Malaysia: Budaya dan Fasilitas yang Positif dan Perlu DiTiru

Facebooktwitterredditmail

P_PhotoGrid_1463404557086

Malaysia: Budaya dan Fasilitas yang Positif dan Perlu diTiru

Tinggal selama 15 hari di Malaysia bukanlah waktu yang sebentar, bukan juga waktu yang lama bila dibanding teman-teman yang berdomisili di luar Indonesia untuk kuliah atau bekerja misalnya. Dalam 15 hari, tentu banyak hal yang saya pelajari dan saya alami, baik kebiasaan yang berbeda, hingga kebudayaan. Ada beberapa hal yang masih menancap di benak saya, dan berandai-andai, bila suatu hari nanti Indonesia juga seperti itu.

Mau tahu apa saja?

1. Self service

Tak hanya self laundry saja yang berbeda dengan laundry di Indonesia, tetapi dalam banyak aspek juga self service menjadi budaya yang membuat penduduk Malaysia mau tak mau lebih mandiri. Antara lain ketika di pom bensin, mereka mengisi sendiri bensinya, tanpa petugas pom yang melayani. Sama halnya ketika makan di kantin, kafetaria atau rumah makan, hampir jarang pelayan yang mengelap meja-meja, tetapi meja selalu bersih, karena sehabis makan, semua pengunjung membuang sendiri bekas makanannya atau menaruh sendiri alat makannya ke tempat yang disediakan.

Kafetaria CUCMS yang selalu bersih dan rapi
Kafetaria CUCMS yang selalu bersih dan rapi

Parahnya, kami baru sadar kebiasaan ini, setelah hari-hari terakhir di Malaysia. Pantesan agak heran kok meja di kafetaria kampus selalu rapi dan bersih. Eh usut punya usut, semua mahasiswa membersihkan sendiri bekas makannya, haha. Baru deh kami tiru, sebelumnya ya kayak di Indonesia, bekas makan ya dibiarin, ditinggal gitu aja.

Di kota-kota besar seperti Kuala Lumpur, self service ini masih terus menjadi gaya hidup, bahkan didukung oleh fasilitas-fasilitas yang canggih. Membeli tiket Kommuter Line misalnya, sudah digantikan oleh mesin dan setiap orang harus membeli tiket sendiri, bahkan alat penukar uang pun disediakan.

Foto atas: bus sekolah. Foto bawah: kereta antar kota. Semuanya nyaman, sayang saya nggak memoto mesin tiketnya
Foto atas: bus sekolah. Foto bawah: kereta antar kota. Semuanya nyaman, sayang saya nggak memfoto mesin tiketnya

Sama ketika di bus alias angkutan umumnya, juga nggak ada kondektur yang narikin uang, karena di samping sopir bus sudah ada tempat untuk memasukkan uang pas, dan akan keluar semacam struk naik busnya, meski kadang bisa juga pakai uang yang agak besar dan butuh kembalian, dalam artian, ya sopir busnya yang mengurusi soal bayar membayar. Ini artinya mengurangi tenaga manusia, dan membuat pelayanan juga lebih efektif dan efisien.

Baca juga, Self Laundry, Menjadi Mandiri di Negeri Orang

2. Fasih berbahasa Inggris

Speak English, please! Sampai merem begitu sakijg puyengnya=D
Speak English, please! Sampai merem begitu saking puyengnya=D

Kegiatan akademis di kampus yang kami tempati menggunakan bahasa Inggris dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Mulai dari penjelasan dari dosen, presentasi kasus, diskusi, hingga ramah tamah. Jangan kaget kalau semua mahasiswa fasih berbahasa Inggris dan bisa ngomong dengan secepat kilat, meski mereka berdarah India, Arab, China ataupun Melayu, karena ternyata bahasa Inggris adalah pengantar sejak sekolah dasar. Jadi, kayak sudah bahasa sehari-hari mereka lah. Agak beda dengan di Indonesia, dimana pengantar bahasa Inggris hanya digunakan di kelas Internasional. Kalau kata teman saya sih, itu efek karena Malaysia dulu jajahan Inggris, beda sama Indonesja yang jajahan Jepang dan Belanda, hehe. Eh tapi, siapa juga yang mau pakai bahasa Belanda atau Jepang di dunia pendidikan kita? Hmm. Kalau untuk aktivitas di luar kampus sih, orang-orang yang saya temui, banyak juga kok yang berbahasa Melayu.

3. Pujian yang mengena

Entah semua warga Melayu atau hanya orang-orang yang kami temui di Cyberjaya saja yang memiliki kebiasaan ini.Sebelum mereka memberikan masukan atau kritik, mereka akan memuji terlebih dahulu. Terang saja kebiasaan ini membuat kami merasa di”wongke”, secara sadar banget masih banyak kekurangan saat presentasi. Teman saya bahkan ingin mempraktekkan cara ini ke anak-anaknya, tentu dengan maksud agar kepercayaan diri anaknya meningkat.

4. Baju melayu yang sopan

Baju panjang selutut, dipadu dengan rok panjang. Nice!
Baju panjang selutut, dipadu dengan rok panjang. Nice!

Sudah tahu kan kalau baju melayu itu seperti baju kurungnya orang Indonesia? Di Malaysia, siapapun bisa memakai baju Melayu, baik kamu beretnis China, atau India. Banyak lho yang pakai baju tersebut tanpa kerudung, jadi terkesan nyaman dan adem dilihatnya. Saya sendiri langsung nyobain tiga baju melayu, siapa tahu beneran jadi kebiasaan saat kembali ke Indonesia.

Itulah beberapa hal yang bisa saya jadikan pelajaran selama di sini, selain keramahan dan ketidakseganan mereka untuk membantu. Kalau soal ramah tamah sih orang Indonesia juga jago kan ya. Yang paling saya melongo adalah bagian self service dengan mesin-mesin yang menggantikan tenaga manusia, semoga di Indonesia juga lama-lama seperti itu ya. Kayak self chek-in nya Air Asia, pas di bandara Jogja juga sudah mulai kok.




Saya yakin, negara lain yang lebih maju seperti Jepang dan Amerika, tentu sudah jauh lebih unggul dalam bidang teknologi. Tapi kita tak perlu berkecil hati, karena Indonesia punya alam yang indah, kekayaan flora dan fauna yang melimpah, serta penduduknya yang sangat ramah.

Tulisan lain tentang wisata akan saya tulis di hari-hari berikutnya ya=)

(Visited 1,397 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

12 thoughts on “Malaysia: Budaya dan Fasilitas yang Positif dan Perlu DiTiru

  1. Omali Reply

    Iya tuh, pernah juga ke Malaysia dan jalanan emang bersih dan rapi, hampir gak nemuin sampah.

    Tapi ada satu yang orang Malaysia salut sama kita, di Malaysia gak ada tukang tambal ban pinggir jalan, hahaha.

  2. kopisusu Reply

    Wah aku pingin banget berkunjung ke Malaysia, Mak. dari 3 negara yang ta inginin, Malaysia, Singapore & Jepang.

    Budaya membersihkan meja sekarang sudah mulai terlihat di masyarakat kita Mak. Akupun membiasakan diri & anak untuk seperti itu, banyak yg masih ngeliat heran sih .. karena mungkin belum mengerti ya. Tapi aku yakin kalau kita terus2an konsisten seperti itu, mudah2an menular. Yang lebih penting itu membentuk mental orang yg melakukannya ya Mak. Lebih mandiri, bertanggungjawab dan disiplin.

    Senangnyaaa disana ya, kapan2 jalan2 bareng hayuk 😀

    • dian.ismyama Post authorReply

      Wah aku jg mau yg ke Jepang Mak..iya,mg harus dibiasakan sejak dari keluarga ya. Ayok kapan rencanakan, golek tiket promo sik tapi=D

  3. Helena Reply

    Iya self service buat beli bensin. Tapi kalau di Indonesia orangnya banyak jadi butuh banyak lapangan pekerjaan. Kalau SDM lebih terdidik dan terlatih bisa mengisi posisi kerja yg lebih besar tanggung jawabnya sih ya

    • dian.ismyama Post authorReply

      Hmm, bener jg sih, artinya kalau banyak mesin yg menggantikan tenaga manusia ya mau ga mau jadi lebih banyak pengaggurannya, meskipun bisa disiasati dg membuka usaha lain dan memberdayakan tenaga kerja kasar tsb

  4. Aireni Biroe Reply

    Membayangkan menjadi pengunjung selanjutnya yang datang ke Kafetaria, lalu sambil bergumam, “Ish, siapa sih yang gak membereskan makanan sendiri” #peace

    • dian.ismyama Post authorReply

      Wkkkka,itu saya alami pas di bandara,mejaku penuh bekas makanan,padahal tuh pelayan2 restonya nggak ada yg bersihin,jadilah aku yg ngukuti bekas2 pelanggan sebelumku=(

  5. evrinasp Reply

    saya belum pernah ke Malaysia, bolehlah cara hidupnya kita tiru, ambil baiknya, kalau merapihkan meja sendiri ketika makan itu dipraktekan di tempat diklat ku mbak, tersedia tempat untuk menaruh piring kotor

    • dian.ismyama Post authorReply

      Iya Mbak,yg baik2 ditiiru, Nah kalo tempat piring kotor trssedia di semua tmpt makan,kira2 orang kita mau ga ya bersihinnya?=). Semoga kelak kita jg bs sprti itu

  6. Jarwadi MJ Reply

    sepintas kita jadi serasa lebih manja (dimanjakan) oleh keadaan ya, hehe

    tapi percayalah orang indonesia lebih kreatif dan pinter2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *