Menilik Lebih Dekat Museum Rumi di Konya, Turki

Facebooktwittergoogle_plusredditmail

Rumi dan kenangan tentangnya. Masa-masa SMP saya dihabiskan dengan sekolah, dan main. Selain itu, saya juga hobi membaca. Di belakang SMP saya, dan di dekat SMA negeri yang letaknya berdekatan dengan SMP saya, terdapat taman bacaan. Isinya cukup lengkap mulai dari komik, novel, kumpulan cerpen, dan sebagainya. Saat itu, buku yang sering saya baca adalah serial cantik, ghostbumps, dan beberapa novel Mira W.

Biaya peminjaman buku yang tergolong murah antara 100 rupiah atau 200 rupiah, membuat saya gemar menyewa dibanding membeli buku. Tapi sesekali saya juga membeli buku. Terutama jika ada pameran atau bazar di Gramedia yang lokasinya sangat dekat dengan SMP saya. Buku 10 ribuan sering saya ditemukan ketika bazar.

Seingat saya, buku-buku karya Kahlil Gibran dan Jalaludin Rumi cukup banyak memenuhi rak buku di kamar. Puisi-puisi dan sajak mereka menghantui jiwa remaja yang mulai jatuh cinta. Syair-syair romantis terngiang-ngiang di hati dan pikiran.

Saya tahu bahwa Rumi adalah seorang Sufi. Tak jarang syairnya bercerita tentang Sang Pencipta sehingga rasa cinta yang terlukiskan dalam syair sungguh besar. Berbeda dengan cinta yang ditujukan pada sesama.

Dua puluh tahun kemudian, siapa sangka saya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi kotanya Rumi, Konya. Saya bahkan tidak pernah tahu bahwa Rumi hidup lama di Turki. Dan saya juga tidak menyangka, salah satu rangkaian tur yang saya ikuti akan mampir ke kota tersebut.

Konya, The City of Hearts

Pertama kali sampai ke Konya, yang terlintas adalah kota ini sunyi, dan mistis. Tidak hiruk pikuk seperti Istanbul atau Ankara. Kota Konya bersih dan rapi. Terdapat trem sebagai transportasi publik. Tremnya juga bersih dan tidak terlalu padat.

Saya dan rombongan tur langsung dibawa ke Mevlana Museum. Mevlana adalah nama lain Rumi di Konya.

Pembaca ismyama.com yang belum tahu siapa Rumi, saya kasih intro sedikit ya. Beliau adalah seorang penyair, pujangga yang lahir di Persia. Suatu ketika, Sultan Seljuk, Turki yaitu Sultan ‘Ala’ al-Din Kayqubad, mengundang Rumi untuk tinggal di Konya.

Di Konyalah berkembang tarian Sufi yaitu tarian berputar melawan arah jarum jam sambil berzikir. Sufi adalah sebutan untuk orang-orang yang mendalami sufisme atau ilmu tasawwuf.

Apakah sufisme atau tasawuf itu? Silakan googling. Intinya, Rumi adalah tokoh Sufi yang mendunia. Baik karena syair-syair religiusnya, maupun karena tarian Sufi yang diciptakannya.

Museum Mevlana, Makam sekaligus Museum Rumi

Museum Mevlana sangat luas. Taman-tamannya begitu terawat. Tulip juga ditanam di sini lho. Saya sempat melihat tulip yang mulai berkembang. Ada juga pohon yang mirip sakura. Entah itu sakura atau cherry blossom. Coba lihat fotonya, menurutmu pohon sakura atau cherry blossom?

Langkah saya semakin cepat kala museum terlihat di depan mata. Udara dingin di Konya cukup menusuk. Sepanjang mata memandang, kawasan museum ini cukup luas. Kala itu, museum ramai oleh pengunjung. Baik dari Indonesia maupun wisatawan domestik dan mancanegara. Di Museum Mevlana, ada beberapa bangunan yang dapat dimasuki.

View this post on Instagram

Jalaluddin Rumi atau lebih dikenal sebagai Mevlana Rumi oleh orang Turki adalah seorang tokoh di Konya. Ia lahir di Afganistan, tetapi hidupnya berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain seperti Arab Saudi, Suriah, hingga akhirnya diminta oleh pemerintah Konya untuk tinggal di Konya. . . Saya mengenalnya sebagai penyair. Ternyata beliau adalah seorang teologis dan filsuf di balik tarian sufi. . . Tidak mudah untuk menari sufi sehingga ada pelatihannya. Dimulai dari orang dapur dilatih untuk belajar tasawuf, lalu latihan tarian sufi dengan belajar konsentrasi. Yang sudah berhasil menari sufi akan diajar mengaji langsung oleh guru utama. Proses nya ternyata panjang untuk bisa menari sufi, enggak ujug-ujug bisa😁 . . Siapa yang pernah baca buku puisi atau syairnya Rumi? #jalaluddinrumi #mevlanarumi #museumrumi #makamrumi #konyaturki

A post shared by Dian Farida Ismyama (@dian_ismyama) on

Bangunan utama berisi makam Rumi, dan peninggalan Kerajaan Ottoman. Saya dan rombongan diminta melepas sepatu dan memakai plastik di kaki sebagai pengganti alas kaki. Plastiknya kayak kresek gitu tapi berbentuk seperti sepatu. Sayang juga sih sebenarnya kalau hanya sekali pakai. Jadi plastik tersebut nantinya dibuang di tempat sampah yang disediakan. Semoga saja didaur ulang atau dicuci oleh pihak pengelola agar dapat digunakan kembali.

Pemandu tur menjelaskan simbol -simbol yang terdapat pada dinding bangunan utama. Kebanyakan berupa tulisan Arab. Ada yang ketika digabung membentuk angka 99,menandakan asmaul husna.

Selain relief dinding yang punya makna khusus, dan tentu saja terlihat artistik, bangunan utama juga berisi makam beberapa tokoh Sufi.

Ada kijing replika dengan simbol sorban di salah satu ujung kijing. Sedangkan makam Rumi sedikit berbeda. Beberapa pengunjung berdoa di depan makam Rumi. Kami sempat diingatkan untuk tidak syirik. Kalau mau berdoa silakan mengirim Al Fatihah saja.

Bila kita lebih masuk ke dalam museum, terdapat beberapa benda peninggalan zaman Ottoman. Termasuk keberadaan jenggot Nabi dan beberapa Al Qur’an zaman dahulu. Jenggot nabi di tempatkan dalam kotak kaca di mana di ujung sisinya berbau harum. Selain itu ada pula baju dan kopiah Rumi.

Bangunan kedua berisi diorama keseharian seorang sufi. Di dalam ruangan yang berukuran kurang lebih 5×6 meter, terdapat patung-patung para sufi.

Tidak mudah untuk menari sufi sehingga ada pelatihannya. Dimulai dari orang dapur dilatih untuk belajar tasawuf, lalu latihan tarian sufi dengan belajar konsentrasi. Yang sudah berhasil menari sufi akan diajar mengaji langsung oleh guru utama. Proses nya ternyata panjang untuk bisa menari sufi, enggak ujug-ujug bisa

Bangunan ketiga berisi benda – benda bersejarah. Mulai dari pakaian, sajadah, Al Qur’an, tongkat, dan sebagainya. Bangunan ketiga ini berukuran kecil-kecil dan jumlahnya banyak. Seperti ruangan-ruangan kecil untuk pameran.

Usai sudah berkeliling Museum Mevlana, dan saya cukup puas karena museumnya terawat dan bersih. Saya sama sekali tidak melihat sampah. Tidak ada juga penjual makanan yang berantakan. Bahkan penjual suvenir ditata sedemikian rupa sepanjang jalan yang dilalui menuju pintu keluar. Saya sempat membeli beberapa suvenir khas sufi antara lain gantungan kunci tarian sufi.

Oh ya, ternyata penjual di luar museum juga banyak. Mereka menawarkan harga yang lebih murah. 10 gantungan kunci hanya seharga 10 Lira. Wah, tahu gitu beli di luar saja ya. Hehe. Ada juga sendok-sendok kecil yang lucu dan unik hiasan ujungnya. Cocok buat properti foto=). Tapi saya enggak jadi beli mengingat uang saku yang terbatas.

Pengalaman di Konya yang sangat singkat cukup membekas. Saya berharap lain kali dapat tinggal di kota ini dan berinteraksi dengan warganya. Menaiki tram mengelilingi Konya dan duduk santai di kedai teh sambil menulis cerpen tampaknya cocok untuk dilakukan.

Sampai jumpa lagi Konya, The City of Hearts😍

Baca juga Ephesus, Reruntuhan Kota Kuno di Turki 

(Visited 33 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditmail

One Comments

  • Agustina Purwantini November 27, 2019 Reply

    Wah, makasih banget sharing nya. Pas aku lg butuh info tentang Rumi, pas nemu ini.

Leave a Reply

error: Content is protected !!