istanbul city

Ke Negara Impian, Turki. Persiapannya Apa Saja?

Facebooktwittergoogle_plusredditmail

Persiapan ke Turki, berangkat Maret-April. Kalau diminta membuat daftar bucket list negara yang ingin dikunjungi, maka tempat pertama tentu Saudi Arabia yaitu Mekah dan Madinahnya. Lalu tempat kedua adalah Yunani. Enggak tahu kenapa, mungkin karena pas kecil aku tuh penggemar serial mitologi gitu. Kayak Hercules, Xena dan sebagainya. Jadi mitologi itu nyantol banget di otakku. Unik, dan bersejarah.

Berikutnya, negara ketiga yang menjadi impian adalah Turki. Alasannya simpel, Turki merupakan Konstantinopel. Turki, negara tempat peradaban Islam pernah berjaya. Aku pingin lihat langsung gimana peninggalan Islam di sana. Ingin menghirup langsung aroma negeri yang pernah sangat ditakuti, dikagumi oleh penduduk dunia.

Semua bucket list kurapal dalam doa. Tentunya diikuti dengan ikhtiar menabung. Alhamdulillah bulan Januari 2019, aku, suami, mertua dan kakak ipar bisa berangkat umroh ke Mekah Madinah. Lalu entah kenapa aku merasa tahun ini sudah saatnya berangkat ke Turki.

Sebuah feeling bahwa sekarang saat yang tepat. Kalau bukan 2019, kapan lagi? Tahun depan? Si Kakak sudah SD. Bisa jadi perlu bimbingan intens saat ujian. Atau mungkin waktu luangku tak sebanyak tahun 2019. Kesehatanku? Tak ada yang bisa menebak aku sesehat apa tahun depan.

festival tulip di turki

Festival tulip di turki

Apalagi begitu tahu bahwa bulan April ada Festival Tulip di Turki. Tulip hanya mekar 1 bulan saja, yaitu selama April. Setahuku, tulip lebih terkenal di Belanda. Siapa sih yang enggak pernah dengar tentang Keukenhof? Begitu tahu taman tulip akan ada di Turki, wah sekalian saja.

Persiapan ke Turki, Belajarlah dari Pengalamanku

Maka persiapan ke Turki dimulai sejak sebelum berangkat umroh. Aku sebenarnya sudah mulai mengintip itenerary dan harga beberapa paket yang ditawarkan oleh tour and travel. Kenapa? Karena pada awalnya aku mau mengajak Mamaku untuk pergi ke Turki. Sebagai hadiah aja sih, supaya kami lebih dekat. Tapi menjelang hari pendaftaran, ternyata Mama lebih memilih jalan-jalan yang dekat saja. Khawatir kakinya enggak kuat jalan selama 10 hari.

Tadinya aku masih ngotot. Apalagi melihat list peserta yang hampir 50% berusia 60 tahun ke atas. Pasangan lansia justru berbondong-bondong ke Turki. Namun rupanya feeling Mamaku tepat. Saat aku benar-benar di Turki dan melakukan perjalanan selama 10D9N, wow luar biasa! Untung Mama enggak ikut=D

1. Memilih Tour and Travel

Kenapa aku pakai travel? Karena memang kota yang ingin kukunjungi lumayan banyak, dan tour and travel mengakomodirnya. Apalagi aku akhirnya berangkat sendirian. Mana berani solo traveler ke Turki. Kalau sama suami sih masih mending ya. Atau backpaker -an sama satu orang teman. Aku berani.

Kenapa suamiku enggak ikut? Karena cutinya habis buat umroh 10 hari. Belum nanti mau dipakai untuk mudik lebaran. Masa enggak mudik? Mau berangkat tahun depam, aku keburu feeling harus tahun ini. Hehe

Aku cari travel yang sudah jelas ada temenku yang pernah pakai, yaitu Cheria Holiday. Dari Instagram dan websitenya juga update. Kontak personnya juga fast respon dan ramah. Bahkan aku dibantu mencari teman sekamar yang sama-sama berangkat sendiri. Soalnya kalau sekamar sendirian, bakal kena harga lebih tinggi.

Dari segi harga sih terus terang termasuk 11-12 dengan travel lain. Tapi aku yakin kalau fasilitasnya memang di atas rata-rata. Setidaknya untuk akomodasi, makanan, dan transportasi enggak akan mengecewakan.

Sempat ingin ambil paket promo murah dari travel lain, tapi kehabisan. Ternyata harus cepet-cepetan gitu karena yang ditekan adalah harga tiket pesawatnya. Jadi siapa cepat dia dapat. Pilihan travel sudah dapat, next budget -nya=D

2. Budget Traveling

Tentang tips agar bisa traveling terus sudah aku tulis ya. 18 juta all in dalam kurs dolar bukanlah uang yang sedikit. Aku punya tabungan 13 juta tapi dalam bentuk emas. Sedangkan uang di rekening sekitar 8 jutaan.

Jadilah DP 500 dolar sekitar 7 juta rupiah kubayarkan menggunakan uang di ATM. Lalu sisanya? Sebenarnya aku sayang kalau harus ambil tabungan emas. Emas kan investasi jangka panjang. Kalau belum setahun sudah diuangkan, hmm jatuhnya enggak investasi.

Sebenarnya aku mengandalkan gaji dari mengajar di sebuah kampus. Sayang, sampai batas waktu pelunasan ke travel agen, proses transfer gaji mengajar mengalami penundaan hingga setelah lebaran=(.

Terus gimana? Waktu sudah mepet. Persiapan ke Turki harus segera diselesaikan. Invoice blogger enggak semuanya cepat cair. Untung saja Pak Suami support dan bersedia menalangi. Hihi. Dengan catatan uang bulanan Maret, April bakal dipotong, wkkkka. Tetep harus bayar bo.

3. Baju dan Perlengkapan Khusus Penghalau Dingin

Tadinya aku enggak terlalu ambil pusing soal persiapan ke Turki yang satu ini. Karena seharusnya bulan Maret-April itu sudah masuk musim semi. Tulip aja bermekaran, artinya ya seharusnya cuaca sudah cerah dan hangat.

Pikirku 20 derajat an lah, kayak waktu di Madinah. Sejuk gitu. Tapi ternyata? H-1 aku baca di aplikasi cuaca, suhu Istanbul masih belasan derajat. Di kota lain di Turki? Ada yang sampai 7 derajat. Mak! Pingin nangis rasanya.

Tour leader juga mengabari H-1 di WhatsApp grup kalau suhu diperkirakan antara 7-10 derajat celcius. Makin lemas deh aku. Apalagi posisiku sudah di Jakarta, di hotel dekat bandara.

Sementara itu, aku cuma bawa 1 jaket, 1 sarung tangan yang enggak terlalu hangat, 1.syal, dan 1 kupluk hangat.
Long john? High tech? Mana kepikiran buat beli. Hingga akhirnya aku diomelin sama adikku. Gila aja 7 derajat enggak pakai long john atau high tech.

Aeropolis hotel di dekat bandara

Hotel minimalis tempatku transit dari Jogja

Terus gimana dong? Sebelumnya, aku udah sempat bujuk adikku buat menginap di hotel yang kutempati, karena sayang kalau aku ke bandara Soeta malam hari (pesawat ke Doha berangkat tengah malam), berarti kamarku kosong sampai pukul 12 siang. Eh, alhamdulillah adikku mau nempatin. Lumayan katanya, staycation di akhir pekan.

Berbekal dia mau ke hotel, jadilah aku nekat minta tolong beliin perlengkapan khusus untuk persiapan ke Turki. Atasan high tech 3 biji, bawahan 1 biji, kaos kaki dan sarung tangan. Sayang sarung tangannya enggak nemu. Untung adikku punya sarung tangan. Yang kusesali, kenapa aku enggak pinjam jaketnya sekalian ya? Kan lumayan buat dobel atau ganti-ganti. Ckckck.

Atasan high tech 3 biji buat 10 hari itu ngepas banget. Lalu bawahannya jelas kurang, haha. Meskipun aku bawa bawahan celana yang lumayan bikin anget tapi angetnya beda dengan yang high tech. Mana baju gamisku ada yang tipis pula. Terpaksa dobel deh pas di Turki. Jadi tambah gendut di foto. Hihi

baju musim dingin

Oh ya, untung adikku sudah biasa packing. Jadi perlengkapan perangku yang segambrong itu divakum sampai tipis banget. Berhasil masuk koperku yang memang sudah full. Tinggal pulangnya nih yang enggak tahu bisa nutup koper apa enggak=D

Persiapan ke Turki ala aku memang kurang maksimal. Maklum, pengalaman pertama nih.

4. Termos dan Kotak Bekal

Nomor 4 ini persiapan ke Turki yang seharusnya enggak boleh terlewatkan, tapi malah aku lewatkan, hiks. Kalau biasanya aku selalu membawa botol minum sendiri, eh ndilalah kemarin pas mau ke Turki malah enggak bawa blas. Ya Allah, bahkan botol sekelas tupperware saja enggak kubawa.

Apalagi kotak bekal makanan? Mana kepikiranlah. Kan makan selama di sana sudah terjamin. Ngapain juga bawa kotak makan?

Ternyata oh ternyata, botol minum itu sangat penting untuk perjalanan jauh. Selain go green, enggak semua minuman bisa masuk ke botol plastik. Kayak air panas, teh hangat, kopi panas ya mana bisa pakai botol plastik.

Karena enggak bawa termos, alhasil aku masuk angin. Bayangin aja minum teh hangat hanya saat sarapan. Makan siang, makan malam dan selama di jalan minum air mineral yang berubah jadi air dingin karena udaranya dingin.

cokelat panas turki

Cokelat panas turki

Beli kopi atau teh di rest area? Bisa sih tapi kalau tiap rest area beli bisa bokek, hiks. Satu gelas kecil minimal 10 lira atau sekitar 35 ribu rupiah harganya. Mana uang saku terbatas. Jadi aku pendam keinginan ngopi dan ngeteh demi oleh-oleh dan hal lain yang darurat misalnya. Sempat sih kedinginan banget dan mau enggak mau tergoda juga beli cokelat panas seharga 10 lira tadi.

free tea

Psst, ada juga lho hotel yang enggak menyediakan free air mineral, apalagi free tea. Jadi harus cek diricek

Nah, kalau kamu bawa termos, setidaknya bisa bekal teh panas dari hotel. Kan kalau malam di kamar juga ada free tea and coffee, bisa bikin sepuasnya. Ambil pas sarapan juga gapapa lah ambil teh atau kopi setermos, semoga saja dimaklumi.

Begitu juga dengan kotak bekal. Sumpah, saat dingin itu, kita jadi lebih lapar. Tour and travel yang aku pakai, enggak menyediakan snack. Jadi ya snack beli sendiri di supermarket atau rest area.

Kalau kamu bawa kotak bekal, bisa deh masukin roti isi daging, telur rebus, sosis, buah-buahan buat camilan. Boleh kah? Harusnya sih enggak ya. Tapi gimana lagi? Demi kewarasan perut.

Lebih oke lagi kalau bawa rice cooker kayak salah satu peserta tour. Beliau masak nasi tiap pagi. Lauknya juga bawa banyak. Tinggal dihangatkan saja kalau mau makan.

Ternyata lauk pauk khas Indonesia untuk perjalanan traveling 10 hari itu sungguh membantu. Tetap saja kita bakal kangen dengan masakan Indonesia. Jadi saya sarankan tetap bawa abon, kering kentang, rendang kalau perlu buat jaga-jaga.

5. Uang Saku

Meskipun biaya selama di Turki sudah all in, kamu tetap harus bawa uang saku. Enggak semua kamar mandi di Turki gratis lho. Ada yang harus bayar 1-2 lira, haha. Aku pun menyesal enggak punya recehan lira karena di money changer Jogja hanya ada uang pecahan kecil.

Tips khusus soal mata uang, aku sarankan tukar lira nya di bandara Turki saja, lebih murah. Nilai lira di Jogja setara dengan 3500 rupiah. Di Jakarta bisa sampai 3700 rupiah. Ternyata sampai Turki cuma 2700 rupiah. Sayangnya, enggak semua money changer di bandara menerima penukaran rupiah, hiks.

Terus mereka menerima mata uang apa? Dolar lah. Tukar rupiahmu dengan dolar di Indonesia. Lalu tukar dolarmu dengan lira. Lebih mudah, lebih murah, bisa dapat recehan juga buat bayar toilet umum.

Kadang di beberapa tempat oleh-oleh juga menerima dolar. Di bandara internasional? Jelas menerima dolar. Hmm, sedih ya melihat nasib rupiah.

Oke, artikel pertama tentang persiapan ke Turki segini dulu ya. Maaf harus nunggu sebulan lebih baru bisa tayang. Selain mood yang baru datang, juga karena bulan-bulan kemarin tuh deadline kerjaan banyak banget.

istanbul city

Istanbul, kota pertama yang kami lihat

Next, aku bakal tulis tentang itenerary selama di Turki ya.

(Visited 59 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditmail

8 Comments

  • Agustina Purwantini June 20, 2019 Reply

    Keputusan tepat untuk berangkat tempo hari. Hihihi

  • Agustina Purwantini June 20, 2019 Reply

    Keputusanmu sungguh tepat berangkat tempo hari. Kalau enggak berangkat kemarenan, mesti bakalan tertunda… Hihihi.. BTW Cheria Holiday ya… Oke. Noted.

  • Kartika Nugmalia June 20, 2019 Reply

    Kujuga pengen keTurki Dian, doakan ya kelak bisa sampai sana. Langsung nyimpen linknya Dian buat dibaca baca dan afirmasi positif yaa

  • Agata Vera June 21, 2019 Reply

    Wahhhh unikk bangett negara ini mbak, jadi pengen juga akutuuuu, apalagi kalau bs kulineran di sana

  • Nisya Rifiani June 21, 2019 Reply

    Ternyata mulai dari persiapannya pun seru banget ya mbak dian.. Tipsnya membantu banget lho, makasih…

  • Hanifa June 21, 2019 Reply

    Uwiii langsung buka Cheria Tour nih, siapa tau ada paket wisata yang lain. Ditungguin Mbaaak buat itenerary dan rincian biayanya. Itu kayanya yang paling aku butuhin buat perbandingan hihiihi

  • Nurul Mutiara R.A June 21, 2019 Reply

    Ya Allah, seneng aku kalau lihat episode jalan2nya mba Dian. Kapan ya aku bisa jalan2 ke luar negeri? Minimal ke Malaysia lah haha

    BTW, kalau bisa ngajak keluarga kesana kok ya alhamdulillah. Banyak pengalaman tak terlupakan bakalan

  • vika June 21, 2019 Reply

    Harus disave informasinya, siapa tahu bisa ikutan nyusul jalan-jalan ke Turki.

Leave a Reply

error: Content is protected !!