7 Cara Cegah Perubahan Iklim dan 5 Cara Jaga Hutan

Facebooktwitterredditmail

Perubahan iklim apakah berbahaya? Sahabat ismi merasa kah kalau udara saat ini semakin panas? Belum lagi banjir yang terjadi di daerah-daerah yang dulunya tidak pernah dilanda banjir. Apakah ini perasaan saya saja, atau memang faktanya begitu?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, sebenarnya apa sih iklim itu? Apa bedanya dengan cuaca? Kalau cuaca panas masih wajar ya, tapi kalau iklim semakin panas kan wow.

Apa Itu Cuaca dan Iklim?

Menurut KBBI cuaca didefinisikan sebagai keadaan udara (tentang suhu, cahaya matahari kelembapan, kecepatan angin, dan sebagainya) pada satu tempat tertentu dengan jangka waktu terbatas.

Sedangkan iklim adalah iklim didefinisikan sebagai keadaan hawa (suhu, kelembapan, awan, hujan, dan sinar matahari) dalam jangka waktu yang agak lama (30 tahun) di suatu daerah. Menurut NASA, iklim adalah gambaran pola cuaca jangka panjang di suatu daerah.

Dengan kata lain, cuaca itu jangka pendek seperti cerah, berawan, hujan, berangin, bersalju, dan lain-lain. Sementara iklim jangka panjang misalnya iklim tropis, subtropis, iklim dingin dan sebagainya.

Makanya ketika terjadi perubahan iklim, terasa sekali bedanya. Daerah yang seharusnya beriklim dingin misalnya, tapi tiba-tiba terjadi kebakaran hutan di sana, kan aneh.

Lalu bagaimana ceritanya kok bisa terjadi perubahan iklim?

Setidaknya ada 6 penyebab perubahan iklim di dunia, yaitu listrik dan produksi panas (25%), pertanian, hutan, dan penggunaan lahan lainnya (24%), industri (21%), transportasi (14%), energi lain (10%), bangunan (6%).

Penyebab emisi karbon

Semua berawal dari emisi gas. Aktivitas- aktivitas di atas mengeluarkan emisi karbon. Hal ini menjadi masalah ketika jumlah karbon yang dikeluarkan ke atmosfer jauh lebih besar daripada kemampuan bumi untuk menyerapnya kembali.

Jadi, karbon di udara itu tidak akan hilang, melainkan berubah bentuk. Nah, sejak tahun 1950, jumlah karbon yang ada di atmosfer bumi jauh lebih besar daripada batas aman.

Kejadian ini jelas menimbulkan bahaya, karena partikel karbon di atmosfer menjadi pantulan cahaya matahari. Hal inilah yang menyebabkan sinar matahari jadi melompat-lompat sehingga bumi makin panas.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sektor LUCF (hutan dan lahan lainnya) justru jadi penyumbang terbesar emisi karbon (43,6%). Diikuti dengan energi (36,9%), dan lainnya (19,5%).

Bayangkan, hutan Indonesia yang seharusnya jadi penyumbang oksigen, malah berdampak sebaliknya yaitu jadi penyumbang emisi karbon. Kok bisa? Ternyata, emisi pada sektor hutan dan lahan terjadi karena hilangnya hutan (deforestasi), dekomposisi gambut, dan kebakaran lahan gambut.

Yup, kebakaran gambut jelas pukulan telak bagi Indonesia. Gambut idealnya seperti spons yaitu ketika musim hujan dia menyimpan air yg banyak. Ketika kemarau dia memberikan air ke sekelilingnya.

Dekomposisi gambut terjadi ketika gambut tidak seelastis spons lagi sehingga penyerapan airnya tidak maksimal. Akibatnya, gambut bisa menjadi kering dan terjadi kebakaran. Mirisnya, kebakaran gambut tidak hanya mengeluarkan CO2 saja tapi juga metana.

Dampak perubahan iklim?

Lalu apa dampaknya bila terjadi perubahan iklim?

Faktanya, telah terjadi kebakaran hutan di Siberia. Padahal negara tersebut merupakan negara dengan suhu dingin. Selain itu, terjadi peningkatan risiko kota-kota di dunia yang akan tenggelam. Bahkan yang terseram adalah bisa terjadi krisis air.

Akibat perubahan iklim

Yup, diprediksi pada tahun 2025, hanya 2/3 warga dunia yang bisa mandi. Belum lagi pertanian juga terdampak karena air untuk sawah berkurang. Akibatnya tentu saja akan semakin banyak orang yang menderita kelaparan di dunia. Kenapa? Karena pertaniannya terdampak akibat krisis air=(

7 Cara Mencegah Perubahan Iklim

Cara menjaga hutan

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah perubahan iklim?

Kak Salma Zakiah dari Madani Berkelanjutan, menyampaikan lima cara yang bisa dilakukan oleh semua orang. Dimulai dari sesuatu yang simpel, tapi konsisten.

Langkah mencegah perubahan iklim

1. Dukung aksi perlindungan lingkungan

Setiap ada aksi perlindungan lingkungan, sahabat ismi bisa mendukungnya dengan beragam cara. Baik ikut aksinya langsung, memberikan konsumsi saat aksi berlangsung. Maupun membagikan informa tentang aksi tersebut di media sosial. Buat media sosial berisik soal aksi perlindungan lingkungan.

Oh ya ada satu aksi perlindungan lingkungan yang cukup simpel yaitu declutering dan perlama daya guna setiap barang yang dipunya. Alih-alih mengganti atau beli barang baru (termasuk baju), sahabat ismi bisa merecycle baju atau tukaran baju. Bahkan membeli baju bekas juga bisa jadi solusi agar sampah fashion tidak bertambah.

Saya juga mulai melalukan hal tersebut. Sewaktu pindahan rumah tempo hari, declutering menjadi jalan ninja agar rumah lebih lapang dan tidak menyimpan barang yang jarang digunakan.

Untuk barang layak pakai, saya berikan ke orang lain/ didonasikan. Untuk barang tidak layak pakai atau sampah seperti kardus, karton, kertas saya berikan kepada pihak ketiga yang bisa mengolahnya.

2. Gunakan barang-barang ramah lingkungan

Saya sudah menggunakan barang-barang ramah lingkungan. Contohnya, saya sudah tidak menggunakan plastik sekali pakai untuk menyimpan belanjaan. Selalu bawa tas kain atau wadah.

Tas kain ramah lingkungan
Tas kain ini seringnya dapat di acara atau goodie bag. Foto dokumentasi pribadi.

Kalaupun dapat plastik dari paket atau tempat lain, maka saya akan pilah plastik tersebut untuk diambil oleh pihak yang bisa mendaur ulangnya. Paling pol plastik sekali pakai saya cuci bersih dan digunakan untuk alas tempat sampah organik.

Sedotan stainless
Sedotan juga dapat di acara-acara. Enggak pernah beli sendiri. Foto dokumentasi pribadi.

Sedotan plastik sudah berganti dengan sedotan bambu/ stainless. Tapi ingat, punya secukupnya saja. Jangan sudah punya tapi beli lagi. Sama halnya dengan penggunaan botol minum dan wadah untuk bekal. Intinya mengurangi penggunaan plastik.

Pengganti tisu
Tisu kain ramah lingkungan. Bentuknya mirip tisu tapi bisa dicuci dan dipakai ulang. Foto dokumentasi pribadi.

Yang terkini adalah, saya meniadakan tisu di rumah. Gantinya ya pakai kain, lap, atau sapu tangan yang bisa dicuci ulang. FYI, ada spons cuci piring yang ramah lingkungan. Terbuat dari kain gitu.

Untuk penggosok botol minum dan sikat, saya sudah beralih ke bahan sabut kelapa yang lebih ramah lingkungan dan mudah terurai. Sama halnya dengan pembalut sekali pakai, sudah saya alihkan ke pembalut kain.

InsyaAllah ke depannya, saya akan mengalihkan kapas wajah menjadi kapas kain (reusable cotton pads) yang bisa dicuci ulang. Semoga langkah kecil ini berdampak untuk lingkungan.

3. Tolak kebijakan berbahaya untuk lingkungan

Saya juga pernah ikut serta dalam menolak kebijakan yang berbahaya bagi lingkungan. Meskipun tidak terjun langsung ke lokasi dengan berdemo misalnya, setidaknya saya ikut menyuarakan isi hati dengan share ke media sosial. Atau ikut menandatangani petisi yang biasanya dibuat oleh beberapa pihak terkait.

4. Turut berkolaborasi dan beraksi melawan krisis iklim sesuai keahlian

Saat ini, keahlian saya adalah menulis dan membuat konten di media sosial. Maka saya akan memanfaatkan keahlian tersebut untuk melawan krisis iklim. Termasuk tulisan yang sedang sahabat ismi baca ini.

5. Pilih pemimpin yang bisa membuat kebijakan pro lingkungan

Oh ya, sebagai informasi, negara penyumbang emisi terbesar di dunia adalah Tiongkok. Diikuti dengan Amerika Serikat, Uni Eropa, India dan Rusia. Indonesia sendiri berada pada peringkat ke-8 dunia.

Oleh karena itu, pada tahun 2015, para pemimpin dunia menyepakati Persetujuan Paris. Lebih detailnya baca di gambar.

Persetujuan paris

6. Hemat energi dan tidak membuang makanan

Energi merupakan salah satu penyumbang emisi karbon. Oleh sebab itu, saya mengajak sahabat ismi untuk menghemat energi. Matikan lampu saat siang hari, dan matikan lampu ruangan yang tidak terpakai di malam hari. Saya bahkan tidur dengan lampu tidur yang lebih hemat energi.

Begitu pula dengan penggunaan AC dan barang elektronik lainnya. Sama halnya dengan penghematan air. Tutup keran jika sedang tidak digunakan.

Terkait soal makanan, sebagai informasi bahwa sampah organik merupakan penyumbang gas metana terbesar. Itu artinya sudah saatnya sahabat ismi menghabiskan makanan, dan meminimalkan sisa makanan. Makanan sisa yang bisa diolah ya diolah. Misal sisa nasi dibuat cireng, nasi goreng, atau kerupuk. Lalu sisa kulit buah dan sayur bisa dikompos.

Salah satu tujuan jangka pendek saya adalah membuat komposter di rumah. Saya memiliki banyak tanaman hias dan pohon bahan masakan seperti pandan, jahe, jeruk nipis, belimbing wuluh dan lain-lain. Tentunya kompos dari sampah organik akan sangat bermanfaat bagi tanaman-tanaman tersebut dan bagi iklim Indonesia.

7. Jaga hutan

Cara ketujuh untuk mencegah perubahan iklim adalah menjaga hutan. Sebelumnya saya sudah menuliskan mengapa hutan justru menjadi penyumbang terbesar emisi karbon. Oleh sebab itu, sahabat ismi bisa berpartisipasi untuk mencegah deforestasi, dekomposisi gambut, dan kebakaran lahan gambut.

Salah satu narasumber online gathering bersama #EcoBloggerSquad “Peran Hutan dalam Mitigasi Perubahan Iklim” yaitu Kak Tian dari Hutan Itu Indonesia (HII) menyampaikan fakta mencengangkan yaitu studi HII pada tahun 2017 mengungkapkan bahwa 82,7% responden menyatakan keprihatinan terhadap kondisi hutan Indonesia. Tetapi hanya 27,3% yang menyadari bahwa perilaku manusia berdampak pada kondisi hutan saat ini. Wah!

Oleh karena itu HII fokus pada kampanye untuk mengajak lebih banyak orang untuk lebih cinta dan berpartisipasi menjaga hutan beserta keanekaragaman hayati di dalamnya.

Hutan Adalah

Sebenarnya, apakah sih hutan itu?

Hutan bukan sekedar pohon. Lebih dari itu, hutan adalah biodiversity. Jadi tidak hanya ganti hutan dengan pohon dan mal saja, karena bisa hilang semua ekosistemnya.

Keanekaragaman hayati hutan

Sebagai informasi, Indonesia, Brazil dan Kongo memiliki hutan hujan tropis 3 terbesar di dunia. Secara keanekaragaman hayati, potensi Indonesia lebih besar. Jadi wajar kalau hutan di Indonesia harus benar-benar dijaga.

Apa saja fungsi hutan?

Peran hutan dalam Mitigasi Perubahan Iklim

Manfaat hutan

Banyak bukan fungsi hutan? Coba lihat fungsi nomor 5, hutan adalah penyimpan karbon sehingga saat terjadi deforestasi maka hutan akan melepaskan karbon ke udara.

Oleh karena itu, bila biodiversity tersebut tidak dijaga dan dibiarkan mati begitu saja, maka akibatnya adalah siklus karbon tidak berjalan ideal.

 

Kebakaran hutan

Bisa dilihat pada gambar Life Cycle di atas, adanya reforestasi dan pengelolaan hutan berkelanjutan yang membuat hutan bisa terjaga menyerap, menyimpan karbon dan melepaskan oksigen. Dengan kata lain, hutan yang terjaga akan mengurangi emisi karbon dan mencegah perubahan iklim.

5 Cara Jaga Hutan

Pasti sahabat ismi ada yang bertanya, jadi bagaimana cara menjaga hutan?

Hutan itu indonesia adalah

Cara menjaga hutans

1. Cerita tentang hutan

Cara paling mudah dan paling simpel adalah cerita tentang hutan. Bisa online melalui media sosial, atau offline ke teman dan kenalan. Kalau online, sahabat ismi tak harus menulis caption. Boleh banget bikin video pendek, infografis, atau memotret kondisi hutan di sekitar.

Dengan cerita tentang hutan, semoga saja akan lebih banyak yang aware terhadap kondisinya. Hutan sedang baik-baik saja kah, atau sebaliknya.

2. Wisata ke hutan

Wisata ke hutan memang belum jamak. Biasanya dilakukan oleh para pecinta alam dengan berkemah. Saya sendiri kalau wisata ke hutan ya ramai-ramai. Harus ada pemandu yang memang paham dengan kondisi hutan.

Ada hal penting yang perlu diingat ketika berwisata ke hutan atau ke tempat lain, yaitu jangan ambil apapun kecuali foto, dan jangan tinggalkan apapun kecuali jejak. Apalagi meninggalkan sampah, big no ya!

3. Donasi adopsi hutan

Di zaman digital ini, tak hanya donasi makanan atau pakaian saja yang bisa sahabat ismi ikuti, tapi juga donasi adopsi hutan. Mungkin cara ini paling familiar sehingga banyak yang berpartisipasi. Sahabat ismi tinggal transfer sejumlah uang yang nantinya akan digunakan untuk merawat pohon-pohon yang diadopsi.

Jika ingin adopsi pohon, Kak Tian sempat menyarankan untuk adopsi pohon yang besar-besar seperti durian, trembesi, dan sebagainya. Kalau mau tanam pohon bisa memilih pohon endemik di daerah masing-masing.

Menanam pohon atau tanaman di rumah juga berkontribusi untuk mengurangi emisi karbon lho. Dan tentunya meningkatkan oksigen di udara.

4. Konsumsi hasil hutan bukan kayu

Perlu diketahui bahwa hasil hutan bukan hanya kayu. Saat mengambil kayu, otomatis pohon ditebang dan mati. Oleh karena itu, penting agar sahabat ismi lebih memanfaatkan hasil hutan lainnya, misalnya madu, kapas, buah-buahan dan sebagainya.

Saya sendiri mengonsumsi madu untuk kesehatan. Salah satunya merupakan madu hutan Tesso Nilo. Rasanya jangan ditanya, jelas lezat. Plus dengan membeli madu hutan tersebut, turut melestarikan hutan dan para penjaganya.

5. Merayakan Hari Hutan Indonesia

Hari Hutan Indonesia adalah hari di mana semua orang merayakan hutan hujan tropis Indonesia beserta semua kekayaan yang terkandung di dalamnya. Hari Hutan Indonesia diperingati setiap 7 Agustus. Sedangkan Hari Hutan Sedunia setiap 21 Maret.

Dengan memperingati Hari Hutan Indonesia dan sedunia, otomatis orang-orang yang mengenal sahabat ismi akan ikutan penasaran. Mereka akan mencari tahu kampanye-kampanye terkait hutan.

Ranger perempuan

Penjaga pohon duren di Bengkulu Selatan

Mungkin saya dan sahabat ismi tidak bisa sekeren Ibu Sumini dan Pak Nasiun. Tapi 7 langkah kecil untuk cegah perubahan iklim dan 5 langkah kecil untuk jaga hutan patut dilakukan sebagau solusi krisis iklim, termasuk dalam mitigasi (pencegahan) dampak buruknya.

Bila teman-teman ingin berpartisipasi jaga hutan, langsung saja cek berbagai kampanye di Instagram @hutanituid. Bagi sahabat ismi yang tertarik untuk mengurangi emisi global dan melindungi lingkungan, cuzz cek Instagram @madaniberkelanjutan.id.

Semoga tulisan ini bisa menggerakkan sahabat ismi untuk bertindak, turut serta dalam mengurangi emisi karbon. Mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang.

(Visited 235 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

43 thoughts on “7 Cara Cegah Perubahan Iklim dan 5 Cara Jaga Hutan

  1. deddyhuang.com Reply

    kalau mbak Is sarani buat bawa straw, kalau aku bawa sendok sendiri sama totebag gitu. Ya mungkin langkah kecil ini gak kerasa buat banyak tapi setidaknya kita komitmen ya pengen bumi ini makin nyaman buat dihuni.

  2. eka fitriani larasati Reply

    Menurutku gaya hidup minmalis dan decluttering bisa banget bantu upaya pencegahan perubahan iklim. Semua emang berawal dari hal kecil dari kebiasaan hidup kita sehari hari. Termasuk penggunaan tablet display buat gambar hemat kertas banget kan, gak perlu lagi banyak tebang tebang pohon buat bikin kertas

  3. Yuni Bint Saniro Reply

    Aku lagi berusaha menghemat energi dan berusaha nggak buang-buang makanan. Seenggaknya mulai dari keluarga untuk usaha mencegah perubahan iklim.

    • Nurul Dwi Larasati Reply

      Pelan-pelan aku mulai biasakan diri dengan menggunakan barang ramah lingkungan. Ternyata jaga hutan itu nggak sulit, membiarkan keberadaannya saja sudah termasuk menjaga hutan, nggak mengganggu ekosistem di dalam hutan.

    • Fenni Bungsu Reply

      Idem kak,
      saling berupaya dan bergerak dari hal yang terdekat dan keseharian ya

  4. Mei Daema Reply

    perlahan menggunaan barang-barang yang ramah lingkungan, meski belum totalitas, dan jika banayk orang yang melakukan ini, pasti bumi kita akan lebih baik lagi

  5. tukang jalan jajan Reply

    Dampaknya sudah sangat terasa sekarang terutama musim yang tidak menentu apalagi dengan suhu yang super panas. Kita harus cegah ketidakseimbangan ekosistem bumi supaya dunia ini bisa nyaman ditinggali. bisa dimulai dari diri sendiri ya, seperti diet plastik

  6. Didik Reply

    Aku mulai dari diriku sendiri utk menanam pepohonan di sekitar rumah. Minimal ga panas saat cuaca terik dan jadi penahan kalo ada badai ringan.

    Cuaca saat ini emang ekstrem sih. Kalo malam kadang malah panas sekali. Padahal biasanya kan dingin.

  7. Fenni Bungsu Reply

    Mampu menolak kebijakan yang berbahaya buat lingkungan ini hayuuk bisa!
    Karena dampaknya pasti besar untuk.pelestarian bumi ini

  8. T. Retno Reply

    Huhu…serem banget kalau sampai kekurangan air 🙁 2025 itu tinggal 3 tahun lagi. Kalau kita semua nggak segera bertindak, entah apa jadinya 🙁

    Aku juga suka bikin kompos, Mbak. Tapi urusan nanem-nanem itu biasanya ibuku. Alhamdulillah. Kadang-kadang nggak perlu belanja sayuran. Tinggal metik yang ada di halaman.

  9. Ayu Natih Widhiarini Reply

    makin kesini gaya hidup yang ramah lingkungan memang sangat diperlukan untuk bisa berperan dalam mengatasi perubahan iklim. Saya juga kalau berwisata suka ke tempat-tempat bernuansa alam, dekat dengan masyarakat lokal, dan menggunakan barang-barang yang ramah lingkungan.

  10. Kata Nieke Reply

    Setuju banget sama artikel ini. Sudah saatnya lebih banyak orang tahu dan aware atau sadar soal perubahan iklim dan jaga lingkungan. Ini suhu bumi udah bikin cuaca panasnya ampun-ampun lho. Gimana nasib manusia 2-5 tahun lagi coba?

  11. Yuni Handono Reply

    Di Bali kita sudah terbiasa bawa tas belanja sendiri kalau belanja2 ke pusat perbelanjaan. Bahkan tempat jual makanan dan minuman tidak menyediakan sedotan atau tempat makanan yang sekali pakai. Mungkin ini cara meminimalisir limbah atau pencemarahan ya. Iklim Indonesia saat ini tidak seperti dulu, bahkan kita sudah tidak bisa memprediksi kapan musim hujan atau musim kemarau…semoga masyarakat makin sadar akan bahaya pencemaran dan akan selalu menjaga kelestarian hutan dari ancaman kepunahan.

  12. Qoty Intan Zulnida Reply

    Ya, langkah kecil seperti mengganti plastik dan peralatan lain yang terbuat dari plastik dengan yang berbahan kain, maupun stainless bisa sedikit membantu menjaga hutan dan lingkungan. Semoga makin banyak juga yang sadar lingkungan dan turut menjaganya

  13. Avizena Zen Reply

    PErubahan iklim emang dampaknya gede banget dan cuaca jadi panaas, Malang tak sejuk lagi hiks. KAlau di sana Mbak Dian pake AC kah?
    Belum punya sedotan stainless nih, beli aah. MAsih usaha juga buat ngurangi penggunaan plastik.

  14. Lithaetr Reply

    Saya merasa masih perlu edukasi untuk masalah sampah di masyarakat, bagaimana cara mendaur ulang yang baik dan aman, dan lain sebagainya. Soalnya memang perlu langkah kontinu dan bersama-sama kalau mau menjaga lingkungan agar optimal hasilnya. Minimal dari memilah sampah dan menghemat air serta listrik dari rumah, biar pelan-pelan berproses agar terasa menjadi kebiasaan baik

  15. Kiky Reply

    Aku selama ini juga punya kesadaran untuk lebih menjaga lingkungan sesuai dengan poin2 yang mba ismy tulis. Kalau aku percaya karena kita tidak boleh merusak si makanya sangat berhati-hati pada alam.

  16. Nuny Reply

    Keberadaan hutan membawa dampak yang positif bagi manusia atau lingkungan dan makhluk lainnya. Penting menjaga hutan untuk perubahan iklim lebih baik

  17. Lita Reply

    Nah saya sendiri biasa pake tisu buat bersihkan kulit anak.. padahal tisu juga dari pohon. Saya memang masih kesulitan kalau tidak memakai sama sekali. Tapi kalo banyak orang bisa mengurangi penggunaan tisu maka penebangan pohon bisa berkurang

  18. Dian Reply

    Dampak perubahan iklim itu menyeramkan ya
    Makanya perlu langkah bersama untuk bisa mencegah perubahan iklim ini

  19. Nyk Reply

    Hutan itu memang perlu dijaga dan dilindungi ya mba, biar anak cucu juga tahu kalau negara kita kaya akan hutan yang bnyak manfaatnya. Semoga bnyk pihak aware dalam menjaga kelestarian lingkungan, terutama hutan kita.

  20. Jihan Reply

    Aku jg masih berusaha banget nih untuk mengurangi plastik. Bawa minum sendiri dan bawa sendok sendiri juga kadang2. kecil sih tapi yakin kalo dilakukan bersama2 bakal bawa impact banyak jg

  21. Okti Li Reply

    Straw sendiri saya selalu bawa. Sendok garpu juga. Termasuk tas belanja yg bisa digunakan kapan saja. Pokoknya sekecil apapun kita ingin bumi kita ini semakin baik ya

  22. Rahmah Reply

    Reminder buat saya dan kita semua bahwa menjaga hutan itu kewajiban yang harus dipenuhi. Caranya pun ada banyak sekali. Tingg kuatkan niat dan ekskusi.

  23. Retno Reply

    Afopsi hutan merupakan salah satu ide yang menarik. Bisa dimanfaatkan oleh orang orang yang peduli pada hutan, namun tak cukup waktu untuk terjun langsung…

  24. laily Reply

    harus mulai aware emang ya tentang isu lingkungan. Bumi semaki panas, kerasa banget deh sekarang

  25. lendyagassi Reply

    Mengenal perubahan cuaca sampai ke iklim akan membuat kita sadar bahwa bumi sudah tua. Dan apa yang bisa kita lakukan selanjutnya?
    Dengan berbuat hal yang kecil tapi kontinyu atau terus menerus. Salah satu peran blogger juga untuk mengajak masyarakat bergerak bersama seperti ini.

    Barakallahu fiik~

  26. KakaKiky Reply

    Asli makin lama bumi ini makin panas, apalagi pas awal Ramadhan kemarin panasnya sampe ubun-ubun. Semoga makin banyak masyarakat tersadarkan untuk tetap melestarikan dan menjaga hutan agar pemanasan global bisa kita kurangi efeknya.

  27. eka fitriani larasati Reply

    Perubahan iklim ini emang perlu banget jadi concern semua warga dunia. Karena kalau gak peduli, dampak besar yang merasakan ya kita semua. Apalagi kalau sampai hutan juga terkena imbasnya. Hal sederhana aja, pasokan oksigen, iya kan? Kampanye save forest dan pencegahan perubahan iklim harus terus digencarkan agar semua orang award.

  28. Marita Ningtyas Reply

    Agar semua hal di atas bisa terlaksana, butuh kerjasama dari semua pihak. Namun kunci utama memang komitmen dari diri sendiri ya. Lalu mulai dari hal sederhana, dengan tidak buang makanan, kurangi sampah plastik.

  29. Antung Apriana Reply

    Beberapa tahun terakhir memang berasa banget ya, mbak perubahan iklim ini. Cuaca jadi tak menentu dan suhu udara naik banget benar-benar bikin nggak nyaman. Semoga saja kita semua bisa melakukan hal-hal yang bisa melindungi ekosistem hutan kita

  30. Nita juwithafina Reply

    Yang bagian paling susah menurutku adalah mengurangi kendaraan bermotor apalagi kalau tempat yg di tuju jauh dari jangkauan kendaraan umum

  31. Arai Amelya Reply

    Udah banyak sekali fakta-fakta soal perubahan iklim, tapi masih banyak aja orang dan instansi yang nggak sadar dengan terus membabat hutan. Kita emang nggak bisa diem lagi sih, berbuat hal kecil entah penghijauan sederhana sampe ngurangi emisi karbon bisa bantu Bumi jadi lebih baik

  32. Amir Reply

    Dari artikel ini saya bisa bilang gini, “merayakan hari hutan itu bukan tentang menyelamatkan hutan, tapi menyelamatkan manusia. Jadi kalau kita emang masih peduli dengan orang-orang tercinta kita, menyelamatkan hutan itu menyelamatkan kita bersama.”

    Begitu banyak pengingat untuk saya dari artikel ini…betapa pentingnya menjaga hutan untuk masa depan. Btw saya juga peduli lingkungan karena masuk ke komunitas blogger lingkungan. Sudah ada beberapa artikel tentang lingkungan yang saya buat.

  33. Dian Reply

    Menjaga hutan juga jadi upaya yang penting dalam mencegah perubahan iklim ya mbak
    Sebab, deforestasi adalah salah satu sebab terbesar terjadinya perubahan iklim

    • Nengsi Reply

      Sedih banget aku pas baca, di tahun 2025 hanya 2/3 manusia di dunia yang bisa mandi karena kekurangan air. Hikss.. Apalagi sampai kelaparan karena tidak ada air untuk menyirami hasil pertanian. Semoga keadaan ini tidak semakin parah ya kak. Aamiinn

  34. Arif Abdurahman Reply

    Efek krisis iklim ini udah kerasa banget ya dari perubahan cuaca ekstrem akhir2 ini.

    Menerapkan beragam gaya hidup minimalis dan eco-friendly ini secara ekonomi ngehemat budget juga sebenarnya.

  35. hallowulandari Reply

    iyaaa mba, sedikit sedikit aku pun melakukan hal-hal yang bisa turut membantu menjaga lingkungan, berusaha hemat air, listrik, makan seperlunya, dan harus banget menghabiskan stok-stok makanan yang ada. Kalau jalan-jalan ke kawasan/wisata kebun/hutan juga suka berbagi cerita. Semoga kita semua bisa sama sama saling sadar ya jaga lingkungan bareng-bareng buat masa depan

  36. hastinpratiwi.com Reply

    Bener banget, Mbak, bumi rasanya makin gerah aja.
    Saya belum bisa berbuat banyak untuk lingkungan, tetapi setidaknya sudah berusaha mengurangi pembelian barang dan baju baru, serta mengonsumsi sesuatu seperlunya.

  37. Okti Li Reply

    Menyelamatkan hutan dari kerusakan, sebenarnya adalah menyelamatkan manusia dari berbagai kondisi yang merugikan berbagai generasi ya …

  38. Ulfah Aulia Reply

    Wah langkah2 kecil kita sangat berarti buat perubahan iklim ini, seperti halnya menggunakan barang2 ramah lingkungan ya Mbak. Dan aku baru tau tisu yg seperti gambar itu dapat kita cuci begitu Mbak… Hehe bnyak hal2 kecil yg dapat kita lakuin nih..

  39. Shafira-ceritamamah.com Reply

    Mbak Isma, banyak banget ya goodiebag nya. Aku sendiri juga masih pakai goodiebag, tapi sedih belum bisa meninggalkan plastik2. Apalagi mayaoritas kalau jajan lauk masih ngebungkus pake plastik. Hiks

Leave a Reply

Your email address will not be published.