Kanker Bisa Dicegah? Mitos atau Fakta?

Facebooktwittergoogle_plusredditmail

Deteksi dini kanker. Tanggal 4 Februari diperingati sebagai hari kanker sedunia. Bukan perayaan yang megah, tapi justru hari dimana kita mewaspadai kanker.

Belakangan ini, kanker menyerang usia muda. Sebut saja penyanyi kenamaan Vidi Aldiano, di usia produktif, ia terkena kanker ginjal. Sedangkan almarhumah Ria Irawan, aktris populer Indonesia, meninggal dunia setelah berhasil survive dari kanker endometrium (dinding rahim).

Di dunia diperkirakan ada 9,6 juta kematian akibat kanker pada tahun 2018 (WHO, 2019). Sedangkan di Indonesia diperkirakan ada lebih dari 200 ribu kematian akibat kanker pada tahun 2018 (Globocan, 2018).

Kanker yang dulunya termasuk penyakit yang jarang terdengar, kini seolah menjadi penyakit biasa. Faktanya, prevalensi kanker di Indonesia sebesar 1,8 per 1000 penduduk (Riskesdes, 2018). Tentu hal ini bukan suatu pertanda positif. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan berbagai pihak agar kanker dapat dicegah dan dideteksi sedini mungkin.

Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Kemenkes adalah Pertemuan Social Media Influencer dalam Rangka Hari Kanker Sedunia. Paparan narasumber membuka mata saya bahwa banyak yang dapat kita lakukan untuk mencegah kanker.

Apakah Kanker Itu?

Kanker termasuk dalam Penyakit Tidak Menular (PTM). Kanker diawali dengan adanya sel abnormal yang terus tumbuh. Bila sel ini masuk ke dalam pembuluh darah, ia dapat menyebar ke organ lain.

Apa bedanya tumor dengan kanker? Tumor adalah sebutan untuk semua benjolan yang terjadi pada tubuh manusia. Tumor berbatas tegas sehingga tidak menyebar. Bila selnya keluar dari batas tersebut, ia akan mati. Berbeda dengan kanker yang bisa menyebar dan bertumbuh. Tumor ganas disebut kanker.

Apakah Kanker Mempunyai Gejala?

Kanker pada stadium awal sering tidak bergejala. Oleh karena itu banyak penderita yang tidak menyadarinya sehingga ketika ketahuan kankernya sudah berada pada stadium lanjut. Meski demikian, terdapat 7 gejala yang perlu diperhatikan yaitu:

Gejala-gejala ini disingkat WASPADA

Waktu buang air besar atau kecil dan perubahan kebiasaan atau gangguan.

Alat pencernaan terganggu dan susah menelan.

Suara serak atau batuk tak sembuh-sembuh.

Payudara atau di tempat lain ada benjolan (tumor).

Andeng-andeng (tahi lalat) yang berubah sifatnya menjadi besar dan gatal.

Darah dan lendir yang abnormal keluar dari tubuh.

Adanya koreng atau borok yang tak mau sembuh.

Apakah Kanker Bisa Dicegah?

Direktur Pencegahan dan Pengendalian PTM dr. Cut Putri Arianie, M.H.Kes selaku narasumber acara Pertemuan Social Media Influencer Dalam Rangka Memperingati Hari Kanker Sedunia menyampaikan bahwa kanker bisa dicegah jika terdeteksi sedini mungkin.

Bagaimana pencegahannya? Yaitu dengan cara mengendalikan faktor risiko kanker. Faktor risiko ada yang dapat diubah dan tidak dapat diubah. Yang dikendalikan adalah yang dapat diubah. Faktor risiko PTM yang tidak dapat diubah antara lain usia, jenis kelamin dan genetik. Sedangkan faktor risiko yang dapat diubah yaitu merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, obesitas, darah tinggi, dan prediabetes.

Lebih lanjut, faktor risiko kanker yang dapat diubah yaitu:

Makanan yang kontak dengan zat-zat kimia yaitu 6P (penyedap, pewarna, perasa, pengawet misalnya pengasinan dan pengasapan)

Polutan

Diet tidak seimbang, rendah serat, tinggi lemak

Kurang aktivitas fisik

Paparan asap rokok dan produk tembakau

Paparan lingkungan berbahaya

Konsumsi alkohol

Perilaku seksual berisiko

Paparan sinar ultra violet

Kanker merupakan penyakit katastropik dengan pembiayaan tertinggi kedua setelah jantung pada tahun 2018 (BPJS Kesehatan, 2018).

Waspadai Kanker Payudara

Kanker payudara dan kanker leher rahim merupakan kanker dengan kasus baru terbanyak diIndonesia. Data menunjukkan kejadian kanker payudara di dunia sebesar 11,6 % dengan persentase kematian sebesar 6,6% (Globocan, 2018). Sedangkan di Indonesia kejadian kanker payudara sebesar 16,7% dengan jumlah kasus baru sebesar 42,1 per 1000 penduduk. Kematian akibat kanker payudara di Indonesia adalah 17 per 100.000 penduduk.

Gejala kanker payudara bisa dideteksi sendiri dengan SADARI (Periksa Payudara Sendiri). Lalu untuk faktor risikonya antara lain usia menstruasi di bawah 12 tahun, wanita tidak menikah, melahirkan anak pertama pada usia 30 tahun, tidak menyusui, menggunakan kontrasepsi hormonal atau mendapat terapi hormonal dalam waktu lama, usia menopause lebih dari 55 tahun, pernah operasi tumor jinak payudara, riwayat kanker dalam keluarga, wanita dengan stres berat, konsumsi lemak dan alkohol secara berlebihan, dan perokok pasif maupun aktif.

Kanker payudara dapat dicegah dengan menghindari faktor risiko yang dapat diubah. Mulailah hidup sehat dan menghindari asap rokok.

Deteksi Dini Kanker Payudara

Selain itu, deteksi dini juga dapat dilakukan dengan SADARI DAN SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis) oleh tenaga kesehatan. SADARI dapat dilakukan setiap bulan pada hari ke 7 sampai ke 10 yang dihitung sejak haid pertama atau pada tanggal yang sama bagi uang yang sudah menopause. Sedangkan SADANIS dianjurkan setiap 3 tahun sekali untuk wanita usia 20 – 30 tahun dan 1 tahun sekali untuk usia di atas 40 tahun.

Kelebihan dari SADARI dan SADANIS antara lain cepat, mudah, praktis, tidak perlu cek laboratorium sehingga hasilnya langsung, dan pemeriksaan teratur dapat mendeteksi kanker pada stadium awal (I atau II) sebesar 68%.

Deteksi dini memang harus dilakukan secara teratur karena bisa saja tahun ini negatif, tahun depan positif kanker. Oleh karena itu penting sekali bagi perempuan mendeteksi dengan SADARI atau SADANIS.

Hati-Hati Kanker Serviks Mengintai

Di Indonesia, setiap 1 jam ada 2 orang wanita yang meninggal karena kanker serviks. Terdapat lebih dari 32 ribu perempuan yang terdiagnosa kanker serviks dengan angka kematian sebesar 18 ribu. Kanker ini memang menjadi kanker terbanyak kedua di Indonesia dengan kasus baru sebesar 23,4 per 100.000 penduduk (Globocan, 2018).

Apa saja gejala kanker serviks?

Kanker serviks stadium awal cenderung tidak bergejala. Namun pada stadium akhir terdapat gejala yang perlu diperiksa oleh dokter, antara lain:

1. Menstruasi tidak teratur

2. Nyeri panggul

3. Nyeri saat berhubungan seksual

4. Keputihan atau keluar cairan encer putih kekuningan kadang bercampur darah seperti nanah

5. Perdarahan spontan tidak pada masa menstruasi

6. Perdarahan pada masa menopause

Apa saja faktor risiko kanker serviks?

1. Menikah atau mulai aktivitas seksual < 20 tahun

2. Berganti-ganti pasangan seksual

3. Melakukan hubungan seksual dengan pria yang berganti-ganti pasangan

4. Riwayat infeksi kelamin atau radang panggul

5. Perempuan yang melahirkan banyak anak

6. Perokok aktif dan pasif

7. Riwayat kanker pada keluarga

8. Kurang menjaga kebersihan kelamin

9.Riwayat tes papsmear yang abnormal

10. Penurunan kekebalan tubuh misal pada HIV atau penggunaan obat kortikosteroid jangka panjang

Kanker serviks bisa dicegah dengan vaksinasi HPV berusia 11-12 tahun. Selain itu, hindari faktor risiko seperti tidak berganti pasangan dan tidak melakukan hubungan seksual pada usia dini.

Deteksi Dini Kanker Serviks dengan IVA Tes

Kanker serviks dapat dicegah dengan deteksi dini menggunakan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) atau papsmear. Tes ini perlu dilakukan bagi wanita berusia 30-50 tahun yang sudah menikah atau berhubungan seksual.

IVA tes sendiri sudah dicover oleh BPJS di puskesmas. Teman saya yang melakukan tes IVA tanpa BPJS juga hanya membayar 30 ribu rupiah. Murah, bukan? IVA tes sederhana, mudah, cepat, dan hasil langsung keluar saat itu juga. Pelaksanaannya bisa di puskesmas bahkan di dokter umum atau bidan dalam mobil keliling. Pemerintah juga mempunyai program see and treat yaitu jika ditemukan IVA positif maka ditindaklanjuti dengan krioterapi atau dirujuk ke FKTL.

Program deteksi dini kanker serviks dengan metode IVA tes telah dikembangkan di seluruh 34 Provinsi di Indonesia pada 5000 Puskesmas. Pengembangan program see and treat perlu didukung dengan ketersediaan SDM dan sarana prasarana di daerah. Saat ini sudah terdapat terdapat 3.187 dokter dan 7.138 bidan terlatih deteksi dini kanker leher rahim, serta 1,349 krioterapi di FKTP.

Sensitivitas IVA tes sebesar 77% (antara 56-94%) dan spesifisitas 86% (antara 74-94%) (WHO, 2016). Cakupan deteksi dini dengan IVA minimal 80% selama 5 tahun terakhir akan menurunkan insiden kanker serviks secara signifikan (WHO, 2016).

Selain IVA tes, deteksi dini kanker serviks dapat menggunakan metode papsmear dan HPV DNA. Saya sendiri pernah melakukan tes HPV DNA. Biayanya memang lebih besar dibanding IVA tes. Tapi untuk papsmear di puskesmas hanya 90 ribu rupiah.

Pengalaman teman saya melakukan IVA tes di puskesmas adalah diawali dengan mengisi data sebanyak 3-4 lembar yang berisi data diri dan pertanyaan seputar faktor risiko. Kemudian sampel jaringan diambil dengan cara membuka vagina menggunakan cocor bebek. Kaki dibuka lebar-lebar agar proses pengambilan sampel lebih mudah.

Hasil tes langsung keluar saat itu berupa kata negatif atau positif. Dokter atau bidan akan memberikan surat keterangan untuk melakukan IVA tes setahun kedepan. Mudah dan cepat, bukan?

(Visited 33 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditmail

2 Comments

  • Hastira February 12, 2020 Reply

    aku rutin makan kunir putih yang sudah dimasukan kapsul , bisa mencegah kanker

  • Anak Desa February 12, 2020 Reply

    Tulisan ini, sepertinya perlu saya ceritakan kepada kader kesehatan di desaku. Selama ini, kader kesehatan di desa seringnya hanya menyampaikan hal-hal kesehatan yang bersifat umum.

    Maturnuwun, atas tulisannya Mba? Salam dari Anak Desa…

Leave a Reply

error: Content is protected !!