Review Film I, Perjuangan Ibu Tunggal di Korea

Facebooktwitterredditmail

Review Film I, Perjuangan Single Mom Korea.

Profil

Review Film I Korea

Judul Film: I (Aku)

Sutradara: Kim Hyun-Tak

Penulis: Kim Hyun-Tak

Tanggal Rilis: 10 Februari 2021

Durasi: 114 menit.

Distributor: Lotte Cultureworks

Bahasa: Korea

Negara: Korea Selatan

Sinopsis

A-Young (Kim Hyang-Gi) dibesarkan di panti asuhan, sampai dia harus pindah karena usianya. Ia kini tinggal sendiri dan mengambil jurusan pendidikan anak di sekolah. Dia telah melalui berbagai pekerjaan paruh waktu untuk menghidupi dirinya sendiri. Dia mengambil pekerjaan baru, sebagai babysitter untuk Young-Chae (Ryoo Hyoun-Kyoung).

Young-Chae adalah seorang ibu tunggal. Dia telah memutuskan untuk membesarkan bayinya, Hyeok, apa pun yang terjadi. Dengan bantuan A-Young, Young-Chae mendapatkan kembali perasaan aman secara mental dan mulai bermimpi untuk memiliki kehidupan normal. Suatu hari, Hyeok mengalami kecelakaan. Young-Chae menempatkan semua kesalahan pada A-Young.

Pemeran

Kim Hyang-Gi – A-Young

Ryoo Hyoun-Kyoung – Young-Chae

Yum Hye-Ran – Mi-Ja

Park Ye-Young – kepala sekolah

Seung Eui-Yeol – pegawai negeri senior

Lee Hye-Won – teman muda

Review Setelah Menonton Film I

Korea memang selalu meluncurkan film yang fenomenal. Sahabat ismi masih ingat enggak dengan Film Parasite yang menyabet berbagai penghargaan? Mantap ya.

Nah, saya pertama kali tahu ada film I karena review salah seorang teman Facebook. Kemudian disusul review oleh teman blogger Mbak @lendymut. Karena temanya tentang perjuangan ibu tunggal, saya pun tertarik.

Awalnya saya pikir ada hawa-hawa film Kim Ji-Young: Born 1982, yaitu perempuan yang mengalami masalah kesehatan mental sehingga kehilangan jati dirinya. Tapi saya salah, Film I sedikit berbeda. Film I tidak mengisahkan tentang ibu yang mengalami dilema bekerja atau mengurus anak, karena kalau bukan dia yang bekerja, lalu siapa yang akan menafkahi anaknya?

Review Film I single mom

Film I justru mengisahkan seorang single mom yang berjuang sekuat tenaga untuk membesarkan anak sekaligus menafkahinya. Saya tak menyangka perjuangan ibu tunggal sedramatis itu.

Mungkin kalau ibu tersebut masih memiliki keluarga besar, sang anak bisa dititipkan kepada kakek atau neneknya. Tapi tidak dengan Film I, alih-alih menitipkannya pada kakek nenek, sang bayi justru diurus oleh pengasuh.

Kalau diingat-ingat lagi, Young-Chae sudah tidak memiliki keluarga lainnya. Makanya ia tidak bisa menitipkannya pada siapapun. Sedangkan suaminya telah meninggal dunia pada usia muda.

Permasalahan terjadi ketika Young-Chae mendapat tawaran agar anaknya diadopsi oleh orang lain. Dalam bayangan Young-Chae, anaknya akan tumbuh di keluarga utuh dengan kehidupan yang lebih sejahtera.

Young-Chae pun bisa bekerja dengan bebas tanpa harus pusing memikirkan pengasuhan anaknya. Tapi bayangan itu ditepis olehnya, karena ia sesayang itu dengan anaknya. Akhirnya ia mendapatkan pekerja yaitu A-Young, seorang siswa jurusan pendidikan anak yang jelas memiliki ilmu pengasuhan yang mumpuni.

Masalah kembali terjadi ketika sang bayi justru lebih dekat dengan A-Young. Sampai-sampai ketika bayinya rewel, Young-Chae tidak tahu harus berbuat apa. Hmm, sebenarnya, hal tersebut juga dialami oleh ibu lain lho. Enggak ada pengasuhpun, kadang ibu enggak tahu kenapa anak rewel. Begitu juga dengan si bayi, karena belum bisa ngomong, ia enggak bisa ngasih tahu rewelnya karena apa.

Film I cukup membuat saya terpaku, karena ternyata menjadi anak tanpa orang tua dan keluarga sehingga dibesarkan di panti asuhan di Korea, sangat tidak mudah. Begitu mereka berusia 18 tahun (kalau tidak salah), maka mereka harus keluar dari panti asuhan dan menghidupi dirinya sendiri.

A-Young cukup beruntung. Dengan keuletan dan semangatnya, ia bisa mengumpulkan uang untuk sekolah tinggi. Lain halnya dengan beberapa teman A-Young. Ada sesama mantan anak panti yang hidupnya justru berantakan. Mabuk-mabukan, dipukuli orang, dan tak punya uang.

Agak spoiler ya. Puncaknya, teman A-Young meninggal dunia. Dan hal tak terduga kembali terjadi. Jadi kalau di Korea itu, yang bisa mengambil jenazah harus keluarga. Orang tanpa keluarga sama sekali enggak bisa dimakamkan oleh orang lain yang mengaku keluarga (keluarga dari panti yang sama).

Dengan demikian, jenazah enggak bisa dikuburkan, melainkan harus dikremasi. Hiks. Aku enggak tahu ya kalau di Indonesia bagaimana. Sama kah? Atau jenazah masih boleh lah dibawa pulang bila memang anak yatim piatu dan ada orang yang bersedia memakamkannya.

Sedih banget pas adegan tersebut. Makanya A-Young enggak rela kalau baby Hyeok harus berpisah dari ibu kandungnya. Iya takut suatu hari nanti sang bayi akan ditelantarkan oleh keluarga pengadopsinya sehingga terpaksa menjadi anak panti asuhan.

Dengan sekuat tenaga, A-Young berusaha menyelamatkan baby Hyeok.

Berhasilkah usaha A-Young? Lalu bagaimana tanggapan Young-Chae, ibu dari sang bayi? Apakah ia marah dan enggak suka dengan sikap A-Young yang terkesan ikut campur? Atau justru ia berterima kasih karena mau membantunya? Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa sahabat ismi temukan bila menonton Film I.

Pelajaran dari Film I

Dari Film I, saya belajar beberapa hal, antara lain kasih ibu itu tak ternilai. Meski semuanya terasa berat dan buram, ibu tetap berusaha tegar.

Menjadi ibu tunggal di Korea juga bukan hal yang mudah. Apalagi tanpa keluarga besar yang bisa dimintai tolong. Pada akhirnya sesama perempuan harus saling menolong.

Empati sangat penting ketika kita melihat perempuan lain kesulitan. Alih-alih mengasihaninya, lebih baik bertanya apa yang bisa kita bantu. Jangan tertawa di atas penderitaan perempuan lain. Jangan pula memanfaatkan kelemahan dan kondisi terpuruknya.

Dukunglah ibu tunggal dengan apapun yang bisa kita lakukan. Pada akhirnya, semua akan terasa mudah bila ibu tunggal merasa aman dengan masa depannya, dan tahu apa yang harus ia usahakan.

Apakah ada sahabat ismi juga ibu tunggal? Yuk, sharing suka duka menjadi ibu tunggal di kolom komentar.

Semoga review Film I ini membuat sahabat ismi penasaran dan ingin menontonnya. Supaya empatinya makin meningkat terhadap ibu tunggal =D

(Visited 45 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

2 thoughts on “Review Film I, Perjuangan Ibu Tunggal di Korea

  1. ainun Reply

    kayaknya bakalan mewek kalau nonton ini ya, soalnya aku sendiri juga nangisan 😀
    baguss ini reviewnya, memang film film korea nggak perlu diragukan lagi apiknya
    parasite sayangnya sampe sekarang belum sempet aku tonton

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *