Update: Tips Naik Pesawat Saat Pandemi

Facebooktwitterredditmail

Tips naik pesawat saat pandemi, informasi terbaru. Halo sahabat ismi, akhirnya saya update cerita saat mudik ke Jogja tempo hari. Keputusan untuk mudik sesungguhnya sangat mendadak. Begitu tahu si Kakak (anak pertama) masih libur hampir 2 minggu lagi, dan kayak clueless buat ngisi liburannya, saya kasih usul ke suami gimana kalau mudik ke Jogja saja? Mengingat sudah dua kali lebaran tidak bisa mudik. Dan Nataru (Natal Tahun Baru) juga ada larangan mudik.

Syarat bayi naik pesawat terbang

Alhamdulillah usulan mudik disambut dengan baik. Mungkin suami kasian lihat saya yang udah enggak ketemu Mama hampir 2 tahun. Atau sudah tidak menginjakkan kaki di Jogja selama 2 tahun. Hiks

Kami langsung bergegas mencari syarat bepergian di masa pandemi. Opsi naik mobil sempat menjadi pilihan, mengingat ada bayi yang bikin tidak kebayang gimana mengkondisikan untuk bisa di tes PCR. Dan si Kakak yang hipersensitif taktil juga bakalan kesulitan saat PCR.

Tapi naik mobil ke Jogja membutuhkan waktu lebih dari 12 jam, dan si Kakak mabuk perjalanan darat menggunakan mobil. Dia biasanya mengalami mual dan muntah, bahkan saat perjalanan dekat sekalipun. Jadi opsi naik mobil juga agak susah.

Apalagi biaya ke kampung halaman ditanggung oleh kantor suami, sehingga sebenarnya kami tidak ada masalah untuk budget. Masalah hanya di bagian syarat PCR. Oh ya, berikut ini syarat bepergian naik pesawat dari Jakarta ke Jogja ya.

Syarat naik pesawat masa PPKM

Secara garis besar, maskapai mensyaratkan tes antigen untuk orang dewasa yang sudah vaksin lengkap, atau tes PCR untuk yang baru 1x vaksin. Sedangkan anak-anak di bawah 12 tahun diwajibkan tes PCR dan didampingi orang tua untuk penerbangannya.

Maka jelas sudah bahwa anak-anak mau tidak mau harus tes PCR. Kami juga perlu memperhitungkan biaya PCR untuk tiga anak yang lumayan menguras kantong. 

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskanlah saya, suami, anak-anak, dan 1 ART berangkat naik pesawat. Sedangkan sopir dan 1 ART lagi naik mobil sekalian bawa koper kami. Mobil tetap dipakai karena mau bawa beberapa barang dari Jogja, untuk di rumah baru nanti. Insyaallah.

H-2 keberangkatan, saya dan suami membesarkan hati anak-anak agar berani tes PCR. Kami memilih tes di KPH LAB Xpress- Asiatour Margonda, Depok. Lokasinya di Jalan Margonda, mudah ditemukan. 

Tempat tes PCR dan antigen ini bekerja sama dengan beberapa maskapai penerbangan sehingga biaya tes lebih murah. Misalnya saja biaya PCR untuk umum sebesar 260 ribu rupiah. Tetapi penumpang pesawat Garuda hanya perlu membayar 210 ribu rupiah saja. Untuk tes antigen dari harga 75 ribu rupiah, menjadi 45 ribu rupiah. Demikian pula untuk penumpang pesawat lain, biaya tesnya lebih murah dari umum.

Harga tes pcr termurah di depok

Sahabat ismi tidak perlu reservasi untuk tes PCR/ antigen, langsung datang saja.  Mereka buka pukul 07.00- 20.30 WIB setiap hari. Sesampainya di sana, sahabat ismi akan diarahkan untuk mengambil nomor antrian, lalu scan QR code untuk mengisi data diri. Jangan lupa persiapkan nomor KTP dan nomor KK untuk anak.

Waktu tunggu tergantung antrian. Tapi saat antrian ramai pun, menurut saya tergolong cepat. Tempat antri juga nyaman, ada AC di dalam ruangan, dan non AC di luar ruangan. Terdapat banyak tempat duduk. Petugas tes nya kooperatif, dan cekatan.

Pcr anak depok

Saya yang tadinya sangat khawatir mengenai PCR anak-anak, alhamdulillah jadi lega setelah melihat cara petugas menangani anak-anak dan bayi. Ternyata memang sudah terlatih.

Untuk penerbangan dari Jakarta ke Jogja, saya dan suami memilih maskapai yang berangkat dari Bandara Halim dan turun di Bandara Adisucipto, Yogyakarta. Alhamdulillah masih ada satu maskapai yang beroperasi. 

Pertimbangannya agar jarak tempuh dari rumah di Depok ke bandara tidak terlalu jauh. Begitu pula dari Bandara Adisucipto Jogja ke rumah orang tua saya. Tapi ternyata, takdir berkata lain.

Malam hari sebelum hari H keberangkatan, tiba-tiba suami ditelepon oleh pihak maskapai. Perwakilan maskapai mengatakan bahwa ada masalah teknis (menurut prasangka kami lebih karena kursi tidak memenuhi jumlah minimal untuk terbang), sehingga penerbangan kami akan diganti ke jam lain.

Masalahnya, jam yang dimaksud adalah pukul 6 pagi. Waktu yang amat pagi untuk menyiapkan tiga anak dan membawa mereka ke bandara. Apalagi kami belum menyelesaikan packing, Karena ada barang-barang yang akan dimasukkan ke koper lalu dibawa ke Jogja menggunakan mobil. Serta ada barang-barang yang masuk tas ransel untuk kebutuhan selama di bandara dan malam pertama setelah sampai Jogja.

Tips naik pesawat bersama balita
Bintang pertama kali ke bandara

Pilihan lain adalah diganti ke pukul 15.45 WIB, tapi berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, dan turun di Bandara YIA. Dengan berat hati, akhirnya kami memilih penerbangan sore. Daripada ketinggalan pesawat, kan?

Keputusan kami cukup tepat. Saat sampai di Bandara Soeta pukul 14.30 WIB, ternyata hasil PCR anak-anak harus diprint. Astagfirullah, saya kira bisa online dong. Sudah zaman digital masa masih enggak paperless:(

Tapi demi mengikuti aturan, ya saya print juga. Ada tempat print tersendiri yang sudah disediakan oleh bandara. Dengan membayar 4000 rupiah per lembar, sahabat ismi bisa mendapatkan hasil print PCR dan kartu vaksin (yang katanya di beberapa penerbangan mewajibkan print-printan -nya, entahlah).

Setelah ngeprint, masih belum selesai. Hasil print perlu divalidasi oleh petugas. Petugas hanya menanyakan tanggal lahir nama anak yang diPCR, dan kota tujuan. Sampai-sampai suami saya gregetan sendiri. Untuk validasi yang valid seharusnya dicek ke data digital yang dikoneksikan ke laboratorium terkait. Bukan hanya dari visual kertas PCR dan verifikasi pertanyaan ke penumpang. 

Ya sudahlah. Saya hanya enggak sampai pemikirannya, kalau tujuannya untuk menghindari pemalsuan tes, seharusnya ada banyak cara lain untuk verifikasi data. Bukan hanya diminta print dan membubuhkan cap tanda tervalidasi.

Proses tersebut cukup memakan waktu hampir setengah jam lebih, karena harus antri dan kebetulan printer yang dekat dengan posisi kami amat lambat dalam mengeprint.

Akhirnya kami berhasil cek-in sekitar pukul 15.00 WIB, dan masih harus jalan ke gate 16. Lumayan jauh bo jalannya. Sungguh, bila boleh membandingkan dengan saat pulang ke Depok (menaiki kereta), maka saya merasa jauh lebih tidak capek.

Hikmahnya, akhirnya saya menjejakkan kaki di Bandara YIA. Bandara baru Jogja yang digadang-gadang sebagai bandara tersebesar se-Indonesia. Bagus sih, luas sih. Tapi sama seperti Bandara Soeta, emak-emak tiga anak jadi gempor jalannya, haha.

Kemegahan bandara YIA

Sampai di Bandara YIA, kami menyempatkan diri untuk makan malam terlebih dahulu. Karena perjalanan ke Jogja masih 1 jam lebih. Kami memilih naik Grab bandara agar bisa langsung sampai ke rumah orang tua saya. Karena kalau naik kereta bandara, masih harus pesan mobil online lagi.

Alhamdulillah, sekitar pukul 20.00 WIB, saya dan keluarga sampai juga di Jogja. Lumayan kan perjalanannya? Berangkat dari rumah pukul 12.30 WIB, dan sampai Jogja 8,5 jam kemudian. Pada akhirnya tidak selisih jika naik kereta. Next, saya akan tuliskan perjalanan pulang dari Jogja ke Depok menaiki kereta eksekutif Argolawu, sebagai pembanding.

Secara general, tips naik pesawat saat pandemi dengan batita yaitu:

  1. Pilih maskapai yang kira-kira jarang delay/ mengganti jam keberangkatan
  2. Persiapkan aplikasi Peduli Lindungi. Bila perlu, screenshot sertifikat vaksin dan simpan di galeri handphone. 
  3. Lakukan tes PCR dan usahakan punya hardcopy -nya sebelum menuju bandara
  4. Lakukan tes antigen dengan estimasi cukup waktu 24 jam di jam keberangkatan
  5. Untuk penerbangan ke daerah tertentu (luar Jawa/ ke luar negeri), cek lagi persyaratannya. Karena ada yang mensyaratkan semua dokumen terkait vaksinasi dan tes antigen/PCR dalam bentuk hardcopy.
  6. Persiapkan bekal makan/ budget makan di bandara
  7. Persiapkan transportasi ke dan dari bandara ke lokasi tujuan (hotel/ rumah keluarga, dll)
  8. Cek ricek semua kelengkapan dokumen sebelum berangkat ke bandara (KTP, e-ticket penerbangan, dll).

Semoga tips naik pesawat saat pandemi ini bermanfaat bagi sahabat ismi yang ingin mudik atau bepergian dengan aman selama pandemi ya. Untuk bepergian ke luar negeri, saya yakin ada banyak syarat tambahan seperti harus karantina. Pastinya butuh budget tambahan terkait penginapan dan makan selama masa karantina.

(Visited 103 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

25 thoughts on “Update: Tips Naik Pesawat Saat Pandemi

  1. Nurul Sufitri Reply

    Wah, lengkap nih tips naik pesawat di masa pandemi. Ternyata memang banyak yang harus dipersiapkan, jangan sampai terselip hehehe. AKu sekeluarga belum pernah di-PCR sih eh kecuali Rafa 1x di sekolahnya beberapa waktu lalu. Penanganan PCR terhadap anak2 di KPH Lab Xpress Asiatour Depok oke juga ya, anak jadi ga takut 😀 Seru banget sebagian naik pesawat dan lainnya tetap menggunakan mobil ke Jogja.

  2. diane Reply

    Bepergian di masa sekarang emang lebih ribet ya..harus dengan berbagai dokumen kesehatan yang bener-bener lengkap.. Apalagi naik pesawat.. Tapi ya demi keamanan dan kenyaman..kita tetep ikuti ya…

  3. Gusti yeni Reply

    Alhamdulillah senengnya akhirnya bisa mudik ke Yogya ya bun, memang agak ribet masa pandemi bepergian kudu siap plan A dst.

    Sertifikat vaksin wajib sc karena tidak semua tempat sinyal bagus buat scan peduli lindungi 👌

  4. Molly Reply

    Pengalaman ayah kemaren ke jakarta emang rada ribet mbak. Mesti swab test, dll. Nanti2 aja deh berangkatnya. He he

  5. Nurul Rahma Reply

    Mbaaa, biaya mudik ke kampung halaman bisa ditanggung kantor suamik?
    Ya ampuunn, bersyukur bangeettt itu mba 😀
    Apalagi, klo anak2nya lebih dari satu.
    Mayan buanget bisa hemat budget rumtang 😀

    • dian.ismyama Post authorReply

      Hehe bisa mbak. Setahun sekali. Idealnya pas lebaran. Bisa ke kampung halaman istri juga. Tapi karena kampung halaman kami sama ya cuma bisa ke Jogja. Kalau ngaku2 dari Bali trs ke Bali ya ga ditanggung biayanya

  6. Yeni Sovia Reply

    Setuju mba kalau bisa kita punya hardcopy hasil PCR ya. soalnya ga semua klinik atau lab tempat PCR udah bekerja sama ama peduli lindungi. Jadi kalau punya hardcopynya bisa jaga jaga kalau dibutuhkan. Sekarang sejak ada booster vaksin aku jadi penasaran apakah naik pesawat yg udah vaksin 2 tetep boleh antigen aja atau PCR krna blum vaksin ke 3 ya. Siapa tau ada aturan terbaru lagi skrang

  7. Nanik Nara Reply

    Tiap bandara emang kebijakannya bisa beda-beda mbak. Di Juanda wajib validasi hasil print out bagi yang hasil tes belum terkoneksi ke aplikasi peduli lindungi. Pas saya terbang dari Bali, malah nggak ada pemeriksaan hasil tes, saya yang sudah chek in online langsung bisa melenggang aja ke ruang tunggu nunggu boarding

  8. Uniek Kaswarganti Reply

    Duh lah ribet ternyata ya harus pake diprint segala. Trus selama ini sistem yang terkoneksi buat apa cobaa… ikutan gemes heheee…
    Kalau bisa sih masih menghindari naik pesawat kalau perjalanan masih di Jawa. Sungguh keribetannya luar biasa yaaa… Anyway thanks untuk tipsnya, misal urgent harus naik pesawat jadi tahu harus gimana persiapannya.

  9. andiyani achmad Reply

    di tahun 2021 tanpa disangka aku akhirnya naik pesawat buat keperluan dinas kantor, dan itu rasanya nano nano hahahah… alhamdulillah sudah vaksin dua kali dan upload peduli lindungi, persiapannya pun cukup banyak, terutama dalam hal perlindungan

  10. Mutia Karamoy Reply

    Wah aku belum pernah turun di YIA, karena dulu masih turun di Adisucipto, jadi pingin ke Jogja lagi tapi biaya tes PCR lumayan ya, kalau perjalanan lewat darat anak-anak harus dalam kondisi prima kesehatannya biar ngak rewel sepanjang jalan, apalagi anak bungsuku termasuk sensitif, mudah mual kalau perjalanan jauh. Terima kasih mbak Tipsnya, jadi bisa prepare jauh-jauh hari kalau mau naik pesawat bersama anak-anak.

  11. lendyagassi Reply

    Oh, jadi lumayan lama perjalanan menggunakan naik pesawat yaa..
    Tapi iya sih, kalau dari Bandung – Jakarta tuh mending lewat jalur darat aja. Lewat jalur udara, nunggunya lama. Plus naik pesawat zaman sekarang, demi kebaikan bersama, kudu PCR dulu.

    Tapi tetap harus bersyukur karena semua sehat dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga besar.
    Barakallahu fiikum, kak Ismy.
    Sehat semua dari berangkat sampai pulang kembali ke Jekarda.

  12. Eri Udiyawati Reply

    Perjalanan naik pesawat di saat pandemi gini, persiapannya memang kudu double-double, ya. Ya hasil PCR, bukti vaksin (scan peduli lindungi), dan lainnya. Apalagi bawa balita. Haa, super.

    Ngomong-ngomong soal Jogja, saya juga udah lama banget gak ke sana. Kangen sama suasana dan tempatnya yang selalu menawan hati.

  13. Dedew Reply

    Memang agak ribet ya bepergian di masa pandemi, aturan cepat berubah, keponakan saya juga di pcr di Jambi karena baru sekali vaksin dan hasilnya itu dikirim lab mepet dengan jadwal penerbangan bikin deg-degan

  14. Rach Alida Reply

    Halo mba Dian, aku alamin pas ke Surabaya naik pesawat saat pandemi ini memang tak mudah. Aku juga nggak tahu bahwa harus menunjukkan print hasil swab karna nggak muncul di aplikasi. Kalau nggak urgent, kayaknya nggak dulu. Makasih sudah berbagi

  15. Milda Ini Reply

    yah itu mak, uah zamannya kita ketemu kondisi kayak gini yah. saya akhirnya memutuskan tidak membawa anak bulan lalu pas kegiatan perjalanan bisnis keluarga karena gak kuat melihat anak dicolok2 meski katanya bisa safe, tapi tetap ajalah ngak tega.

  16. Arinta Adiningtyas Reply

    Mak, aku bayangin hidung dicolok-colok rasanya udah ngilu duluan. Ini gimana dengan anak-anak? Luar biasa banget anak-anak kuat…
    Btw, Tanteku dari Bogor – Solo cuma 6,5 jam via tol, Mak… Pake pesawat ternyata tidak lebih cepat jatuhnya, yaa… Cuma kalau kendalanya di mabuk darat, kasihan anaknya juga sih kalau dipaksakan, yaa…

  17. Dian Reply

    Wah iya, banyak juga ya yang harus dilakukan saat naik pesawat di masa pandemi seperti ini
    Makasih da nulis ini ya mbak, bisa aku share ke suami
    Kali aja dia ada perjalanan dinas naik pesawat

  18. Jiah Al Jafara Reply

    Bepergian zaman sekarang emang ribet ya karena kudu vaksin, tes pcr juga, dan lainnya. Tapi kalau butuh, ya udah dibisa-bisain. Kebayang kalau Mbak Dian ikut yang pagi, rempong banget itu apalagi ada anak-anak. Alhamdulillah pilih penerbangan sore yaaa

  19. Kartika Nugmalia Reply

    Wah harga PCR di jawa udah lumayan terjangkau ya, punyaku dulu per orang PCR 500.000, tapi itu bulan SEptember udah turun, bulan bulan sebelumnya masih satu jutaan hiks

  20. Ria Rochma Reply

    Selama pandemi, belum lagi memutuskan untuk bepergian menggunakan pesawat. Tapi, setidaknya, jadi ngerti apa ajah yg dibutuhkan jika suatu saat aku dan keluarga harus pergi menggunakan pesawat

  21. Helena Reply

    Huwaaa iya mbak biaya PCR kerasa banget ya. Malah waktu itu aku PD banget minta antigen aja buat anak-anak. Pas sampai lab diingatkan petugasnya untuk PCR mana jamnya mepet jadi ya sudah pakai PCR dengan hasil yang cepat (artinya biaya nambah sekitar 100ribuan dari harga normal)

    Eh trus waktu di bandara enggak pakai ngeprint hasil PCR anak, mbak. waktu itu naik super air jet. Malah ga ditanya sama sekali hasil tesnya. Jadi heran juga sih ini sebenarnya gimana sistem di bandara.

  22. Eni Rahayu Reply

    Naik pesawat di masa pandemi syaratnya banyak banget ya, tapi gakpapa demi keamanan dan kesehatan. By the way, dapat makanan di pesawat kah?

  23. ivonie Reply

    Biar jadi pengalaman ya mbak, naik pesawat saat pandemi gini, gak pandemi aja naik pesawat bawa anak rempong bukan main, aku pernah tuh naik penerbangan pagi jam 6, ke bandara jam 2 pagi deh mbak

  24. echaimutenan Reply

    mbak kirain kalau anak sudah vaksin 1 x tetep bisa antigen, ternyata harus pcr ya. kalau dah 2 bisa booster
    untung sekarang pcr terjangkau ya, kebayang kalau dulu mahal bangett

Leave a Reply

Your email address will not be published.