang hobi nambang, ada yang koar2 soal jaga lingkungan, tapi kita bisa lihat sendiri siapa pemenangnya…
    Yaaa moga2 yaa COP30 ini bisa membuka mata dunia, minimal buka mata hati para pejabat negeri ini supaya makin berusaha menjaga lingkungan, khususnya hutan, jangan dirusak mulu atas nama pembangunan.

  13. Fenni Bungsu Reply

    Masyarakat adat yang menjadi garda terdepan menjaga hutan kita, tapi sayangnya kurang di dukung malah hutan² kita dibabat begitu saja okeh yah tak bertanggung jawab. Tentunya kita perlu mendukung masyarakat adat buat gerak bersama menjaga hutan dan kelestarian lingkungan ini

  14. Ika Hardiyan Aksari Reply

    Tema “krisis iklim + harapan di COP30” ini sangat krusial. Banyak orang masih gagal menyadari bahwa COP bukan sekadar “panggung diplomasi”, tapi juga kesempatan nyata untuk menuntut keadilan iklim, pendanaan, dan tindakan konkret dari negara-negara beremisi besar.

    Paling tidak aku bisa share hal ini ke muridku agar mereka juga sedikit paham, karena mereka adalah penerus kita.

  15. Sri Al Hidayati Reply

    Ternyata kita selama ini bisa hidup berdampingan dengan mereka ya, dan banyak banget ternyata masyaAllah ada lebih dari 200 juta jiwa. Insight banget tulisannya makasih mba. COP30 ini moga disosialisakan dan direalisasikan yaa untuk keadaan bumi lebih baik juga. Aamiin

  16. Uniek Kaswarganti Reply

    COP30 klo bisa diadakan di tengah2 hutan Papua atau Kalimantan, yg jejak deforestasinya luar biasa. Semoga saja ada kebijakan yang mendukung pelestarian tanah adat. Jadi negara tuh tidak hanya mengeksplorasi bumi habis2an, tapi juga menjaga kelestarian lingkungannya. Karena hidup di bumi kan tidak hanya untuk saat ini saja.

  17. Mugniar Reply

    Krisis semakin luas tetapi kesadaran semakin banyak, pelan-pelan. Semoga secara kolektif bisa menimbulkan perbaikan pada iklim kita.

  18. Dwi Septia Reply

    Krisis iklim ini menjadi masalah yang serius ya, apalagi saat tidak ada upaya yang dilakukan untuk mengatasi emisi yang ditimbulkan.

  19. Jiah Al Jafara Reply

    Masyarakat Adat itu mengandalkan alam untuk banyak hal di hidup mereka. Kalau alamnya rusak, pasti berdampak besar buat mereka. CPO30 semoga makin dikenal dan meluas. Mari bersama untuk jaga bumi

Leave a Reply

Your email address will not be published.