Bukit Campuhan dan Kenangan yang Terekam

Facebooktwitterredditmail

“Sehabis makan siang, kita ke Bukit Campuhan ya.” Kata suami saya sembari melihat rencana perjalanan yang telah disusunnya selama kami berada di Bali.

“Ada apa di sana?” tanya saya penasaran.

“Ya bukit. Tempat pendakian, tapi enggak setinggi gunung.”

“Oh.”

Saat itu hanya kata “Oh” yang keluar dari mulut saya. Mungkin saya kurang gaul, sampai-sampai tidak tahu bahwa Bukit Campuhan merupakan tempat populer yang “wajib” dikunjungi ketika berada di Ubud.

Baca juga Terbius Panorama Alam dan Seni Budaya Ubud

spot foto bukit campuhan

Suami saya akhirnya bercerita lebih detail tentang alasan mengapa kami harus ke Campuhan. Rupanya ia sering melihat di media sosial, para wisatawan berpose dengan latar bukit hijau yang mengagumkan.

Tidak percaya? Coba cari #campuhan atau #campuhanridgewalk di Instagram. Saya pastikan ada puluhan ribu foto yang diunggah oleh turis mancanegara maupun wisatawan domestik dengan menggunakan hastag tersebut.

Bli Oka, sopir kendaraan yang kami sewa, mengatakan bahwa ia akan mencari rute lain untuk sampai ke Campuhan. Ternyata ada dua pintu masuk ke Campuhan.

Yang pertama melalui Warmick Ibah Villas and Restaurant, di kawasan Pura Gunung Lebah. Letaknya di jalan utama pusat kota Ubud sehingga wajar bila Bukit Campuhan banyak diminati oleh wisatawan asing dan lokal.

Sedangkan yang kedua melalui sisi sebelahnya, yaitu dengan terlebih dahulu melewati sebuah desa. Kami masuk dari pintu yang kedua.

Bli Oka memarkir mobil di halaman sebuah penginapan. Wisatawan lainnya memarkir kendaraan di halaman rumah penduduk sekitar. Selanjutnya, perjalanan dimulai dengan berjalan kaki.

Wahai Kaki, Bersahabatlah

lintasan bukit campuhan
Fokus pada pengunjung di belakang saya yang sedang berolahraga

Jalan setapak mulai terlihat di hadapan. Saya dan suami melangkahkan kaki dengan santai. Sesekali, kami disalip oleh turis asing yang joging menuju Bukit Campuhan.

Kaos tanpa lengan, celana pendek, dengan earphone di telinga, menunjukkan bahwa mereka sedang berolahraga.

Beberapa meter setelahnya, kami kembali disalip oleh dua orang pemudi Bali. Kali ini pakaian mereka sangat rapi. Riasan wajahnya juga kentara.

Saya bisa menebak bahwa mereka akan melakukan sesi pemotretan di Bukit Campuhan.

Bagaimana dengan saya dan suami? Kami masih memakai baju yang sama sejak sampai di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Suami mengenakan celana jin dan kaos berwarna hitam. Sedangkan saya memakai celana panjang, kemeja hijam, rompi dan kerudung bernuansa biru.

Sebenarnya, jalan setapak di Bukit Campuhan membentang kurang lebih  5,5 mil (membentuk sebuah jalur putar yang dimulai dan berakhir di kota).

Meski begitu, kebanyakan wisatawan memilih mendaki hanya 1-2 mil (sampai ke Karsa Cafe and Spa, lalu kembali ke pintu masuk).

Napas saya mulai tersengal-sengal ketika melewati 1 mil pertama. Beruntung, saya dan suami masuk dari sisi yang lebih dekat dengan spot foto yang populer di Instagram.

Saya dan suami sempat berhenti sejenak. Lalu naik ke sebuah lahan yang mirip sawah, tapi ditumbuhi ilalang. Kami duduk di sebidang tanah dengan beralaskan sepatu. Kami meneguk sebotol air mineral sampai habis. Kami juga melahap sebatang cokelat untuk menambah tenaga.

wisata populer ubud

Campuhan Indonesia

Setelah rasa letih hilang, saya dan suami berbalik arah, kembali ke lokasi foto yang viral itu. Kami memotret bergantian, sesekali berswafoto.

Maklum, kami hanya berdua saja. Tidak membawa tripod pula. Setelah puas memotret, kami memutuskan untuk kembali ke mobil.

Jika dihitung dalam jam, maka Bukit Campuhan dapat ditempuh selama 30 menit berjalan kaki, dengan catatan tidak berhenti-berhenti untuk mengambil foto.

Lima puluh meter pertama jalur ini cukup curam, setelah itu biasa saja. Tapi jika anda masuk dari sisi jalan utama pusat kota Ubud, maka perlu waktu lebih lama untuk mencapai spot foto instagrammable di Bukit Campuhan.

Bukit Campuhan, Primadona Wisata Alam di Ubud

Mengapa Bukit Campuhan menjadi primadona? Selain karena Bukit Campuhan mudah diakses, tempat wisata ini pantas disebut sebagai pelarian singkat dari jantung kota Ubud. Bukit

Campuhan menawarkan panorama yang berbeda, yaitu ilalang, sawah, tebing, dan segudang udara bersih untuk dihirup dan dimasukkan ke dalam paru-paru.

Lintasan pendakian di Bukit Campuhan cocok untuk keluarga dengan anak-anak. Saya dan suami sempat berpapasan dengan anak-anak bule.

Kalau saya membandingkan dengan rute naik Gunung Batur, jelas jauh lebih ringan.

Baca juga Momen Terbaik di 2018 Merayakan Hari Jadi Pernikahan di Gunung Batur

Salah satu ulasan di TripAdvisor bahkan mengatakan Bukit Campuhan mungkin agak mengecewakan bagi wisatawan yang lebih berpengalaman dalam pendakian.

Bukit Campuhan memang menawarkan jalur yang pendek, mudah, dan pemandangan yang mengesankan. Saya yakin anda tidak akan menyangka ada kawasan seperti ini di dekat kota.

Tips Ketika ke Bukit Campuhan

Saya mempunyai beberapa panduan untuk anda yang akan mendaki Bukit Campuhan:

  1. Sebaiknya Mendaki di Pagi atau Sore Hari, Agar Matahari Tidak Menyengat

Bonusnya, anda dapat melihat keindahan yang luar biasa dari matahari terbit atau matahari tenggelam. Saat saya ke sana, masih kurang sore untuk mendapatkan lansekap senja.

Meski demikian, saya dan suami cukup puas, karena cuaca sangat cerah sehingga langit berwarna biru.

  1. Gunakan Sepatu Kets, atau Alas Kaki yang Nyaman

Saya banyak menemui wisatawan yang joging di Bukti Campuhan tanpa alas kaki. Walaupun jalurnya bagus (ada jalan setapaknya). Tetapi saya tetap menyarankan untuk menggunakan alas kaki agar kaki terlindungi dari benda yang dapat melukai.

Termasuk jika ada hewan yang melintas. Kita tidak pernah tahu, mungkin saja ada hewan yang tinggal dibalik ilalang dan pohon-pohon di Bukit Campuhan.

  1. Bawa Air Minum

Tips ketiga ini sangat penting, karena di sepanjang jalur Bukit Campuhan tidak ada warung atau toko. Kafe-kafe dan spa yang menyediakan makanan dan minuman terdapat di bagian ujung. Saya rasa sebotol air mineral sudah cukup untuk menemani pendakian.

  1. Memulai atau Mengakhiri Pendakian di Karsa Cafe and Spa

Agar pendakian tidak terlalu jauh, anda dapat menaiki taksi atau kendaraan pribadi ke Karsa Café and Spa, lalu jalan kaki ke bawah menuju Ubud. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu memperhatikan Karsa Cafe and Spa yang terkenal itu berada di sebelah mana. Setelah melihat fotonya di internet, sepertinya saya dan suami sempat melewati kafe tersebut.

Pemandangan di sekeliling Karsa Cafe and Spa memang menakjubkan. Pantas saja turis asing betah berlama-lama di sana. Anda dapat makan dan minum sembari memandang padi yang berwarna hijau keemasaan. Anda juga dapat melepas penat dengan dipijat. Kalau ke Ubud lagi, saya ingin mencoba spa di sini.

  1. Bawa Kamera

Objek wisata alam di bali
Swafoto menggunakan gawai

Bukit Campuhan memang terkenal sebagai destinasi digital. Tidak lengkap rasanya bila belum berfoto di spot liukan lintasan Campuhan. Selain menggunakan kamera mirorless atau DSLR, anda juga dapat memotret memakai gawai.

Para fotografer profesional biasanya memotret lansekap dari atas Bukit Campuhan. Tentu saja mereka menggunakan drone atau peralatan canggih lainnya.

Jika anda suka jalan-jalan dengan sedikit petualangan, saya pastikan Bukit Campuhan layak untuk disinggahi. Tak hanya panoramanya yang membius mata, tapi udara segar yang didapat juga mampu menyegarkan pikiran dan menghilangkan stres.

Inilah manfaat sebenarnya dari berwisata, yaitu mengembalikan kekuatan dalam diri, sehingga siap menghadapi hari esok dengan lebih baik.

(Visited 218 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

35 thoughts on “Bukit Campuhan dan Kenangan yang Terekam

  1. Ayun Reply

    Pas ke Ubud kemarin aku sempat mempertimbangkan mau ke sini, tapi nggak jadi, pilih ke Tegalalang aja.

  2. Si Klimis Reply

    Wah ternyata aku juga kurang gaul, baru tau ini kalo ada bukit campuhan. Padahal biasanya juga cari di Instagram tempat wisata yg rekomended di Bali.

  3. Elisabeth Murni Reply

    Masih masuk dalam bucket list saya nih, jalan telanjang kaki di Bukit Campuhan pagi-pagi. Pokoknya kalo ada kesempatan ke Bali harus dilakukan hehe.

  4. agata vera Reply

    Sumpah ya mbak ini salah satu The best partnya Bali dan aku pengen banget kesini huaaaa, thanks ya mbak infonyaa, tulisanmu sukses bikin aku irii

  5. Mini GK Reply

    Aku tadi bacanya bukit campuran.
    Yaelah salah baca.
    Ini apakah setiap musim warnanya begini terus atau ada ganti coklat?

    • dian.ismyama Post authorReply

      Wkka campuran kayak bulu tangkis ganda campuran dong. Kurang tahu aku, paling ya ada kalanya agak kuning gitu. Tapi kalau tanamannya ilalang ya hijau sih

  6. Yoanna Fayza Reply

    Selalu galfok sama jurus kecemu itu lhoo.. itu semacam jurus “menolak bayangan mantan” ya? wkwkwkk…
    Cakep viewnya, cakep juga foto-fotonya. Emang beda yaa kalo suami sendiri motoin 🙂

  7. Kartika Nugmalia Reply

    Aku juga baru tau nih ada bukit campuhan. Pertama kali tau dari temenku yang pasang foto di IG. Emang mirip jogging track gitu ya. Cakep pemandangannya, eh itu stroller friendly gak?

  8. Ririe Khayan Reply

    Bukit Campuhan ( noted), semoga next ke Bali bisa mampir ke Bukit Campuhan ini. Pemandanganya tampak.super segar ala-ala jaman dinosaurus ( berasa back to the past dengan alam yang masih alami)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *