Sebuah Kisah tentang Masa Depan Hutan Indonesia

Facebooktwittergoogle_plusredditmail

Tangan mungil Sara (anak kedua saya) mengambil selimut dan meletakkannya di dekat kaki. Jemari kakinya memainkan ujung selimut. Kepalanya bersandar pada bantal.

“Bunda, ayo baca buku.”

Setiap malam menjelang tidur, saya membacakan buku kepada anak-anak. Termasuk ke Sara. Kali ini judul dari halaman yang kami baca adalah tentang kematian semua makhluk hidup.

“Semua makhluk hidup akan mati. Termasuk hewan dan tumbuhan,” kata saya.

“Iya kayak ikan sama keong Sara, mati terus dikubur. Masuk tanah.”

“Benar. Kalau tanaman kayak pohon, matinya seperti apa? Sara tahu?” tanya saya.

“Enggak, memang kayak apa, Bunda?”

“Jadi kalau pohon mati, ia akan mengering. Daun-daunnya layu, atau berguguran. Batangnya juga lama-lama layu, mengering, lalu hancur.”

“Terus mereka juga masuk surga?”

“Oh, tidak, Nak. Kalau tanaman tidak dihisab. Mati ya mati. Selesai. Tapi kalau pohon matinya karena dibakar atau dirusak oleh manusia, maka manusianya yang dihisab,” jawab saya.

Sara mengerutkan dahi.

“Intinya, manusia harus menjaga lingkungannya. Termasuk pohon-pohon di halaman rumah dan di hutan. Sara harus rajin menyiram, memberi pupuk, dan sebagainya.”

Sara mengangguk.

Sebuah kisah tentang masa depan hutan Indonesia tak selalu diperbincangkan oleh orang-orang dewasa. Tapi juga oleh orang dewasa kepada anak-anaknya. Karena bagaimana pun, masa depan hutan ada di tangan mereka.

WALHI dan Hutan Indonesia

Sudah tahu tentang WALHI?

WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) yaitu organisasi lingkungan hidup independen menyadari bahwa hutan di Indonesia sangat luas dan perlu dilestarikan. Tidak hanya mencegah, menjaga agar hutan tidak dibakar dan dirusak, tapi juga bagaimana caranya agar hasil hutan dapat meningkatkan perekonomian warga sekitar.

Sabtu tanggal 29 Februari 2020, saya berkesempatan menghadiri Forest Cuisine Blogger Gathering yang diadakan oleh WALHI dan Blogger Perempuan. Hadir beberapa narasumber yaitu Khalisa Khalid atau biasa disapa Mbak Alin sebagai perwakilan dari Eksekutif Nasional WALHI. Lalu ada Ibu Sri Hartati (Ibu Tati) yaitu WALHI Champion dari Sumatera Barat yang sukses mengembangkan produk olahan dari buah pala menjadi sirup dan minuman segar.

Hadir pula Tresna Usman Kamaruddin, Amd (Mbak Tresna) dari Sulawesi Tenggara yang peduli pada kelestarian hutan dan membantu masyarakat di sekitar hutan agar dapat Mengelola hutan dengan baik. Terakhir ada Windy Iwandi @Foodirectory yang merupakan food blogger.

Acara dimulai dengan pemutaran video dari WALHI yang berjudul “Kita Masih di Planet Bumi.”

Video ini dibuka dengan sosok anak kecil bernama Chika. Ia mempertanyakan bagaimana nasibnya kelak di masa depan. Adakah planet lain yang bisa kita gini selain bumi? Sementara saat ini, sampah plastik dimana – mana. Laut dan sungai terancam sampah plastik dan polusi industri. Hewan air dan darat memakan sampah plastik sehingga jika kita mengonsumsinya, maka hal itu akan mengancam keselamatan hidup kita. Kebakaran hutan di banyak tempat. Polusi udara semakin tinggi. Perubahan cuaca terjadi secara drastis, dan pemanasan global juga mengkhawatirkan. Masa depan bumi sudah diambang kehancuran. Oleh karena itu, mulailah dari sekarang. Mulai hentikan penggunaan fosil sebagai sumber energi. Mulai hentikan penggunaan plastik sekali pakai. Mulai kurangi konsumsi sawit seperti dalam minyak goreng dan lipstik. Lindungi bumi, karena tidak ada planet lain yang dapat kita huni.

Video dari WALHI tersebut menyadarkan saya jika kita harus lebih keras kepala dalam menjaga hutan. Kita sebenarnya bisa melakukan perubahan, kalau mau. Sebagai konsumen, kita bisa memilih apa yang kita makan, apa yang kita pakai, dan apa yang kita daur ulang. Seperti apa yang saya ceritakan ke Sara, manusia lah yang akan dihisab dimintai pertanggungjawaban terhadap pilihannya selama di dunia. Termasuk dalam menjaga lingkungan.

Mbak Alin Bicara Peran Perempuan dalam Menjaga Hutan

Mbak Alin, narasumber yang powerful

Setelah menonton video yang sarat makna, narasumber pertama yaitu Mbak Alin mulai bercerita. Beliau menyampaikan bahwa hutan harus dilindungi demi masa depan bumi, dan perempuan sangat berperan.

Benar juga kata Mbak Alin. Bukankah selama ini perempuan yang mengambil keputusan dalam memilih produk di rumah. Perempuan yang memilih minyak goreng. Perempuan yang memilih mau mengonsumsi makanan apa dibeli dari mana. Perempuan yang berperan dalam pengambilan keputusan terkait makanan, minuman, kosmetik, fashion, dan segala pernak-pernik domestik.

Apa yang bisa dilakukan untuk menjaga hutan dan alam? Mbak Alin mengatakan bahwa kita harus bijak dengan apa yang dikonsumsi. Maksudnya bagaimana?

1. Jadilah Konsumen Kritis

Sebelum membeli sebuah barang, tanyakan pada diri sendiri. Perlukah dengan barang tersebut? Misalnya lipstik dan minyak dari sawit. Kita harus bijak. Demikian juga dengan kertas. Konsumsi apa yang kita butuhkan. Bukan yang kita inginkan. Sikap bijak akan sangat membantu dalam menjaga hutan.

2. Konsumsi yang Diproduksi oleh Petaninya

Beberapa produk harganya menjadi luar biasa karena rantai distribusi terlalu panjang. Sedihnya, petani justru mendapatkan keuntungan paling rendah. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita membeli langsung ke petani atau langsung ke komunitas produksinya.

WALHI sendiri mempunyai sebuah program yang disebut WKR yaitu Wilayah Kelola Rakyat. WKR dicanangkan agar model pengelolaan alam yang monokultur dengan penguasaan perusahaan besar dapat berkurang. Petani kita tidak punya tanah. Terutama di Jawa. Dengan kata lain, mereka adalah buruh tani. Oleh karena itu, WALHI menawarkan agar lebih adil dengan sistem WKR.

WALHI juga membuat gerakan untuk menyelamatkan rimba terakhir. Semua orang, baik yang di kota dan di desa, di dalam dan di luar hutan, harus menjaga rimba terakhir. Karena jika hutan di hulu rusak, maka bagian hilir yaitu perkotaan dan tempat tinggal manusia akan terkena dampaknya. Contohnya, dapat terjadi bencana ekologis.

Mbak Tresna, Pejuang Pengelolaan Hutan oleh Masyarakat Setempat

Narasumber kedua adalah Mbak Tresna yang berjuang agar pemerintah memberikan izin kepada komunitas atau masyarakat yang tinggal di sekitar hutan Kabupaten Kolaka, Kelurahan Sakuli, Sulawesi Tenggara agar dapat mengelola hutannya sendiri. Dengan kata lain, mereka bisa menanam berbagai tanaman untuk sumber pangan masyarakat sekitar. Perjuangannya sudah mencapai empat tahun. Saat ini sedang dalam tahap pengukuran lahan.

Mbak Tresna, putri daerah Sulawesi yang kembali ke kampung halamannya

Hal apa yang mendorong Mbak Tresna melakukan perjuangan tersebut? Ternyata beliau adalah cucu seorang petani. Ia juga menyukai pertanian dan alam. Banyak tanaman yang bisa dikelola dari hutan. Pangan, dan tanaman-tanaman bisa bermanfaat besar untuk masyarakat, contohnya sagu. Dorongan kedua adalah adanya para pemuda dan remaja yang bangga sekali dengan hutannya. Mereka sangat ingin punya wadah agar dapat mengelola hutan sehingga menjamin masa depan. Makanya Mbak Tresna memperjuangkannya.

Saat ini, hutan tersebut sudah ditanam berbagai sayur, cengkeh, lada, sereh, jahe, dan sebagainya. Tantangannya adalah market atau pemasarannya. Mbak Tresna juga mempunyai usaha yang membawahi ibu-ibu di Kolaka. Mereka mengelola sampah plastik agar dapat bermanfaat dan punya nilai jual. Sampah-sampah plastik berupa bekas teh gelas.

Mbak Tresna mengajak teman-teman di Sulawesi agar menjaga hutan dengan cara menanam pohon yang mempunyai kearifan lokal. Salah satunya pohon sagu. Karena dulu waktu kecil, Mbak Tresna sering melihat pohon-pohon tersebut. Tetapi sekarang sudah hilang. Padahal sagu adalah makanan khas Sulawesi yang merupakan pengganti nasi. Sagu dapat dibuat makanan seperti papeda, dan cako cako. Selain itu, Mbak Kreshna juga memproduksi madu dan minyak atsiri dari cengkeh.

Bu Tati, Bundo Kandung Penjaga Hutan

Bu Tati adalah Bundo Kandung yang dipilih oleh WALHI sebagai ikon perempuan penjaga hutan. Beliau aktif di Program Pengelolaan Hutan untuk Kesejahteraan Perempuan bersama WALHI Sumatera Barat dan Women Research Institute.

Bu Tati Bundo Kandung dari Sumatera Barat

Bu Tati bangga sekali hutan di Sumatera Barat lestari. Tidak tersentuh oleh kebakaran. Ia sedih melihat video mengenai kebakaran hutan yang ditayangkan di awal acara Forest Cuisine Gathering. Bu Tati menitikkan air mata pertanda hatinya terluka melihat alam dan hutan Indonesia yang dikasihinya hangus terbakar.

Bu Tati juga mengembangkan produk olahan dari pala. Buah pala diolah menjadi sirup, buah segar dan selai (tahan sebulan). Awalnya Bu Tati tertarik pala bisa diolah menjadi apa. Ia hanya tahu pala dapat diambil bijinya. Atau untuk bumbu masakan seperti rendang, dan sup. Sampai akkhirnya WALHI datang dan mengajari bahwa kulit pala bisa diolah menjadi ekonomi kreatif ibu-ibu.

Tantangannya terbesar berasal dari kelompok. Bu Tati memang menjadi ketua dari Kelompok Bayang Bungo Indah di desa Kapujan Koto Berapak, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan. Awal berdiri dalam 1 kelompok ada 103 orang ibu-ibu. Lama-lama tinggal 66 orang. Karena komunitas ini memang membutuhkan modal 100 ribu rupiah per orang dan 12 ribu rupiah per bulan untuk membeli bahan pembuat produk olahan pala. Saat ini, produk sudah dipasarkan ke sekitar Kabupaten Pesisir Selatan. Juga ke salah satu hotel di Padang untuk welcome drink sebanyak 25 liter.

Windy, Food Blogger Peduli Lingkungan

Saya juga takjub dengan perjuangan para perempuan pelestari hutan

Mbak Windy yang merupakan food blogger dari food directory sangat mengapresiasi perjuangan ketiga narasumber yang kesemuanya adalah perempuan. Ia begitu menghargai sepak terjang para narasumber. Windy sendiri menyukai sagu dan madu. Ia juga concern terhadap hutan. Menurutnya, ketika kita sakit lalu makan makanan dari hutan, maka kita bisa cepat sehat. Karena makanan langsung dari hutan lebih fresh.

Windy juga penyayang binatang sehingga ia mengurangi konsumsi makanan maupun barang yang berhubungan dengan binatang. Ia pernah berkunjung ke Tanjung Puting yang merupakan hutan sekaligus tempat wisata. Sayang yang banyak datang ke sana turis justru turis Eropa. Jarang wisatawan domestik. Mungkin karena orang Kalimantan melihat orang utan ya biasa banget.

Windy takjub ketika ada durian jatuh, dan belimbing jatuh, bisa langsung dimakan. Pemandu wisatanya mengatakan bahwa semua makanan yang dimakan orang utan bisa dimakan oleh manusia. Minum air juga langsung dari sungai. Segar dan aman-aman saja. April besok, Windy berencana ke Sulawesi, masuk ke hutan Indonesia. Ia akan membuat makanan khas dari sana.

Forest Cuisine, Lezat dan Penuh Nutrisi

Berita mengejutkan datang dari Depok, Jawa Barat. Dua orang warga Depok positif corona. Meski kini kondisinya sudah membaik, kepanikan sempat terjadi. Saya yang juga warga Depok mengalami imbas dari kepanikan tersebut. Whatsapp grup tak henti-hentinya berbunyi. Mulai dari grup perumahan, sampai grup wali murid anak pertama saya, Najla.

Sebagian besar dari masyarakat memang menjadi panik. Beberapa wali murid memutuskan anaknya tidak masuk sekolah dulu. Walaupun sudah ada edaran kalau sekolah tetap masuk dengan catatan bila ada murid yang demam dan batuk pilek, maka disarankan agar di rumah saja.

Sekolah anak saya juga akan mensosialisasikan cara menjaga kesehatan dan kebersihan agar untuk pencegahan masuknya virus. Termasuk membuat program minum air putih dan cuci tangan secara rutin.

Ada sebuah berita yang menarik perhatian saya, yaitu konsumsi empon-empon atau rimpang-rimpangan dan rempah-rempah untuk melawan virus corona. Terlepas dari benar tidaknya berita tersebut (karena harus dibuktikan secara ilmiah terlebih dahulu), saya pribadi percaya bahwa hasil hutan Indonesia memberi banyak manfaat, salah satunya sebagai obat.

 

Kelompok tiga bersama chef William

Berbicara tentang Forest Cuisine atau masakan dari hutan, di acara blogger gathering bersama WALHI, saya dan teman-teman mengikuti cooking demo bersama Chef William Gozali. Iya, chef juara satu Master Chef Indonesia tersebut demo masak menggunakan jamur kancing dan shitake. Penasaran enggak bakal dimasak jadi apa?

Sebelumnya, kita kenalan dulu yuk dengan jamur kancing dan jamur shitake.

Foto by pexel. Editing by ismyama.com

Foto by pexel. Editing by ismyama.com. Sumber informasi by hellosehat.com

Wah! Manfaatnya ternyata ada segudang. Pantas saja, Chef William memilihnya untuk diolah. Selain jamur, bahan lainnya adalah daun bawang, daun kucai, susu creamer, keju dan pasta. Ikuti keseruan lomba masaknya yuk.

Fettuccini Mushroom Ragu

Bahan masakan Fettuccini Mushroom Ragu

Bahan:
Pasta fettuccini
Daun bawang
Daun kucai
Jamur kancing dan jamur shitake
Keju parut
Susu creamer
Bawang putih
Butter
Garam, lada
Minyak

Cara memasak:
1. Cincang daun bawang dan daun kucai, sisihkan
2. Cincang bawang putih, sisihkan
3. Potong kecil jamur, sisihkan
4. Masukkan air dalam panci, masak hingga mendidih
5. Panaskan telfon, lalu masukkan minyak

Tumisan daun bawang dan kucai

6. Tumis daun bawang dan daun kucai hingga berwarna cokelat seperti bawang goreng. Tambahkan air panas dari panci. Bila sudah kecokelatan, angkat dan sisihkan
7. Dengan telfon yang sama, panaskan butter hingga leleh.

Tumisan jamur

8. Masukkan jamur, tumis hingga kecokelatan.
9. Masukkan garam dan lada. Aduk rata
10. Masukkan bawang putih cincang. Aduk rata.
11. Masukkan pasta fettuccini pada air mendidih
12. Masukkan susu creamer pada telfon berisi jamur. Aduk rata
13. Matikan api
14. Angkat pasta, tiriskan

Serius memasak

15. Campur pasta dengan jamur dan tumisan daun bawang dan kucai
16. Taburkan keju dan aduk rata
17. Koreksi rasa dengan garam

Yummy!

18. Fettuccini Mushroom Ragu siap dihidangkan.

Masakan pertama yang dinilai oleh Chef William

Rasanya enak bangets! Saya sampai nambah dan berencana praktik di rumah. Benar-benar baru tahu kalau daun bawang dan daun kucai dapat dijadikan kaldu untuk hidangan pasta. Lebih lezat lagi karena menggunakan jamur sebagai isiannya. Benar-benar nikmat dan lumer di mulut.

Hasil hutan Indonesia

Acara Forest Cuisine Blogger Gathering sangat bermanfaat. Saya juga melihat berbagai olahan hutan Indonesia yang merupakan produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dari WALHI. Mulai dari sirup pala, garam herbal lada hitam, garam herbal daun jeruk delapan, garam herbal bunga rosella merah, perasa dari daun jeruk purut bubuk dan Temulawak bubuk, Goedang Cof’tea (Coffee dan Tea), Teh Herbal Nusantara (ada varian Bunga Rosela Merah, Kunyit Putih dan Serai), Mi Gluten Free dari Sorghum dan Corn, hingga minyak cengkeh.

Banyak sekali, kan, kekayaan alam dari hutan Indonesia yang bermanfaat sebagai nutrisi, termasuk untuk kesehatan. Sayang bila tanaman dan pangan dari hutan Indonesia ditelantarkan begitu saja, atau tidak dimaksimalkan pengelolaannya. Oleh karena itu, mari dukung WALHI dengan berbagai program dan gerakannya. Caranya bagaimana? Teman-teman bisa share tulisan ini atau berdonasi langsung ke WALHI.

(Visited 116 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditmail

17 Comments

  • Dessy Achieriny March 5, 2020 Reply

    Anakku saking cinta terhadap lingkungan, kuliah maunya jurusan biologi ingin jadi peneliti. Karena Indonesia butuh banyak orang yang cinta lingkungan karena kita negara kaya akan sumber daya alam. Eventnya bagus bgt ya mbak.. Ternyata banyak bgt kekayaan alam Indonesia yg kaya akan nutrisi termasuk untuk kesehatan dan perlu dikembangkan.

  • Aminnatul Widyana March 5, 2020 Reply

    Hutan kita patut dijaga kelestariannya. Karena keberadaannya kini semakin tergeser oleh manusia. Padahal manusia sendiri juga sangat membutuhkan hutan.
    Peran wanita sendiri memang begitu penting dalam memutuskan sesuatu buat keluarga. Makanya, harus bisa mengarahkan keluarga untuk menjaga hutan secara tidak langsung

  • Okti Li March 6, 2020 Reply

    Kalau tidak salah, peserta gathering WALHI ini adalah nominasi utk pemenang ya? Kalau gitu selamat ya Mbak. Semoga jadi juara di lombanya hehehe….
    Terimakasih sudah share informasi. Saya tidak ikutan tapi bisa ikut menyerap ilmunya

  • Icha Marina Elliza March 6, 2020 Reply

    Ternyata hasil hutan Indonesia itu banyak banget ya Mba. kita yang kurang memanfaatkan dengan maksimal.. taunya hutan cuma buat tanaman industri doang.. dan kadang sampe membuat ekosistem terganggu. Hiks sedih

  • Kanianingsih March 6, 2020 Reply

    Alhamdulillah ya masih ada orang-orang yg peduli dgn kelestarian hutan Indonesia, patut diapresiasi. Cuma bisa doa semoga dg segala pembangunan disertai upaya pelestarian hutan, perlu kesadaran semua orang

  • Ria Nugros March 6, 2020 Reply

    Semoga saja akan semakin banyak masyarakat yang sadar untuk menjaga hutan, hutan memang penting sekali untuk kehidupan di bumi.

  • Sapti nurul hidayati March 6, 2020 Reply

    Bagus mb,,acaranya. Mengajak orang untuk peduli dan sayang hutan. Mengingat hutan sudah banyak memberi kita kebaikan. Tanpa hutan, kehidupan pasti akan musnah

  • Keke Naima March 6, 2020 Reply

    Sejak kecil selalu diajarkan kalau Indonesia adalah negara yang kaya raya dengan alamnya. Tetapi, memang miris kalau melihat kondisi hutan Indonesia semakin ke sini. Semoga semakin banyak yang sadar akan pentingnya hutan bagi umat manusia

  • Yanti March 9, 2020 Reply

    Hutan sebagai tempat berlangsungnya kehidupan flora dan fauna semoga selalu terjaga kelestariannya karena suka sedih kalau ada kebakaran hutan

  • Akarui Cha March 9, 2020 Reply

    Iya ya, pohon itu nggak dihisab. Kalau sudah mati ya sudah. Karena sepanjang hidupnya pohon pun memberi manfaat buat kehidupan kita sebagai manusia. Baru sadar deh saya.

    Semoga kapan kapan bisa ketemu dan ngobrol ya Mba. Kemarin di acara ini, belum sempat kenalan secara langsung.

  • Dedew March 9, 2020 Reply

    Keren banget ya para pejuang hutan ini dedikasinya pada lingkungan, semoga kita para blogger bisa mencontohnya..

  • Reni Dwi Astuti March 10, 2020 Reply

    Mak jleb banget dengan apa yang dikatakan Mbak Alin bahwa perempuan itu perannya besar banget dalam menjaga hutan, dan kalau dipikir-pikir bener banget ya. Kita perempuan banyak juga mengambil keputusan tentang apa dan bagaimana yang keluarga kita konsumsi setiap hari

  • Visya Al Biruni March 10, 2020 Reply

    Intronya bagus Mbaaak. Suka deh.

    Senangnya makin banyan gerakan aktif peduli lingkungan. Apalagi WALHI, yang emang concern banget soal lingkungan hidup. Acaranya sangat berfaedah walau ku gae ikut serta tapi mendapatkan ilmunya juga lewat postingan ini 🙂

  • Wian March 11, 2020 Reply

    Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya bencana adalah dengan meleatarikan hutan sebagai paru-paru ya mba. Gak kebayang sih gimana klo hutan sampai menghilang.

  • Evalina March 14, 2020 Reply

    Wow, ternyata hutan menyimpan banyak potensi, ya, baik potensi untuk makanan, maupun potensi untuk kesehatan. Yuk, jaga hutan kita

  • Si Klimis April 13, 2020 Reply

    Sudah tugas kita bersama menjaga hutan agar bisa tetap lestari untuk anak cucu kita, asyik banget ya mbak bisa masak bareng sama chef Williams

  • ima satrianto April 16, 2020 Reply

    enaakk nii…. daun kucai disini susah dian..

Leave a Reply

error: Content is protected !!