Imunisasi dan Kontroversinya

facebooktwittergoogle_plusredditmail

Pada tanggal 18 Januari 2015, Saya mengikuti Seminar Pro dan Kontra Imunisasi di Jogjakarta Plaza Hotel, diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia. Seminar ini menghadirkan tiga orang pembicara yaitu dr.Soeroyo Machfudz, MPH, Sp.A(K), dr.Piprim B. Yanuarso, Sp.A (K), Dr.Drs.H. Makhrus Munajad, SH., M.Hum.

Injeksi

Berikut saya coba merangkum apa yang saya dapatkan dari seminar tersebut.

1. Imun is ASI? Benar .. Untuk kekebalan umum. Bukan untuk kekebalan spesifik!

ASI saja tidak cukup untuk melindungi dari kuman/virus berbahaya apalagi yg mewabah.

Tubuh ibarat negara yang memiliki sistem imunitas (kekebalan) yaitu tentara biasa. Pada kasus penyakit umum seperti flu, batuk biasa, “tentara biasa”(misal hansip kalau di indonesia) sudah cukup untuk melindungi tubuh dari hal yang lebih serius. Tetapi ketika datang penyakit serius yang dapat menyebabkan kecatatan dan kematian (hepatitis B, difteri, pertusis, tetanus, polio, campak, radang selaput otak,dll) maka tentara biasa tidak cukup tangguh. Tubuh/negara akan membentuk “tentara khusus” (sebut saja kopasus kalau di indonesia). Permasalahan terjadi ketika pembentukan tentara khusus ini membutuhkan waktu (mereka butuh latihan khusus, perlengkapan khusus dll), sementara penyakit serius sudah dengan cepat menggerogoti , menyerang dan menyebar dengan ancaman kecacatan dan kematian.

Oleh karena itu dibutuhkan vaksinasi sebagai pemicu agar tubuh kita/sistem kekebalan kita membentuk tentara khusus jauh sebelum penyakit serius tersebut datang.

Bahasa mudahnya, vaksin adalah kuman yang dilemahkan agar tubuh membentuk tentara khusus (antibodi) yang mengenali kuman tersebut. Sehingga ketika kuman asli (kuman yang kuat) datang, tentara khusus sudah ada dan sudah siap untuk menghadapinya. Semoga nggak belibet ya bahasanya …

‪2. Herd Immunity

Jadi, bila sebagian besar anak-anak diimunisasi, maka akan muncul yang namanya herd immunity, yaitu kondisi dimana yg divaksin akan melindungi yg tidak divaksin.

Nah permasalahan terjadi ketika semakin banyak orang yang menolak vaksinasi, maka akan semakin besar kemungkinan mewabahnya penyakit karena virus tertentu tersebut. Misal pada kasus KLB Polio di sukabumi, ndilalah ada 1 orang yang baru pulang dari LN membawa virus polio, pada akhirnya menyebar dengan cepat karena baru diketahui anak-anak di sana lebih banyak yg tidak di vaksinasi. Tidak ada herd immunity.

Vaksin bukan hanya melindungi anak-anak yang divaksin saja dari kegawatdaruratan akibat virus, tetapi juga melindungi anak-anak lain yang tidak bisa divaksin karena kontraindikasi (anak-anak kanker yg sedang kemoterapi, pengguna steroid pada gagal ginjal, anak-anak penderita HIV dengan nilai CD4 tertentu, dan sebagainya).

Sudah pernah melihat balita dengan pertusis (batuk rejan) ? Bagaimana dengan bayi yang terkena tetanus dalam kandungan dan ketika lahir begitu kaku? Saya baru lihat kemarin di video seminar prokontra imunisasi. Dan sepakat kasihan, sedih, melihat anak2 tersebut seharusnya bisa dicegah deritanya, salah satunya dengan imunisasi.

3. Teori Konspirasi

Siapa yang tidak kenal dengan Ibnu Sina? Ar-Razi? Ibnu Nafis?

Ibnu Sina adalah tokoh kedokteran moderi. Ar-Razi adalah ahli farmasi dan yang melakukan penelitian mengenai berbagai bahan kimia untuk pengobatan. Ibnu Nafis adalah orang yang pertama kali menemukan bahwa sirkulasi darah melewati jantung dan paru-paru

Atau siapa yang pertama kali mendirikan rumah sakit modern? Ternyata zaman khalifah Umayyah di Damasqus.

Ada yang bilang, bahwa imunisasi adalah buatan barat yang hendak melemahkan muslim, memberikan racun sekaligus meraup keuntungan?

Iqra! Baca dulu sejarah! Lihat siapa yg pertama kali melakukan metode vaksinasi? Jawabannya masyarakat islam di Turki.

Ada yang tahu berapa biaya berobat sakit campak? Atau difteri? Anak-anak yg terkena rubella mungkin? Berapa biaya rumah sakit bila dirawat karena pnemonia? Lebih mahal dari harga vaksin!

#Dirangkum dari isi Seminar Pro dan Kontra Imunisasi oleh 2 pembicara pertama.

4. Vaksin mengandung enzim babi??

Vaksin TIDAK MENGANDUNG enzim babi. Vaksin BERSINGGUNGAN dengan enzim tripsin yang dihasilkan dari pankreas babi, sebagai pemisah, filterisasi.

Mari kita memahami istilah berikut terlebih dahulu:

1. Istihalah

Adalah berubahnya suatu benda yang najis atau haram menjadi benda lain yang betbada nama dan sifatnya. Seperti khamr berubah menjadi cuka, bai menjadi garam, minyak menjadi sabun, dll. Apakah benda najis yang telah berubah nama dan sifatnya tadi bisa menjadi suci?

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan masalah istihalah:

“Dan Allah mengeluarkan benda yang suci dari benda yang najis dan mengeluarkan benda yang najis dari benda yang suci. Patokan bukan pada benda asalnya, tetapi pada sifatnya yang terkandung pada benda tersebut (saat itu). Dan tidak boleh mendapat hukum najis jika telah hilang sifat dan berganti namanya”

Enzim tripsin pada vaksin hanya sebagai katalisator yang sudah hilang melalui proses pencucian, pemurnian, penyulingan secara kimiawi.

2. Istihlak

Pencampuran benda najis atau haram dengan benda suci, sehingga mengalahkan sifat najisnya, baik rasa, warna dan baunya. Misal beberapa tetes khamr pada air yang sangat banyak.

Rasulullah bersabda, “Jika air mencapai dua qullah tidak mengandung najis”, diriwayat lain, “tidak najis” (Bulughul Maram, Bab miyah no 5 , dari Abdullah bin Umar).

Sama halnya bila ada seorang bayi yang diberi minum ASI yang telah bercampur air yg sangat banyak sehingga sifat susunya hilang, maka dia tidak dihukumi sebagai anak persusuannya.

Vaksin bukan cairannya yang najis, melainkan najis karena ada unsur bersinggungan dengan enzim tripsin dari babinya. Tetapi jika sudah dibersihkan (dalam hal ini dicuci ribuan kali dengan kimiawi) maka tidak lagi najis (Gusrizal Gazahar, ketua MUI Sumatera Barat bidang fatwa).

‪#‎Dirangkum‬ dari makalah pada Seminar Pro dan Kontra Imunisasi “Hukum Imunisasi dan Vaksinasi Dalam Islam” ( Dr.Drs.H.Makhrus Munajad, SH.,M.Hum, MUI Yogyakarta)

Perlu di ketahui bahwa tidak semua vaksin menggunakan tripsin dari pankreas babi sebagai katalisatornya. Mungkin tulisan ini bisa jadi bahan bacaan juga :

http://www.fimadani.com/biofarma-hanya-vaksin-polio-yang-bersinggungan-dengan-bahan-babi/

MUI sendiri telah mengeluarkan fatwa terkini (Fatwa MUI No 4 tahun  2016), mengenai imunisasi yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Fatwa MUI no 4 tahun 2016

Dan Fatwa MUI No 5 Tahun 2009 ( mengenai 3 vaksin meningitis yang diproduksi oleh 3 produsen berbeda) telah direvisi menjadi Fatwa MUI No 4 Tahun 2010, yang dapat dilihat pada screenshot di bawah ini.

Fatwa MUI No 4 Tahun 2010

Silahkan download PDF-nya dengan browsing:)

Semoga bermanfaat buat semua. Bila masih ragu silakan mengunjungi laman di bawah ini

www.idai.or.id

www.rumahvaksinasi.net

Fb Grup Gesamun (Gerakan Sadar Imunisasi)

https://m.facebook.com/groups/312243985516765

Fanpage Stop Antivask
https://m.facebook.com/profile.php?id=146270875511007

Fb Grup Room Children

https://m.facebook.com/groups/188954647801538

(Visited 259 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

4 Comments

  • Inda Chakim January 23, 2015 Reply

    Makasih mak ya atas infonya, lengkap bgd, ilmu nih ilmu

    • dian farida February 8, 2015 Reply

      Sm2 mak

  • HP Yitno January 24, 2015 Reply

    Begitu pentingnya vaksinasi atau imunisasi untuk anak-anak kita ya kak.

    • dian farida February 8, 2015 Reply

      Iy betul:)

Leave a Reply

error: Content is protected !!