Sakit itu Bernama Osteo Arthritis

Facebooktwitterredditmail

Sore itu, papaku pulang dengan kernyitan di dahi. Tak ada kata yang keluar, hanya ringisan tanda nyeri yang terbaca olehku. Ini sudah kesekian kalinya beliau kumat sakit sendinya. Ya, memang dokter sudah mendiagnosa papaku dengan osteoartritis, atau dengan kata lain, radang sendi.

Sudah hampir empat tahunan mungkin, Papa hidup dengan radang sendinya. Harus berdamai dengan obat pereda nyeri, dan mulai mengubah pola hidupnya agar radang sendi tidak semakin parah.

Sebenarnya, apa sih radang sendi itu?

Radang sendi adalah penyakit yang sering dialami oleh orang lanjut usia. Pertambahan usia membuat pelumas di antara sendi menjadi berkurang, menipis, sehingga ketika digunakan untuk beraktivitas, sendi-sendi tersebut terasa ngilu.

Radang sendi atau arthritis, dibagi dalam beberapa jenis. Hingga kini ada lebih dari 100 jenis arthritis, dan masih terus bertambah. Jenis yang paling banyak adalah Osteoarthritis (OA), arthritis gout (pirai), arthritis rheumatoid (AR), dan fibromialgia. Apa saja bedanya? Kita lihat perbedaan dari tiga jenis arthritis yang paling popular, yaitu

Osteoarthritis (OA)

Merupakan penyakit sendi yang perkembangan keparahannya sangat cepat, dimana rawan kartilago yang melindungi ujung tulang mulai rusak, disertai perubahan reaktif pada tepi sendi dan tulang subkhondral yang menimbulkan rasa sakit dan hilangnya kemampuan gerak.

Insidensi (jumlah orang baru yang sakit) dan prevalensi (jumlah kejadian penderita baik baru maupun lama) OA berbeda-beda antar negara. Penyakit ini merupakan jenis arthritis yang paling sering terjadi yang mengenai mereka di usia lanjut atau usia dewasa. Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, arthritis jenis inilah yang dialami ayah saya.

Arthritis gout (pirai)

Arthritis jenis ini lebih sering menyerang laki-laki. Biasanya sebagai akibat dari kerusakan sistem kimia tubuh. Kondisi ini paling sering menyerang sendi kecil, terutama ibu jari kaki. Arthritis gout hampir selalu dapat dikendalikan oleh obat dan pengelolaan diet.

Arthritis Rheumatoid (AR)

Merupakan penyakit autoimun, dimana pelapis sendi mengalami peradangan sebagai bagian dari aktivitas sistem imun tubuh yang menyerang tubuhnya sendiri. Arthritis rheumatoid adalah tipe arthritis yang paling parah dan dapat menyebabkan cacat, kebanyakan menyerang perempuan hingga tiga sampai empat kali daripada laki-laki.(1)

Karena ayah saya mengalami OA, maka artikel kali ini akan menitikberatkan pada penyakit tersebut.

Insidensi (jumlah penderita yang baru) dan prevalensi (jumlah semua penderita baik baru dan lama) Osteoarthritis (OA) bervariasi pada masing-masing negara, tetapi data pada berbagai negara menunjukkan, bahwa OA adalah yang paling banyak ditemui, terutama pada kelompok usia dewasa dan usia lanjut (3)

Prevalensinya meningkat sesuai pertambahan usia. Data radiografi menunjukkan bahwa OA terjadi pada sebagian besar usia lebih dari 65 tahun, dan pada hampir setiap orang pada usia 75 tahun (2)

Prevalensi

Berdasarkan data prevalensi dari National Centers for Health Statistics, diperkirakan 15.8 juta (12%) orang dewasa antara 25-74 tahun mempunyai keluhan sesuai OA. The National Arthritis Data Work Group dengan menggunakan The First National Health and Nutritional Examination Survey (HANES I) dan data lain meramalkan, bahwa pada tahun 2020 diperkirakan 18,2% masyarakat Amerika akan menderita OA.

Data di Indonesia, diketahui sekitar 56,7% pasien di poliklinik Rheumatologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta didiagnosis menderita salah satu jenis OA.

Insidensi

Insidensi OA panggul dan lutut mendekati 200 per 100.000 orang per tahun. Insidensi OA panggul lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki, sedangkan insidensi OA lutut antara perempuan dan laki-laki sama (1)

Yang menarik adalah, faktor risiko dari OA, beberapa sama dengan faktor risiko pada penyakit jantung dan kolesterol. Medis mengenalnya dengan istilah penyakit kardiovaskular, atau penyakit jantung dan pembuluh darah.

Apa saja sih faktor risiko yang dimaksud?

Obesitas

Obesitas dapat dinilai dari BMI (Body Mass Index), bila BMI lebih dari 27 kg/m2, maka termasuk obes. Nah obesitas ini ternyata merupakan salah satu penyebab OA. Setiap penambahan berat ½ kg, tekanan total pada satu lutut meningkat sebesar 1–1½ kg.4 Setiap penambahan 1 kg meningkatkan risiko terjadinya OA sebesar 10%. Bagi orang yang obes, setiap penurunan berat walau hanya 5 kg akan mengurangi faktor risiko OA di kemudian hari sebesar 50%. Wah, jumlah yang besar, bukan? (1)

Olahraga, trauma

Olahraga atau aktivitas fisik berlebihan ternyata dapat meningkatkan risiko terjadinya OA, misalnya saja aktivitas dengan tekanan berulang pada tangan atau tubuh bagian bawah. Usia juga mempengaruhi lho, manula yang terkena cidera saat beraktivitas atau berolahraga, tentu mengakibatkan OA berkembang lebih cepat dibanding bila anak muda yang terkena cidera.

Tapi hal ini bukan berarti kita tidak boleh berolahraga. Olahraga aerobik sangat bagus untuk kesehatan sendi, bahkan jantung dan pembuluh darah. Untuk menentukan jenis olahraga apa yang cocok untuk kita, anda dapat berdiskusi dengan dokter maupun instruktur atau pelatih olahraga. Bahkan penderita OA pun dianjurkan untuk melakukan olahraga tertentu sebagai bagian dari terapi tanpa obat.

Nutrisi

Radikal bebas, berperan terhadap penyakit degeneratif (penyakit penuaan), termasuk OA. Oleh karena itu, dengan mengonsumsi antioksidan, diharapkan dapat memberi perlindungan. Karena OA berkaitan dengan tulang, maka selain makanan yang mengandung antioksidan tinggi, vitamin D juga penting untuk metabolisme dari tulang.

Genetik dan hormonal

Pengaruh faktor genetik mempunyai kontribusi sekitar 50% terhadap risiko terjadinya OA tangan dan panggul, dan sebagian kecil OA lutut. Sementara itu, hormon yang berperan penting adalah estrogen, dimana estrogen mempengaruhi penyakit inflamasi dengan merubah pergantian sel, metabolisme, dan pelepasan sitokin(1)

Dari berbagai faktor risiko di atas, mana saja yang bisa dikendalikan? Tentu saja berat badan, nutrisi dan olahraga! Sementara genetik, serta usia tidak bisa dikendalikan. Hormonal pun termasuk yang sedikit bisa dikendalikan dengan terapi hormon.

Sama halnya dengan penyakit jantung dan kolesterol tinggi, ini contoh beberapa hal yang bisa diubah dan tidak bisa diubah.

Faktor risiko yang bisa dikendalikan dan yang tidak
Faktor risiko yang bisa dikendalikan dan yang tidak

Dari faktor risiko yang bisa diubah, tentunya kita dapat melakukan pencegahan.

Caranya gimana?

Pencegahan penyakit kardiovaskular dan degeneratif, termasuk OA
Pencegahan penyakit kardiovaskular dan degeneratif, termasuk OA

1. Berhenti merokok
Merokok menjadikan sel-sel di dalam tubuh menjadi tidak sehat, karena penuh radikal bebas. Berhenti merokok tentu bukanlah hal yang mudah, tapi bila sudah berniat, tak ada yang tak mungkin.

2. Makan makanan yang rendah lemak, kolesterol, gula dan garam. Makan makanan yang tinggi serat.

Contoh makan malam sehat
Contoh makan malam sehat. Sumber foto FP H2 Health&Happiness
Contoh makan malam sehat
Contoh makan malam sehat. Sumber foto FP H2 Health&Happiness

Lemak dan kolesterol tinggi jelas meningkatkan risiko terjadinya plak dari lemak yang dapat menempel di pembuluh darah dan mengeras. Sementara garam dapat meningkatkan tekanan darah, dan gula meningkatkan risiko terjadinya diabetes mellitus. Lain halnya dengan makanan tinggi serat yang baik untuk saluran cerna.

Pencegahan penyakit kardiovaskular dan degeneratif
Pencegahan penyakit kardiovaskular dan degeneratif

3. Aktivitas fisik
Seperti sudah dijelaskan di atas, bahwa olahraga 30 menit/hari dan sebaiknya minimal 3x/minggu, dapat menyehatkan jantung dan tubuh. Lemak-lemak terbakar, jantung berkontraksi dengan baik, pembuluh darah lebih lancar alirannya, dan tubuh menjadi bugar. Sesuaikan jenis olahraga dengan keadaan fisik dan usia kita ya.

4. Hindari stres
Stres dapat memicu peningkatan tekanan darah, maupun penyakit jantung. Stres juga berakibat naiknya asam lambung yang mengganggu saluran cerna. Stres dapat dihindari dengan banyak cara, baik meditasi, yoga, berdzikir, konseling, maupun melakukan hobi yang disukai.

Selain pencegahan di atas, ada juga 4 pilar gizi seimbang yang perlu kita ketahui. Tak hanya nutrisi saja yang berperan, tapi juga 3 hal lainnya, yaitu:

4 Pilar yang perlu di praktekkan
4 Pilar yang perlu di praktekkan

1. Makanan beraneka ragam
Tak hanya makan karbohidrat saja, tapi juga cukup sayur dan buah. Jenis sayuran dan buah serta lauk pun buatlah dengan bervariasi, jadi tubuh mendapatkan semua jenis protein, vitamin dan mineral.

2. Pola hidup bersih
Apa gunanya makanan bergizi kalau kita tidak hidup bersih. Sanitasi memang masih menjadi masalah utama di Indonesia, maka mulailah dari diri sendiri dan keluarga. Kebersihan minimal adalah mencuci tangan setiap habis beraktivitas yang rentan kotor ataupun sehabis bepergian. Jangan lupa selalu membersihkan rumah dan memakai masker bila sedang sakit flu/batuk.

3. Olahraga teratur
Sudah saya jelaskan sebelumnya

4. Perhatikan BB ideal
Saya biasanya menggunakan panduan BMI untuk menentukan sudah idealkah berat badan kita.

BMI bisa dihitung dengan= Berat badan (kg): tinggi badan kuadrat (m2)

Hasilnya bisa dilihat dalam pembagian ini,

Nilai BMI Kategori
< 17 Kurus
17 – 23 Normal
23 – 27 Kegemukan
> 27 Obesitas

Kategori BMI untuk Perempuan

Nilai BMI Kategori
< 18 Kurus
18 – 25 Normal
25 – 27 Kegemukan
> 27 Obesitas

 Sumber : Departemen Kesehatan RI

Pertanyaan yang paling sering saya terima adalah, apakah minum multivitamin dapat membantu?

Jawabannya adalah iya! Bila anda kesulitan untuk memperoleh atau membuat makanan sehat sendiri. Paling tidak, kebutuhan tubuh dapat tercover oleh suplemen/ multivitamin. Tapi, ada syarat tertentu lho dalam mengonsumsinya.

Apa saja?

superba krill oil

Ayah saya pun mencoba berbagai macam suplemen dan vitamin sebagai ikhtiar kesembuhannya. Beruntung, oleh PT. Kalbe Farma, saya dikenalkan pada H2 Health& Happiness Superba Krill Oil, sebuah suplemen makanan yang berbahan dasar ekstrak krill dari Lautan Antartika.

Apa sih Krill Oil itu?

Krill Oil adalah sumber omega 3 Phospolipid yang kaya kandungan DHA, EPA, serta Astaxanthin yang tinggi antioksidan alami sehingga dapat membantu merawat persendian, menurunkan kadar lemak jahat, dan memelihara kesehatan jantung.

Mengapa perlu Superba Krill Oil?
mengapa superba krill oil
Sumber foto FP H2 Health&Happiness
Proses Pemanenan Krill

Salah satu hal yang menjadi concern pecinta lingkungan adalah proses pemanenannya. Ternyata, krill ini dipanen dengaan Eco-Harvesting dan pengolahan berstandar internasional. Sistem penangkapannya ramah lingkungan, dan langsung dioleh di atas kapal, sehingga kelestarian dan kualitas krillnya terjaga (4)

Krill sendiri memiliki kelebihan dibanding minyak ikan, yaitu:

kelebihan superba krill oil

Ayah saya mencoba suplemen ini selama sebulan, hasilnya cukup terasa, jarak kekambuhan Osteo Arthritisnya berkurang. Ibu yang punya kolesterol tinggi juga minum ini, katanya, badan jadi lebih enakan.

Bagaimanapun juga, suplemen adalah pelengkap. Kita tetap harus hidup sehat dengan mengonsumsi makanan sehat, rajin berolahraga, cukup tidur, dan tentu saja menjaga kebersihan. Kalau tubuh kita sehat, mau melakukan apapun jadi lebih mudah, karena dalam tubuh yang sehat, ada jiwa yang kuat=)

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Kalbe Farma H2 Health& Happiness periode 18 April- 18 Mei 2016

Referensi:

(1) Pharmaceutical Care untuk Pasien Penyakit Arthritis Rematik. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, 2006

(2) Hansen K.E; Elliot M.E., Osteoarthritis, Pharmacotherapy, A
Pathophysiological Approach, McGraw-Hill 2005

(3) National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases,
Handout on Health: Osteoarthritis, Bethesda MD, July 2002.

(4) Leaflet Superba Krill Oil

(Visited 241 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

6 thoughts on “Sakit itu Bernama Osteo Arthritis

  1. Prima Hapsari Reply

    Semenjak hamil aku ngerasa Lutut sakit jika naik tangga, hamil kedua nambah sakit, apa itu OA ya Mak Dian. Pengen preksa kok masih ogah2an.

    • dian.ismyama Post authorReply

      Udh olahraga rutin Mak? Sama mulai mengubah pola makan. (sekalian tunjuk diri sendiri=)). Untuk lebih pastinya harus ke rheumatologist untuk diagnosa

  2. Ery Udua Reply

    Saya baru tahu menghitung berat badan ideal atau enggak di sini. Alhamdullillah, kategori normal 🙂

    Semoga sukses, mbak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *