keluarga LDM

Serumah Lagi Setelah Sekian Lama LDM

Facebooktwittergoogle_plusredditmail

Penting ya dibahas? Penting dong! Biar yang lagi galau LDM atau enggak, serumah lagi atau enggak, jadi dapat berbagai sudut pandang.

Sebelumnya aku mau cerita dulu gimana riwayat LDM nya. Jadi, sejak pertama kali nikah itu aku langsung ikut suami ke Jakarta. Resign dari kerjaan di Jogja, dan berniat pindah domisili sekota sama suami. Alasannya ya jelas karena kerjaan suami saat itu lebih mapan, gaji lebih besar, bahkan dia sudah lebih lama kerja di kantor tersebut. Enggak ada alasan untuk sebaliknya, suami yang ikut aku.

Justru aku juga berdoa bisa mendapatkan pekerjaan yang menurutku lebih oke, yaitu di rumah sakit besar. Siapa sangka saat sedang mempersiapkan pernikahan, justru aku mendapat informasi dari teman kuliahku dulu kalau ada lowongan di sebuah rumah sakit di Jakarta Timur.

Setelah browsing dan merasa RS tersebut oke, aku mendaftar. Lima kali tes, diakhiri dengan medical check up, alhamdulillah aku keterima kerja di sana. Benar-benar rezeki calon manten deh.

Seharusnya aku bahkan masuk kerja sejak Januari, tapi karena pernikahanku akhir Januari, maka aku negosiasi ke HRD nya untuk masuk awal Februari. Makanya seminggu setelah menikah, aku langsung pindah ke Jakarta.

Saat itu semua terasa berat. Pindah kota, pindah kerja, pindah tinggal bersama “orang asing”. Dari Jogja ke Jakarta, dari apoteker di apotek ke rumah sakit, dari tinggal di rumah orangtua ke kos-kosan kecil bersama suami. Lonjakannya lumayan, bro!

Buatku, masa-masa serumah itu tidak selalu mulus. Aku harus beradaptasi dengan banyak hal. Tak hanya terkait pernikahan dan rumah tangga saja, tapi hampir pada banyak aspek di kehidupanku.

Mungkin hal tersebut yang membuat serumah tampak lebih sulit untuk sesuai keinginanku. Hingga akhirnya, aku “terpaksa” LDM menjelang persalinan anak pertamaku. Kontrakan rumah yang seharusnya masih kami huni, ternyata bulan depannya sudah disewakan ke orang lain. Astagfirullah, padahal aku sedang hamil 7 bulan. Enggak kebayang lah harus nyari kontrakan baru dan pindahan lagi sehingga akhirnya kami memutuskan agar aku pulang kampung saja.

LDM Pertama

Hampir 1,5 tahun lebih aku di Jogja bersama putri sulungku. Kok lama? Iya, suami harus cari-cari rumah dulu. Kemudian dibangun, memastikan semua kondisi sudah beres, baru aku datang bersama anak. Air, listrik, rumah sudah dicat dan tidak berdebu, dan sebagainya.

kisah long distance relationship

Saat LDM hampir 1,5 tahun, kondisiku semakin tidak stabil. Kelelahan mengurus bayi tanpa asisten rumah tangga, dan jauh dari suami. Begadang ya sendirian, enggak ada yang mijetin punggung yang kaku. Benar-benar saat itu adalah kondisi terburuk dalam hidupku. Makanya aku begitu gembira saat akan serumah lagi.

Serumah Lagi Setelah 1,5 Tahun LDM

Yang terjadi adalah kondisi psikisku belum pulih benar sehingga aku semakin terpuruk. Entah kenapa, saat serumah lagi aku justru merasa kepercayaan diriku terjun bebas. Tidak ada teman ngobrol, jauh dari keluarga, dan suami yang bingung dengan sikapku.

Aku merasa ada gap di antara suami denganku. Aku sama sekali tidak mengetahui tentang pekerjaannya. Seberapa beratnya, seberapa sibuknya, dan sebagainya. Yang aku lihat hanyalah dia pulang malam, terlalu sibuk, dan kelelahan. Padahal aku juga sama lelahnya.

Komunikasi kami memburuk. Anak pertamaku sangat sulit karena sering tantrum. Dalam sehari, dia bisa 5-10 kali tantrum, dengan lama 1-2 jam. Bisa dibayangkan ya, berapa banyak waktu yang kuhabiskan hanya untuk menenangkannya yang lebih banyak berakhir dengan aku juga tantrum.

Ketika aku menyampaikan mengenai kondisi anakku ke suami, ia hanya berkata sabar dan sabar. Sebuah kata yang tak bisa kumengerti maknanya. Padahal yang kuinginkan adalah dukungan, solusi.

Hubunganku dan suami memburuk. Aku semakin tenggelam dalam depresi. Kami semakin berjarak. Aku tak mengerti jalan pikirannya. Begitu pula ia tak mengerti jalan pikiranku. Semua terasa salah. Yang kuinginkan hanyalah jeda sejenak.

Semua ini diperparah dengan bullying yang kudapatkan di lingkungan tempat tinggalku. Semakin jeblok lah kepercayaan diriku. Lagi-lagi ketika aku bercerita, suami hanya bisa bilang sabar.
Maka ketika aku sudah tak tahu lagi harus bagaimana. Ketika aku merasa bahwa hidupku nyaris berakhir (tidak ada gairah, tidak ada hal-hal menyenangkan yang kutunggu setiap hari, dll) aku memutuskan untuk memotong jeratan ini.

Aku tidak bisa diam saja. Aku tahu aku harus melakukan tindakan ekstrim yang tentunya bukan hal negatif. Akhirnya aku memilih untuk melanjutkan sekolah.

Saat itu aku berpikir, dengan S2 lagi, aku bisa mengajar. Yang artinya bisa bekerja selain di apotek dan rumah sakit.

Aku kira menjadi dosen tidak membutuhkan banyak waktu di luar rumah. Hanya datang ketika mengajar. Nilai ekonomi dosen juga lebih tinggi dibanding di apotek.Kalau bukan sekarang, kapan lagi aku S2? Mumpung anak sudah disapih. Mumpung aku masih semangat.

Aku mempersiapkan semua syarat administrasi. Tes toefl, TPA, rekomendasi dosen, proposal tesis terasa lebih mudah dibanding mengurus anak.

Mungkin aku memang tipe perempuan yang lebih waras ketika di luar rumah. Seimbang antara kehidupan karir, sosial, dan keluarga. Aku tidak bisa 24 jam di rumah. Ya memang tidak semua orang sepertiku. Di satu sisi aku ingin membersamai tumbang anakku. Tapi di sisi lain aku butuh ruang untuk mengembangkan diri.

Jogja dengan UGM nya adalah pilihan pertama. Lalu ada UI yang dekat dengan rumah Depok. Tapi setelah mempertimbangkan anak sama siapa ketika nanti saya PKL di berbagai RS. Plan A dan plan B nya, aku prefer ke Jogja saja. Alhamdulillah di terima di UGM.

Siapa yang menduga, di saat aku dan putri pertamaku sudah sampai Jogja, aku justru hamil. Kehamilan yang nyaris membatalkan rencana S2 ku. Suami meminta menunda, sementara aku berpikir lalu kapan lagi? Setelah melahirkan dan anak kedua berusia 2 tahun? Nanti kalau hamil lagi? Kalau sudah tidak semangat lagi?

LDM quote

Total empat tahun sudah aku di Jogja bersama kedua putriku. Mulai dari persiapan untuk melanjutkan S2, S2 selama 2 tahun, lalu menunggu si sulung menyelesaikan TK nya, barulah kami merencanakan untuk kembali ke Depok.

Kembali Lagi ke Depok, Setelah LDM 4 Tahun

Bukan hal mudah untuk memutuskan kembali merantau. Kami pernah punya opsi untuk mempunyai home based di Jogja saja. Sempat mencari tanah juga di Jogja untuk di bangun, tapi tak kunjung mendapat yang cocok.

Akupun ingin bekerja secara tetap di Jogja tetapi khawatir jika nanti harus menyusul suami sama saja akan resign. Beberapa tawaran sampai kutolak. Bukan sombong, tapi karena aku tahu akan pindah domisili, kembali ke Depok Jabar.

serumah setelah LDM

Dan benar saja, ketika anak kedua sudah mulai bisa bicara, ia mencari – cari ayahnya. Belum lagi Kakak yang akan masuk SD. Aku tahu bahwa SD berbeda dengan TK. Kami memutuskan untuk menyekolahkan Kakak di Depok.

Meskipun dalam hatiku banyak ketakutan, kekhawatiran, dan trauma yang sering muncul. Aku takut seperti dulu lagi ketika di Depok. Suami sibuk, sementara aku tak punya aktivitas yang seimbang. Aku takut nanti anak-anak akan rewel dan membuatku stres.

Aku takut komunikasi kami akan kacau lagi karena seolah terbiasa bertemu setiap hari. Padahal pertemuannya tidak berkualitas. Justru aku merasa lebih berkualitas komunikasinya ketika LDM.

Tapi aku ingat perkataan seorang ustad, beserta ustazah sekaligus mereka adalah praktisi rumah tangga muslim yang mengatakan bahwa LDM boleh saja, tapi harus ada batas waktunya. Mau sampai kapan?

long distance marriage

Aku rasa, sekarang adalah waktu yang tepat untuk seatap lagi. Aku mencurahkan segala kebimbanganku sewaktu umroh. Haruskah kami seatap? Haruskah sekarang? Apakah nanti semuanya akan berubah menjadi lebih baik?

“Bila memang serumah adalah yang terbaik untuk agama kami, untuk keluarga kami, anak-anak kami, maka mudahkanlah ya Allah” , begitu doaku.

Sebelum benar-benar pindah, tantangan juga ada saja. Harus mencari dua sekolah, playgrup si Adik dan SD Kakak. Lalu PR berikutnya mencari tanah atau rumah. Akhirnya planning bergeser menjadi kontrakan yang dekat SD Kakak. Asal bisa ditinggali lah. Nanti baru pelan-pelan tiap weekend survei tanah.

Lalu beberapa bulan sebelum pindah, aku positif hamil. Ya Allah, sungguh entahlah. Ini anugerah atau ujian? Apakah ini waktu yang paling tepat? Aku harus beradaptasi dengan banyak hal. Sekarang tambah dengan kondisi hamil, dan melahirkan di perantauan.

Tapi kalau diusut-usut, ternyata aku sendiri yang membawanya dalam doa ketika umroh. Berharap anak laki-laki ketika kami serumah lagi. Meskipun aku tak menyangka akan dikabulkan secepat ini. Masyaallah.

Kenyataan Setelah Serumah Lagi

Lalu bagaimana dengan kekhawatiranku sebelumnya? Alhamdulillah, sudah 5 hari aku kembali ke Depok bersama dua putriku. Dan yang kurasakan justru makin tenang. Padahal rewang sedang tidak ada. Suami juga mulai kerja. Nanti jika anak-anak sudah sekolah, rutinitas pasti juga berbeda.

Apalagi jika anak ketiga lahir. Kupastikan harus beradaptasi lagi. Bukankah kelak pertama kalinya bagi bayiku bisa setiap malam bertemu ayahnya? Bila harus dibandingkan dengan kedua kakaknya yang hanya bertemu 2 minggu pertama hari lahir, lalu seminggu bahkan dua minggu sekali. Semoga saja ini pertanda baik.
Doakan seterusnya bisa sebaik ini ya.

keluarga LDM

Aku tahu bahwa berkumpul memang jauh lebih baik. Tapi kadang pertimbangan kenyamanan, karir, membuat beberapa keluarga tidak mempunyai privilage ini.

Bagiku bisa tinggal serumah adalah kemewahan.
Depok dan Jakarta bukanlah kota yang kuharapkan untuk ditinggali sehingga aku tadinya underestimate dengan kota ini. Tapi bagi orang lain bisa saja berbeda.

Alhamdulillah sekarang juga banyak kemudahan di Indonesia. Misal lagi hamil enggak harus nyetir sendiri karena ada mobil online. Masak juga enggak perlu setiap hari karena ada yang bisa nganterin makanan. Bahlan berbelanja juga demikian.

(Visited 107 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditmail

3 Comments

  • Widi Utami July 5, 2019 Reply

    Barakallahufiiik, mbak Dian. Enggak mudah memang, insyaAllah bisa dilalui dengan baik. Semoga semakin sakinnah, mawaddah dan senantiasa diliputi Rahmah ya.

  • Nofa July 6, 2019 Reply

    Semangat dian..in shaa Allah pahala besar menantimu karena pengabdianmu terhadap suami, nanti kita main2 bareng yaa 😊

  • Wiwin Pratiwanggini July 11, 2019 Reply

    Semoga betah tinggal di Depok ya Di.. demikian pula dengan anak-anak. Aku peribadi pernah mengalami menjadi bagian dari LDM bapak ibuku. Aku ditinggal bapak kerja di Sumatera selama 10 tahun. Hanya setahun sekali aku ketemu bapak, demikian juga ibu dan adik-adikku (bapak sendirian di Sumatera). Alhamdulillah akhirnya happy ending, bapak bisa pindah kerja di Jogja dan berkumpul lagi bersama kami.
    Semoga seterusnya kalian bersama-sama, Di.. 🙂

Leave a Reply

error: Content is protected !!