Keterlambatan Bicara pada Anak, Apa Sebabnya?

Facebooktwittergoogle_plusredditmail

Berawal dari pertanyaan seorang teman, mengenai kemampuan bicara Najla 21 bulan, saya mulai mencari literatur yang pernah saya baca disebuah komunitas parenting online. Akhirnya ketemu juga, artikel yang saya maksud ternyata terdapat di grup Preschool Online.

Alhamdulillah anak saya Najla, kemampuan bicaranya normal untuk usianya. Sempat kaget karena kosakatanya melesat cepat diusia 16-17 bulan. Mungkin sekarang sudah ada 50 kata lebih yang pernah dia ucapkan untuk menyatakan keinginannya atau sekedar bermain tebak-tebakan bersama saya dan ayahnya.

Saya amati, 3 minggu yang lalu Najla baru bisa berbicara persatuan kata (misal:anggur). Seminggu setelahnya Najla berhasil merangkai kalimat 2 kata (anggur manis) ,dan seminggu kemudian terangkailah 3 kata (misal: anggur manis dingin).

Subhanallah di usia ini anak-anak seperti spons, mereka menyerap apa saja yang mereka lihat dan dengar, tak terkecuali kosakata. Seringkali ketika saya dan ayahnya sedang bicara, dalam hitungan detik, Najla langsung mengikuti kata baru yang ada dalam kalimat orangtuanya. Wah, artinya kita harus berhati-hati bicara dan menyeleksi lingkungan disekitar anak. Jangan sampai mendengar dan mengikuti kata yang tidak lazim diucapkan anak seusianya.

Tanpa bermaksud membandingkan dengan siapapun, berikut beberapa kosakata Najla diusia 21 bulan (catatan ini murni untuk dokumen pribadi saya)

bunda, mama, ibu :Najla memanggîl saya bunda. menggunakan kata mama/ibu ketika menirukan teman nya memanggil orangtuanya

ayah, papa, bapak :Sama seperti diatas, Najla memanggil Ayah untuk suami saya

nyai, mbahti: panggilan untuk nenek

njit, mbahkung: panggilan untuk kakek

mbah yut: panggilan untuk nenek buyutnya

hala: panggilan untuk tante (khala ipa, khala ayi)

Akbang: Allahuakbar

Aamiin

golongan buah-buahan:

anggur, apel, mangga, mangka (semangka), paya (pepaya), rambutan, lengkeng, nanas, sayak (salak), duyian, jeyuk (jeruk), jambu, pukat (alpukat), keyapa (kelapa), piy (pir), meyon (melon), dll

hewan:

gajah, cinga (singa), japah (jerapah), nyamuk, tikus, cemut (semut), buyung (burung), ikan, kuya (kura-kura), kupu (kupu-kupu), cicak (hewan pertama yang Najla lafalkan), layon (laron), baya (buaya), pingwin (pinguin), buang (beruang), ikan, kelinci, kuda, sapi, embek,kucing kadang disebut meong, kodok,dll

anggota tubuh:

mata,idung,mulut,kaki,tangan,telinga, peyut,rambut, kepaya (kepala), gigi

makanan&minuman:

yoti(roti), jagung,kentang, naci (nasi), ayam, udang, piting (kepiting), pempe (tempe), tahu, cumi, wortel, kacang, bayam, cambah, sayuy (sayur), uncis (buncis),teyoy (telur), puding, eskyim, mie, jamuy

cucu, putih (air putih), jus, eteh (teh)

kata kerja:

mandi, makan, minum, mimik, pipis, eek, jatuh, bangun, bobo, ikut, peygi (pergi), main, jayan ( jalan), emoh (menyatakan tidak mau), iya, kesono, yenang (renang), naik, tuyun, tutup, buka, masuk, duduk, dandan, dll

kata keterangan:

enak, sakit, gatey, ucing (usil), bagus, lucu, jeyek, cantik, manis, cakep, bacah (basah), dingin, hangat, panas, habis, kecut, pedes, penuh, dll

kartun:

anniy (barney), minie, bibop, bije, miki, shaun, tom, ben

buyan, bintang, balon, bunga, boya (bola), kacamata, hp, ac, tv, kakak, adik, meja, kuysi, baju, ceyana, cimut (selimut), mobing, motoy, pecawat, keyeta,dll

teman- teman najla:

aura, alpin , keica, hiya, nuyuy, emiy, gibyan

kosakata khas najla:

mister san (mr. sun): untuk menyebut matahari, hal ini karena sering mendengar dari film barney

bem- bem: untuk menyebutkan minggir, permisi, kayanya sih terinspirasi klakson kendaraan, hehe.

Saat ini najla sedang belajar warna dan bentuk. Menyenangkan bisa mengetahui perkembangan kosakata dan kemampuan bicaranya yang semakin meningkat. Saya menstimulasinya dengan membacakan buku cerita, baik buku bergambar, maupun majalah emaknya,hehe. Selalu saya ajak ngobrol tentang apapun, dimanapun, kapanpun. Ternyata ada untungnya juga ya jadi emak ceriwis:)

Melihat buku bergambar sambil mendengarkan ayah bercerita bisa menjadi salah satu cara stimulasi bicara

Melihat buku bergambar sambil mendengarkan ayah bercerita bisa menjadi salah satu cara stimulasi bicara

Bermain bersama teman menumbuhkan minat mencintai buku.foto:aura&najla

Bermain bersama teman menumbuhkan minat mencintai buku.foto:aura&najla

Tugas kitalah, orangtuanya untuk menstimulasi perkembangan bicara anak, bahkan sejak masih dalam kandungan. Terlihat mudah tapi sebenarnya tidak juga,hehe.

Tak semua anak seperti Najla. Anak-anak lain ada yang mengalami keterlambatan bicara, baik yang sifatnya ringan, hingga berat. Apa sejak penyebab anak terlambat bicara? Keterlambatan bicara seperti apa yang perlu diwaspadai?

Mengenai keterlambatan bicara pada anak, ada baiknya saya merujuk pada artikel berikut, dipublikasikan di website IDAI (Indonesian Pediatric Society).

http://idai.or.id/public-articles/klinik/keluhan-anak/keterlambatan-bicara.html

Dokter, anak saya berumur 3 tahun, tetapi belum lancar bicaranya. Saya jadi sulit memasukkannya ke playgroup.”

“Dok, anak saya sudah 2 tahun, kok bicaranya cuma ‘mama,’ ‘papa,’ dan ‘mimi,’ ya? Anak-anak lain seusianya sepertinya sudah banyak bicaranya…”

Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak jarang muncul di ruang praktik dokter anak. Lambat bicara pada anak memang dapat menimbulkan kecemasan orangtua. Di lain sisi, terkadang anak dengan gangguan bicara dan bahasa terlambat mendapat perhatian karena orangtua berpikir “Ah, tidak apa-apa, nanti juga bisa bicara” atau “Dia hanya terlambat mulai saja, nanti dia pasti akan mengejar.”

Keterlambatan bicara dan bahasa dialami oleh 5-8% anak usia prasekolah. Agar dapat mengetahui kapan seorang anak terlambat bicara, terlebih dahulu kita perlu mengenal tahapan perkembangan bicara normal.

Usia 0-6 bulan

Saat lahir, bayi hanya dapat menangis untuk menyatakan keinginannya. Pada usia 2-3 bulan, bayi mulai dapat membuat suara-suara sseperti “aah” atau “uuh” yang dikenal dengan istilah “cooing.” Ia juga senang bereksperimen dengan berbagai bunyi yang dapat dihasilkannya, misalnya suara menyerupai berkumur. Bayi juga mulai bereaksi terhadap orang lain dengan mengeluarkan suara. Setelah usia 3 bulan, bayi akan mencari sumber suara yang didengarnya dan menyukai mainan yang mengeluarkan suara.

Mendekati usia 6 bulan, bayi dapat berespons terhadap namanya sendiri dan mengenali emosi dalam nada bicara. Cooing berangsur menjadi babbling, yakni mengoceh dengan suku kata tunggal, misalnya “papapapapa,” “dadadadada,” “bababababa,” “mamamamama.” Bayi juga mulai dapat mengatur nada bicaranya sesuai emosi yang dirasakannya, dengan ekspresi wajah yang sesuai.

Waspada bila: tidak ada babbling.

Usia 6-12 bulan

Pada usia 6-9 bulan, bayi mulai mengerti nama-nama orang dan benda serta konsep-konsep dasar seperti “ya,” “tidak,” “habis.” Saat babbling, ia menggunakan intonasi atau nada bicara seperti bahasa ibunya. Ia pun dapat mengucapkan kata-kata sederhana seperti “mama” dan “papa” tanpa arti.

Pada usia 9-12 bulan, ia sudah dapat mengucapkan “mama” dan “papa” (atau istilah lain yang biasa digunakan untuk ibu dan ayah atau pengasuh utama lainnya) dengan arti. Ia menengok apabila namanya dipanggil dan mengerti beberapa perintah sederhana (misal “lihat itu,” “ayo sini”). Ia menggunakan isyarat untuk menyatakan keinginannya, misalnya menunjuk, merentangkan tangan ke atas untuk minta digendong, atau melambaikan tangan (“dadah”). Ia suka membeo, menirukan kata atau bunyi yang didengarnya. Pada usia 12 bulan bayi sudah mengerti sekitar 70 kata.

Waspada bila: bayi tidak menunjuk dengan jari pada usia 12 bulan, ekspresi wajah kurang pada usia 12 bulan.

Usia 12-18 bulan

Pada usia ini, anak biasanya sudah dapat mengucapkan 3-6 kata dengan arti, dapat mengangguk atau menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan, menunjuk anggota tubuh atau gambar yang disebutkan orang lain, dan mengikuti perintah satu langkah (“Tolong ambilkan mainan itu”). Kosakata anak bertambah dengan pesat; pada usia 15 bulan ia mungkin baru dapat mengucapkan 3-6 kata dengan arti, namun pada usia 18 bulan kosakatanya telah mencapai 5-50 kata. Pada akhir masa ini, anak sudah bisa menyatakan sebagian besar keinginannya dengan kata-kata.

Waspada bila: tidak ada kata berarti pada usia 16 bulan

Usia 18-24 bulan

Dalam kurun waktu ini anak mengalami “ledakan bahasa.” Hampir setiap hari ia memiliki kosakata baru. Ia dapat membuat kalimat yang terdiri atas dua kata (“mama mandi,” “naik sepeda”) dan dapat mengikuti perintah dua langkah. Pada fase ini anak akan senang mendengarkan cerita. Pada usia dua tahun, sekitar 50% bicaranya dapat dimengerti orang lain.

Waspada bila: Tidak ada kalimat 2 kata yang dapat dimengerti pada usia 24 bulan

Usia 2-3 tahun

Setelah usia 2 tahun, hampir semua kata yang diucapkan anak telah dapat dimengerti oleh orang lain. Anak sudah biasa menggunakan kalimat 2-3 kata – mendekati usia 3 tahun bahkan 3 kata atau lebih – dan mulai menggunakan kalimat tanya. Ia dapat menyebutkan nama dan kegunaan benda-benda yang sering ditemui, sudah mengenal warna, dan senang bernyanyi atau bersajak (misalnya “Pok Ami-Ami”).

Usia 3-5 tahun

Anak pada usia ini tertarik mendengarkan cerita dan percakapan di sekitarnya. Ia dapat menyebutkan nama, umur, dan jenis kelaminnya, serta menggunakan kalimat-kalimat panjang (>4 kata) saat berbicara. Pada usia 4 tahun, bicaranya sepenuhnya dapat dimengerti oleh orang lain. Anak sudah dapat menceritakan dengan lancar dan cukup rinci tentang hal-hal yang dialaminya.

Apabila terdapat salah satu tanda waspada di atas, bawalah anak Anda ke dokter anak. Secara umum, pada usia berapapun, bawalah anak ke dokter jika ia menunjukkan kemunduran dalam kemampuan berbicara atau kemampuan sosialnya.

Penyebab keterlambatan bicara

Keterlambatan bicara dapat disebabkan gangguan pendengaran, gangguan pada otak (misalnya retardasi mental, gangguan bahasa spesifik reseptif dan/atau ekspresif), autisme, atau gangguan pada organ mulut yang menyebabkan anak sulit melafalkan kata-kata (dikenal sebagai gangguan artikulasi). Untuk menegakkan diagnosis penyebab keterlambatan bicara, perlu pemeriksaan yang teliti oleh dokter, yang terkadang membutuhkan pendekatan multidisiplin oleh dokter anak, dokter THT, dan psikolog atau psikiater anak.

Tata laksana keterlambatan bicara bergantung pada penyebabnya, dan juga melibatkan kerja sama antara dokter anak, dokter spesialis lain yang terkait, terapis wicara, dan tentunya orangtua.

Yang bisa dilakukan orangtua

Orangtua dan lingkungan terdekat memegang peranan penting dalam perkembangan bicara dan bahasa seorang anak. Kosakata anak berbanding lurus dengan jumlah kata yang didengarnya pada masa kritikal perkembangan bicaranya. Hal-hal yang dapat dilakukan orangtua untuk mengoptimalkan perkembangan bicara dan bahasa anak antara lain:

– Rajin berbicara dan berkomunikasi dengan anak, dimulai pada masa bayi. Kapanpun, di manapun Anda berada bersama anak Anda, katakanlah apa yang sedang terjadi, apa yang sedang Anda lakukan, dan sebutkan nama benda-benda yang ditemui. Walau bayi yang sangat muda belum bisa berbicara, kata-kata yang didengarnya akan menjadi bekal dalam perkembangan bicara dan bahasanya!

– Membacakan cerita adalah cara yang baik untuk meningkatkan kosakata anak. Bayi dan anak kecil biasanya tertarik pada cerita yang bersajak. Sembari membaca, anak dapat diajak menunjuk gambar dan menyebut nama benda yang ditunjuk.

Keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa sebaiknya dapat dikenali oleh orangtua sedini mungkin, agar tata laksana yang diberikan dapat memaksimalkan kapasitas bicara dan bahasa yang dimiliki anak.

Penulis : Amanda Soebadi (Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI – RSCM)

Semoga tulisan saya dan artikel rujukan diatas bermanfaat bagi para orangtua dan calon orangtua…Yuk kita cerdaskan bangsa, dimulai dari keluarga..

(Visited 134 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditmail

One Comments

  • husna January 21, 2014 Reply

    Tengkyu dian artikel nya bagus, alhamdulillah anak ku masuk kategori di usia nya.. ^^

Leave a Reply

error: Content is protected !!