Cinta Dunia Maya

Facebooktwitterredditmail

IMG_20131015_102453

23 JANUARI 2011

“Saya terima nikahnya Dian Farida Ismyama binti Faisol Adzan Munabari dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas seberat 3,5 gram dibayar tunai”.

Penghulu:”Sah?” Saksi:”Saahh..!”

“Alhamdulillah..Al-Fatihah…”

2006

Masih terekam dengan jelas hiruk pikuk reuni teman-teman SMA yang hampir setahun tak bersua. Nostalgia angkatan 2004 SMA 8 Yogyakarta tercacat dalam dinding-dinding sebuah villa di pegunungan Kaliurang. Aku bersama sahabat-sahabatku tentu saja tak mau melewatkan acara ini. Bercengkrama mengenang masa sekolah, berjalan kaki di lereng Merapi, bersorak sorai dalam api unggun dan jagung bakar, sejenak melupakan beban praktikum di kampus merupakan kemewahan bagi mahasiswa baru sepertiku. Tanpa kusadari, hari itu menjadi awal perkenalan dengan jodohku.

Foto bersama:Alumni Delayota 2004
Foto bersama:Alumni Delayota 2004

Sebagai pengerat silaturahmi ,dibentuklah Forum Alumni 2004 di FS. Ya! Friendster alias FS yang memang lagi heboh di jamannya. Posting foto-foto reuni, kontak tiap alumni, saling add friend menjadi hal yang lumrah saat itu. Tak terkecuali sosok Jummand, seorang pria misterius (bagi saya) yang tiba-tiba nangkring di friend request FS. Kepo donk siapa sih si Jummand ini, perasaan ga punya temen dengan nama itu. Buka profilnya makin kaget kok seumuran, kok alumni SMA 8 juga, tapi kayanya ga ada deh angkatan 2004 yang panggilannya Jummand. Makin kepo baca profil kampusnya, Elektro UGM, what?! Tambah ga ada kenalan di jurusan teknik. Makin penasaran, siapa sih, foto profilnya tulisan doank.

Approve ga ya? ” kataku dalam hati.

“Hei Rida, kamu belum selesai ngenetnya? Yuk buruan udah mau mulai lho kelas Farmakognosinya”, panggilan Rani temen kuliahku memecah konsentrasi.

“Ah sudahlah, besok baru ku cek lagi siapa sih orang ini” , kataku sambil mengarahkan kursor ke tulisan approve, KLIK!

2007

Tak terasa hampir setahun sudah kami berteman, tanpa pernah bertemu. Berbagi cerita suka dan duka termasuk saat gempa Jogja memporak porandakan rumahnya, lenyap seketika. Sekitar seminggu setelah gempa aku baru menemuinya, menjenguk keadaannya dan keluarganya yang berada di Bantul, daerah yang terkena gempa cukup parah. Dapat dibayangkan apa yang ada pikiranku saat itu, kutau rumahnya hancur tak berbekas, mana jaringan internet ga ada, listrik aja masih padam dalam beberapa hari setelah gempa terbesar di Jogja itu. Belum lagi berpuluh gempa susulan yang diiringi hujan deras hampir setiap malam. Bagaimana keadaannya?

Kami bertemu dalam bisu, hanya sepatah dua patah kata yang mungkin kuucapkan padanya, maklumlah biasanya saling ngobrol via tulisan di message FS, YM, ataupun email. Untung ada 2 orang temanku dan seorang saudaraku yang mencairkan suasana.

2008

Masih kuingat saat emailemail mulai intens saling kami kirimkan. Mungkin kalau dibukukan udah jadi novel tuh, hihi. Yang cerita ga pentinglah, yang diskusi tentang perkuliahan masing- masing, termasuk bercerita tentang keluarga dan sahabat- sahabat yang kami miliki. Saat sampai pada topik masa depan dan harapan, maka keluarlah kata- kata ini.

‘Mungkin kamu bukan masa laluku, tapi kamu masa kiniku dan kuyakin kan menjadi masa depanku’

atau kalimat ini

‘Bukankah dengan dua sayap akan lebih mudah terbang menggapai impian, dan kebersamaan akan mengobati kerinduan yang terdalam?’

Tanpa kata-kata cinta yang eksplisit, rupanya kami saling memberi perhatian, saling peduli, saling mengkhawatirkan, mungkin ini yang disebut sayang, eaaa!:)

2009

Menjalani hubungan dunia maya bukanlah hal yang mudah. Memang kami berada di satu kota, tapi rumah kami yang berjarak 20 km dan kampus kami yang berjarak 14 km tampaknya menjadi salah satu alasan pertemuan yang tak kunjung terjadi. Huff, beberapa sahabat bahkan telah memberi warning padaku. Sebut saja M, patner penelitian skripsiku, dengan lantangnya berkata

“Rida…rida.., kamu beneran berharap sama si cinta dunia maya itu?”.

“Hey, dia punya nama tau, Juan namanya, dan…hmm..siapa tau kami memang berjodoh?!”, balasku.

“Tapi survei membuktikan bahwa 80% cinta dari dunia maya itu PALSU, hanya omong kosong!”, jawabnya sengit.

Well, maka kami 20% yang berhasil,hehe”, harapku.

Beberapa sahabat dekatku pesimis dengan hubungan kami, menganggap bahwa tanpa pertemuan, maka semua harapan hanya tinggal harapan, bagai berharap pada sesuatu yang tak nyata.

AKHIR 2009

Waktu telah membuktikan, bahwa rasa sayang kami lebih kuat dari kesangsian siapapun. Pada hari wisudanya, akulah yang menemani bersama kedua orangtuanya, ikut berbahagia menyaksikan salah satu impian terbesarnya telah tercapai, diwisuda menjadi Sarjana, Alhamdulillah.

Tapi itu rupanya menjadi awal hubungan jarak jauh kami. Juan diterima bekerja di salah satu perusahaan IT di Solo, sementara aku meneruskan pendidikan profesiku di almamater kampusnya. Bahkan setelah itu aku sempat PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) di sebuah Rumah Sakit di Surabaya., sementara Juan pindah ke perusahaan provider di Jakarta. Semakin jauhlah jarak memisahkan raga kami.

2010

Saat itu aku telah lulus profesi dan bekerja di sebuah Apotek di Yogyakarta. Mas Juan (sapaanku untuknya) masih berjuang menaklukkan Jakarta. Hari demi hari berlalu, beberapa kali aku menanyakan mengenai rencananya kedepan tentang hubungan kami, persis sebuah lagu, ‘Mau di bawa kemana hubungan kita, tanpa sebuah jawaban pasti, antara kau dan aku.’

Tak jarang pula kami bertengkar hanya karena membahas hal ini. Dia yang merasa belum siap secara mental dan materi berbanding 180 derajat denganku yang sudah tak ingin berlama- lama karena khawatir setan bisa saja menjerumuskan kami, atau lebih parahnya wanita Jakarta merebutnya (hihi, ngeri aja membayangkan wanita metropolitan yang bertaburan di ibukota). Belum lagi mengingat usia kedua orangtuaku yang tak lagi muda, berkepala enam.

Hingga suatu hari di pertengahan Maret, tepatnya 15 Maret 2010, Mas Juan bilang bahwa dia bersama orangtuanya akan bersilaturahmi menemui kedua orangtuaku. Deg-deg an bercampur bingung, maksudnya apa nih, sekedar kunjungan perkenalan, atau bagaimana?

Malam itu sehabis isya, setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, rombongan keluarganya yang terdiri dari Bapak, Kakak laki-laki, serta Tetua di daerahnya sampai juga dirumahku. Dari balik lemari penyekat ruang tamu dengan ruang keluarga, aku mendengar, keluarganya MELAMARku! Alhamdulillah, subhanallah terjawab sudah kegundahanku, pria ini membuktikan dia serius akan membawaku ke jenjang berikutnya.

Maka persiapan demi persiapan kami lakukan, pernikahan pertama dikeluarga ku benar-benar membuat kami (aku, adik-adikku dan ibuku) yang buta mengenai detail pernikahan menjadi excited berkeliling kota Jogja dan Jakarta demi berlangsungnya acara ini. Bukan bermaksud menggelar acara yang besar- besaran, tapi lebih ke kenyamanan keluarga besar dari Sumatra (baca Lampung, Bangka, Palembang), keluarga besar dari Jakarta, Bandung bahkan Kalimantan yang nantinya akan hadir.

AKHIR 2010

Tanggal telah ditetapkan, surat-surat untuk KUA telah diurus. Percaya ga percaya, seperti banyak orang bilang, cobaan dan godaan akan datang menjelang pernikahan. Hal itu benar- benar kualami. Seorang lelaki tak dikenal, yang mengenalku 1-2 hari di Apotek tempatku bekerja, tiba- tiba saja berkata dia akan melamarku!

“Wahaha”, tertawa aku saat itu. Kubilang, “Kamu gila! Kita baru ketemu kemarin, dan aku sudah dilamar orang, aku akan menikah awal tahun depan!”

Memang benar- benar gila, dia justru berkata, “Kamu belum menikah kan? Baru AKAN menikah, itu artinya masih ada kesempatan untukku. Aku ga akan menyerah begitu saja!”

Belum sempat menjawab, dia berkata lagi, “Jadi, nanti sore kamu pulang jam berapa? aku mau bertemu orangtuamu.”

Aduh rasanya ingin ijin ga masuk kerja saja waktu itu, ngeri aku, takut kalau lelaki itu nekat membuntutiku sepulang kerja. Berbelas pesan singkat (baca sms) menyatakan penolakan, sampai bawa- bawa hadits haram hukumnya melamar anak orang yang sudah dilamar sesama muslim dan telah disetujui orangtuanya, rupanya berhasil membuatnya mengurungkan niatnya, walaupun tetap saja dia bilang “Ijinkan aku mencintaimu dengan caraku, semoga kamu bahagia…”

Beruntung sekitar beberapa hari setelahnya lelaki itu tak pernah muncul lagi di Apotek, mungkin masa kerja perusahaannya untuk mengunjungi Apotekku sudah selesai, atau dia patah hati? Atau malah telah bertemu wanita lain?! Apapun alasannya itu membuatku bernafas lega.

Nah,cobaan yang menggoda datang juga, sempat masa laluku (baca cerita Titik Balik Kehidupan: Memori 9 Tahun Silam) tiba- tiba hadir kembali di kehidupanku. Arrghh, seperti lagu berawal dari ‘Facebook baruku’ milik Gigi, engkau datang secara tiba- tiba. Sayang sungguh di sayang aku sudah ada yang punya. Tapi kuakui memang ada yang belum terselesaikan antara aku dengannya. Sepertinya rasa penasaranku telah mengalahkan logika, ah andai dia tau aku akan segera menikah. Sempat pula kami tak sengaja bertemu, di stasiun kereta di Jakarta. Aku, sahabat perempuanku, calon suamiku, dan dia masa laluku ,di pertemukan oleh takdir di senja itu. Rasanya seperti flashback memaksaku memilih terjerat dengan kenangan masa lalu atau memilih berani melangkah menuju masa depan yang lebih pasti. Pada akhirnya, pada suatu hari, melalui pesan-pesan di Yahoo messeger, masa laluku mengaku apa yang sebenarnya terjadi diantara kami, ketakutan-ketakutannya, ketidakpercayaan dirinya, mungkin juga ketidakseriusannya. dan sampailah akhirnya dia berkata, “Aku bahagia melihatmu bahagia…”

Lalu aku menikah dengan siapa?!

PhotoGrid_1381811416337

Jodoh adalah takdir yang telah tertulis di Lauh Mahfuds, pada saat penciptaan kita, telah Allah pilihkan pasangan yang sesuai untuk kita, yang saling mententramkan, yang nantinya akan saling menjaga, saling menyayangi.

2013

“Najla..jalannya pelan-pelan, gandeng tangan Ayah, tuh lihat danaunya bagus banget!”, kataku kepada putriku yang kini berusia 1,5 tahun kala kami berwisata ke Kebun Buah Mekarsari.

Suami, Najla Dan Saya
Suami, Najla Dan Saya

Memandang danau seperti memandang pernikahan kami kedepan. 2 tahun usia pernikahanku dengan Mas Juan terbilang masih cukup muda untuk saling mengenal dan saling menghormati satu sama lain. Apalagi dengan kehadiran seorang anak, kami masih harus belajar bagaimana menjadi Ibu dan Ayah yang baik untuk putri kami. Tinggal jauh dari orangtua dan keluarga besar, menetap di perbatasan ibukota merupakan hal yang tak mudah bagi kami yang hampir seperempat abad sebelumnya tinggal serumah dengan orangtua, di kota paling nyaman Yogyakarta,hihi. Suka, duka, pertengkaran, memaafkan, menjadi makanan kami sehari-hari. Tapi kami masih ingat saat Ijab Qobul 23 Januari 2011 didepan orangtua, keluarga, sahabat dan malaikat menjadi saksinya, bahwa kami harus saling menjaga dan saling menentramkan. Bismillah untuk selamanya..

Terimakasih cinta dunia maya ku, terimakasih telah menjadi nyata.

PhotoGrid_1381811514303

Atas: bersama sahabat dekat.Tengah:bersama orangtua. Bawah:bersama teman2 kampus
Atas: bersama sahabat dekat.Tengah:bersama orangtua. Bawah:bersama teman2 kampus

Teruntuk mba Uniek Happy 10 th Wedding Anniversary ya…usia 10 tahun pernikahan patut diacungi jempol, perlu banyak belajar nih sama yang sudah makan asam garam kehidupan berumah tangga:). Semoga mba Uniek sekeluarga makin saling menyayangi dan tetap bisa memupuk keharmonisan dengan cinta yang tak lekang oleh waktu. Amin.

Tulisan ini diikut sertakan dalam Giveaway 10th Wedding Anniversary, by Heart of Mine.

logo+10th+wedding+anniv+2

 

(Visited 226 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

6 thoughts on “Cinta Dunia Maya

  1. Uniek Kaswarganti Reply

    Kisahnya asyik banget mba, bisa juga ya awet dg cinta dunia mayanya hehehee… Semoga makin bahagia dengan kehadiran Najla. Itu heina di tangannya keren, ngiri kenapa aku dulu enggak pake kayak gitu *lost focus 😀
    Terima kasih untuk partisipasinya ya, good luck 😉

    • dian farida Post authorReply

      Mba uniek..he he,amin moga kami langgeng pe selamanya,bs pe 10th kaya mba aja udah panjang tuh pasti perjuangannya..:).iy mba, henanya dipake malam sebelum akad nikah nh.dipake buat acra tertentu jg bs kok mba, blm terlambat,he he.
      Sama2 makasih juga udah bikin GA yg keren:)

  2. annisa Reply

    Dian Juan semoga semakin bahagia yaa.. Barakallah.. I am Happy for your family
    yey..alhamdulillah.. insya Allah aku termasuk 20% itu..aaamin

    iku foto reuni di Kaliurang yak,, wes lali,, aku lak sebelah Tunjung itu masih muda dan imutz 🙂 *maksudnya aku yg imutz hahaha…

    • dian farida Post authorReply

      Aamiin,thanks Nisa. Iy,isih do imut2,wkkkka,aku malah langsing bangets

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *