Aku Menulis Maka Aku Ada

Facebooktwitterredditmail

Aku Menulis Maka Aku Ada. Pepatah tersebut pertama kali aku baca dari tulisan Mbak Mira Sahid, salah satu blogger senior yang jadi panutanku. Dari pepatah itu, aku mulai berpikir benar juga ya, tulisan membuat kita abadi. Mungkin saja kelak saat raga kita sudah meninggalkan dunia ini, maka tulisan kita masih dibaca oleh orang lain. Tapi benarkah, itu alasan utamaku mengapa masih menulis di blog?

Aku Menulis Karena Butuh Apresiasi

Terus terang aku sempat merasa bosan menulis di blog. Rasanya gini-gini saja. Belum lagi tiap ikut lomba blog eh kalah lagi, kalah lagi. Padahal salah satu alasan aku masih ngeblog adalah karena adanya apresiasi ketika menang lomba blog. Hehe.

Kesannya motivasi ngeblognya dari eksternal banget ya. Maklum, aku anaknya memang haus apresiasi ๐Ÿคญ. Beberapa tahun kerja kantoran, aku beruntung karena bekerja di tempat yang lingkungan kerjanya bagus. Enggak ada yang namanya sikut-sikutan, fitnah, atau menjilat atasan.

Di tempatku bekerja, kami diapreasi. Baik dalam bentuk gaji sesuai load dan tanggung jawab pekerjaan. Maupun dalam bentuk lain seperti ucapan terima kasih dari atasan, rekan kerja, ataupun orang-orang yang terkait dengan pekerjaanku (pasien, keluarga pasien, mahasiswa, dan sebagainya).

Lalu saat menjadi ibu rumah tangga, apresiasi dalam bentuk verbal dan non verbal jarang aku dapatkan. Bahkan yang parah, aku dibully saat menjadi IRT. Aku direndahkan, dipandang sebelah mata.

Menulis artikel

Kepercayaan diriku sampai hancur. Aku sempat berada di titik terendah karena merasa tidak

berharga, dan tidak punya manfaat untuk sekitar. Sungguh, masa-masa itu adalah masa terkelam dalam hidupku. Dan menulis di blog, menyelamatkanku.

Aku seperti menemukan diriku kembali, meski dalam versi yang berbeda. Aku semakin bahagia karena belajar banyak hal. Rasanya aku hidup lagi. Blog membuatku bisa bernapas lagi.

Kondisiku yang tadinya sering lupa, kurang fokus, dan nyaris kehilangan kemampuan berpikir logic, perlahan-lahan membaik. Hal tersebut tak hanya berdampak pada kepercayaan diriku, tapi juga berdampak kepada sikapku ke orang lain, terutama keluargaku.

Ketika aku merasa ada dan berharga, aku lebih menghargai orang-orang disekitarku. Ketika aku bahagia, aku bisa membahagiakan keluargaku. Ketika aku terus upgrade diri melalui jalan menulis, aku merasa bisa menghadapi tantangan hidup.

Blog yang membuatku bisa bertahan dari kerikil dan badai dalam rumah tangga. Blog lah yang membuatku tetap tegak berdiri, ketika bertengkar dengan ibuku. Blog lah yang membuatku yakin bahwa aku bisa mandiri, dan aku pantas dihargai.

Perlahan-lahan, aku tidak memerlukan lagi pengakuan dari orang lain. Baik terkait kepiawaianku dalam menulis, maupun dalam hal lain.

Tapi kini, masa-masa itu datang lagi. Masa dimana aku merasa belum jadi versi terbaik diriku. Hingga hari ini, aku masih mencari tahu, masalahnya ada dimana.

Mungkinkah karena aku menulis blog hanya untuk menyelesaikan pekerjaan? Sehingga semangatku menurun? Atau karena aku ingin mencoba hal baru di luar menulis blog? Nanti kalau sudah ketemu jawabannya, aku sharing di blog ya.

Aku Sempat Di- bully

Di- bully karena jadi IRT? Sudah biasa. Di- bully karena ngeblog? Rasanya kaget luar biasa. Kalau dulu, aku pernah di- bully karena dianggap enggak ngapa-ngapain ketika di rumah saja menjadi IRT. Eh, baru-baru ini aku di- bully karena dianggap enggak fokus ngurus anak dan suami, karena sibuk menulis.

Terus terang, aku beneran kaget. Enggak nyangka! Ternyata, apapun yang kita lakukan, ada saja orang yang enggak suka. Dengan kata lain, aku jadi sadar kalau orang lain enggak akan pernah puas melihat kondisi kita. Ibaratnya, pasti ada orang yang enggak suka ketika melihat kita bahagia dengan pilihan kita.

nasihat Ali bin Abi Thalib

Aku jadi ingat sebuah kalimat terkenal dari Ali bin Abi Thalib:

“Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu.”

Aku enggak paham, orang yang ngomong gitu ke aku, apakah sedang tidak bahagia dengan pilihannya? Atau dia memang membenciku? Entahlah.

Belum lagi aku beberapa kali menemukan sebuah komentar yang mendiskriminasi tulisan di blog. Misalnya tentang orang-orang yang mencari informasi kesehatan di Internet, lalu mereka tidak mau ke dokter dan malah mengobati dirinya sendiri. Aku paham bahwa yang dilakukan oleh masyarakat tersebut salah, tapi kalau menyalahkan isi blog ya enggak pas juga.

Seolah-olah informasi kesehatan di blog itu menyesatkan. Padahal, aku kenal banyak blogger yang menulis kesehatan dengan banyak referensi ilmiah. Tulisan mereka bahkan layak disebut sebagai artikel ilmiah.

Terus terang, dua hal di atas sempat membuatku ingin berhenti ngeblog. Rasanya kok ya gini amat. Sudahlah dipandang enggak sayang keluarga, eh masih ada yang bilang tulisan di blog itu enggak seharusnya dijadikan rujukan informasi.

Ternyata Aku Masih Cinta dengan Dunia Ini

Meskipun aku berpikir untuk berhenti ngeblog, bahkan berhenti menulis, ternyata aku enggak bisa! Aku masih secinta itu dengan dunia tulis menulis.

Aku selalu terpesona ketika membaca sebuah tulisan yang mengharukan, atau berhasil membuat perasaanku bergejolak. Aku masih terinspirasi ketika membaca sebuah tulisan yang penuh inspirasi. Aku masih termotivasi, ketika membaca sebuah artikel yang mungkin tanpa sengaja berhasil mengembalikan semangatku.

Aku bahkan terkagum-kagum dengan tulisan yang ilmiah, dengan belasan referensi baik dari jurnal, buku, dan sumber lain. Aku juga kagum dengan tulisan yang detail, yang bersumber langsung dari orang pertama. Misalnya wawancara dengan pegiat pariwisata di suatu daerah. Atau wawancara dengan pakar kesehatan di suatu bidang. Ah, terlalu banyak rasa kagumku terhadap sebuah tulisan.

Percayalah, menulis itu enggak mudah. Menulis adalah buah pikiran dari apa yang kita baca, kita alami, dan kita percaya. Apa yang kita tulis menggambarkan diri kita.

Menulis pesan kebencian? Mungkin kamu memang seorang pembenci. Menulis kisah yang menginspirasi, mungkin kamu orang yang penuh empati. Menulis sesuatu yang berbau ilmiah? Artinya kamu orang yang butuh bukti dan data valid sebelum membuat sebuah tulisan.

Menulis membuatku bisa mengenali diriku sendiri. Menulis membuatku paham apa yang aku suka dan apa yang aku tidak suka. Menulis membuatku tahu apa impianku, dan bagaimana cara untuk mencapainya.

Lebih lanjut, menulis bisa menggerakkan seseorang, bahkan menggerakkan sebuah negara. Menulis bisa membuatmu mendapatkan amal jariyah yang terus mengalir, atau sebaliknya.

Menulis, membuatku ada!

Manfaat menulis

Kalau kamu dulu pernah menulis, lalu sekarang sedang berhenti, take your time. Karena aku yakin, ketika kamu pernah jatuh cinta dengan dunia ini, maka suatu saat nanti kamu akan kembali. Mungkin dalam waktu dekat, atau nanti.

(Visited 113 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

37 thoughts on “Aku Menulis Maka Aku Ada

    • apura Reply

      Wah kalau ada yang sampai ngebully tulisan di blog, artinya tulisan banyak yang baca. Semangat terus ngeblognya. Jangan kasih kendor mbaaa ๐Ÿ˜

  1. Anita Makarame Reply

    Virtual hug for you, Mbak. Entahlah sebagai ibu seringkali kita di posisi selalu salah. Kita kerja dianggap ga ngurus anak sama suami, nggak kerja dianggap beban. Menulis bisa jadi salah satu healing entah menulis apa yang kita rasakan atau menulis sekedar motivasi maupun menulis sebagai karir meskipun hanya blog. Tetap semangat melakukan apa yang kita suka selama support system keluarga kecil baik-baik saja, tetap lanjutkan. Ibu bahagia, anak dan suami akan ketularan vibes-nya. ๐Ÿ˜€

  2. Lina sophy Reply

    Selamanya akan selalu ada orangยฒ yang nggak seneng sama orang lain mbak, tapi emang saat kita dibully itu rasanya nggak enak banget, tetap semangat untuk berbuat baik, orang lain mana tahu kan kondisi kita….

    Soal nulis, aku juga mengalami naik turunnya semangat mbak… Kadang berhenti lama kalau diri lagi merasa nggak baik-baik saja

  3. Alfa Kurnia Reply

    Sama seperti Mbak Dian. Saya tadinya menulis untuk kenang-kenangan bagi anak saya suatu saat nanti, tapi ternyata dapat apresiasi jadi makin semangat untuk menulis meski kadang-kadang kumat malasnya hehehe.

  4. unggulcenter Reply

    Aku pengen nulis-nulis yang “from the bottom of my heart” gitu kayak dulu. Tapi emang ya waktu nulis abis buat nulis paper, tugas2, nulis blog pun kupaksakan kalau ada job hehe.. smoga suatu waktu nulis organik yg banyak kayak dulu..

  5. Farida Pane Reply

    ngeblog juga merupakan bukti bahwa ternyata aku benar-benar suka menulis. meski berbagai kerempongan dunia menghadang, tetep aja baliknya ke menulis.

  6. Latifika Reply

    Nah ini saya juga merasakan Mba, betapa jenuhnya ngeblog sekarang. Jadi saya sambil bikin konten di Youtube juga untuk mengalihkan kejenuhan itu. Tapi nulis tetep, soalnya aku bayar hosting dan domain ๐Ÿ™ teteeup, wkwkw

  7. April Hamsa | Parenting Blogger keluargahamsa.com Reply

    Lha ada gtu org yang membully org yg menulis
    Btw mbak Dian mungkin perasaan yg muncul saat itu krn masa transisi abis kerja kantoran ke full nulis kali ya
    Soal apresiasi memang kyknya pujian itu candu ya, menikmatinya itu baik utk memotivasi diri, namun hati2 jangan sampai terlena, yang penting setting goal tujuannya apa dan selalu mengusahakan yang terbaik #imho xixixi

    • dian.ismyama Post authorReply

      Bener mbak. Dr kantoran trs off semua dlu. Sempat bisnis jualan baju, perlengkapan anak jd distributor, pernah jadi book advisor juga, oriflame an, br terakhir ngeblog. Jadi perjalanan ckup panjang

  8. Riska Ngilan Haryono Reply

    Sama mbak, saya menulis untuk apresiasi diri. Setelah tulisan saya tayang di blog rasanya bahagia banget meskipun mungkin jarang ada yang baca. Yang penting tetap menulis, itu udah cukup buat saya.

  9. Milda Ini Reply

    Kurangi ngototnya, hehehe. Menulis bagaimana pun adalah untuk ibdaha, jadi sebaiknya niat diluruskan. saya juga sedang berhenti nulis buku , bahkan ada yang tinggal diedit penrbit mayor, gak saya lanjutkan, tidak disesali, dijalani aja sebab ada banyak hal di dunia ini yang gak bisa saya atur sesuai keinginan kita. Tetap semangat nulis, minimal status, hehehe

  10. Momtraveler Reply

    Ga akan ada habisnya klo ngikutin omongan orang ya mbak. Termasuk sejak dulu sering dijadiikan bahan cobiran emang profesi penulis. Ngapain cuma duduk nulis aja hasil juga ga ada. Tapi klo emang panggilan hati and it makes you happy just go for it semangat mbak

  11. Lia Yuliani Reply

    Ah, iya, Mba. Sempat merasakan hal yang serupa. Ada di titik jenuh juga. Hal ini membuat saya cukup lama mengambil jeda nulis. Ikut lomba blog udah jarang, karena emang seringnya engga menang, heu … agak minder kadang.

    Saya pun kadang dibilang jangan main hp terus, padahal itu bukan main hp doang dong. Lagi BW atau lagi riset nulis. Bahkan ngeblog pun saya pakai hp seringnya Mba.

    Setuju banget, ah ya udah deh terserah mau bilang apa juga. Yang penting saya enjoy dengan apa yang dilakukan. Dengan menulis, saya ada.

  12. Eri Udiyawati Reply

    Kenapa ya, orang-orang hoby banget ngebully. Apapun yang kita lakukan di mata mereka salah. Jadi IRT salah, kerja nulis dari rumah salah juga, yang tiap hari ngantor kayak saya ya disalahin juga. Katanya gak ngurus rumah, karir aja yang diperhatikan.

    Awal nulis saya juga untuk curhat tentang apa yang mereka katakan ke saya. Sakit banget rasanya. Pernah, saya nulis di blog itu sambil nangis karena gak tahan bullyan dari mereka.

    Keep strong, ya kita, Mbak. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

  13. diane Reply

    Yes kak..aku pun pernah berhenti menulis..lumayan lama.. Tapi akhirnya kembali lagi meski waktu itu hanya sebagai pelarian aja.. Alhamdulillah menulisnya sampe sekarang dan udah jadi kayak kebutuhan hehe

  14. Dedew Reply

    Iya, menulis itu banyak manfaatnya mulai dari healing, transfer ilmu, berbagi pengalaman, hingga mendapatkan penghasilan. Alhamdulillah, aku bersyukur bisa berbagi lewat tulisan, bisa dapat penghasilan lewat tulisan..suatu berkah bagi para ibu rumah tangga ya…

  15. Tanti Amelia Reply

    Peluk mbak Dian, pernah merasakan “diremehkan karena menulis” tapi di satu sisi Allah menghendaki aku ketemu sama orang yang malah mengatakan, dia KAGUM KARENA AKU BISA MENULIS

    Hidup kan memang seperti postingan sosmed, selalu ada yang suka dan selalu ada hate speech bahkan haters

    ‘Menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah’

  16. @hm_zwan Reply

    Wah, aku baru denger ternyata ada ya yang membully gara-gara ngeblog/nulis..kok miris banget ya huhu. Aku pernah berhenti nulis 3 bulan, itupun gara-gara baru punya bayi. Alhamdulillah kembali nulis lagi bikin hati bahagia

  17. Andy Hardiyanti Reply

    Bener banget mbak. Tahun berapa ya dulu itu, saya sempat off ngeblog selama 2-3 tahun. Balik-balik, eh kaget, ternyata dunia blog udah seramai ini. Dari yang dulunya nulis ya nulis saja, begitu saya balik..ternyata udah ramai yang namanya sponsored post dan sejenisnya.

  18. Kartika Nugmalia Reply

    Menulis buatku adalah cara healing. Mungkin karena nggak bisa banyak ngomong jadi menuangkan semua isi hati melalui tulisan. Maka itu kadang aku juga sering tidak memikirkan apakah blog-ku dibaca orang lain karena sesungguhnya menuangkan perasaan lewat tulisanpun sudah membahagiakan

  19. Diah Agustina Reply

    Tetap semangat mbak, kadang di mata orang yang gak suka mereka lihatnya dari sudut pandang yang menurut mereka minus ๐Ÿ™

  20. Ria Fasha Reply

    I feel you mbak. Aku juga pernah berada di posisi sering di bully karena sibuk nulis dan seperti ga ngurus keluarga
    Kalo udah giti sih aku pilih jeda sebentar tapi bukan menyerah, karena balik lagi karena suka ngeblog ya ga bisa benar2 pisah hehe

  21. lendyagassi Reply

    Kak Dian yang kece banget pernah merasa insecure yaa..
    Apalagi aku..

    Btw, aku merasa kak Dian ini sangat sabar.
    Aku salut sama kesabaran dan kepribadian kak Dian. Itutu tampak dari tulisan kak Dian loo..
    ((dan setelah baca buku kak Dian yang “Antri Stres Atasi Tantrum pada Anak.”))

    Terus berbagi hal-hal yang bermanfaat yaa, kak..
    Bisa jadi moodbooster banget buat para Ibu dimanapun berada.

    • dian.ismyama Post authorReply

      Mbak, aku tuh aslinya mgkn emang sabar. Tapi pas punya anak jadi ga sabaran. Terus latihan lagi, belajar lagi biar lebih sabar๐Ÿฅบ

  22. Herva yulyanti Reply

    Sama mba, di kantor juga sampe ada yg bully duh ngeblog terus gob*** huhuhu sakit dengerin ya tapi udah dilalui dan ga mau nanggepin biarin aja yuk ttp nulis

  23. Liswanti Reply

    Aku pernah mak dibilang “emang nulis ngehasilin”. Padahal buatku menulis itu membawa ketenangan dan membuatku tetap waras.

    Semangat terus menulis mba

  24. echaimutenan Reply

    hugssssssss
    kita beberapa juga sama mbak sikonnya apalagi kalau ngomongin urus anak sedangkan ditlen dll huhu mo nangis bagi waktunya
    tapi tetap suka
    apalagi dunia blog cepat banget ini skrg banyak yang kece2 bkin ga pede

  25. Adriana Dian Reply

    Aku banget nih, dulu suka menulis tapi sekarang berasa males-malesan.. huhu. emang kayanya mesti stop sebentar terus nanti baru mulai lagi nih.. makasi sharingnya ya maaak

  26. Hanifa Reply

    Perkara dibully karena menulis tuh aku relate banget Mak. Dulu pernah seseorang yang aku anggap sahabat malah nyacatin artikel reviewku. Dianggep nggak jujur dan terlalu mengada-ngada hanya karena itu sponsored post. Padahal memang tulisanku based on what I experienced, tapi dia masih aja nyacatin. Sungguhlah bikin demotivasi saat itu. Alhamdulillah keinginanku untuk lanjut menulis lebih kuat daripada cacian dia :’)

  27. Susindra Reply

    Memang harus sabar dan teguh memegang apa yang dicintai. Makin mencintai makin banyak cobaannya. Yang terpenting tetap menulis. Tetap berkarya. Dan Mbak menulis dengan baik. Semangat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *