boeing 777-300 ER

Penerbangan Internasional Selama 10 Jam, Begini Rasanya

Facebooktwittergoogle_plusredditmail

Saat pertama kali memilih paket umroh, saya langsung bertanya ke suami, mau naik pesawat Garuda atau Saudi Air Lines? Dengan mantap, suami menjawab, cinta Indonesia dong, Garuda saja. Bukan berarti yang memilih maskapai lain tidak cinta Indonesia ya. Pasti semua orang memiliki pertimbangan lain dalam pemilihan maskapai tersebut.

Nah, buat kamu yang masih galau mau pilih maskapai apa ke Arab, dan bagaimana rasanya naik pesawat selama 10 jam, saya akan tulis pengalaman menaiki pesawat Garuda. Rute yang saya tempuh adalah dari Jogja-Jakarta, Jakarta-Madinah, lalu pulangnya Jeddah-Jakarta dan Jakarta – Jogja.

Penerbangan Jogja-Jakarta

bandara soekarno hatta

Masih semangat menunggu ketika di Bandara Soeta

Para peserta umroh berkumpul pukul 8 pagi di Concordia Lounge Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Di sana, kami dipersilakan untuk sarapan dan menikmati semua menu makanan dan minuman yang tersedia. Meskipun Mama saya sudah menceritakan bahwa nanti sarapan akan disediakan di bandara, tapi saya terlanjur jaga-jaga sudah sarapan di rumah, haha. Alhasil sewaktu sampai lounge ya sudah kenyang, tapi masih kuat ngemil =D



Di lounge, travel agen membagikan buku catatan perjalanan dan ID card yang harus selalu kami pakai. ID card ini penting banget ya. Apalagi kalau orangtua, mertua, kakek nenek atau anak-anak berangkat umroh. ID card memuat foto dan nama kita, nomor telepon ustad, nama hotel tempat menginap di Mekah dan Madinah, serta nomor sipatuh (status keberangkatan umroh dari Kemenag).

Di Whatsapp grup kami sempat ada yang menemukan kakek-kakek sendirian. Jamaah Indonesia dan ketika ditanya beliau hanya tahu nama ustadnya. ID card -nya enggak ada=(. Kakek tersebut memakai headset, tapi tanpa identitas di headset. Akhirnya bagaimana saya kurang tahu. Sepertinya tetap bisa balik ke hotel tempat menginap dan bertemu dengan rombongannya.

Kembali ke lounge, sempat ada kejadian enggak mengenakkan, yaitu dari penumpang lain yang sedang menunggu. Tiba-tiba saja terdengar suara pasangan suami istri yang marah-marah kepada petugas lounge, mengatakan bahwa petugas tidak mencari keberadaan mereka sehingga ketinggalan pesawat. Sedangkan petugas bersikeras sudah memanggil semua nama penumpang setiap ada pesawat mau boarding.

Pesan penting dari kejadian tersebut adalah, ketika kita duduk santai di lounge, semestinya tanggung jawab penerbangan tetap di masing-masing individu. Rajin mengecek sudahkah jam keberangkatan kita? Apakah pesawat maju atau delay? Dan sebagainya. Jangan pasif dan merasa bahwa kewajiban petugas lounge untuk mengingatkan dan salah petugas kalau sampai ada penumpang yang tidak mendengar panggilan=(.

For your information, ketika penerbangan kami dipanggil, ternyata pintu masuk bagi penumpang yang menunggu di lounge itu beda ya, haha. Maklum, ini kali pertama saya cek x-ray melalui antrian khusus. Lebih sepi, enggak keroyokan antrinya. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar hingga boarding dan pesawat Garuda terbang dari Jogja ke Jakarta. Seperti biasa, kami mendapatkan snack dan minuman di pesawat.

Kami menaiki pesawat Boeing jenis 737-800 yang didesain untuk 6 seat tiap row (3-3). Kapasitas kursi sebanyak 156 penumpang dengan jumlah kursi sebanyak 12 kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi. Ada layar di punggung kursi, dan headset untuk tiap penumpang. Sampai di sini, perasaan saya masih tenang.

Penerbangan Internasional Jakarta-Madinah, Sabar adalah Koentji

Jujur, saya deg-degan membayangkan penerbangan 10 jam dari Jakarta ke Madinah. Apalagi ketika ingat kecelakaan pesawat yang belum lama terjadi di Indonesia, bawaannya horor =(. Ustad kami sempat berkata bahwa safar adalah sepotong dari azab. Maksudnya bagaimana? 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, sungguh Rasulullah SAW telah bersabda:
السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ، فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ سَفَرِهِ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ
“Bepergian itu bagian dari azab. Seseorang akan terhalang (terganggu) makan, minum, dan tidurnya. Maka, bila seseorang telah menunaikan maksud safarnya, hendaklah ia menyegerakan diri kembali kepada keluarganya.” (Shahih Al-Bukhari no. 1804 dan Shahih Muslim no. 179)

Kami sudah diwanti-wanti oleh ustad untuk bersabar, karena safar adalah sepotong dari azab. Perasaan gundah, gelisah meninggalkan keluarga di rumah. Perasaan khawatir saat berada di pesawat, karena yang bisa dilakukan hanyalah percaya pada pilot dan tawakal pada Allah.

Begitu tiba di Bandara Soeta, pihak travel membagikan paspor karena kami akan melewati imigrasi. Alhamdulillah tidak antri dan proses di imigrasi berjalan dengan lancar. 



Kami salat jamak qasar Zuhur dan Asar di Bandara Soekarno-Hatta. Sebelumnya, kami makan siang dulu di lounge. Alhamdulillah semua makanannya cocok. Setelah salat, ternyata penerbangan delay selama 1 jam. Pihak maskapai memberi ganti rugi berupa snack berisi roti dan air mineral. Lalu pesawat delay lagi 1 jam sehingga total 2 jam. 

Kemudian tibalah saat yang dinanti. Rombongan ke Madinah dipersilakan menaiki pesawat. Sejak menunggu di Gate 35, saya melihat banyak peserta umroh asal Indonesia. Mereka dapat dikenali dari seragam dan aksesori (tas, kerudung, dll) yang dipakai. Pada sebagian besar aksesori terdapat nama travel agen dan kota asal. Ada yang dari Semarang, Balikpapan, hingga Bangka. Kami semua sabar menunggu meski pesawat delay. 

Ketika harus antri masuk ke pesawat pun kami senantiasa sabar. Sama sekali tidak terdengar keluh kesah ataupun kemarahan penumpang. Masya Allah indahnya sabar. Suasana yang belum tentu saya dapatkan pada penerbangan internasional atau domestik lainnya.

boeing 777-300 ER

Formasi 3-3-3

Pesawat yang kami naiki adalah tipe Boeing 777-300ER yang memiliki kapasitas kursi 314 dengan konfigurasi 8 first class, 38 business class dan 268 economy class. Peletakan kursinya dengan formasi 3-3-3.

Fasilitasnya apa saja? Untuk penerbangan internasional kelas ekonomi mendapat bantal, selimut, headset, dan paket penutup mata dan penutup telinga untuk tidur serta kaos kaki. Kami juga mendapat dua kali makan dan satu kali snack. Toilet juga ada banyak. Jadi kalau ditanya ngapain saja selama di penerbangan internasional, saya akan menjawab makan, tidur, nonton, baca, dan berzikir:)

garuda meals

Alhamdulillah, saya puas sekali terbang bersama Garuda Indonesia. Meskipun penerbangan tetap terasa lama, karena saya tidak bisa tidur, tapi laju pesawat cukup mulus. Turbulensi tetap terjadi, tetapi pilot dan kabin crew sangat menenangkan penumpang. Bahkan kapten penerbangan internasional sempat ke ruang penumpang dan menyapa serta mendoakan kami. Masya allah, salut=).

Entah karena gugup, atau kenapa, saya agak kesulitan tidur. Kadang lagi mau nyenyak eh ada turbulensi. Pernah juga sedang mau tidur eh jam makan tiba, hehe. Mungkin juga saking groginya mau menjejakkan kaki di kota nabi.

Alhamdulillah kami sampai di Madinah sekitar pukul 1.30 pagi waktu setempat. Datang di dini hari membuat antrian imigrasi tidak terlalu panjang. Padahal kalau di jam biasa, ustad sudah mewanti-wanti untuk sabar karena antrian bisa sampai 2 jam. Begitu selesai melalui imigrasi, kami langsung menaiki bus menuju hotel.

Penerbangan Internasional Jeddah-Jakarta dan Jakarta-Jogja

Saya dan rombongan tinggal di Madinah selama 3 hari, lalu menuju Mekah dan tinggal di sana selama 5 hari. Hari terakhir, kami menuju Jeddah, karena penerbangan internasional kembali ke tanah air melalui Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.

bandara king abdul aziz

bandara king abdul aziz

bandara jeddah

Bandaranya sesepi ini:D

Bandara di Jeddah cukup luas, tapi ketika kami datang lumayan sepi. Entah karena sehabis hujan, atau memang penerbangan malam jarang. Antrian imigrasi alhamdulillah juga sepi, Hanya antrian x-ray yang cukup ramai dengan jemaah umroh Indonesia.



Antrian perempuan dan laki-laki dipisah sehingga yang bagian perempuan lah yang sangat ramai. Kami dibawa masuk ke ruangan kecil dan di sanalah petugas perempuan mengecek seluruh badan. Kami salat magrib dan isya jamak qasar di bandara. Sayang tidak ada musola di ruang tunggu. Adanya di luar ruang tunggu sehingga salat seadanya di lantai. 

Jadwal keberangkatan tepat waktu membuat saya dan rombongan sangat bersyukur. Terus terang perasaan saya tidak segundah saat terbang ke Madinah, walaupun tetap deg-degan. Kami menaiki pesawat yang sama yaitu B777-300ER, bahkan nomor kursi yang ditempati pun sama. Makanannya cocok di lidah, tapi saya sempat merasa kenyang karena sudah mendapat bekal Al Baiq (fast food berisi 4 ayam goreng crispy, kentang dan burger:D)

Tidak seperti saat berangkat, kali ini saya tidur cukup nyenyak karena badan mulai terasa letih dan kurang tidur juga pada hari itu. Alhamdulillah penerbangan berjalan lancar. Turbulensi sesekali terjadi tapi masih dapat ditolerir.

Kami sampai di Bandara Soekarno-Hatta pukul 9.30 wib. Antrian di imigrasi cukup sepi, bahkan saya mengantri di bagian yang menggunakan elektronik.

Alhamdulillah penerbangan ke Jogja yang dijadwalkan pukul 2 siang menjadi maju pukul 11.30 wib. Pihak travel sudah menunggu kedatangan kami di bandara, dan sempat diajak makan siang terlebih dahulu di salah satu resto:).

Tidak perlu waktu lama, kami memasuki pesawat B 737-800 dengan jumlah kursi 3-3. Suami saya tidak ikut ke Jogja karena esok hari harus berangkat kerja sehingga kami berpisah di Bandara Soeta.

makanan di pesawat garuda

Makan terus, alhamdulillah

Di pesawat, masih dibagikan snack lagi. Alhamdulillah banget enggak pernah kekurangan makan atau kelaparan selama perjalanan. Kami sampai di Jogja pukul 13.00 wib dalam keadaan sehat. 

Sungguh perjalanan yang luar biasa. Benar bahwa safar adalah sepotong dari azab atau siksa. Badan letih, muka pucat, tapi hati bahagia. Penerbangan 10 jam ditambah 1 jam menjadi sebuah pengalaman yang tidak terlupakan.
(Visited 80 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditmail

17 Comments

  • prasojo February 7, 2019 Reply

    mantaaap

  • Yosi February 7, 2019 Reply

    MasyaAllaj. Makasih share nya Mak. Dahlama gak BW BW. Seneng baca tulisannya dan tentu berharap saya jg bisa segera kesana.

  • vira elyansyah February 12, 2019 Reply

    Waaah mohon diceritain dong pengalaman umrohnya juga ya, biar aku makin mantap dan bisa berangkat tahun ini juga aamiin :”)

  • unggulcenter February 12, 2019 Reply

    wuih sampe afal jumlah seat dan kelas-kelasnya mba. Saya mpe skrg ga pernah tau jumlah penumpang kapasitas berapa dan bahkan tipe pesawat. tahunya kalau yang baling2 itu bombardier kalau garuda. Biasanya dipake di rute-rute ke tmpt terpencil misal bandara mamuju.

  • Jiah February 13, 2019 Reply

    Perjalanan baik darat, laut atau udara yang memakan waktu lama memang kudu ekstra sabarrr. Apalagi ini buat ibadah ya Mbak. Emang kudu percaya dan masrahin diri

  • sally February 13, 2019 Reply

    YA ampun…..ini kejadian juga sama aku kemarin mbak, pas mau ke Lombok. Gak dikasi tau kalau gate nya pindah dan dipercepat naik ke pesawat. Nyaris saja aku ketinggalan pesawat, untung masih ditunggu dan dicariin…. huhuh kapok deh asik main gadget gak tengok kanan kiri, ampir aja bablas ketinggalan

  • April Hamsa February 13, 2019 Reply

    Memang kalau umroh gtu inget2 aja ya tujuannya ibadah banyakin sabar 😀
    10 jam lumayan lama, untungnya banyak makanan ya hehe. Mbayangin kalau bawa anak2 yg msh krucil kyk anak2 kita pastinya ada triknya 😀

  • Ruli February 13, 2019 Reply

    Semoga setelah baca kisah ini, aku segera bisa merasakan sendiri, gimana rasanya naik garuda indonesia untuk umroh. Masya Allah terimakasih atas berbagi pengalamannya ya mbak

  • Rindang Yuliani February 13, 2019 Reply

    Aku gimana ya kalo naik pesawat selama itu. Mungkin bakal nonton film aja. Sayang waktunya kalau diake buat tidur. Penerbangan muahal. Hehe

  • Rhoshandhayani KT 💕 February 13, 2019 Reply

    Uwaaaaaah aku pengen nyobain makanannyaaaaa
    Penasaraaaaan
    Kayaknya aku bakalan suka2 aja deh sama makanannya. Hahaha

    Huhuuu aku baru ngerasain penerbangan 1 jam. Semoga nanti bisa ngerasain yanh 10 jam. Aamiin

  • Peri Hardiansyah February 13, 2019 Reply

    Kalau dengar kata “10 Jam”, yang ada terlintas di benak yaitu “Pegal”. hahahaha. Tapi mungkin karna ibadah juga, jadi bawaannya heppy aja kali ya.

  • Diah Kusumastuti February 13, 2019 Reply

    Masya Allah.. indah nian perjalanan umroh mbak Dian. Lancar semuanya yaa meski ada sedikit delay. Barakallah, Mbak.. menjadi catatan hidup yang indah ya ini. Doakan semoga suatu saat saya dan suami juga bisa umroh maupun haji 🙂
    aamiin..

  • lendyagasshi February 13, 2019 Reply

    MashaAllah~
    Barakallahu fiikum, kak…

    Mohon doanya yaa, kak…biar bisa ke Baitullah juga.

  • Nova Violita February 13, 2019 Reply

    Terimakasih udah sharing…jadi makin rindu buat ke tanah suci…

    Untuk penerbangan lama bagi yg gak biasa pasti ada perasaan cemas ya.., sekian jam diawang2..

    Dan ternyata dimudahkan…

    Semoga aku bisa menyusul kesana

Leave a Reply

error: Content is protected !!