Pengalaman VBAC Anak Ketiga

Facebooktwittergoogle_plusredditmail

Assalammualaikum, lama rasanya tidak menyapa pembaca ismyama.com. Alhamdulillah hari Senin tanggal 4 November 2019 pukul 13.56 kemarin, telah lahir bayi laki-laki dengan berat 3,229 kg dan panjang 48 cm. Bayi lahir secara normal, VBAC di salah satu rumah sakit di Depok.

Bersyukur banget karena akhirnya bisa VBAC, sebuah proses persalinan yang saya impikan sejak awal tahu kalau sedang hamil. Dua kali persalinan, yaitu anak pertama normal induksi, dan anak kedua sc, membuat saya merasakan sendiri plus dan minusnya masing-masing proses persalinan.

Pengalaman setiap ibu hamil memang berbeda-beda. Sekalipun proses persalinannya sama. Oleh karena itu, pengalaman pribadilah yang saya gunakan untuk memilih proses mana yang sesuai dengan kondisi keluarga dan tubuh saya. Apalagi ketika sc anak kedua terjadi bukan karena penyulit yang berasal dari tubuh seperti panggul sempit. Oleh karena itu, saya masih bisa bermimpi untuk melahirkan normal untuk anak berikutnya.

Pencarian tenaga kesehatan yang pro VBAC pun dimulai. Di rumah sakit swasta di Jogja, saya tidak berganti dokter kandungan. Saya kontrol kehamilan ke dokter yang sama sejak anak kedua dulu. Dokter di Jogja suport VBAC dengan syarat melihat ketebalan rahim menjelang persalinan agar jahitan tidak robek.

Saya juga diberikan berbagai tips agar VBAC berjalan dengan lancar. Salah satunya adalah kontraksi alami harus terjadi (bukan diinduksi), dan berat badan janin tidak terlampau besar. Sedangkan dokter kandungan di Depok yang saya temui juga suport VBAC dengan syarat kepala janin sudah masuk panggul di minggu ke-38.

Sampai waktu kontrol berikutnya yaitu minggu ke-38, kepala janin masih belum masuk panggul. Dokter menyarankan untuk memilih tanggal sc. Saya dan suami masih ingin menunggu kontraksi datang hingga HPL. Tapi ternyata dokter berkata bahwa tanggal 5-16 November ia tidak ada di rumah sakit, alias cuti. Ya Allah ternyata di tanggal HPL ku, dokter justru tidak ada.

Saat itu aku tidak menanyakan apakah ada dokter pengganti, atau harus bagaimana jika kontraksi datang di tanggal tersebut. Kami hanya menyampaikan bahwa minggu depan akan kontrol lagi dan melihat apakah kepala janin sudah masuk panggul. Sampai rumah, saya langsung bertanya di WAG Blogger Depok City, adakah dokter yang mereka kenal di Hermina Depok yang support VBAC. Saya berniat ganti dokter yang di tanggal HPL ada di tempat.

Salah seorang blogger menyebutkan satu nama dokter. Berbekal nama tersebut, saya dan suami menemuinya untuk kontrol. Saat itu Rabu malam, dan dokter tersebut menyatakan kepala janin sudah terkunci di panggul meskipun belum masuk. Ketuban banyak, plasenta di atas dan masih bagus. Ada sedikit pengapuran di plasenta, tapi masih dalam batas wajar.

Dokter berani untuk support VBAC. Saya diminta kontrol per minggu. Tapi jika sudah ada kontraksi atau tanda-tanda melahirkan, maka diharapkan segera ke rumah sakit. Saya mengiyakan. Alhamdulillah satu kendala terlewati, setidaknya ada dokter kandungan yang ada di tempat jika saya melahirkan di HPL.

Pengalaman VBAC, lahir minggu ke-39

Kisah VBAC ku

Saya menjalani hari-hari seperti biasa, sambil berkomunikasi dengan janin agar lahir setelah Kakaknya pentas assembly hari Senin. Saya masih harus mendandani Kakak, dan ingin menonton Kakak pentas.

Siapa sangka hari Minggu kontraksi sudah berlangsung tiap jam, sepanjang hari. Puncaknya pukul 12 malam, kontraksi mulai merapat menjadi 30 detik per 10 menit. Saya tetap berbaring di kamar walaupun tidak dapat tidur nyenyak, sambil menghitung apakah kontraksi semakin rapat atau tetap per 10 menit.

Alhamdulillah sampai pagi, kontraksi tetap per 10 menit. Saya sempat mendandani Kakak, dan ia berangkat duluan bersama Ayahnya. Siapa sangka kontraksi semakin cepat yaitu per 5 menit. Wah, bakal lahiran hari ini nih, batin saya. Saya masih sempat mandi pagi, sarapan, lalu mengantar anak kedua untuk melihat sang Kakak pentas.

Sampai di sekolah Kakak, saya hanya menunggu di parkiran karena sudah tidak kuat naik ke lantai 3 tempat aula berada. Kakak pentas di aula tersebut.
Di mobil, saya masih menghitung kontraksi menggunakan aplikasi…..

Durasinya masih 30 detik dengan frekuensi kadang per 5 menit, kadang per 10 menit. Alhamdulillah pukul 9 pagi assembly Kakak sudah selesai. Saya hanya bisa menyaksikan foto dan video yang dikirim oleh suami. Begitu suami dan anak kedua sampai mobil, kami langsung menuju RS Hermina Depok.

Kontraksi sempat datang saat saya turun dari kendaraan. Satpam yang melihatnya menawarkan untuk menggunakan kursi roda, tapi saya berkata masih kuat berjalan sendiri. Begitu sampai di lantai 2, saya sudah disambut oleh satpam perempuan di lantai tersebut. Ia menemani hingga ke ruang bersalin.

Sampai di ruang bersalin, janin diobservasi menggunakan alat yang entah apa namanya. Denyut jantung janin terdengar dan tercatat di alat tersebut. Kemudian ada angka sekian persen yang entah pula menunjukkan apa. Bila kontraksi sedang berlangsung, angka persen itu naik hingga pernah mencapai 60%.

Bidan mengatakan bahwa kondisi janin bagus. Lalu saya menanyakan sudah bukaan berapa, dan bidan pun mulai memeriksa. Ternyata sudah bukaan 5. Alhamdulillah, Allahu Akbar! Afirmasi itu benar-benar terjadi. Saya kerap mengajak ngobrol janin agar ke rumah sakit di atas bukaan 4 saja, supaya tidak terlampau lama menunggu persalinan.

Bidan menanyakan saya jadinya mau melahirkan dengan bantuan dokter kandungan yang mana. Dokter pertama belum cuti. Kalaupun cuti ternyata ada dokter pengganti. Akhirnya saya memutuskan dengan dokter pertama saja karena sudah lebih sering kontrol dengan beliau.

Tak lama, yaitu pukul 11-an sudah bukaan 6 menuju 7. Bidan menelepon dokter kandungan dan beliau meminta agar ketuban dipecahkan =(. Saya tidak tahu apa tujuannya. Bidan hanya berkata agar kepala janin cepat turun ke bawah. Padahal sewaktu anak pertama dulu, ketuban pecah berbarengan dengan keluarnya janin.

Setelah ketuban dipecahin, enggak lama kemudian sudah bukaan 9. Lalu bukaan 10. Sayang dokter belum datang. Bidan mengatakan kepala bayi belum terlihat sehingga saya enggak boleh ngeden. Padahal rasa ingin ngeden sudah sangat tidak dapat dikontrol. Jadilah beberapa kali saya tetap mengejan.

Antara percaya enggak percaya, apakah kepala beneran belum terlihat atau karena dokter kandungan belum datang, alasan dari saya tidak boleh mengejan dulu. Akhirnya dokter datang juga dan saya diposisikan untuk lahiran. Setelah mengejan dua kali, lahirlah bayi laki-laki. Alhamdulillah Allahuakbar.

Ahmad Bintang Pradipta

Setelah bayi lahir, plasenta pun dilahirkan. Ternyata saya mendapat jahitan lumayan banyak. Disuntik dulu agar sewaktu dijahit tidak sakit. Kemudian entah rahim atau daerah jalan lahir dibersihkan lagi menggunakan tangan dokter. Rasanya masyaallah.

Setelah bayi ditimbang dan dicek APGAR, bayi dibawa ke saya untuk IMD. Dek bayi memang belum berhasil menemukan aerola, tapi setidaknya ia berusaha.
Setelah itu, bayi dibawa ke kamar bayi untuk observasi selama 6-8 jam agar ibunya bisa beristirahat dulu. RS Hermina tidak memberikan susu formula selama bayi di kamar bayi, karena masih ada simpanan lemak tubuh.

Saya dibawa ke kamar rawat inap beberapa saat setelahnya. Alhamdulillah bisa istirahat sebentar walaupun agak khawatir karena belum bertemu bayi. Malamnya, anak-anak datang ke RS bersama ibu saya. Mereka excited bertemu dengan adiknya di ruang bayi.

Beberapa Hal Penting Jika Ingin VBAC

1. Jarak Persalinan

Bukan rahasia kalau persalinan sc ke persalinan berikutnya disarankan setelah 2 tahun. Apalagi untuk yang mau VBAC. Diharapkan setelah 2 tahun, jahitan sc dalam kondisi bagus, tidak mudah robek sehingga tidak berisiko mengalami perdarahan rahim.

2. Mencari Nakes

Proses pencarian nakes dan provider memang gampang – gampang susah. Enggak semua nakes mau ambil risiko VBAC. Ada teman yang bercerita bahwa dokter kandungan yang ia temui tidak suport VBAC. Entah karena kondisi tertentu pada ibu dan janin, atau karena hal lain.

Cara mencari nakes dan provider nya bagaimana? Kamu bisa tanya ke teman-teman, saudara, atau tetangga yang sebelumnya pernah VBAC.

3. Baca-Baca Tentang VBAC

Ini salah satu tips yang disampaikan oleh Dsog saya di Jogja. Saya disarankan untuk mencari informasi mengenai VBAC. Agar ibu berdaya, agar ibu tahu harus ngapain saja untuk mempermudah proses VBAC.

Di awal kehamilan saya disarankan minum minimal 2 liter per hari, tidak boleh menahan pipis, dan tidak boleh berhubungan intim terlebih dahulu.

Lalu di trimester ketiga, agar ibu mengalami kontraksi dan bukaan untuk persalinan normal, dokter akan menyarankan untuk sering jalan kaki, ngepel lantai posisi jongkok, dan menjelang HPL dapat melakukan hubungan suami istri.

4. Latihan Pernapasan

Latihan pernapasan memang penting dalam proses persalinan. Waktu melahirkan anak ketiga kemarin, saya beruntung bertemu bidan yang enak dan informatif. Ia memandu pernapasan saya.

Sebelumnya saya juga mengikuti senam hamil. Pingin sih ikut prenatal yoga tapi malah akhirnya enggak jadi daftar saking perut sudah begah dan kalau pagi saya malah ngantukan.

Beneran kepakai banget teknik pernapasan untuk persalinan normal termasuk VBAC.

5. Kontrol Teratur

Jangan remehkan kontrol ke dokter kandungan ya. Kalau pun selama ini ke bidan, menjelang HPL sebaiknya berkonsultasi juga ke dokter kandungan. Paling enggak bisa dicek melalui USG. Bagaimana kondisi janin, letak kepala janin, berat badan janin, posisi plasenta, dan jumlah ketuban.

Kondisi-kondisi tersebut penting jika ingin melahirkan secara normal dan VBAC. Tidak boleh ada penyulit persalinan.

6. Jaga BB Janin

Sebaiknya berat badan janin tidak terlalu besar. Mengapa? Alasannya simpel, agar mudah dilahirkan. Makanya menjelang HPL, BB janin dicek setiap minggu agar tidak kebablasan.

7. Pastikan Posisi Janin Bagus

Posisi yang bagus maksudnya tidak terlilit tali pusat, tidak sungsang atau melintang.

8. Pastikan Kondisi Ibu Bagus

Maksudnya panggul cukup untuk persalinan normal. Tidak ada riwayat hipertensi atau pre eklamsia, dan sebagainya.

9. Ajak Janin Mengobrol

Sejak awal saya sudah berkomunikasi dengan janin agar sama-sama berjuang untuk VBAC. Agar ia membantu Bundanya untuk lahiran normal, cukup bulan dan sehat selamat. Bahkan untuk harinya saya sebutkan sehabis Kakak pentas, eh beneran di hari Kakak pentas deh. Hehe

10. Minta Dukungan Suami dan Keluarga

Suport sistem memang sangat penting. Sejak mengetahui kalau hamil, saya sudah bilang ke suami dan keluarga kalau saya ingin lahiran normal. Tujuannya agar pemulihan lebih cepat. Maklum ada dua anak lain yang masih butuh perhatian Bundanya. Alhamdulillah sih suami dan keluarga suport banget.

11. Persiapkan Mental Bila Akhirnya Tetap Harus sc

Bila akhirnya tetap harus sc, ibu sudah siap mental. Jangan sampai jadi stres sehingga ASI tidak keluar. Memang rasanya enggak enak kalau sudah kontraksi dan bukaan, tapi berakhir dengan sc. Saya tahu rasanya karena pernah mengalaminya. Ibaratnya mending dari awal sc sekalian jadi enggak perlu ngerasain sakitnya kontraksi. Hoho

12. Berdoa dan Pasrahkan Pada Allah

Yang terakhir tapi paling penting tentu saja doa. Berdoa dengan spesifik. Lahir secara normal, sehat selamat ibu dan bayinya. Soal hasil pasrahkan pada Yang Kuasa.

12 tips di atas silakan dipraktikkan ya para ibu hamil yang ingin VBAC. Konsultasikan dengan dokter kandungan mengenai kemungkinan bisa lahiran normal.

Bersama Ayahku

Ada yang mau sharing juga kah? Atau menambahkan tipsnya? Lanjut di komentar ya=)

(Visited 72 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditmail

Leave a Reply

error: Content is protected !!