Bijak Atasi Demam pada Anak, Kunci Liburan Ceria

Facebooktwitterredditmail

Bijak Atasi Demam Pada Anak, Kunci Liburan Ceria

Pernah kah Bunda merencanakan liburan tetapi batal? Atau sudah terlanjur ke tempat liburan dan justru anak sakit? Duh, rasanya sedih ya, sudah merencanakan liburan jauh-jauh hari tetapi berakhir dengan nggak jadi berangkat. Saya sendiri pernah mengalami nyaris batal liburan, saat suhu badan anak saya mencapai 38,5°C, sehari sebelum keberangkatan. Anak saya demam dan ternyata muncul sariawan di mulutnya. Padahal saat itu, kami memakai jasa travel agent dan memilih paket liburan mengikuti Dieng Culture Festival. Artinya, festival tersebut ya hanya ada di hari keberangkatan hingga tiga hari ke depan, nggak setiap saat ada, kan? Cuma sekali setahun gitu.

Nekat berangkat? Ya siap-siap di sana kerepotan dengan kerewelan anak. Batal? Pastinya kecewa dan tentu ada harga pembatalan yang nggak bisa dikembalikan, apalagi jika mendadak. Akhirnya saya ambil jalan tengah, mengobati anak sambil terus observasi dan nekat berangkat. Beruntung, latar belakang saya sebagai apoteker mempermudah saya dalam self medication.

Tips liburan ceria bersama anak

Agar tidak terjadi lagi kejadian anak sakit pada saat akan liburan atau saat liburan, apa dong yang bisa dilakukan orangtua? Sering juga, kan, karena terlalu capek berjalan- jalan saat liburan, anak justru jatuh sakit. Wah liburan menjadi beda rasanya, bukannya happy tapi malah sedih.

Oleh karena itu, saya punya tips nih agar selama liburan, kesehatan anak tetap terjaga. 

  1. Jaga asupan makanan anak

Agar anak tetap ceria selama liburan, penting untuk memastikan kalori yang masuk lebih besar daripada kalori yang keluar. Teman-teman tahu sendiri kalau liburan itu biasanya kan anak sangat senang bermain hingga sore hari, jadi dapat dipastikan energi yang dipakai juga besar. Kalau asupan makanannya kurang, wah anak bisa jadi lemas dan akhirnya jatuh sakit. Paling tidak, sediakan cemilan sehat seperti buah-buahan atau biskuit saat liburan. Jadi risiko anak terkena sakit maag juga berkurang. Jika berencana untuk makan di luar selama liburan, pastikan juga kebersihan tempat makan dan makanannya terjaga, maklum banyak penyakit yang bisa terjadi karena makanan lho, seperti tipes dan diare.

  1. Jaga asupan cairan anak

Tubuh kita sebagian besar terdiri dari cairan, apalagi anak-anak. Anak-anak lebih lebih rentan terhadap dehidrasi karena kandungan cairan tubuh yang lebih besar, ketidakmatangan ginjal, dan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri secara mandiri. Oleh karena itu, orangtua mesti memperhatikan asupan cairan anak. Sudah berapa gelas anak kita minum saat liburan? Jika mereka malas minum, dorong mereka untuk minum yang disukai, bisa air putih, jus atau sari buah, asi atau susu misalnya. Yang penting mereka mau minum untuk mencegah dehidrasi. Orangtua juga perlu memperhatikan tanda-tanda dehidrasi anak ya, seperti bibir kering, tidak buang air kecil, tampak pucat, bahkan bisa terjadi demam lho.

  1. Pastikan anak istirahat dengan cukup

Liburan biasanya diikuti oleh jadwal yang padat, mulai dari mengunjungi objek wisata, hingga mengeksplorasi tempat penginapan misalnya. Anak yang biasanya tidur siang, bisa jadi melewatkan waktu istirahatnya. Anak yang biasanya tidur malam jam 8, eh jadi tidur jam 10 atau jam 11. Padahal kurang istirahat dapat membuat waktu tubuh untuk regenerasi sel jadi berkurang. Sebenarnya nggak apa-apa sih sesekali tidur kurang, tapi kekurangan itu sebaiknya diganti di hari lain, saat anak sudah selesai liburan misalnya, beri waktu istirahat sehari- dua hari di rumah. Bila orangtua melihat anak mulai kurang fokus atau terlihat mengantuk, sebaiknya tetap kondisikan anak agar dapat mencuri-curi waktu tidur, contohnya tidur saat di kendaraan menuju objek wisata.

  1. Bila perlu, beri vitamin

Vitamin dapat diberikan bila memang dibutuhkan, kayak anak saya yang sudah terlihat sakit sebelum berangkat liburan, saya beri vitamin agar daya tahan tubuhnya cepat membaik. Anak yang sedang nggak enak badan, cenderung menurun nafsu makannya. Di sinilah peran vitamin, yaitu menggantikan komposisi zat-zat yang seharusnya diserap tubuh dari makanan yang tidak diperolehnya karena tidak mau makan.

  1. Bila perlu, beri obat jika sakit.

Kalau anak mulai terlihat lesu, orangtua sebaiknya mengobservasi apakah ada tanda-tanda anak akan sakit, termasuk demam salah satunya. Sakit yang biasa dialami anak saat musim liburan ya common cold  atau influenza, radang tenggorokan, sariawan, diare, infeksi saluran pernapasan atas, infeksi saluran cerna, atau infeksi lainnya. Untuk demam, cek selalu suhu anak, bila masih di bawah 38,3°C dapat dilakukan terlebih dahulu tindakan mengompres di tempat-tempat tertentu seperti ketiak, leher dan kening anak. Tentu saja dengan tetap melihat tanda-tanda keaktifan anak dan ada tidaknya gejala lain seperti mual, muntah yang perlu penanganan yang berbeda. Jika suhu sudah di atas 38,3°C  maka berilah obat penurun panas, dan bila gejala masih menetap dalam dua hari, kunjungi dokter untuk diperiksa.

Najla ketika masih demam
Hari kedua di Dieng, sudah tidak demam

Sebenarnya liburan ceria bersama anak sih lumayan banyak, meskipun liburan ala kami ya di Yogyakarta dan sekitarnya saja, tapi memang liburan yang paling berkesan karena ada saja kendalanya, termasuk anak sakit ya liburan waktu ke Dieng itu. Alhamdulillah, kondisi anak saya berangsur membaik, sehingga bisa benar-benar ceria ketika mengikuti rangkaian acara di Dieng saat itu. bisa dilihat, kan, perbedaan sorot mata anak saya saat hari pertama liburan dibanding hari berikutnya yang sudah ceria lagi.

Oh ya, saya membuat video lho untuk merangkum tips menjaga kesehatan anak agar ceria saat liburan. Tonton yuk.

Oh ya, satu tips lagi agar liburan menjadi ceria bersama anak, yaitu beritahu anak mengenai rencana liburan jauh-jauh hari. Jadi mereka tertarik dan bersemangat menjelang keberangkatan. Misalnya dengan memperlihatkan foto-foto pantai jika berencana ke pantai, atau menceritakan tentang hewan-hewan jika akan ke kebun binatang, dan sebagainya. dijamin anak-anak akan heboh sendiri karena penasaran ingin segera sampai ke tempat liburan. Untuk cara lain mengembalikan keceriaan anak, teman-teman bisa cek di https://m.facebook.com/OneThousandSmile/

Apakah kita termasuk orangtua yang panik jika anak demam? 

Banyak orangtua yang panik kalau anaknya demam. Padahal demam itu justru kawan lho, demam bukanlah suatu penyakit, melainkan tanda bahwa tubuh beraksi dalam melawan kuman baik virus, bakteri, maupun mikroorganisme lainnya. Meski demikian, ternyata ada juga orangtua yang kelewat santai. Anak demam didiamkan saja, atau malah karena sampai menggigil eh dikira kedinginan dan makin dijaketin, makin diselimutin, padahal hal tersebut justru akan membuat anak tidak nyaman dan bisa jadi membuat suhu anak semakin tinggi. Jadi, sebagai orangtua, teman-teman musti bijak dalam mengatasi demam.

AAP (American Academy of Pediatrics) menyatakan bahwa demam adalah gejala paling umum dan paling sering ditemui untuk dimanage oleh dokter anak, dan tenaga kesehatan lain. Tak dapat dipungkiri bahwa demam membuat banyak orangtua mengunjungi dokter, atau menelepon dokter anak agar mendapat saran dalam mengontrol atau menurunkan demam, dan tentu saja demam pada anak juga mengakibatkan peningkatan penggunaan obat bebas penurun panas. Saya sendiri sewaktu bekerja di apotek, dalam sehari bisa menemui 3-5 orang ibu yang mencari obat demam untuk anaknya. Itu belum shift teman saya yang jaga malam ya, jadi bisa dikira-kira berapa jumlah anak yang mengalami demam per harinya, cukup banyak, bukan?

Sebuah penelitian cross sectional menyatakan bahwa banyak orangtua yang memberikan antipiretik bahkan ketika tidak ada demam. Hal ini dikarenakan orangtua ingin memastikan suhu anaknya selalu normal. Beberapa jurnal di Pediatrics mendapatkan data rata-rata bahwa sebagian orangtua mempertimbangkan suhu kurang dari 38°C (100.4°F) sebagai demam, dan 25% pengasuh akan memberikan penurun demam bila suhu anak kurang dari 37.8°C (100°F). Lebih lanjut, 85% orangtua melaporkan membangunkan anaknya saat tidur untuk memberikan antipiretik (penurun demam). Sayangnya, sebagian orangtua salah memberikan dosis antipiretik, dimana 15% orangtua memberikan dosis di bawah dosis terapi.

Perlu teman-teman ketahui bahwa memang ada perbedaan mengenai pandangan orangtua, pengasuh dengan dokter dalam memberikan antipiretik. Indikasi umum untuk memulai terapi antipiretik oleh dokter anak adalah bila suhu di atas 38.3°C (101°F) dan untuk meningkatkan kenyamanan anak, meskipun hanya 13% dokter anak yang menyatakan bahwa ketidaknyamanan adalah indikasi utama untuk memberikan antipiretik. Selain itu, sebagian besar dokter anak (80%) mempercayai bahwa anak yang sedang tidur seharusnya tidak perlu dibangunkan untuk diminumkan antipiretik.

Tujuan pengobatan

Selama ini yang ada dibenak para orangtua saat memberikan penurun panas adalah suhu harus kembali normal. Padahal sebenarnya tujuan pengobatan bukanlah hal tersebut, melainkan meningkatkan kenyamanan anak. Berdasarkan data dari penelitian, banyak dokter anak meyakini, bahwa anak yang demam dapat menurun keaktifannya,berkurang waktu tidurnya, dan menurun nafsu makannya. Sama banget lah dengan pengalaman saya selama ini, kalau si kakak demam, yang tadinya lari sana-sini, ngoceh melulu kayak kereta api, eh jadi anteng, tiduran terus, dan diam saja, kan malah justru bikin saya jadi bingung.

Dengan memperbaiki kenyamanan anak, diharapkan keaktifan, tidur, dan nafsu makan anak kembali normal. Selain itu, antipiretik biasanya juga memiliki efek analgetik (antinyeri) sehingga memberikan manfaat yang lebih, dalam mengatasi ketidaknyamanan anak. Banyak, kan demam pada anak yang diikuti oleh sakit kepala misalnya. Oleh karena itu, tujuan pemberian penurun panas memang sebaiknya difokuskan kepada memonitor keaktifan anak, mengobservasi tanda lain yang serius, mendorong asupan cairan yang cukup, dan menekankan tentang penyimpanan parasetamol yang aman, yaitu dijauhkan dari jangkauan anak-anak.

Parasetamol

Parasetamol direkomendasi sebagai terapi pilihan pertama untuk demam ketika terbukti aspirin mengakibatkan sindrom Reye (sebuah sindrom dimana terjadi kerusakan pada otak dan hati, yang dikaitkan dengan penggunaan aspirin pada infeksi virus yang dialami anak-anak) Dosis parasetamol 10 – 15 mg/kg per dosis diberikan setiap 4- 6 jam secara oral merupakan penurun panas yang efektif dan aman. Onset atau awal obat berefek untuk menurunkan panas adalah 30-60 menit, dimana rata-rata 80% anak mengalami penurunan suhu pada waktu tersebut.

Apakah parasetamol aman?

Selama ini penggunaan parasetamol dikaitkan dengan efek samping hepatotoksik (kerusakan hati), padahal faktanya, jarang ada laporan bahwa parasetamol dengan dosis yang direkomendasikan tadi mengakibatkan kerusakan hati, kecuali pada kejadian overdosis akut (pemberian dosis berlebih di satu waktu). Sebagai tambahan, ada juga kemungkinan parasetamol mengakibatkan hepatitis (peradangan pada hati) pada kondisi overdosis kronik (pemberian dosis berlebih secara lama), misalnya saja pada anak yang diberikan parasetamol dengan dosis tunggal dengan jarak kurang dari 4 jam (sehingga menghasilkan dosis lebih dari 90 mg/kg/hari). Jadi kalau penggunaannya sesuai dosis dan aturan pakai yang tertulis di kemasan, ya aman dong.

Perhatian

Pengunaan dosis yang tidak tepat adalah masalah utama pemberian parasetamol pada anak. Kebingungan soal dosis disebabkan karena adanya perbedaan formula, kekuatan, dan instruksi dosis untuk usia yang berbeda pada anak. Selain kandungan parasetamol tunggal yang biasanya digunakan untuk penurun panas atau pereda nyeri, ada juga kandungan parasetamol yang dikombinasi dengan obat lain untuk meredakan batuk atau flu. Ada lebih dari 600 merek obat bebas yang mengandung parasetamol.

Sebenarnya, parasetamol sangat aman bila teman-teman mengikuti aturan di kemasannya, tetapi jika teman-teman memberikan dosis yang lebih dari aturan, atau memberikan lebih dari satu obat yang mengandung parasetamol, anak dapat merasa mual, bahkan terjadi muntah

Nah sebagai ibu, tugas kitalah memastikan bahwa parasetamol yang diminum oleh anak tidak lebih dari yang seharusnya, dan tidak meminum obat lebih dari satu yang sama-sama mengandung parasetamol.

Tips untuk memberikan parasetamol pada anak

Agar parasetamol yang diberikan tetap aman, ada beberapa tips dari Food and Drug Administration (FDA) yang dapat teman-teman praktekkan, yaitu:

  1. Jangan pernah memberikan anak lebih dari satu obat mengandung parasetamol pada satu waktu. Untuk mengetahui bahwa obat bebas mengandung parasetamol atau tidak, lihat lah ada tidaknya kata parasetamol atau asetaminofen pada label obat di bawah kalimat “zat aktif”. Untuk resep antinyeri, tanyakan lah kepada apoteker apakah resep tersebut mengandung parasetamol.
  2. Pilih obat bebas berdasarkan berat badan dan usia. Di bagian “aturan pakai” akan ada pemberitahuan bahwa apakah obat ini tepat atau tidak untuk anak dan berapa jumlah yang dapat diberikan. Jika dosis untuk berat badan atau usia anak tidak disebutkan, tanyalah pada apoteker atau dokter.
  3. Jangan pernah berikan obat mengandung parasetamol lebih dari yang direkomendasikan. Jika obat tidak membuat anak membaik, beritahu dokter, perawat atau apoteker.
  4. Jika obat berupa cairan atau larutan, gunakan alat ukur yang terdapat di kemasan bersama obat (sendok obat), bukan sendok dapur.
  5. Catatlah penggunaan obat harian yang diberikan pada anak. Beritahu informasi ini pada siapapun yang membantu mengasuh anak.
  6. Jika anak menelan terlalu banyak parasetamol, cari pertolongan medis secepatnya, meskipun anak tidak mengeluhkan apapun.

Agar mudah dipahami, saya membuat videonya nih. Harapannya agar orangtua ataupun pengasuh, dapat memberikan parasetamol dengan aman ketika anak sakit. Kita lihat yuk …

Bagaimana dengan penurun demam selain parasetamol?

Tidak ada bukti yang mengindikasikan bahwa ada perbedaan antara keamanan standar dosis parasetamol dibanding ibuprofen pada anak sehat antara usia 6 bulan hingga 12 tahun dengan demam. Namun, sama halnya dengan obat NonSteroidal Antiinflammatory Drugs (NSAID) lain, ibuprofen berpotensi mengakibatkan gastritis (iritasi lambung), meskipun tidak data yang memastikan bahwa efek samping ini sering muncul ketika digunakan secara akut (saat ini saja/tidak lama), misalnya selama demam. Bagaimanapun juga, ada case report (laporan kasus) yang menunjukkan perdarahan, iritasi lambung dan ulcer di perut, usus halus, dan tenggorokan yang terkait dengan penggunaan NSAID, termasuk ibuprofen, meskipun digunakan dalam dosis antipiretik atau analgetik.

Penting bagi orangtua untuk membaca petunjuk yang terdapat pada kemasan atau leaflet obat, agar tidak ada informasi yang terlewat tentang cara penggunaan obat , dosis, efek samping, hingga cara penyimpanannya.

Kembali ke cerita liburan ke Dieng tadi, saya sendiri memberikan Tempra pada anak saya. Tempra cepat menurunkan demam dan bekerja langsung di pusat panas. Untuk keamanan parasetamol sudah saya sampaikan di atas, dimana parasetamol tidak menimbulkan iritasi lambung, karena tidak mengandung asam. Parasetamol yang aman di lambung, telah digunakan secara turun temurun oleh keluarga saya. Yang menarik dari Tempra, kemasannya dibuat sedemikian rupa agar tidak mudah dibuka oleh anak-anak, sistem terkunci gitu, bukti bahwa Tempra concern soal keamanan, agar anak tidak menelan obat lebih dari jumlah yang seharusnya.

Alhamdulillah, setelah meminum parasetamol, demam kakak Najla pun turun, dan akhirnya bisa berangkat ke Dieng, meskipun di sana tetap saya berikan Tempra lagi dan saya observasi ada tidaknya tanda keparahan penyakit atau tanda dehidrasi.

Kalau teman-teman sendiri, punya pengalaman apa nih tentang liburan ceria bersama anak? Atau ada yang pernah anaknya sakit di saat liburan? Cerita yuk…

“Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho.”

Referensi :

Sullivan Janice E., et al., Clinical Report—Fever and Antipyretic Use in Children. Guidance for the Clinician in Rendering Pediatric Care. American Academy of Pediatrics, 2011, doi:10.1542/peds.2010-3852, originally published online February 28, 2011.

FDA Consumer Health Information. Reducing Fever in Children: Safe Use of Acetaminophen, July 2011

(Visited 481 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

62 thoughts on “Bijak Atasi Demam pada Anak, Kunci Liburan Ceria

  1. Noni Rosliyani Reply

    Kalo kebanyakan paracetamol bahaya juga ya.. Berarti berikan seperlunya cuma pas anak demam aja ya.. Makasih tips2 kesehatannya. 🙂

    • dian.ismyama Post authorReply

      Iya Mba, kalau dosis atau frekuensinya berlebih. Sebenarnya semua obat kayak gitu, makanya ada aturan pakai, tergantung penyakitnya apa. Sama2 moga bermanfaat

  2. Khoirur Rohmah Reply

    Liat senyum cerah Najla, jadi seneng liatnyah, hhee
    Aku baru tahu loh mbak, kalo penggunaan Parasetamol atau IbuProfen jika suhu anak diatas 38,5C dengan menyesuaikan dosis dan panas anak. Sedang kalo suhu di bawah 38,5 itu cukup pakai air hangat aja. hee
    Pasalnya kadang klo liat kponkan yg pans gitu, emang sih sering langsung diperiksakan dulu, ato nggak dikasi obat penurun pans .. hiii
    Trima kasih buat pencerahannyaa ya mbak 😀

    • dian.ismyama Post authorReply

      Iya Mba. 38,3 sudah boleh lho. Dan lihat juga sebenarnya aktivitas atau penampakan sakitnya anak. Sama2 semoga bermanfaat

  3. Aya Reply

    Lengkap banget informasinya Dian. Thankyou yaaa referensi buat menghadapi anak demam niih :*

    • dian.ismyama Post authorReply

      Sama2 Mbak. Iya, ini riset dulu biar sharingnya tepat. Anyway, aku lagi prepare dua video lagi nih, launching minggu ini sama minggu depan insyaallah

  4. Prima Hapsari Reply

    Saat mudik atau ke luar kota paracetamol selalu di tas Mak DI, baw balita itu harus selalu waspada yaa. Semogaaa Najla dan adek selalu sehaat yaaa.

  5. Arni Reply

    Wah tulisannya lengkap banget
    Referensinya mantap
    Sama dengan keluarga kami, tempra adalah sahabat di kala demam

  6. Lisna Reply

    Lengkap banget maaaak. Iya anak sehat adalah kunci liburan ces pleng,hihi. Background mak dian sebagai apoteker alhamdulillah menunjang ya mak.

    • dian.ismyama Post authorReply

      Wah mau ke Dieng ya? Kalau musim hujan jangan lupa payung atau jas hujan Mba. Tapi katanya musim hujan justru nggak terlalu dingin sih. Semoga bermanfaat ya tipsnya=)

  7. Irawati Hamid Reply

    ckckck, lengkap banget Mba! *jempol*
    kalo anak saya demam saya gampang panikan Mba, makanya kami juga selalu sedia tempra di rumah sebagai jaga-jaga 🙂

    • dian.ismyama Post authorReply

      hehe, iya ibu kalau bisa jangan panik, caranya ya dengan mempelajari tentang demam dan obat penurun demam atau cara menurunkan demam sebelum diberi obat misalnya kompres, dll

    • dian.ismyama Post authorReply

      iya Mbak, banyak juga saya temui. kadang kita ibu yang terlalu parno, padahal anak sudah butuh. makanya kita musti bijak

  8. Rahmi Reply

    Sedih ya mbaaa kalo anak sakit apalagi pas liburan yg niatnya ngajak anak seneng2. Emang harus siap sedia obat skalipun pas brangkatbdalam kondisi sehat walafiat

  9. grensy Reply

    Liburan emang seru ya bun kalau bisa bawa anak-anak, tapi kalau mereka demam jadi sedih deh 🙁
    Pintar-pintarnya kita sebagai ibu yang harus menyiapkan segala sesuatunya agar anak kembali sehat, seperti membawa Tempra yang cepat menurunkan demam anak 🙂

  10. Levina Reply

    Serba salah yak, pas mau pergi eh anak sakit. padahal acara yang ditunggu tunggu sekali yak Mbak..
    Memang perlu persiapan obat-obatan seperti penurun panas..

    • dian.ismyama Post authorReply

      Benar Mbak.jadi ortu juga ga boleh egois. Kalo memang sakitnya anak kudu diwaspadai ya bawa ke dokter,batal liburan. Tapi kalau masih bisa diobservasi dan percaya bisa self medication ya kenapa nggak. Asal tahu kapan harus ke rumah sakit

  11. Dini Zaki DNZ Reply

    Saya termasuk yang gampang panik kalau anak demam, Mba. Makanya supaya tenang, saya selalu bawa obat turun panas Tempra setiap kali berlibur. Buat jaga jaga, Mba 🙂

  12. April Hamsa Reply

    AKu termasuk ibu yang berani gak kasi obat demam ke anak, meski demamnya 38 dercel. Apalagi kalau dah jeas krn common cold. Sengaja kubiarkan tubuhnya kerja dulu lawan virus.

    Btw emng kalau pas liburan anak tiba2 demam rasanya gmn gtu ya mbak, jd gak ilang mud seneng2nya. Moga2 sehat2 terus lah saat liburan 😀

  13. Mirna Kei Rahardjo Reply

    agak ngeri ya kalo anak yang sakit, pengennya sih ga dikasih obat tapi takut demamnya parah, aku baru tahu kalau penggunaan paracetamol bisa bahaya, thank you sharingnya mba

    • dian.ismyama Post authorReply

      Aduh..semoga nggak salah persepsi ya. Nggak cuma parasetamol yang bisa bahaya kalo nggak tepat dosis, ga tepat aturan pakai, ga tepat indikasi, tapi semua obat Mbak bisa bahaya. Bahkan vitamin sekalipun. Makanan juga gitu kan? Kalau makan santan atau gorengan berlebih misalnya, ya kolesterol juga tinggi=D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *