Perawatan dan Pencegahan Disabilitas Penderita Kusta

Facebooktwitterredditmail

Assalamualaikum sahabat ismi bagaimana puasanya? Atau ada yang sudah salat ied dan berlebaran? Apapun itu, yang penting kita bisa maksimal kan ibadah dan bersilaturahmi ya. Nah, hari ini saya mau share tentang penyakit kusta.

Mengenal Kusta

Kusta adalah penyakit kulit yang bisa menular bila kontak lama dengan penderita. Ingat, menularnya enggak secepat virus corona. Kusta juga dapat mengakibatkan disabilitas jika tidak langsung diobati.

Sebenarnya kusta dapat disembuhkan secara total dengan penggunaan antibakteri rifampisin. Tetapi karena banyak penderita kusta yang merasa malu, atau tidak merasa perlu untuk berobat, akhirnya bakterinya kian ganas sehingga membuat penderita kusta mengalami disabilitas seperti mati rasa, jari bengkok, dan sebagainya.

Pengobatan penyakit kusta

Pada hari Kamis tanggal 28 April 2022, saya mengikuti Youtube Live bersama Ruang Publik KBR dan NLR Indonesia mengenai “Dinamika Perawatan Diri dan Pencegahan Disabilitas Pada Kusta di Lapangan.” Pada acara ini hadir dua narasumber yaitu dr. M. Riby Machmoed M. PH selaku dokter dan technical advisor Program Leprosy Control NLR Indonesia, dan Ibu Sierly Natae, S. Kep sebagai wasor TB/Kusta Dinas Kesehatan Kota Makassar.

Acara dipandu oleh Host Ines Nirmala yang mencairkan suasana dan memberikan banyak kesempatan para pendengar dalam memberikan pertanyaan untuk narasumber.

Menurut dr. Riby, penyakit kusta sudah lama tetapi masih ada sampai sekarang karena ada dampak sosialnya, yaitu penderita malu karena ada stigmanya. 

Stigma tersebut terjadi pada siapa saja?

  1. Pada OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta)
  2. Keluarganya 
  3. Tenaga kesehatan masih ada yang takut dengan penderita kusta. Dikira luka-lukanya bisa menular. Atau jari bengkok bisa menular
  4. Stigma masyarakat. Dianggap kutukan

Padahal kusta hanya disebabkan oleh kuman atau bakteri, yang sebenarnya bisa disembuhkan. Selain itu, obatnya sudah ada dan gratis.

Fakta Mengenai Kasus Kusta di Indonesia

Secara nasional dari tahun ke tahun ada penurunan, meskipun tidak terlalu banyak. Dari 2019 terlihat bahwa kasus kusta terdaftar 19900 orang, 2020 sisa 13180 mungkin karena faktor pandemi. Disabilitasnya 2019 ada 4,18/1 juta penduduk, sedangkan 2020 sebesar 2,13/1 juta penduduk. 

Data menunjukkan bahwa jumlah kasus kusta tertinggi terdapat di Jawa Timur yaitu 2139, disusul oleh Jawa Barat 1845, Papua 1200 kasus, Jawa Tengah 1139, dan Papua Barat 902 kasus. Tapi kalau dilihat per penduduk ya Papua Barat yang tertinggi, yaitu ada 9,9/ 10.000 penduduk atau dari 10000 penduduk ada orang 9- 10 orang di Papua Barat yang positif kusta.

WHO sudah mencanangkan target global zero kasus 2030, semoga Indonesia bisa mencapainya.

Kondisi di Makassar menurut Bu Sierly yang biasanya dilakukan ketika ada kasus yang ditemukan oleh dokter klinik, atau dokter praktek, atau dinkes, biasanya pasien menstigma dirinya sendiri. Mereka merasa malu. Tapi pendampingan keluarga, dan pendampingan nakes menjelaskan ke pasien bahwa kusta bukan penyakit kutukan atau penyakit karena ada orang iri. Tapi ada kontak dari penderita yang sudah lama kontaknya, dan bercaknya baru keluar sekarang.

Perawatan Diri Pada Pasien Kusta

Pengobatan sangat penting karena bisa mencegah pasien mengalami disabilitas.

Kegiatan yang dilakukan dinkes adalah penyuluhan, dan pemeriksaan awal yaitu ada tidaknya kelainan fungsi saraf. Lalu diberitahukan perawatan diri dengan melakukan perendaman pada daerah yang mengalami penebalan saraf. Setelah direndam digosok dengan batu apung agar penebalan berkurang. Gosok dengan minyak kelapa. Lalu istirahat.

Perawatan diri dilakukan secara mandiri setiap hari. Diharapkan disabilitas berkurang atau tidak bertambah.

Menurut dr. Ruby perlu dilakukan 3M yaitu:

1. Memeriksa

Selalu diperiksa apakah ada kelainan pada pasien kusta.

2. Merawat

Jika ada kelainan maka dirawat. Misal ada tangan bengkok, atau ada luka.

3. Melindungi

Yang ketiga adalah melindungi, antara lain tangan yang bengkok biasanya mati rasa sehingga ketika mengangkat panci atau wajan di kompor tidak merasa panas. Maka harus pakai otak, berpikir bahwa itu panas sehingga harus menggunakan alas untuk mengangkat panci tersebut.

Sama seperti yang disampaikan Bu Sierly, dr. Ruby juga memaparkan bahwa luka atau penebalan pada kulit bisa dirawat dengan cara direndam dengan air biasa. Lalu digosok dengan batu apung.

Jika ada luka tutup dengan kain perca biasa. Diharapkan bisa dilakukan sendiri agar bisa dilakukan setiap hari tanpa menunggu petugas kesehatan. Gunakan barang yang ada di sekitar, seperti batu apung tadi, minyak kelapa, atau kain perca tadi tidak harus kain kasa.

Bagaimana mendeteksi kusta? 

Gejala-gejala dini kusta antara lain terdapat bercak putih atau kemerahan yang tidak gatal, tidak sakit.

Bisa juga terjadi kelemahan pada jari-jari tangan, dan kaki. Selain itu, kelopak mata susah tertutup rapat.

Jika ada gejala, sahabat ismi perlu mengecek ke puskesmas agar petugas memeriksa apakah bercak tersebut mati rasa atau tidak.

Ada pula yang disebut sebagai reaksi kusta yaitu demam ringan- sedang, bercak putih menjadi kemerahan, dan sakit pada sendi siku, belakang lutut, serta kaki bagian dalam. Jangan sampai mengira hanya rematik, padahal reaksi kusta.

Penularan dari orang yang belum diobati kepada orang sehat. Dengan kata lain kontak erat dalam waktu lama. Orang sehat tersebut ada faktor risiko yaitu rendahnya imunitas.

Apakah kusta bisa disembuhkan?

Masalah yang dihadapi Bu Sierly dan wasor lainnya ketika menangani pasien: 

  1. Pasien tidak mau menerima. Jadi bagaimana caranya mengubah pemahaman mereka tentang kusta, tenaga kesehatan memberikan edukasi
  2. Pemahaman nakes di lapangan tidak semuanya sama. Ada yang paham ada yang tidak. Bagaimana mengubah mindset nakes bahwa kusta menularnya lama, tidak menular langsung. Agar ketika pasien kusta datang mereka diperlakukan sama dengan pasien lain. Karna kusta adalah penyakit menular yang tidak mudah menular.

Bagaimana cara agar penderita kusta lebih percaya diri?

OYPMK dilibatkan diberbagai kegiatan. Dilihat kemampuannya apa, diberikan keterampilan agar mampu mengembangkannya. Meningkatkan kepercayaan diri ketika mengunjungi sarana prasarana di puskesmas diperlakukan sama dengan pasien lain sehingga tidak merasa didiskriminasi.

Proses perawatan berapa lama? Apakah bisa sembuh total semua luka dan bekas-bekasnya?

dr. Ruby menjawab bahwa menurut WHO ada 3 tingkatan disabilitas yaitu:

1. Tingkat 0 tidak cacat

2. Tingkat 1 mati rasa pada telapak tangan dan kaki

3. Cacat tingkat 2  jari bengkok, ada luka, kelopak mata tidak bisa tertutup.

Kalau ada luka bagaimana agar lukanya bisa hilang dengan cara perawatan diri yang sudah disampaikan di atas. Kalau tangan bengkok biasanya ditambah dengan diurut agar lebih lemas. Memang membutuhkan perawatan diri seumur hidup.

Dokter Ruby berharap agar pasien kusta ditemukan sejak dini sebelum terkena disabilitas sehingga selama pengobatan bisa dilakukan pemeriksaan fungsi saraf. Meskipun sudah selesai minum obat, kadang masih ada risiko terkena cacat.

Sebabnya karena reaksi kusta bisa terjadi sebelum pengobatan, selama pengobatan, dan setelah pengobatan. Makanya sebaiknya penderita kusta tetap rutin menemui tenaga ksesehatan per 3 bulan sekali, minimal 2 tahun sampai 5 tahun agar tidak terkena disablitas.

Buu Sierly menyampaikan bahwa petugas kesehatan harus memantau setiap kali pasien kusta datang mengambil obat. Petugas diharapkan rajin memantau fungsi saraf agar tidak terjadi disabilitas.

Indikator/kriteria yang menyatakan sudah sembuh adalah jika pasien sudah selesai minum obat sesuai jadwal yang ditetapkan, kusta kering 6 bulan, kusta basah 12 bulan. 

Bisakah kusta kambuh lagi? Bisa jika tertular dari orang lain. Atau ada kuman yang kebal dengan obat, bisa saja kumannya bangun lagi. Disebut relaps/ kambuh.

Di kusta ada indikator prevalensi rate kasus kusta masih di atas 1/10000 penduduk maka masih masuk kriteria endemik. Rate penemuan kasus baru di atas 5/100000 penduduk. Angka cacat jika di atas 5%. Proporsi anak jika di atas 5% (menandakan penularan masih cukup tinggi di daerah tersebut).

Batas penyakit kusta tidak menular lagi yaitu 2 minggu setelah minum obat seharusnya tidak menular lagi, tapi tetap harus minum obat sampai tuntas.

Kusta dicover oleh BPJS. Obatnya masih diimpor dari India dan dibantu WHO maka masih gratis sehingga kalau ada yang jual obat agar dilaporkan ke dinas kesehatan. Tapi kalau jasa dokter ya dibayar.

Kendala di lapangan menurut Bu Shierly adalah masih ada penderita di sekitar yang belum ditemukan (kontak melalui pernapasan, lewat udara) atau pernah terpapar tapi daya tahan tubuh masih bagus. Lalu baru ada gejala beberapa tahun kemudian, padahal tertularnya sudah lama.

Kenapa sosialisasi sudah gencar kok masih banyak orang terpapar? Karena kuman tersebut berada pada diri manusia. sudah ada kuman ada gejala tidak sadar. Atau ada kuman tidak ada gejala.

Dukungan keluarga sangat penting untuk mengingatkan penderita agar mau melakukan perawatan diri dan pengobatan sampai tuntas. Berikan motivasi pada penderita.

Diharapkan nakes juga melakukan pemantauan ketika melakukan pengobatan. Dan masyarakat juga terlibat untuk memberikan dukungan agar pasien cepat sembuh tanpa stigma.

(Visited 71 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

12 thoughts on “Perawatan dan Pencegahan Disabilitas Penderita Kusta

  1. Rindang Yuliani Reply

    Meski penyakit kusta sekarang kurang familiar tapi ternyata di daerah2 tertentu masih banyak yang mengalami ya dan kita harus aware dengan cara pencegahan, penanganan, serta support untuk penderitanya ini.

  2. Nurul Rahma Reply

    Edukasi seputar kusta ini kudu dilakukan secara komprehensif ya
    Karena masih banyak yg punya stigma negatif terkait penyakit ini.

  3. Ruli Retno Reply

    Wahh jadi tau banyak tentang pengobatan kusta. Sedih juga ya kalo gak tepat penanganan malah bikin jadi disabilitas

  4. Mita Reply

    Aku baru tau kalo kusta bisa kambuh lagi. Tapi dengan perawatan diri yang dilakukan penderita kusta dengan baik, maka akan sembuh total dan bisa mencegah resiko disabilitas juga.

    Pemantauan dari nakes serta dukungan semangat dari keluarga bisa membuat penderita kusta bisa semangat untuk sembuh dan jadi lebih percaya diri juga. Hal ini juga berguna untuk membebaskan penderita kusta dari stigma.

  5. Eni Rahayu Reply

    Ternyata penyakit kusta kalau tidak dilakukan pengobatan bisa menyebabkan disabilitas yaa. Baca ini jadi belajar dan nambah ilmu mengenai penyakit kusta ini. Terima kasih sharingnya

  6. Jiah Al Jafara Reply

    Masih yang yang berpikir negatif tentang kusta ini. Pertama memang diri sendiri harus menerima baru pengobatan dimulai. Kita gak perlu menjauhi, tapi beri dukungan. Kan penyakit ini bisa disembuhkan

  7. Rudi G. Aswan Reply

    Nah, edukasi publik itu penting banget ya Mbak biar kusta ga dianggap sebagai penyakit kutukan atau ga bisa disembuhkan. Kasihan OYPMK jadi minder dan kehilangan kesempatan bekerja utk hidup mandiri kalau stigma negatif masih dibiarkan. Bisa sosialisasi ke kampus dan sekolah atau ruang ruang publik bahwa kusta bisa sembuh dan OYPMK bisa hidup normal.

  8. Nyi Penengah Dewanti Reply

    Gejala kusta tuh mirip mertua laki ku kak. Cuma dia katanya gara-gara ditotolin ayam jadinya begitu kulitnya. Makasih ya kak buat ilmunya meski ga ikutan acaranya aku.

  9. Diah Kusumastuti Reply

    Kalau sudah punya stigma bahwa kusta tuh kutukan, kasihan penderita dan keluarganya ya, Mbak. Agak susah pengobatannya jadinya.
    Btw aku baru tahu cara perawatan penyakit kusta. Ternyata gak sulit, ya. Tapi harus sabar dan telaten, bisa seumur hidup 🙁

  10. Oky Maulana Reply

    Wah BPJS banyak juga ya covernya, baru tau masa ada penyakit yang namanya kusta. Pernah dengarnya kista. Heheheh

  11. Syarifani Reply

    Ternyata jumlah penderita kusta di Jawa Timur masih banyak juga ya mba. Kupikir pulau Jawa itu udah bebas Kusta karena akses fasilitas kesehatan juga lebih mudah.
    Kalau jumlah penderita Kusta Basah di Jawa apa masih banyak juga mba?

  12. Ruziana Reply

    Penyakit kusta masih dianggap penyakit aib disebagian masy. Karena itu dukungan org terdekat dan pihak kompeten sgt diperlukan agar penderita mau rutin berobat dan kontrol

Leave a Reply

Your email address will not be published.