Hanya Kamu yang Bisa

Facebooktwittergoogle_plusredditmail

Jodoh memang selalu jadi rahasia Tuhan yang sudah tertulis di Lauh Mahfuds sejak penciptaan kita. Seperti rezeki, tugas kitalah menjemputnya. Dengan cara apa? Tentu saja dengan memperbaiki diri hari demi hari. Bukankah jodoh laksana cermin?

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”
(Al Qur’an: An-Nur 26)

Duh, serem juga ya ayat di atas. Jadi, yang belum ketemu jodoh, bisa jadi si dia belum cukup baik untuk kita, atau kita yang belum cukup baik untuk dia. Anggap saja masih diberi kesempatan untuk sama- sama menjadi lebih baik. Nah, yang udah ketemu jodoh kaya saya nih, sering juga berfikir, kok suami saya kaya gitu sih (misal: jorok, suka buang sampah sembarangan, hihi), kok istri saya begini ya (udah boros, cerewet lagi,hehe), berarti sama- sama belum baik nih. Artinya masih berlaku perumpamaan cermin ini. Kalau ingin suami/istrinya menjadi lebih baik, alangkah bijaknya dimulai dari diri sendiri (selfnoted).

576578_3269541106026_1546356204_n

Kemarin, tanggal 23 Januari 2014, tepat 3 tahun usia pernikahan saya. Masih seumur jagung, masih beradaptasi dan mencoba mengerti satu sama lain. Kalau saya boleh bilang, bukan hal yang mudah mengarungi 3 tahun berumah tangga ini. Terutama bagi saya, mungkin karena begitu banyak perubahan ekstrim dari status single ke status istri apalagi dobel status ibu. Ya, alhamdulillah, kami telah dikaruniai seorang putri yang sekarang sudah berusia 2 tahun. Kenapa saya bilang ekstrim? Bayangkan saja, saya yang tadinya hidup tentram di kota paling nyaman Yogyakarta, setelah menikah harus hijrah ke kota paling kejam, Jakarta. Lalu, saya yang tadinya santai di rumah orangtua, makanan sudah tersedia, kalau bosan tinggal makan diluar. Sekarang harus mengatur pengeluaran rumah tangga untuk urusan dapur, kalau bisa memasak sendiri, terlebih sudah ada anak yang harus dipenuhi gizinya. Ditambah lagi saya yang tadinya bebas mau kemana- mana bersama teman- teman, sekarang harus minta izin suami, bahkan bawa anak yang masih balita. See? Extremly different for me. Termasuk keputusan saya untuk resign dari karir impian saya di Rumah Sakit (berakreditasi JCI pertama di Jakarta) begitu saya melahirkan anak saya. Lalu di sinilah saya sekarang, berkarir dari rumah.

Mengapa saya rela melakukan semua hijrah diatas? Karena pernikahan bagi saya adalah Mitzaqan Ghalizaa (Perjanjian yang Kuat), perjanjian di depan Allah Swt yang tidak bisa dibuat main-main (dikutip dari kalimat mbak Leyla Hana). Maka segenap jiwa dan raga, berusaha saya baktikan kepada suami, dengan harapan balasan dari Allah saja tentunya.

Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.
(Qs. Ar. Ruum (30) : 21)

Ayat diatas seringkali dituliskan kembali pada undangan- undangan pernikahan. Sebagai pengingat sebab kita menikah, dengan orang seperti apa kita menikah. Yup, tepat sekali, tentu saja dengan orang yang membuat kita merasa cenderung dan merasa tentram. Intinya mah, hanya dia yang bisa membuat kita merasa nyaman menjadi diri sendiri. Kalau ingat kisah awal mula memilih suami langsung inget lagu ini deh. Ada yang tau ini lagu siapa?

Tiada pernah aku merasakan lagi
Indahnya mawar merah
Menghiasi taman hati
Bahkan sejuk air
Membahasi relung jiwa
Seakan semua sirna dari hidupku

Mungkin aku memang terlalu memilih
Pada siapa pintu hati ini ku buka
Tapi kamu wanita
Yang tak pernah kuduga
Mengetuk dinding hati
Yang lama tak terjamah

Hanya kamu yang bisa
Membuat aku mengakui ketulusan cinta
Hanya kamu yang bisa
Menenggelamkan kejemuan dan rasa hampa
Cuma kamu yang bisa
Cuma kamu yang bisa

Persis kisah saya, hanya kamu yang bisa. Eh tapi kata “wanita”nya diganti pria ya. Pertemuan saya dengan suami pernah saya tuliskan dalam postingan di sini. Maka saya tidak mengulangnya lagi, melainkan lebih menceritakan tentang pergolakan hati. Saya pernah mengalami yang namanya susah move on dari seseorang yang bukan siapa- siapa saya. Hingga suatu hari, di saat hati saya sedang terpuruk, saya memanjatkan doa untuk jodoh saya, entah siapa. Mendoakan dia selalu sehat dan bertanya- tanya apakah dia juga sedang menanti pertemuan dengan saya. Apakah dia juga sedang mencari saya. Kalau diingat- ingat jadi lucu sendiri. Lebih lucunya lagi, berselang beberapa hari setelah moment “doa khusus” tersebut, saya benar-benar di pertemukan dengan beliau yang kelak menjadi suami saya. Believe it or not, but its true. Jadi, untuk yang belum menikah, mungkin bisa dicoba tuh meluangkan waktu khusus untuk bermunajat mengenai jodoh, hehe, siapa tahu berhasil.

Bagi saya, mempertahankan jodoh lebih berat daripada bertemu dengan jodoh. Karena sesungguhnya kehidupan berkasih sayang baru dimulai setelah pernikahan. Maka, harus sekuat hati pula berpegang teguh pada tujuan berkeluarga. Semoga, saya dan suami senantiasa melengkapi dan menjadi pakaian bagi satu sama lain. Aamiin.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Novel Perjanjian yang Kuat.

Mitsaqan Ghaliza

(Visited 49 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditmail
error: Content is protected !!