Buruh Migran yang Kukenal

Facebooktwitterredditmail

Buruh Migran yang Kukenal

Foto dari sini
Foto dari sini

Apa yang terbayang ketika mendengar kata buruh migran? TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang kerap mendapat perlakuan kasar oleh majikannya? Mereka yang berangkat ke luar negeri dengan ilegal dan tanpa keterampilan dasar?

Sama … Saya juga langsung teringat hal-hal di atas. Bahkan lebih mencekam lagi ketika saya menonton investigasi di televisi  dan membaca berita di koran, bahwa TKI ini dipalak oleh oknum petugas di bandara. Sementara itu, jauh sebelum mereka berangkat, mereka tinggal di penampungan yang tidak layak huni selama berbulan-bulan. Hal tersebut terpaksa mereka lakukan demi keluarga di desa dengan harapan masa depan yang lebih baik.

Dulu, itulah beberapa hal yang saya tangkap dari sosok TKI. Belakangan, saya mengenal salah dua dari mereka. Wanita pertama adalah asisten rumah tangga saya, seorang wanita paruh baya yang bercerai dengan suaminya dan harus menghidupi dua anaknya. Kalau dari ceritanya, siapa sih yang mau pergi jauh dari keluarga hingga ke luar negeri demi sesuap nasi? Tapi itu yang dilakukannya, karena beliau melihat langsung banyak tetangganya yang menjadi TKI bisa mengirimkan uang bulanan yang lebih dari cukup untuk keluarga di desa. Hingga bisa membangun rumah, punya toko dan sebagainya. Mungkin hal tersebut yang membuatnya nekat untuk mengikuti jejak tetangganya. Sayangnya, pembantu saya ini, sebut saja namanya Bi Onah (bukan nama sebenarnya) berangkat secara ilegal dengan dokumen yang tidak lengkap dan tidak sah. Akibatnya, belum genap setahun, Bi Onah sudah ketahuan dan dideportasi ke Indonesia. Masih beruntung kepulangan Bi Onah tidak dipersulit oleh negara Kuwait tempat kerjanya dulu. Setelah itu beliau sudah trauma jika diajak bekerja ke luar negeri lagi.

Wanita kedua saya kenal dari acara kepenulisan di Jakarta, dia menjadi moderator di acara tersebut. Nama penanya Heni Jaladara, kelahiran 27 tahun silam. Kepiawaiannya membawakan acara kala itu membuat saya terperangah. Terutama ketika dia bercerita pernah bekerja di Hongkong. Saya sempat kaget. Apa maksudnya? Sebagai apa? Karyawan perusahaan internasional kah? Tapi ternyata bukan. Heni bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ya, pembantu selama 6 tahun lamanya. Tahukah teman-teman, fakta selanjutnya lebih membuat saya kaget. Mantan TKI tersebut, ketika masih berada di Hongkong, sempat mengambil pendidikan di sana, kuliah. Maka Heni pulang ke Indonesia dengan mengantongi gelar sarjana bidang kewirausahaan dari Universitas  Saint Mary Hongkong dan sekaligus mendapat ijasah pendidikan D3 di bidang IT. Sebuah prestasi yang menurut saya pantas diapresiasi.

Tak hanya itu, mantan buruh migran tersebut memang mencintai dunia buku. Selama di luar negeri, Heni menyempatkan untuk membaca banyak buku di sela-sela pekerjaan mengurus rumah tangga dan anak majikannya. Ternyata, buku pula lah yang mengajarkannya merangkai kata melalui tulisan. Hingga kelak terbit belasan buku baik berupa novel, antalogi, kumpulan surat dan sebagainya. Salah satu tulisannya, “Surat Berdarah Untuk Presiden” mengantarkannya sebagai wakil Indonesia dalam Ubud Writers Festival. Belum lagi tulisannya di berbagai artikel, opini, cerpen, resensi buku, dan lain-lain yang terbit di surat kabar berbahasa Indonesia di Hongkong. Maka bisa dikatakan bahwa Heni adalah TKI yang bertumbuh di tempat yang jauh dari tanah kelahirannya.

Foto dari sini
English day with native. Foto dari sini

Saat pertama kali bertemu dengannya, saya ingat betul, dia berkata, ” Apakah dengan kamu menulis buku, maka orang-orang di bawah garis kemiskinan jadi bisa makan?” Sebuah pertanyaan yang cukup menohok. Heni ingin mengingatkan bahwa menjadi penulis itu seharusnya tidak hanya sekedar menuangkan isi pikiran, tetapi bagaimana agar bisa ikut terlibat dalam  menyejahterakan masyarakat Indonesia.

Dia melakukan aksi nyata, dengan membentuk sebuah komunitas wisata pendidikan pertanian di Bogor, dengan nama @agroedujampang community. Dengan berbagai program pendidikan hidroponiknya, gerakan #anakpetanicerdas, program kampung 1000 cahaya, cahaya untuk cigelap, beasiswa pendidikan, Abatasa library and Learning Centre (sebuah perpustakaan gratis di rumahnya yang juga memberikan pengajaran berbagai hardskill dan softskill), dan masih banyak lagi.

Foto dari sini
Foto dari sini
Foto dari sini
Beasiswa untuk anakpetanicerdas. Foto dari sini

Saya dua kali menjadi relawan di komunitas tersebut, yang pernah saya ceritakan di sini. Ah, terlalu banyak program yang saya lewatkan, saya hanya bisa mengikuti dan membantu sebisa saya dari jauh.

Saya tahu bahwa Heni tidak akan berhenti mengembangkan komunitasnya, karena pengalaman hidupnya yang tidak mudah, telah membawanya pada suatu mindset, bahwa hanya pendidikan lah yang dapat membawa perubahan bagi warga miskin. Dengan bersekolah, dengan memberikan bekal berupa buku, komputer dan keahlian kewirausahaan, anak-anak petani dan warga di desa yang dia bina dapat bangkit mencapai tingkat perekonomian yang lebih baik. Dengan pendidikan, maka permasalahan kesehatan pun akan berkurang. Dengan pendidikan, maka anak-anak tersebut kelak dapat turut membangun desanya, hingga tak perlu lagi ada rakyat Indonesia yang terpaksa menjadi TKI ke luar negeri.

Dari kisah di atas saya menyadari bahwa para buruh migran ini bekerja karena mereka tidak ada pilihan lain yang lebih menjanjikan. Mereka berangkat dengan sejuta mimpi memperbaiki perekonomian, atau seperti Heni, sejuta mimpi untuk melanjutkan pendidikan. Dan tidak semua TKI berakhir dalam kisah yang tragis atau memalukan, karena ada mantan TKI seperti Heni yang ternyata justru tertempa menjadi individu yang lebih peka sisi kemanusiaannya, dan dengan segala ilmu yang dimilikinya, dia berjuang untuk Indonesia.

Jadi … pernahkah kita berpikir, ada buruh migran yang ternyata begitu menginspirasi? Atau, sudahkah kita berpikir untuk mengikuti jejaknya dalam membangun Indonesia?

Tulisan Ini Diikutsertakan Lomba Blog Buruh Migrant Indonesia Bersama Melanie Subono 

(Visited 153 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

5 thoughts on “Buruh Migran yang Kukenal

  1. Rinda Gusvita Reply

    Huhuhuhuuuu… gemessshhhh!!! Gue udah ngapain, yaa… buat membantu mereka? Makasih Mbak udah nyiram air dingin brrrrr

    • dian farida Post authorReply

      begitupun aku rinda..yuk buat gerakan sosial di jogja:)

    • dian farida Post authorReply

      haha, memang sedikit sih yang seperti Heni..

  2. ophi ziadah Reply

    Waaah sosok TKI yg inspiratif ya mak.
    Luar biasa..
    Mrk yang mampu mengembangjan diri di negeri org biasanya yg mampu meningkatkan kapasitas diri dan akhirnya bs mensupport lingkungan jg.
    Smoga semakin banyak TKI yg bs memberdayakan diri spt itu yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published.