20 Pertanyaan Agar Bebas Drama ART

Facebooktwitterredditmail

Bebas drama ART, bisakah? Halo pembaca ismyama.com? Gimana nih kabarnya setelah 7 bulan di rumah aja? Alhamdulillah saya mulai bisa adaptasi dengan ritme yang baru. Mulai ada pembagian tugas yang jelas dengan suami yang masih wfh. Dan anak-anak juga sudah mulai nyaman dengan rutinitas barunya.

Kalau boleh cerita, sejak Maret 2020,saya tidak mempunyai asisten rumah tangga (ART). Sedih sih, karena sedang sibuk-sibuknya malah ditinggalin oleh ART. Bayangkan, tadinya ada 1 pengasuh bayi, dan 1 ART di rumah. Lalu tiba-tiba semuanya enggak ada, padahal anak-anak dan suami jadi di rumah semua. Otomatis tugas bertambah dong. Makan anak-anak jadi 3x sehari. Bahkan suami juga makan siang di rumah. Yang tadinya enggak ngajarin anak-anak, jadi mengajar anak-anak di jam sekolah. Ribet banget. Penuh jadwal hariannya.

Tapi apa daya, drama ART membuat saya trauma. Apalagi ART yang terakhir bikin saya kesal karena dia menusuk-nusuk hati saya. Mulai dari mempertanyakan kenapa ART saya pada enggak betah. Sampai membandingkan gajinya dengan gaji ART lain di perumahan kami.

Sudah gitu, dikasih tahu juga susah. Bahkan diminta pakai masker aja ngasih tahunya ampun-ampunan. Terakhir saya sampai ditegur bapak-bapak di jalan karena dia gendong bayi tanpa pakai masker, hiks.

Masih banyak drama lain yang bikin saya trauma. Dia juga “minta baju” dengan alasan enggak bawa baju banyak. Ulala, ternyata itu modus. Di majikan yang sebelumnya dia juga dapat baju, bahkan gamis lebaran. Dan tetap saja tuh dia berhenti kerja.

Makanya hari ini saya ingin berbagi tulisan mengenai hal apa saja yang perlu diperhatikan ketika mempekerjakan ART. Jangan sampai kejadian seperti saya yang merasa ditipu penyalur ART, atau “dikerjain” oleh ART.

Terkait dengan penyalur, saya sih inginnya mendapat ART via kenalan. Lebih awet, dan jelas benar-benar mau kerja atau butuh kerja. Sedangkan via penyalur itu seringnya kayak sengaja dioper-oper dari majikan satu ke majikan lainnya.

Saya juga pernah mengambil ART via yayasan. Biaya adminnya jelas lebih mahal. Dan perjanjian kerjanya juga lebih ribet. Tapi so far ART yang bekerja ke saya juga lebih profesional. Ketika pindah rumah di Depok, biaya pengambilan ART dari yayasan di Jogja jelas lebih lagi mahalnya. Belum lagi transportasi yang harus ditanggung oleh majikan.

Sebagai informasi, saya sertakan harga yang ditawarkan oleh salah satu harga yayasan di Jogja.

Admin 1,9juta rupiah + travel 450 ribu rupiah + uang saku 100 ribu rupiah + uang jaminan 550 ribu rupiah. Total 3 juta rupiah. Uang jaminan digunakan sebagai tabungan jika pekerja tidak kerasan di tempat Ibu sebagai biaya pekerja pengganti. Wow, bahkan uang jaminan saja majikan yang menanggung.

Untuk rincian gaji pekerja: gaji 2,9-3,1 juta rupiah belum termasuk cuti. Pekerja diberi hak libur 2 hari dalam 1 bulan misal tidak ambil libur diganti dengan uang cuti 150 ribu/hari. Masa garansi 3 bulan 1 kali pengganti.

Gimana? Lumayan banget, kan, uang yang keluar? Saya sih sebenarnya tidak masalah. Asal pekerjanya profesional dan enggak sering pulang kampung atau enggak aneh-aneh.

Kesalnya adalah, belum juga kerja sebulan, sudah minta pulang sehingga harus ada penggantinya. Ada pengganti berarti saya dan anak-anak harus adaptasi lagi. Harus mengenalkan pekerjaan harian ke ART baru, dan sebagainya.

Saya akan menuliskan beberapa hal yang sebaiknya teman-teman pertimbangkan ketika akan memilih pekerja via penyalur. Teman-teman bisa menanyakan hal ini ke mereka.

20 Pertanyaan Agar Bebas Drama ART

1. Rencana pulang berapa kali dalam sebulan? Atau rencana pulang kapan?

Saya pernah nih mencari ART yang pulang hanya lebaran, karena saya masih punya bayi. Ternyata dia bilang ke penyalurnya mau pulang 2 minggu 1x. Sayangnya, sama penyalurnya diiyakan dengan alasan daripada enggak mau kerja di rumah saya.

Alhasil ya beneran pulang 2 minggu 1x. Kalau jelas pulangnya berapa hari sih masih oke ya. Tapi seringnya enggak jelas pulang berapa harinya. Sampai akhirnya saya berhentikan tepat sebelum corona mulai merebak di akhir Februari 2020 kemarin.

Ada juga yang diawal penyalurnya bilang, pekerja akan dijemput 2 minggu 1x, saya iyakan. Ternyata oh ternyata, saya diharuskan memberikan ongkos pulang perginya. Hoho.

Dan lucunya lagi, si pekerjanya sendiri enggak mau pulang. Jadi dia sampai ngumpet-ngumpet dan meminta saya agar menyampaikan ke penyalur (yang ternyata saudaranya sendiri) kalau pekerja tersebut sudah dijemput oleh orang yang dikenalnya, dengan tujuan membohongi dan agar tidak disalahkan kenapa tidak mau pulang. Kan jadi rempong. Akhirnya saya juga yang kena. Terpaksa deh ART tersebut juga saya berhentikan setelah 1 bulan bekerja agar saya bebas drama ART.

2. Sekolah tamatan apa?

Untuk teman-teman yang mengharapkan ART nya bisa mendampingi anak-anak belajar saat orangtua tidak ada di rumah, tentu pendidikan ART menjadi penting. Paling tidak bisa baca tulis. Terus terang, saya pribadi mengalami beda tamatan, beda hasil kerjanya.

Saya pernah punya ART yang SDnya saja tidak tamat, duh, ternyata susah komunikasi sama dia. Beda dengan yang tamat SD, apalagi tamat SMP atau SMA. Meskipun tetap banyak hal berpengaruh seperti attitude dan karakter, tapi paling tidak ketika kita punya kriteria tamatan apa, maka kemudahan berkomunikasi juga bisa diperkirakan. Bebas drama ART diawali dari mudahnya berkomunikasi.

3. Status pernikahan

Jangan lupa untuk memfoto KTP mereka. Dan pastikan status pernikahannya. Saya pernah mendapatkan ART yang katanya janda. Ternyata dia baru saja menikah lagi sebulan sebelumnya. Hedeh, akhirnya dia enggak jadi menginap, maunya kerja pulang pergi. Nah, jadi beda lagi, kan dengan kebutuhan kita sebagai majikan.

4. Ada tanggungan anak? Anak sama siapa kalau ditinggal kerja?

Nah, pertanyaan nomor empat ini penting banget. Biasanya anak-anak mereka dijaga oleh suami atau neneknya. Ada pula yang suaminya sudah bercerai dan pisah rumah dengan anaknya sehingga anak tersebut tinggal sendiri di rumahnya.

Alasan tersebut pernah dikemukakan oleh ART saya sehingga dia meminta pulang 2 minggu 1x untuk melihat kondisi anaknya dan menyetok makanan untuk anaknya. Seperti yang saya ceritakan di atas, akhirnya ART tersebut saya berhentikan.

Agar bebas drama ART, teman-teman perlu memastikan siapa keluarga atau saudara dari ART yang benar-benar dipercaya untuk menjaga anaknya.

5. Apakah suami atau orangtua mengizinkan bekerja sebagai ART?

Kisah ART dijemput sama suaminya karena enggak dibolehkan bekerja pernah dialami oleh teman saya. Suaminya preman dan melakukan KDRT ke si pekerja tersebut. Terang saja teman saya ketakutan saat suami ART nya datang untuk menjemput paksa ART tersebut.

Mereka biasanya berbohong atau memang sengaja berkata sudah diizinkan dengan harapan bisa keluar dari kondisi yang tidak nyaman di keluarganya. Hiks, jangan sampai deh kita berurusan dengan kejadian kayak gitu.

6. Terakhir bekerja dimana? Berapa lama? Mengapa berhenti kerja?

Pertanyaan keenam ini juga penting. Saya jadi ingat salah satu mantan ART saya sukanya ngomongin mantan majikannya. Bilang dia orang baiklah, royal, tapi mertuanya yang jahat. Wkkka, saya sih diam saja saat itu. Tapi dalam hati kesel banget, kalau memang mantan majikannya orang baik, ya kenapa berhenti bekerja.

Sebenarnya hal tersebut adalah tanda negatif yang saya abaikan. Harusnya sejak awal saya tidak menerima ART model kayak gitu. Sudahlah baru sebulan kerja, eh menjelek-jelekkan mertua majikan pula.

Ada juga calon ART yang ketika saya wawancara mengatakan dia biasa kerja 3-4 bulan, setelahnya pasti pindah kerja. OMG! Saya langsung enggak jadi mempekerjakannya demi bebas drama ART.

7. Apakah menginginkan hari libur?

Untuk ART yang masih muda, ia tentu membutuhkan bersosialisasi dengan teman-temannya. Jika memang ada teman atau saudara yang sekota, ia pasti ingin bertemu.

Nah, perlu didiskusikan juga berapa kali seminggu dan maksimal berapa jam dia libur untuk bersosialisasi. Jangan sampai enggak sepakat dengan ART. Entah dia yang sering main lama, atau kita sebagai majikan tidak bisa memberikan waktu libur.

8. Apakah bersedia membantu menjaga anak?

Nomor delapan ini semacam bumerang. Saya juga enggak menyangka ternyata ada ART yang perhitungan ketika diminta beberes rumah plus menjaga anak. Padahal menjaga anaknya bukan yang seharian lho, karena saya sendiri ada di rumah.

Jadi ternyata, banyak ART yang ingin jelas di awal, apa saja pekerjaannya. Jika ada tambahan pekerjaan, mereka juga mengharapkan tambahan gaji. Tapi ada juga kok ART baik yang enggak perhitungan dan mau saja serabutan asal gaji yang kita berikan juga sepadan.

9. Apakah bersedia membantu menggendong bayi saat ibu harus mandi, salat, makan dll?

Nomor sembilan ini masih terkait dengan nomor lima. Ternyata ada juga ART yang perhitungan ketika diminta membantu menjaga bayi. Dia berharap digaji setara baby sitter jika momong bayi.

Bila teman-teman membutuhkan bantuan ART tersebut hanya sesekali, perlu ditegaskan juga berapa lama menjaga bayinya, dan ngapain aja tugasnya.

Jika ibu harus keluar rumah dan meninggalkan bayi untuk dijaga oleh ART, tentu harus ada perhitungan khusus sebagai pengganti uang lelah.

10. Apakah bersedia mencuci tanpa mesin?

Ada lho ART yang enggak mau mencuci manual, maunya pakai mesin. Bukan ART saya sih, soalnya di rumah saya pakai mesin cuci. Kalau di rumah teman-teman enggak ada mesin cuci, perlu dipastikan mau enggak ART nya mencuci manual.

Sama halnya jika kita punya mesin cuci, juga harus dipastikan ARTnya enggak gaptek-gaptek banget sehingga membuat mesin cuci rusak. Kalau perlu tempelkan alur cara menggunakan mesin cuci agar ART enggak kebingungan.

Untuk 10 pertanyaan berikutnya saya tulis di artikel meniminalkan drama ART.

Beberapa ART yang Terhindar dari Drama

Anyway saya jadi ingat Mbak Nur, mantan ART yang cukup lama ikut saya. Kerjaan bagus, karakter dan sikap bagus, saya dan anak-anak cocok. Saat dia bekerja pada kami, saya dan suami bahkan sempat umroh selama 9 hari, dan saya sempat ke Turki selama 10 hari. Rasanya tenang meninggalkan anak-anak bersama Mbak Nur, dan tentunya ada orangtua saya juga.

Sayang Mbak Nur enggak bisa ikut ke Depok dan terakhir saya menanyakan kabarnya via kakaknya ternyata sedang hamil, jadi enggak bisa kerja dulu.

Mbak Nur dan anak-anak sewaktu nganter TPA di bulan Ramadhan

Padahal sebelum hamil kami sempat video call, Mbak Nur sampai nangis pas ngobrol sama anak-anak. Ternyata dia kangen dan pingin kerja lagi. Semoga suatu hari saya dan anak-anak bisa ketemu Mbak Nur lagi. Aamiin

(Visited 4,471 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

20 thoughts on “20 Pertanyaan Agar Bebas Drama ART

  1. fanny_dcatqueen Reply

    Mba, abis baca ini, aku lgs bersyukuuuuuur banget ga pernah diksh drama saat punya ART dan babysitter. Ambil ART dari yayasan aku blm pernah, Krn memang yg aku dgr mahal dan banyakan ga beresnya. Jd aku juga kuatir. Dari pertama nikah, Aku dpt ART itu ditawarin tetangga. Orang kampungnya mau kerja. Aku lgs maulah. Awet., Tapi kmudian dia nikah, jd berhenti. Eh dia berhenti, tetangga nawarin lagi ada yg baru.

    Aku terharu itu sbnrnya, Krn ga ush repot2 nyari, udh diksh lagi. Nah yg skr awet Ampe HR ini. Baiiik banget anaknya. Trus babysitter juga sama, ikut Ama aku dari anak2 bayi, Krn majikan lamanya pindah ke Bekasi. Rumah dia Deket Ama kompl rumahku. Jd lgs mau jagain anak. Stop jd babysitterku hanya Krn dia meninggal , udah tua :(. Itu sedihnya ga bisa bilang. Udh kayak ibu kedua buat anak2 :(.

    Tp aku lgs dpt ganti, cm yg skr LBH ke cuci dan setrika Ama ganti2 masak. Urusan anak2 skr aku pegang sjk udh resign. Jd ga butuh babysitter LG. Cuma aku ttp butuh 2 asisten buat urusan rumah. Memang rezeki sih yaa kalo udh masalah ART. Adekku terpaksa resign Krn ga dpt pembantu. Kaka iparku dpt ART drama semua juga. Akhirnya ga mau pake lagi.

    Aku kangen bisa punya pembantu dan babysitter kayak zaman aku kecil dulu. Babysitter yg ngasuh aku dulu bertahan dari aku lahir Ampe adek2ku SMP. Jujur aku malah LBH Deket Ama dia drpd Ama mama :D.

    Kalo aku sampe dpt drama ART kayak yg mba rasain, emosi jiwa sih itu :p. Yg minta baju itu bikin gemes. Trus itu yg interview bilang kerja cuma 3-4 bulan trus cari baru, blm pernah belajar cara interview yaak hahahahhaa. Polos amat, ato sbnrnya ga pengen kerja :p

    • dian.ismyama Post authorReply

      Iya mba alhamdulillah kalo ga pernah dpt drama. Pan kapan qcritain yg awet brg aku. Tapi memang ga bisa selamanya ikut kita kan? Iya yg minta baju itu aq smpe trauma, kezelnya ga udah2.mknya setelah itu off art pe 7 bulan, saking traumanya. Dlu ibuku ganti2 art jg ada puluhan kali, tp aq g ada yg inget. Oh ya waktu anak msh 1 saya pakai yg pulang pergi cuci setrika beberes dll awet 6th g pernah ganti. Y krn mmg tinggalnya deket situ

  2. Ratna Reply

    Ini tahun ke-6 tanpa ART. Setelah dijalani, everything goes well. Padahal mulanya khawatir, banyak kecemasan yang ternyata tidak perlu. Apalagi setelah anak2 besar, melakukan pekerjaan domestik ternyata merupakan salah 1 hal yang penting dalam tumbuh kembang anak (dari periode anak/pre-teen ke dewasa khususnya). Mereka lebih mandiri. Tapi jika anak2 masih usia toddler, support system semacam ART ini memang terasa sekali sih manfaatnya.

  3. Agustina Purwantini Reply

    Ya ampuuuiun. Aku baru tahu lho, Mbak, klo ada drama ART segala di dunia ini. Kupikir semua ART tuh baik2 saja. Maklumlah. Saya kan gapernah punya ART. Sementara ART budhe saya itu duileeee awetnyaaa. Sejak saya TK sampai saya setua ini, aweeett. Budhe Pakdhe sudah wafat, si ART ngikut anak Budhe.

  4. Yustrini Reply

    Jaman sekarang memang lebih susah cari ART, terutama yang bisa betah kerja. Kalo dulu ibu saya mudah cari ART saat anak-anaknya masih kecil. Bahkan seringnya awet kerja di rumah. Rata-rata berhenti kerja karena sudah tua.

  5. Ismarlina Mokodompit Reply

    Ternyata drama ART bisa sepelik ini ya dan bikin aku harus berpikir 2x kalau suatu saat harus punya ART. Makasih banyak ya mbak, cara dan pertanyaan yang harus diajukan di atas bermanfaat sekali ~

  6. Wiwin | Pratiwanggini.net Reply

    ART jaman sekarang ga beda dengan pegawai kantoran yang suka jadi kutu loncat ya.. hehehe.. Padahal jadi ART toh enggak ada jenjang karirnya. Hmm.. jadi kangen dengan ART-ART jaman dulu yang benar-benar mengabdi kepada majikannya. Masihkah bisa menemukan yang demikian di jaman now ?

  7. Mini GK Reply

    Aku baca sambil senyum-senyum. Banyak banget ternyata yang ngalamin aneka rupa drama ini.
    Gemes gemes gimana gitu ya, Mak.
    Itu kira-kira ada yang hobi klopto juga gak? Ngeri lho ini. Aku dulu juga sempat ketemu ART yang seperti Mak Dian ceritain di sini, bukan Art-ku, tapi art majikan. Aku yang tiap hari ketemu juga jadi pie ngono, di sisi lain pahamlah rasanya nyari duit, di sini lain kok ya susah banget diajak maju, kzl jadinya

  8. Mei Daema Reply

    Mba Dian ini beneran bermanfaat banget ya tulisannya, mengingat saya sering banget diceritain sama teman-teman kantor dulu, mereka sering bermasalah sma ART-nya yang pulang ga balik lagi, tetiba pengen keluar, dan ini jadi catatan penting buat aku siap-siap nanti kalau pakai ART di rumah sendiri. selama ini kalau di rumah aman sih

  9. Hanifa Reply

    Keluargaku dulu juga ada ART tapi sejak aku kelas 4 SD udah nggak pake lagi. Emang bener dramanya buwanyak banget kalo nggak diantisipasi dari awal. Beruntung banget keluarga2 yang udah dapet ART cocok sampe waktu lama.

  10. Ima satrianto Reply

    Justru kalau seingatku, saat ambil ART di tempat penampungan, malah mamaku yg diinterview, di rumah nanti kerjaannya apa, pny anak berapa, mesin cuci ada apa tidak, dll, hahahaha. Setelah itu tawar menawar gaji.

  11. Dhita Reply

    Aku tipe orang takut punya ART karena banyak cerita gitu hahaha. Makanya sampe sekarang gak ambil ART (alasan lain sih karena keuangan). Tapi ibuku punya ART yang dari adekku bayi sampe adekku sekarang SMa masih bertahan. Di kampung sih emang, jadi tetangga gitu.

  12. Nisya Rifiani Reply

    wah mba, ternyata untuk nyari ART yang sreg ada tips-tipsnya ya
    musti deep interview biar pas diterima enggak kagol, dan banyak drama…
    sekarang makdi pake jasa ART lagi ya…
    ibuku dulu juga pake jasa ART sih, tapi pas anak-anaknya udah agak gede, lepas ART

  13. Akarui Cha Reply

    Memang nggak mudah ya Mba bisa bertemu dan dipertemukan dengan ART yang cocok. Orangtua saya pun mengalaminya. Apalagi waktu pakai ART dari kampung orangtua saya, duh … dramanya. Drama yang kemudian berdampak pada saya, hingga saat ini masih berjuang mengurus segalanya sendiri.

Leave a Reply to Yustrini Cancel reply

Your email address will not be published.