Ketika hutan dan lahan gambut rusak, yang terancam bukan hanya lingkungan, tetapi juga keberagaman sumber pangan yang menopang kehidupan masyarakat.
Pernahkah kita membayangkan bahwa makanan yang tersaji di meja makan setiap hari ternyata memiliki hubungan erat dengan kondisi hutan, lahan gambut, dan keanekaragaman hayati? Selama ini, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sering kita pahami sebagai persoalan lingkungan yang identik dengan api, asap, dan kerusakan hutan. Padahal, dampaknya dapat menjalar hingga ke sumber pangan dan keberlangsungan hidup masyarakat.
Kita mengira yang terkena akibatnya hanyalah masyarakat di sekitar hutan saja, padahal bisa lebih dari itu. Bukan hanya menyebabkan ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), tetapi karhutla juga mengancam kedaulatan pangan.
Insight inilah yang saya dapatkan dari webinar “Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan.” Webinar ini mengajak kita melihat bahwa menjaga alam bukan hanya tentang melestarikan lingkungan, tetapi juga memastikan keberagaman pangan tetap tersedia bagi generasi mendatang.
Gambut Bukan Lahan Kosong
Indonesia memiliki sekitar 24,2 juta hektare ekosistem gambut tropis yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Berdasarkan materi Peatland Is Not Wasteland dari Pantau Gambut, ekosistem ini menyimpan karbon dalam jumlah besar dan berperan penting dalam mengatur tata air. Sayangnya, gambut rentan mengalami kerusakan ketika fungsi alaminya terganggu. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah kanalisasi berlebihan, yang dapat mengubah kondisi hidrologis gambut dan membuatnya lebih mudah mengering.
Bagi sahabat ismi yang belum tahu apa itu kalanisasi gambut, sini saya beri tahu. Kanalisasi gambut adalah pembuatan jaringan saluran air atau parit di wilayah lahan gambut. Setidaknya ada beberapa tujuan pembuatan kanal:
- Drainase air:Mengalirkan kelebihan air keluar dari lahan gambut agar permukaan tanahnya turun dan mengering.
- Akses transportasi:Membuka jalur air untuk mempermudah mobilisasi kayu hasil tebangan atau distribusi hasil perkebunan.
- Persiapan lahan:Menyiapkan lahan basah agar dapat dimanfaatkan untuk pertanian, transmigrasi, atau perkebunan komersial (seperti sawit dan HTI)
Ya, semua tujuan di atas adalah demi kepentingan oknum pemilik perkebunan. Padahal, ketika gambut mengering, risiko kebakaran meningkat. Api bahkan dapat membara di bawah permukaan tanah dan bertahan dalam waktu lama. Kondisi cuaca seperti El Niño dapat memperbesar risiko tersebut, tetapi bukan satu-satunya penyebab karhutla.
Yang lebih mengkhawatirkan, gambut yang telah terdegradasi tidak mudah kembali ke kondisi semula. Perubahan struktur tanah, tata air, dan hilangnya cadangan karbon dapat menimbulkan dampak jangka panjang. Artinya, mencegah karhutla harus dimulai dengan menjaga ekosistem gambut, bukan hanya memadamkan api ketika kebakaran terjadi.
Ketika Ekosistem Rusak, Sumber Pangan Ikut Terancam
Kerusakan gambut tidak berhenti pada hilangnya tutupan vegetasi. Perubahan kondisi tanah dan air juga dapat memengaruhi kehidupan organisme di sekitarnya. Dalam materi webinar, dijelaskan bahwa gambut yang mengering dapat memicu oksidasi mineral pirit. Proses ini menghasilkan senyawa asam yang berpotensi menurunkan kualitas lingkungan perairan dan membahayakan organisme yang hidup di dalamnya.
Jika habitat rusak, keanekaragaman tumbuhan dan satwa juga terancam. Padahal, biodiversitas merupakan bagian penting dari keseimbangan ekosistem dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam. Hubungannya dengan pangan menjadi semakin jelas ketika kita menyadari bahwa alam menyediakan beragam sumber makanan, mulai dari tumbuhan yang dibudidayakan hingga ikan, buah, umbi, dan bahan pangan liar yang dimanfaatkan secara bijaksana oleh masyarakat lokal. Ketika ekosistem kehilangan fungsinya, sebagian sumber pangan tersebut berisiko berkurang atau semakin sulit diakses.
Mengapa Kita Perlu Kembali Mengenal Pangan Lokal?
Dalam materi Keragaman Biokultural, Kunci Kedaulatan Pangan dan Iklim oleh Ahmad Arif, keberagaman hayati dan budaya pangan menjadi bagian penting dalam membangun kedaulatan pangan. Indonesia memiliki kekayaan pangan yang luar biasa. Selain beras, kita mengenal sagu, singkong, ubi jalar, talas, uwi, gembili, dan berbagai sumber pangan lainnya. Setiap wilayah mempunyai potensi yang berbeda, sesuai dengan kondisi lingkungan serta pengetahuan masyarakat yang berkembang dari generasi ke generasi. Namun, pola konsumsi yang semakin bergantung pada beras dan gandum membuat sebagian sumber pangan lokal kurang mendapat perhatian.
Padahal, diversifikasi pangan dapat memperluas pilihan makanan dan mengurangi ketergantungan pada komoditas tertentu. Di tengah perubahan iklim dan ketidakpastian pasokan global, keberagaman sumber pangan menjadi salah satu modal penting untuk membangun sistem pangan yang lebih tangguh. Pangan lokal juga bukan sekadar bahan makanan. Di dalamnya terdapat identitas, pengetahuan, tradisi, dan cara masyarakat beradaptasi dengan lingkungannya.
Eksplorasi Pangan di Sekitar Kita: Singkong dan Talas
Salah satu cara sederhana untuk mulai menghargai biodiversitas pangan adalah melihat kembali bahan makanan yang mudah ditemukan di sekitar kita. Seperti yang sahabat ismi ketahui, saya tinggal di Depok dan bekerja di Bogor. Untuk wilayah Bogor dan sekitarnya, singkong dan talas dapat menjadi pilihan menarik untuk dieksplorasi. Keduanya dapat diolah menjadi hidangan rumahan dan menjadi alternatif sumber karbohidrat selain nasi.
Singkong, misalnya, dapat dikukus atau direbus, kemudian disajikan bersama pepes ikan, tempe, tahu, dan sayuran. Sementara itu, talas dapat diolah menjadi talas kukus dengan pendamping lauk berprotein dan sayuran.
Setiap berangkat dan pulang kerja, saya selalu melihat talas berjejer di pinggir jalan. Talas-talas ini merupakan pangan khas Bogor yang jumlahnya cukup banyak sehingga membutuhkan olahan, bukan hanya dikukus. Beberapa olahan talas sebagai pengganti nasi yang ingin saya coba adalah sebagai berikut:
Yummy, sepertinya enak dan mengenyangkan. Talas tumbuk bisa diperlakukan seperti mashed potato yang dimakan bersama steak. Sedangkan nasi talas cocok berdampingan dengan ayam bakar atau ikan bakar dan lalapan. Ternyata, pilihan sederhana ini mengingatkan kita bahwa makanan sehari-hari tidak harus selalu berpusat pada nasi. Kita dapat mulai mencoba variasi bahan pangan sesuai ketersediaan, kebiasaan, dan kebutuhan keluarga.
Eksplorasi pangan lokal juga menjadi kesempatan untuk mencari tahu dari mana bahan pangan tersebut berasal, bagaimana masyarakat setempat membudidayakannya, dan bagaimana bahan tersebut dimanfaatkan dalam tradisi kuliner. Kita bisa mengunjungi pasar tradisional, berdiskusi dengan pedagang atau petani, serta bertanya kepada orang tua dan anggota masyarakat yang masih mengenal pengolahan pangan lokal. Dokumentasi berupa foto bahan pangan, proses pengolahan, dan cerita dari masyarakat akan membuat eksplorasi ini semakin bermakna.
Pengetahuan tersebut penting untuk diwariskan. Ketika generasi muda mengenal kembali pangan lokal, peluang untuk mempertahankan keberagaman bahan pangan dan tradisi kuliner juga semakin terbuka.
Menjaga Pangan Berarti Menjaga Alam
Dari webinar ini, saya merefleksikan bahwa persoalan pangan tidak dapat dipisahkan dari persoalan lingkungan. Kita tidak bisa membicarakan ketersediaan makanan tanpa memperhatikan kondisi ekosistem yang menopangnya. Melindungi gambut, mencegah karhutla, menjaga keanekaragaman hayati, dan menghargai pangan lokal merupakan bagian dari upaya yang saling berkaitan. Perubahan dapat dimulai dari kebijakan pengelolaan lingkungan hingga pilihan sederhana di rumah, termasuk mencoba bahan pangan yang lebih beragam.
Tentu, mengonsumsi pangan lokal saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan karhutla atau perubahan iklim. Namun, mengenali dan menghargai keberagaman pangan merupakan salah satu langkah untuk membangun kesadaran tentang hubungan antara alam dan kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, menjaga biodiversitas bukan hanya tentang menyelamatkan berbagai spesies, tetapi juga mempertahankan pilihan sumber pangan dan pengetahuan yang telah menopang kehidupan masyarakat selama bertahun-tahun.
Jadi, kapan terakhir kali kita mencoba pangan lokal selain nasi? Mungkin langkah kecil berupa mengolah singkong, talas, atau sagu di rumah sebagai awal untuk mengenal kembali kekayaan pangan Nusantara. Sebab, dari gambut yang terjaga hingga makanan di meja makan, semuanya terhubung dalam satu pesan: menjaga alam berarti turut menjaga masa depan pangan kita.





