Sebelumnya, kalau mendengar kata mangrove, yang langsung terbayang di kepala saya mungkin adalah hutan di pinggir laut, akar-akar yang tumbuh di antara air dan lumpur, atau kawasan yang perlu kita jaga agar tidak rusak. Tetapi setelah mengikuti webinar “Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat”, saya mendapatkan sudut pandang yang sedikit berbeda. Mangrove ternyata bukan hanya tentang lingkungan. Bagi masyarakat pesisir, mangrove juga berkaitan dengan pangan, penghidupan, dan masa depan.
Kisah dari Raja Ampat membuat saya berpikir bahwa hubungan manusia dengan alam sebenarnya jauh lebih dekat daripada yang sering kita bayangkan. Ketika sebuah hutan dijaga, yang dijaga bukan hanya pepohonan atau pemandangannya, tetapi juga sumber kehidupan yang ada di dalamnya.
Mangrove bukan sekadar hutan di tepi laut
Dalam webinar yang diadakan oleh Eco Blogger Squad, saya belajar bahwa ekosistem mangrove mempunyai banyak fungsi. Akar mangrove menjadi tempat berlindung dan pemijahan berbagai biota laut. Guguran daunnya juga berperan dalam menyediakan nutrisi bagi rantai makanan di perairan pesisir. Karena itu, kondisi mangrove berkaitan dengan keberadaan ikan, kepiting, kerang, dan berbagai sumber pangan yang dimanfaatkan masyarakat.
Yang menarik, manfaat mangrove tidak berhenti pada fungsi ekologis. Beberapa bagian mangrove juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan dikembangkan menjadi produk lokal. Materi yang saya dapatkan menyebutkan pemanfaatan buah mangrove sebagai bahan tepung, minuman, maupun camilan. Ada pula pengembangan madu mangrove sebagai salah satu alternatif ekonomi masyarakat pesisir.
Belajar dari Kampung Friwen
Kisah Kampung Friwen di Raja Ampat menurut saya menjadi bagian yang paling menarik. Masyarakat tidak hanya berbicara tentang pentingnya menjaga mangrove, tetapi juga melakukan berbagai aksi nyata. Ada pembibitan, persemaian, penanaman kembali, patroli, sampai pengembangan produk mangrove sebagai pangan lokal.
Dalam pengelolaan Hutan Desa Kampung Friwen, terlihat bahwa kelompok perempuan juga memiliki peran penting. Mereka terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari pengolahan produk mangrove, agroforestri, kerajinan, hingga kegiatan perlindungan mangrove. Bahkan terdapat kelompok kerja perempuan yang secara khusus ikut menjaga kawasan mangrove.
Bagi saya, kisah ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebenarnya tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang berlawanan. Keduanya dapat berjalan bersama ketika sumber daya alam dimanfaatkan dengan bijak dan masyarakat menjadi bagian dari proses pengelolaannya.
Saya teringat pada satu tanaman yang sangat dekat dengan kita: kelapa
Selanjutnya saya berpikir, “apakah hanya mangrove yang mempunyai fungsi ganda seperti itu? Adakah tanaman lain yang sejak dulu sebenarnya sudah sangat dekat dengan kehidupan kita, tetapi sering kita lihat hanya dari satu sisi?”
Ternyata ada! Banyak malah. Salah satunya adalah kelapa. Karena saya adalah anak pantai, kelapa sering saya lihat. Pohonnya menaungi para wisatawan, sekaligus mencegah erosi. Tak hanya itu, hampir di setiap warung di pinggir pantai, pasti tersedia buah kelapa.
Kelapa mungkin merupakan tanaman yang terlalu akrab bagi kita sampai-sampai kita sering lupa betapa banyak manfaatnya. Hampir setiap bagiannya dapat dimanfaatkan. Buahnya dapat menjadi bahan pangan, air kelapanya dapat diminum, daging buahnya dapat diolah menjadi santan, juga dapat diolah menjadi minyak. Di Kampung Friwen sendiri disebutkan adanya kegiatan pembuatan VCO dan minyak kelapa sebagai bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.
Kelapa juga punya “fungsi ganda”
Kalau mangrove memiliki peran sebagai penjaga ekosistem sekaligus sumber pangan dan penghidupan masyarakat pesisir, kelapa juga memiliki cerita yang tidak kalah menarik. Tanaman ini bukan hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat. Yang lucu adalah, setelah saya pikirkan, camilan favorit saya itu rata-rata memanfaatkan kelapa. Misalnya klepon dan lopis ketan. Keduanya ditaburi kelapa parut.
Ada pula camilan yang lebih kekinian, yaitu klapertart, yummy banget, ada daging kelapa di dalamnya. Bahkan, di kafe tempat saya membeli kopi, ada menu unik, yaitu kopi kelapa. Yup, benar sekali, kopi susu yang dipadukan dengan air kelapa ternyata memberikan sensasi tersendiri.
Sekarang, saya jadi punya sudut pandang yang berbeda. Selama ini saya dan sahabat ismi mungkin lebih sering bertanya, “Apa yang bisa kita ambil dari tanaman ini?” Padahal ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting, yaitu “Bagaimana kita bisa memanfaatkannya tanpa menghilangkan keberlanjutannya?”
Pertanyaan kedua inilah yang menurut saya menjadi benang merah antara mangrove di Raja Ampat dan kelapa di sekitar kita. Tanaman bisa memberikan manfaat ekonomi dan pangan, tetapi manfaat tersebut akan terus ada kalau sumber dayanya juga dijaga.
Dari pangan lokal, kita belajar tentang keberlanjutan
Ketahanan pangan sering kali terdengar seperti istilah yang besar dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, ketika kita melihat cerita masyarakat Raja Ampat, ketahanan pangan justru sangat dekat dengan lingkungan tempat mereka hidup.
Ikan, kepiting, kerang, buah mangrove, dan berbagai hasil alam lainnya merupakan bagian dari sumber pangan masyarakat. Ketika ekosistemnya terganggu, sumber pangan tersebut juga ikut terancam. Karena itu, menjaga hutan mangrove pada akhirnya juga berarti menjaga sumber pangan.
Hal yang sama membuat saya kembali melihat kelapa dengan cara berbeda. Tanaman yang selama ini mungkin hanya kita kenal sebagai bahan masakan ternyata menyimpan banyak potensi pemanfaatan. Namun, seperti halnya mangrove, pemanfaatannya tetap perlu dilakukan secara bijak agar manfaatnya tidak berhenti pada satu generasi saja.
Mungkin tanaman dengan “fungsi ganda” ada di sekitar kita
Dari webinar bersama EBS saya jadi berpikir bahwa setiap daerah mungkin memiliki cerita serupa. Bisa jadi ada tanaman lokal yang selama ini kita anggap biasa saja, padahal memiliki fungsi penting bagi lingkungan sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai pangan atau sumber penghidupan.
Mungkin ada tanaman yang buahnya dimakan, tetapi juga membantu menjaga tanah. Ada tanaman yang daunnya dimanfaatkan, tetapi juga memberikan naungan. Atau ada tanaman yang selama ini tumbuh begitu saja di sekitar rumah, tetapi ternyata mempunyai nilai ekonomi ketika diolah dengan baik.
Kalau di daerahmu, ada tanaman apa?
Setelah belajar dari mangrove Raja Ampat dan mencoba melihat kembali kelapa, saya semakin percaya bahwa menjaga alam tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang-kadang, kita cukup mulai dengan mengenali kembali apa yang sudah ada di sekitar kita.
Jadi, saya ingin mengajak sahabat ismi untuk ikut berbagi, “adakah tanaman lokal di daerah kalian yang punya “fungsi ganda”, bermanfaat bagi lingkungan atau kehidupan sekaligus bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan?” Yuk, ceritakan nama tanamannya, dari mana asalnya, bagian mana yang dimanfaatkan, dan bagaimana biasanya masyarakat mengolahnya.
Siapa tahu, dari cerita-cerita sederhana itu kita bisa menemukan lebih banyak contoh bahwa menjaga alam dan menjaga sumber pangan sebenarnya adalah dua hal yang saling berkaitan.
Karena pada akhirnya, pesan yang saya bawa pulang dari cerita Raja Ampat sederhana saja, “ketika kita menjaga hutan dan lingkungan, kita juga sedang menjaga sumber pangan dan kehidupan untuk masa depan.”






Kepala itu fungsinya banyakkk banget. Paling suka kalau kelapa itu dijadikan aneka olahan manis kayak cendol, kolak, dll gitu atau sesederhana es kopyor atau degan. 🤭
Kalau di tempat tinggal orang tuaku, daun kelapa itu bisa dibuat aneka kerajinan tangan anyaman atau bahkan yg lebih wow lagi sebagai sarana ritual.
Yang bikin aku kaget tuh, mangrove ternyata bisa diolah jadi makanan semacam kripik. Nggak nyangka aja, yang kita kira cuma tumbuhan pesisir bisa sebanyak itu manfaatnya.. 🥹🥹
nahh bener kak
masyaallah tumbuhan tumbuhan di negeri kita ya, banyak yg memiliki peran ganda
dan mangrove itu bener bener bikin wow gitu
aaaak keren banget teryata si mangrove ini ya
dulu mikirnya juga sekedar pohon pohon di pantai doang
Kalo kelapa sebenarnya menarik sekali khususnya buat penangkal pantai dari kencangnya angin laut. Lokasinya di pantai juga jadi daya tarik. Bila di daerah saya, kelapa jadi bahan baku VCO dengan kualitas tinggi
Di sekitar tempat tinggalku dulu banyak pohon kelapa, Kak. Tapi semakin lama jumlahnya semakin menyusut 🙁
Kayanya kelapa ini gak bisa lepas dari kehidupan masyarakat indo ya mbak, jobnya banyak banget
Tanaman lokal sebagai alternatif bahan pangan pangan di kampungku selain kelapa ada singkong yang bisa menghasilkan berbagai aneka makanan dan bahan baku lainya. Salah satunya manfaat daun singkong bisa di masak sebagai sayur pendamping nasi yang lezat, atau di olah sebagai keripik daun singkong yang banyak diminati sebagai camilan maupun oleh-oleh.