Cara Mengatasi Diabetes

Facebooktwittergoogle_plusredditmail

Cara Mengatasi Diabetes

Diabetes dapat diatasi dengan dua cara, yaitu terapi non farmakologi (tanpa obat), dan diikuti farmakologi (dengan obat). Bila seseorang sudah mengalami diabetes, maka tidak hanya terapi dengan obat saja yang diperlukan, tetapi juga perlu mengubah pola hidupnya, agar gula darah terkontrol.

  1. Terapi non obat

Mengubah lifestyle (gaya hidup)
Terapi nutrisi medis

American Diabetes Assosiation menyampaikan bahwa tidak ada pola ukuran makan yang disamakan untuk penderita DM tipe 2, melainkan sifatnya individual. Terapi nutrisi medis direkomendasikan untuk seluruh pasien DM tipe 1 dan 2 sebagai bagian dari rencana terapi secara keseluruhan, dan jika bisa disediakan oleh ahli diet yang terdaftar untuk nutrisi medis diabetes.

Tujuan dari nutrisi medis antara lain adalah agar tercapai pola makan yang sehat untuk meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, menjaga gula darah masing-masing individu, termasuk tekanan darah dan target kadar lemaknya. Tujuan lainnya adalah mencapai dan memelihara target berat badan ideal, serta menunda atau mencegah komplikasi diabetes.

Aktivitas fisik

Aktivitas fisik sebagai terapi non obat, perlu dilakukan oleh orang dewasa dengan diabetes. Program exercise/ latihan fisik harus meliputi antara lain  ≥150 menit/minggu dengan aktivitas aerobic moderate hingga intensif (50%-70% maksimal kecepatan denyut jantung), tersebar sebanyak  ≥3 hari/minggu dengan tidak lebih dari 2 hari tanpa exercise. Diperlukan evaluasi pada pasien yang kontraindikasi pada tipe latihan/olahraga tertentu sebelum merekomendasikan program exercise.

Penting juga mempertimbangkan usia dan level aktivitas fisik sebelumnya, misalnya saja pada anak-anak dengan diabetes atau prediabetes, maka hanya dibutuhkan  ≥60 menit aktivitas fisik/ hari.

Beberapa kondisi yang mengikuti DM, seperti tekanan darah tinggi, neuropati (kematian saraf perifer) atau riwayat luka pada kaki, serta retinopati (kematian retina mata) yang tidak stabil, memerlukan perhatian khusus saat melakukan olahraga. Contohnya pada pasien yang sedang mengalami hiperglikemia, perlu untuk menghindari aktivitas yang mengakibatkan ketosis, yaitu pada individu dengan diabetes tipe 1 yang menghentikan insulin untuk 12-28 jam dan mengalami ketosis, maka exercise akan memperparah hiperglikemi dan ketosis. Sedangkan bila insulin di berikan, aktivitas fisik dapat mengakibatkan hipoglikemi (gula darah sangat turun) jika dosis obat atau konsumsi karbohidratnya tidak dipengaruhi. Perlu adanya penambahan karbohidrat ketika gula darah sebelum exercise masih di bawah <100 mg/dL (5.6 mmol/L)

Retinopati

Beberapa jenis aerobic atau exercise yang berlawanan bisa saja tidak diperbolehkan.

Neuropati perifer

Penurunan rasa nyeri dan peningkatan rasa nyeri terutama di daerah kaki atau lengan, dapatmenyebabkan peningkatan risiko kerusakan kulit. Semua individu dengan neuropati harus memakai alas kaki yang sesuai dan memeriksakan kakinya setiap hari untuk memastikan ada tidaknya luka.  Pada keadaan adanya luka pada kaki atau luka terbuka, maka aktivitas fisik perlu dibatasi.

Merokok

Sarankan pasien dengan DM untuk tidak merokok atau menggunakan produk tembakau. Pentingnya mereka berkonsultasi mengenai pencegahan dan penghentian merokok kepada tenaga kesehatan. Kepada anggota keluarga, jangan memfasilitasi aktivitas merokok.

  1. Pengobatan untuk hiperglikemi (gula darah tinggi) pada diabetes tipe 2

Pilihan obat pertamanya adalah Metformin (jika dapat ditoleransi dan tidak kontraindikasi. Obat ini diberikan bila pengubahan pola hidup tidak berhasil menurunkan kadar gula darah. Insulin juga dapat diresepkan oleh dokter, dengan atau tanpa obat lain, tergantung pada respon pasien terhadap obat antidiabetes oral (dikonsumsi melalui mulut) yang sebelumnya digunakan.

Tambahkan obat antidiabetes oral pilihan kedua, atau insulin, jika pengobatan monoterapi tanpa insulin sudah diberikan dengan dosis maksimal yang dapat diterima, tetapi belum mencapai target gula darah yang diinginkan/target HbA1C selama 3 bulan. Biasanya, insulin baru diperlukan untuk pasien diabetes tipe 2 yang penyakit diabetesnya memburuk.

Pemilihan terapi obat didasarkan pada keadaan pasien, yang juga mempertimbangkan efektivitas obat, biaya, efek samping yang mungkin muncul, efek pada berat badan, adanya penyakit lain, risiko hipoglikemi, dan kecenderungan pasien.

Operasi bariatric juga dapat menjadi pilihan terutama pada pasien dengan indeks massa tubuh >35 kg/m, dan jika diabetesnya berkaitan dengan komorbid/adanya penyakit lain sehingga sulit dikontrol dengan pengubahan pola hidup dan terapi obat.

3. Pengobatan Diabetes tipe 1

Insulin terapi di rekomendasikan untuk sebagian besar pasien dengan DM tipe 1. Pasien akan diobati dengan suntikan multiple-dose insulin (3-4 suntikan/ hari dari insulin basal dan prandial) atau infus insulin melalui subkutan (bawah kulit) yang berkelanjutan (continuous).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan insulin antara lain:

  • Sesuaikan insulin prandial dengan intake (konsumsi) karbohidrat, gula darah sebelum makan dan aktivitas berat yang perlu diantisipasi
  • Gunakan insulin analog untuk mengurangi risiko hipoglikemia.
  • Pertimbangkan penggunaan

Ada juga agen lain seperti:

Pramlinitide (amylin analog), fungsinya menunda waktu pengosongan lambung, menumpulkan sekresi glucagon oleh pancreas, meningkatkan pengurangan berat badan, meningkatkan rasa kenyang , menurunkan dosis insulin, serta hanya dapat digunakan untuk orang dewasa.

Sementara agen lainnya yang masih diteliti, yaitu:

Metformin + insulin, dimana fungsinya dapat mengurangi kebutuhan insulin dan meningkatkan control metabolic pada pasien yang obes atau berat badan berlebih, dengan kontrol gula darah yang jelek. Incretins yang terdiri dari GLP-1 receptor agonists dan DPP-4 inhibitors juga masih dalam tahap penelitian untuk DM tipe 2, sama halnya dengan SGLT-2 inhibitors.

Wah ada banyak ya pilihan cara mengatasi diabetes, dimana terapi obat akan diresepkan oleh dokter, sementara terapi tanpa obat, perlu adanya motivasi dari diri sendiri dan dukungan anggota keluarga, termasuk dukungan lingkungan terdekat.

Referensi:

2015 American Diabetes Association (ADA) Diabetes Guidelines Summary Recommendations from NDEI

(Visited 137 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditmail

10 Comments

  • Julian Sukrisna June 28, 2016 Reply

    Yang pasti dengan pikiran yang harus selalu ‘gembira’ ya mbak 😀

  • Anisa ae June 28, 2016 Reply

    ibuku kena diabetes mbak. Tiap bulan kontrol ke RS. Huft.

  • April Hamsa June 28, 2016 Reply

    Wah kudu rajin2 nih aktivitas fisiknya, minimal jalan kaki kali ya…

  • Omali June 28, 2016 Reply

    Aktivitas fisik itu yg ‘berat’. Menjaga makan insya Allah buat saya ga sulit. Cuma males geraknya itu yg susah banget dilawan. Hiks.

  • Arni June 28, 2016 Reply

    Aktivitas fisik memang perlu banget ya
    Kudu melawan malas tuh, kalau udah biasa sih sebenarnya gak terlalu berat dan malah jadi rutinitas

    • dian.ismyama June 29, 2016 Reply

      Kalo udah terbiasa ga berasa berat lho. Semangat! =)

  • cputriarty June 30, 2016 Reply

    Postingan informatif ini.akan kushare ke mamaku deh mbk yang terkena diabetis.hiks

    • dian.ismyama June 30, 2016 Reply

      Semoga bermanfaat ya..yg penting Mama harus mengubah pola hidup dan rajin kontrol Mba

  • Babang travengler October 17, 2016 Reply

    Kalo dikampung Babang rata2 yg kena diabetes biasanya horang kayah. sama kayak struk. hehehe

Leave a Reply

error: Content is protected !!