Bahan Bakar Itu Bernama #BeraniLebih Sabar

Facebooktwitterredditmail

Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (Q.S Al-Baqarah/02: 45-46)

#BeraniLebih sabar adalah hal yang tidak mudah. Terutama setelah menjadi istri dan ibu, sebuah perjalanan di mana sabar adalah bahan bakarnya. Perjalanan ini tentu saja berkelok, mungkin terjal dan sesekali ada tanjakan bahkan tikungan tajam. Maka butuh kondisi kendaraan yang prima, lengkap dengan bahan bakar hemat energi dan aman digunakan. Bahan bakar ini harus selalu diisi ketika mulai menipis, dan mesti dijaga tetap berada dalam tangki bahan bakar, atau dengan kata lain tidak tumpah berceceran di jalan.

Bayangkan bila bahan bakar sabar justru keluar dari transportasi rumah tangga, ada api sedikit, wusshh … bisa meledak. Sama halnya ketika tanpa sadar kita berkendara dengan bahan bakar yang menipis, bisa mogok di jalan dong, akhirnya tempat tujuan (dalam hal ini keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah) tidak tercapai. Sabar yang semakin sedikit, seringkali tidak kita sadari. Parahnya, kealpaan tersebut, ternyata membuat perkara dalam keluarga mendadak terlihat.

Lalu bagaimana solusinya agar kita memiliki alarm stok sabar? Fungsinya seperti jarum indikator bensin pada motor/mobil, mendeteksi bila level sabar menurun. Aplikasi nyatanya mungkin dalam bentuk introspeksi diri. Lebih sulit terukur memang, apalagi bila pengevaluasi adalah diri sendiri. Kebayang, kan betapa subjektifnya. Mungkin bila kita merupakan individu yang level kejujurannya tinggi, akan dengan mudah mengenali tanda-tanda kesabaran yang berkurang. Tapi bila kita berada pada posisi kacamata kuda ataupun gajah di pelupuk mata tidak tampak, ya yang terjadi adalah kita menjadi alarm bagi kuman di seberang lautan, atau pasangan kita sendiri (eh, pasangan dianggap kuman, hehe).

Nah, saya pribadi lebih merekomendasikan alarm tipe saling mengingatkan tersebut. Jika salah satu (istri/suami) mulai uring-uringan, sudah sepantasnya sang pasangan mengajak ke pom bahan bakar terdekat. Saatnya mengisi stok sabar.

Berikut adalah cara-cara mengisi ulang pundi kesabaran di saat-saat kritis:

  • Saling berdiskusi.

Tentunya dengan bahasa yang santun, lembut, nyaman didengar, sehingga kedua belah pihak tidak merasa tersudutkan.

  • Saling menenangkan dengan dipijat oleh pasangan mungkin, atau sebuah pelukan dan elusan di bahu dan rambut.

Wah, pastinya langsung reda ketidaksabarannya, berganti dengan senyum sumringah.

  • Memberikan makanan/ minuman yang menyamankan, seperti segelas coklat hangat ataupun semangkuk bakso berkuah hangat juga.

Kalau ini sih tanpa harus menunggu stok sabar menipis, tetap sebaiknya dilakukan ya, untuk menambah cinta kepada suami/istri.

  • Membaca kisah-kisah inspiratif tentang kesabaran, baik cerita dari tokoh-tokoh keagamaan, kisah nyata berbagai jenis manusia, bahkan cerita fiksi sekalipun.
  • Berlatih setiap hari dengan teknik pernapasan ketika emosi sedang naik. Tarik napas panjang, embuskan. Tarik lagi, embuskan lagi.

Sama halnya dengan memvisualisasikan kesyukuran kita terhadap kondisi diri sendiri bila dibanding dengan orang lain yang lebih tidak beruntung. Karena dengan bersyukur, kita dapat memandang hidup dengan lebih sabar. Kalau anda muslim, maka salah satu bentuk kesyukuran adalah salat dan bersedekah.

#BeraniLebih sabar bukan sekedar resolusi saya sebagai seorang wanita, tetapi juga merupakan misi saya dalam membentuk karakter anak yang memang rentan ketidaksabaran, terutama karena usianya yang masih balita.

#BeraniLebih sabar pastinya juga merupakan impian banyak ibu di indonesia, karena kesabaran itu tidak tumbuh dalam sehari. Melainkan melalui proses panjang yang butuh latihan, hingga akhirnya menjadi kebiasaan dan kepribadian.

Saya bertekad #BeraniLebih sabar dalam menghadapi segala tantangan berumah tangga dan berkeluarga. Apakah anda juga #BeraniLebih sabar?:)

FB: Dian Farida Ismyama

Twitter: dian_ismy

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Tulisan Pendek #BeraniLebih

 

(Visited 105 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

5 thoughts on “Bahan Bakar Itu Bernama #BeraniLebih Sabar

  1. dian farida Post authorReply

    mesra itu harus terus dipupuk dan disiram cinta..trmasuk kesabaran:)

Leave a Reply

Your email address will not be published.