Museum Wayang Jakarta, Dari Gatotkaca Hingga Si Unyil

Facebooktwitterredditmail

Museum Wayang isinya apa? Assalammualaikum sahabat ismi, bagaimana kabarnya? Liburan sekolah pada kemana nih? Saya kebanyakan di rumah saja, karena menjelang Iduladha berencana mudik ke Jogja. 

Kota Tua Jakarta

Beberapa hari yang lalu, saya bersama anak-anak akhirnya keluar rumah. Kami pergi ke Museum Wayang dan Boneka. Saya sempat mencari di Google yaitu di Jalan Pintu Besar Utara No.27 Pinangsia, RT.3/RW.6, Kota Tua, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11110. Tapi sayangnya saya enggak cari tahu dulu, kalau mau ke sana berhenti di stasiun mana yang terdekat?

Saya kira paling dekat dengan Stasiun Juanda. Karena saya cek menggunakan aplikasi ojek online, naik mobil ke sana hanya 34 ribu rupiah. Rupanya setelah sampai lokasi, sewaktu saya pesan di aplikasi, biayanya menjadi 43 ribu rupiah.

Sepanjang jalan kok jauh bener. Macet pula. Eh, sopirnya tanya dari mana? Saya jawab dari Depok. Terus dia bilang harusnya turun di Stasiun Jakarta Kota. Tinggal jalan kaki dari sana, sudah dekat. 

Kyaa, bagai disambar geledek deh. Ternyata saya dan anak-anak kecepetan turunnya. Ya nasib. Rezekinya pak sopir mobil online. Saat sampai di Kota Tua, pak sopirnya kasih tunjuk lokasi Stasiun Jakarta Kota. Harapannya supaya pulangnya naik dari situ saja. Alhamdulillah masih ada orang baik.

Barang Bawaan Saat ke Museum Wayang

Harga tiket museum wayang

1. Bekal Makanan dan Minuman

Karena saya pergi bertiga saja dengan anak-anak, tentu bawaan utama adalah bekal. Baik minuman dan makanan. Alasannya simpel, selain hemat, tentu saja karena saya belum tahu suasana di lokasi seperti apa. Bahkan saya tuh enggak ngeh lho kalau Museum Wayang terletak di dalam area Kota Tua.

Jajan minuman di kota tua
Anak-anak sedang menikmati es

Padahal di Kota Tua ada banyak resto dan warung kaki lima. Soal harga sih standar ya. Saya sempat beli es tebu leci cincau harganya 15 ribu rupiah. Lalu ada es blueberry jelly keju orea seharga 12 ribu rupiah dengan ukuran gelas yang lebih kecil daripada es tebunya.

Area lesehan di kota tua
Anak-anak sedang makan bekal sambil lesehan

Saya dan anak-anak juga bawa bekal makanan. Nasi, ayam bakar, dan sayur. Alhamdulillah di Kota Tua tersedia banyak tempat cuci tangan dan tempat sampah. Jadi kami bisa makan pakai tangan, meskipun bawa sendok.

Sebelum berangkat, saya juga sempat beli camilan di stasiun. Jajanan pasar gitu. Camilannya kami makan saat menunggu KRL di Stasiun Depok. 

Ternyata bawa 2 botol minum untuk bertiga kurang lho. Saya juga beli 1 botol air mineral di Kota Tua. Harganya 5 ribu rupiah. Lain kali kalau ke sana harus bawa lebih banyak air lagi. Karena cuaca panas jadi gampang haus. Harapannya di Kota Tua ada keran air minum, atau dispenser air isi ulang gitu. Hehe. Supaya pengunjung bisa isi botol minum yang habis. Aamiin.

2. Kartu KRL

Karena saya dan anak-anak berangkat dari Depok, maka transportasi termurah dan tercepat adalah KRL. Tinggal duduk manis saja kalau dapat kursi. Sekitar 1 jam lebih lah perjalanan naik kereta dari Depok ke Jakarta Kota.

Oleh sebab itu, sejak di rumah, saya sudah bawa kartu KRL. Bawa tiga sekalian supaya enggak bingung. Sahabat ismi jangan lupa cek saldo kartunya ya.

3. Kartu JakCard

Sebagai informasi, untuk masuk ke Museum Wayang, tidak hanya bayar tiket masuk saja. Tapi juga bayar kartu bagi yang belum punya/ tidak bawa JakCard. Harga kartunya 35 ribu rupiah, dengan saldo 20 ribu rupiah.

Untuk tiket masuk dewasa 5 ribu rupiah. Sedangkan anak-anak atau pelajar 2 ribu rupiah saja. Oh ya, JakCard tidak dikembalikan ya setelah keluar museum. Jadi dibawa pulang sehingga biaya kartu juga tidak kembali.

Malamnya ketika sampai rumah, saya cerita deh ke suami, kalau masuk museumnya pakai JakCard. Suami ternyata sudah tahu, karena dulu masuk Ragunan juga pakai JakCard. Dan kami sudah punya di rumah. Tahu gitu saya bawa tuh JakCard nya. Karena 1 JakCard bisa dipakai untuk sekeluarga.

4. Uang Tunai

Sebenarnya saya sudah jarang bawa uang tunai. Tapi karena belum tahu medan yang dihadapi seperti apa, ya mau enggak mau bawa uang tunai. Ternyata beneran terpakai dong. Sampai Kota Tua, banyak kuliner kaki lima. Tentu saja pedagangnya prefer bayar tunai.

Museum wayang jakarta

Saat masuk Museum Wayang, saya juga bayar menggunakan uang tunai. Enggak ngeh apakah bisa pakai non tunai kayak e-wallet gitu. Mungkin saja bisa.

Ada Apa Saja di Museum Wayang?

Lorong Wayang Golek

Wayang golek Gatotkaca

Di bagian depan dekat loket, langsung terlihat dua wayang golek raksasa. Tingginya melebih para pengunjung museum. Mereka adalah Gatotkaca dan saya lupa siapa. Coba sahabat ismi yang tahu ini wayang siapa, boleh komen ya.

Setelah masuk ke pintu utama, maka sahabat ismi akan menemukan lorong wayang golek. Wayang golek adalah wayang yang menggunakan kayu sebagai bahan utamanya. Mulai dari wayang Rahwana, Kumbakarna, bahkan Anoman ada di sini.

Wayang setinggi manusia

Semua wayang tersebut dilapisi kaca sehingga tidak bisa disentuh langsung oleh pengunjung. Ada pula patung dan wayang Semar lho. Aneka wayang golek ini punya ukuran dan tinggi yang berbeda-beda. Mulai dari ukuran mini, hingga setinggi manusia.

Selain wayang golek satuan, terdapat pula kotak kaca yang berkisah. Misalnya saja kisah saat Sinta mengejar kijang. 

Wayang purwa
Salah satu wayang purwa

Wayang golek yang dipajang berasal dari seluruh daerah di Indonesia. Misalnya ada wayang golek Purwa yang merupakan wayang mini dari Bandung. Wayang ini khusus dipajang atau untuk dipamerkan.

Di ujung lorong wayang golek, terdapat area terbuka hijau. Di kanan kirinya terlihat beberapa prasasti bertuliskan Bahasa Belanda. Saya mencari tahu dan ternyata area tersebut merupakan makam Belanda. Huaa serem.

Makam Van Pieterszoon Coen

Sahabat ismi bisa membaca tulisan di foto ini, yang merupakan nisan darisalah satu Gubernur Jenderal Batavia, Jan Pieterszoon Coen. Bahkan konon katanya, jenazah dari Jan Pieterszoon Coen masih terkubur di sini. 

Gundala itu apa?

Lanjut yuk. Area berikutnya merupakan tempat pemajangan wayang/ boneka khas dari beberapa daerah di Indonesia. Cukup horor sih. Pertama, ada boneka Gundala-Gundala yang berasal dari Karo, Sumatera Utara. Gundala merupakan sebuah tari topeng untuk mendatangkan hujan sehingga biasanya ditarikan saat musim kemarau. 

Si gale-gale itu apa?

Selain itu ada Boneka Si Gale-Gale yang biasanya dimainkan pada upacara kematian seorang laki-laki yang meninggal tanpa keturunan. Tujuannya agar arwah yang meninggal dapat dengan mudah naik ke surga.

 

Area selanjutnya dipenuhi oleh wayang golek yang lebih modern, misalnya wayang golek dengan tokoh-tokoh di zaman Hindia Belanda.

Wayang Kulit Lengkap

Tak hanya wayang golek, sahabat ismi juga dapat menemukan wayang kulit di Museum Wayang. Cantik-cantik banget!

Wayang kulit Indonesia

Koleksi wayang kulit Museum Wayang Kota Tua Amat lengkap. Mulai dari tokoh pewayangan Mahabarata, sampai Rama Sinta. 

Dasamuka

Ada pula wayang kulit dari zaman revolusi. Seperti apa penampakannya?

Wayang kulit modern

Boneka Mancanegara

Bagaimana dengan boneka dari negara lain? Tentu saja ada!

Boneka dari Perancis

Boneka-boneka ini umumnya merupakan sumbangan dari tokoh publik. Misalnya saja boneka Perancis yang merupakan sumbangan dari istri Presiden Republik Perancis, Ny. Francis Mitterand ketika berkunjung ke Indonesia.

Boneka dari India

Ada pula boneka wayang dari India yang diberikan oleh Mr. Dinesh Chadra seorang dalang dari India yang berkunjung ke Jakarta pada tahun 1978. Masih banyak wayang mancanegara lainnya seperti Wayang Poo Te Hie dari daratan Cina, Boneka Katakali dari Kerala, India Selatan, hingga boneka dari Rusia. 

Boneka dari rusia

Selain aneka wayang dan boneka, saya juga menemukan alat musik seperti calung dan gamelan di sini.

Keluarga si unyil

Gong dari Museum Wayang adalah seperangkat boneka Si Unyil. Lengkap gitu koleksinya. Ada Pak Unyil, Pak Ogah, sampai Pak Raden. Lalu di pintu keluar, sahabat ismi bisa melihat Ondel-ondel raksasa, dan wayang kulit emas.

Dengan 9 ribu rupiah bertiga, saya dan anak-anak bisa menikmati sekaligus mendapat pengetahuan baru dari Museum Wayang. Sungguh harga yang sangat murah meriah.

Menurut saya sih museum ini recomended ya untuk dijelajahi bersama anak-anak. Setidaknya mereka jadi tahu budaya wayang di Indonesia. 

Kalau sahabat ismi ingin keliling ke berbagai museum, Kota Tua lah tempatnya. Selain Museum Wayang, di Kota Tua juga ada Museum Fatahillah dan Museum Bank Indonesia. Tak lupa terdapat pula Museum 3D.

Yuk, jalan-jalan ke museum di Indonesia.

(Visited 28 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

1 thought on “Museum Wayang Jakarta, Dari Gatotkaca Hingga Si Unyil

  1. Ila Rizky Reply

    Seruu banget main bareng kakak dan adek sara ya, next time main kemana lagi?

    Aku malah belum pernah main ke museum ini mba, sama ke kota tua juga belum. Moga bisa main ke sana kapan2

Leave a Reply

Your email address will not be published.