Masyarakat Adat, Siapa Mereka dan Apa Yang Mereka Perjuangkan?

Facebooktwitterredditmail

Masyarakat adat itu sebenarnya seperti apa?Halo sahabat ismi, gimana nih 17 Agustusannya? Di tempat saya seru! Ada aneka lomba baik untuk anak-anak maupun bapak-bapak dan ibu-ibu. Besok Sabtu malam juga masih ada tasyakuran sekaligus bagi-bagi hadiah lomba.

Ngomong-ngomong tentang kemerdekaan, saya jadi ingat perkataan Muhammad Yamin yaitu:

“Cita-cita persatuan Indonesia itu bukan omong kosong, tetapi benar-benar didukung oleh kekuatan-kekuatan yang timbul pada akar sejarah bangsa kita sendiri.”

Seperti sahabat ismi ketahui bahwa persatuan Indonesia tidak akan terwujud tanpa adanya sikap saling menghargai dan menghormati segala perbedaan yang dimiliki oleh berbagai masyarakat yang ada di Indonesia. Termasuk masyarakat adat yang hidup mendiami tanah adat yang tersebar di  hutan rimba, pegunungan dan berbagai pulau di Nusantara.

Indigenous Peoples

Sebagai informasi, Hari Masyarakat Adat Internasional diperingati setiap tanggal 9 Agustus. Tanggal tersebut dipilih sejak Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hak-Hak Masyarakat Adat (The United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples) pada 13 September 2007.

Isi dari deklarasi tersebut antara lain masyarakat adat berhak untuk mendapatkan beragam macam hak asasi dan kebebasan mendasar seperti yang diakui dalam Piagam PBB, Deklarasi Universal HAM, dan perangkat hukum internasional tentang HAM.

Masyarakat adat mempunyai kebebasan dan kesetaraan dengan masyarakat dan individu lainnya. Merka berhak untuk bebas dari segala macam jenis diskriminasi. Masyarakat adat juga berhak melakukan identifikasi diri, memiliki kebebasan atas hak sipil dan politik serta hak ekonomi, sosial, dan budaya.

Yang paling penting adalah, masyarakat adat mempunyai hak atas tanah, wilayah, dan sumber daya yang secara turun-temurun mereka miliki atau gunakan. Mereka juga berhak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang dampaknya melibatkan hak-hak mereka.

Mungkin ada sahabat ismi yang masih bingung, yang disebut masyarakat adat itu siapa? Yuk, kenalan dulu dengan mereka.

Siapakah Masyarakat Adat Itu?

Hari Jumat tanggal 12 Agustus 2022 kemarin, saya mengikuti online gathering tentang tradisi dan budaya masyarakat adat yang kaya. Narasumbernya adalah Kak Mina Setra selaku Deputi IV Sekjen AMAN Urusan Sosial dan Budaya. AMAN adalah kepanjangan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, yaitu sebuah organisasi independen yang bekerja di tingkat lokal dan nasional yang mewakili komunitas adat.

Lalu siapakah yang dimaksud sebagai masyarakat adat? Menurut Kak Mina, masyarakat adat tidak ada definisi khususnya. Dulu di PBB dulu ada deklarasi PBB tentang masyarakat adat. Tapi tidak ada definisi khususnya. Yang ada adalah definisi kerja yaitu memiliki hak untuk menentukan siapa jati dirinya.

Elemen Masyarakat Adat

Komunitas adat adalah

Bagaimana dengan di Indonesia? Di AMAN, yang disebut sebagai masyarakat adat ada definisi kerjanya sesuai karakter. Terdapat beberapa elemen yang memperlihatkan suatu komunitas adalah masyarakat adat, yaitu:

1. Ada wilayah adatnya dan mereka terikat dengan wilayah tersebut.

2. Ada hukum adat yang berlaku dan dihormati di komunitas.

Jarang ada hukum tertulis sehingga lebih banyak hukum secara turun- temurun. Ada yang menjalankan hukum tersebut. Kalau sahabat ismi mengunjungi komunitas adat, maka akan ada yang menjelaskan aturan-aturan secara lisan. 

Misalnya saja jika masuk ke hutan tidak boleh pipis sembarangan. Atau ketika ke sungai tidak boleh bilang ” ikannya banyak banget.” Nanti bisa hilang ikannya. Contoh lainnya tidak boleh meneriakkan nama teman jika di hutan. Karena nanti bisa ada yang menjawab, tapi bukan orang yang diteriakkan namanya. Hii serem ya.

3. Terdapat perangkat adat yang mengatur keseharian mereka. 

Mengatur upacara kelahiran, kematian dll.

4. Ada pula hukum adat untuk menjaga keseimbangan. 

Misal ada yang melakukan kesalahan. Bukan untuk menghukum tapi untuk menjaga keseimbangan. Makanya kalau sampai didenda, biasanya selalu disertai ritual adat untuk mengembalikan keseimbangan.

5. Ada hubungan spiritual dengan alam.

Pada kenyataannya, ada yang berkurang elemennya. Baik karena modernisasi maupun karena adanya perusahaan yang masuk ke tanah adat. Tapi mereka masih merupakan masyarakat adat.

Lalu apa bedanya komunitas adat dengan suku? Suku adalah bagian dari masyarakat adat. Komunitas adat misalnya ada orang Dayak, Batak, Melayu. Di dalamnya ada berbagai suku seperti Dayak kompak, Dayak iban, dll.

Potensi dan Kekayaan Masyarakat Adat

Siapa bilang orang-orang dari komunitas adat bodoh? Hanya karena sebagian dari mereka tidak bisa baca tulis, bukan berarti mereka bisa dianggap bodoh. Mereka umumnya adalah seniman dan petani sejati. 

Contohnya saja yang hidup di Sungai Utik di Kalimantan Barat. Mereka hidup di rumah panjang. Dalam kesehariannya, mereka pandai menenun. Sebagai informasi, mereka membuat tenun itu tanpa panduan. Jadi susah sekali. 

Selain itu, karyanya bener-benar rapi. Kalau sahabat ismi ada yang ingin membeli tenun dari masyarakat adat, plis jangan ditawar ya. Mereka juga membuat keranjang sendiri. Keranjang- keranjang tersebut digunakan untuk mengangkat dan membawa babi hutan, ikan, dan hasil panen/ buruan lainnya.

Mereka adalah Penjaga Bumi

Sekarang baru disadari bahwa masyarakat adat berperan sebagai penjaga bumi. Mereka tidak mengeksploitasi alam. Mengambil secukupnya saja. Tujuannya untuk menjaga kelangsungan sumber daya alam bagi anak cucu.

Kebutuhan hari ini ya secukupnya. Jadi kalau dihabiskan sekarang, nanti anak cucu dapat apa? Hutan adalah supermarket mereka. Ada daging, buah-buahan, padi, beras, dan bahan pangan lain asli Indonesia. Misalnya asli labu, terong asam, asam-asam hutan, termasuk buah-buahan.

Mungkin ada sahabat ismi yang belum tahu kalau jenis padi lokal di Dayak Iban ada 64 jenis. Uniknya, padi-padi tersebut tahan bertahun-tahun. Wow! Berbeda dengan padi yang berasal dari sawah, hanya tahan selama beberapa bulan. Sedangkan padi di ladang (yang ditanam oleh komunitas adat) bisa tahan hingga 7 tahun lamanya. 

Hubungan dengan Alam

Tradisi kampung adat

Hubungan dengan alam merupakan hubungan timbal balik alias simbiosis mutualisme. Komunitas adat menjaga alam dengan beberapa alasan antara lain:

1. Karena kehidupan masyarakat adat tergantung alam

2. Alam dan hutan adalah rumah leluhur.

Misalnya saja ada hutan larangan yang tidak boleh dimasuki tanpa ritual.

Yang dilakukan Untuk Menjaga Alam

Cara menjaga alam

Hubungan erat tersebut bukan asal digaungkan. Tapi memang ada banyak hal yang sudah dilakukan oleh masyarakat adat lakukan untuk menjaga bumi, yaitu:

1. Mengelola alam dan hutan secara arif dan bijaksana. 

Menebang pohon pun ada aturannya. Setiap tanaman yang ada di alam hanya diambil sesuai kebutuhan hari itu. Sisanya untuk kebutuhan hari esok, dan untuk anak cucu. 

2. Ketika wilayah adat atau hutan mereka digusur/dibakar/ dieksploitasi oleh tambang/perusaahan peternakan, masyarakat adat melawan.

Masyarakat adat melakukan perlawanan baik dengan cara musyawarah maupun orasi.

3. Terdapat  rehabilitasi wilayah adat dengan cara menanam kembali lahan-lahan yg rusak.

4. Ada gerakan pulang kampung yang diorganisir oleh pemuda. 

Pemuda dari kampung adat

Intinya gerakan pulang kampung memanggil pemuda adat di kota untuk kembali ke kampung halamannya. Kenapa? Agar kampung tetap punya pertahanan. Tidak hanya ditinggali oleh tetua, perempuan, anak-anak. 

Apalagi pandemi kemarin membuktikan bahwa kampung merupakan tempat paling aman dan sejahtera. Tidak ada kelaparan karena masyarakat adat masih bisa makan dari sumber daya alam.

Sesampainya di kampung, para pemuda adat mendirikan sekolah adat. Alasannya karena banyak pemuda yang sudah tidak tahu adat istiadat, budaya, bahasa asal, dan sebagainya. 

Selain itu, mereka mendatangi para tetua, boleh tidak lahan kosong dijadikan kebun. Awalnya para tetua ragu-ragu. Ternyata para pemuda bersemangat dan berhasil. Mereka membangun konservasi berbasis pertanian organik. Membuat kebuh organik secara berkelompok. 

Selain itu, adapula yang mendirikan kebun herbal tanaman obat-obatan, agriculture based tourisme, dan medicine plant based tourisme. Keren, ya!

Akhirnya banyak pemuda asli masyarakat adat yang betah dikampung. Terutama karena ada pekerjaan real yang menghasilkan uang . Penghasilannya bahkan lebih tinggi dari pada kerja di kota jadi tukang ojek misalnya.

Sekali panen bisa menghasilkan 40-50 juta rupiah, bahkan 150 juta rupiah. Setahun bisa dua kali panen. Mereka tidak mau lagi ke kota. Buat apa kalau akhirnya malah luntang-lantung tanpa pekerjaan. Lebih baik di kampung menanam bawang, tomat atau rempah-rempah.

Contohnya di Kasepuhan, masyarakat adatnya menanam timun. Pada foto di bagian kanan, pemuda Sakai di Komunitas Riau mendirikan kebun semangka. Tadinya masyarakat adat di sana hampir punah karena wilayah adatnya udah jadi kebun sawit.

Panen semangka juga membuka jalur komunikasi dengan tentara yang ada di lokasi. Yang tadinya berkelahi, sekarang lebih akrab. 

Sementara itu, komunitas adat di wilayah timur, membudidayakan rumput laut. Ada pula yang menanam kacang dan ubi jalar. Sebagai informasi, di Sulawesi Selatan pertaniannya cukup berhasil sehingga berhasil memulangkan anak-anak muda dari kota. Dulunya banyak yang keluar untuk menambang emas.

Sekarang, bahkan dinas pertanian datang untuk dibantu menggunakan dana desa dan dicobakan ke wilayah lain. Untuk kebun tomat di Sulawesi Utara, penghasilannya sampai puluhan juta karena tiap hari orang sana harus ada menu sambal. Jadi banyak yang beli.

Kebun lain yang menarik perhatian adalah kebun tamanan herbal yang ada pondoknya. Pengunjung bisa menginap sambil minum kopi. Contohnya adalah pusat wisata tanaman herbal arangania di Sulawesi Selatan.

Tantangan yang Dihadapi Komunitas Adat

Tantangan Eksternal

Untuk tantangan eksternal, mereka kerap mengalami perampasan wilayah adat, hutan ditebang, dibakar, dan lingkungannya dirusak untuk tambang, sawit, dan lain-lain.

Misalnya saja pada kasus pembangunan waduk di Rendu. Ibu-ibu dari masyarakat adat melawan. Mereka bukan menolak waduk. Tapi masalahnya adalah lokasinya. Area yang akan dibikin waduk  merupakan pemukiman, tempat ladang, dan tempat leluhur. Komunitas adat Rendu sudah memberikan alternatif tapi tidak didengarkan oleh pemerintah.

Tantangan lainnya adalah tidak diakuinya kepercayaan tradisional masyarakat adat. Ada pula pelecehan terhadap ritual/ adat istiadat mereka. Selain  itu, masih ada diskriminasi, marginalisasi terhadap komunitas adat.

Tantangan Internal

Untuk tantangan internal adalah masuknya modernisasi yang mulai merusak tatanan komunitas. Akibatnya, mereka menjadi mudah dipecah belah.

Orang papua barat

Perlu digaris bawahi bahwa bukannya masyarakat adat tidak boleh modern, punya televisi, kulkas, handphone. Akan tetapi yang terjadi adalah adanya barang-barang elektronik tadi justru membuat mereka menjadi individualistik. Akibat lainnya, keberadaan musyawarah adat menjadi berkurang.

Sebagai contoh nyata, cobalah sahabat ismi pergi ke kampung yang ada listrik tapi tidak ada sinyal. Bandingkan dengan kampung yang ada listrik dan ada sinyal. 

Di komunitas adat yang masih kuat ngumpul-ngumpulnya, masih sering bermusyawarah, maka akan sulit dipecah belah. Sedangkan yang sudah homogen, dan sudah banyak dimasuki arus modernisasi maka mudah dipecah belah. Dengan kata lain, salah satu aktivitas yang mempertahankan persatuan di komunitas adalah adanya musyawarah adat.

Termasuk dengan transmisi pengetahuan yang mulai tidak terjadi dari para tetua ke anak-anak muda. Karena kebanyakan dari mereka sudah pergi ke kota. Atau masing-masing sudah memegang handphone sehingga tidak ada waktu. Ada pula yang anak-anak mudanya tidak mau tahu lagi.

Tantangan internal lain adalah sistem atau tradisi di komunitas yang masih belum cukup berubah untuk lebih mengapresiasi peran perempuan terutama dalam pengambilan keputusan. Di AMAN, isu ini menjadi salah satu agenda besar. Mungkin tidak mengubah, tetapi membuat penyesuaian agar perempuan bisa lebih berperan

Sebenarnya, peran perempuan dalam masyarakat adat cukup banyak misalnya terkait tanaman obat-obatan. Termasuk menentukan musim berladang. Atau ada juga yang menjadi Dayak dukun  untuk mengobati manang (sakit yang berhubungan dengan roh jahat). Peran-peran di atas memang cukup banyak, tapi bukan dalam pengambilan keputusan.

Apa yang Diperjuangkan Masyarakat Adat?

UU tentang masyarakat tradisional

Hingga hari ini, belum ada RUU yang mendukung masyarakat adat. Statusnya masih di Prolegnas  (instrumen perencanaan program pembentukan UU yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis). Belum jadi UU. Padahal adanya UU ini sangat penting

Sebagai informasi, di seluruh Asia baru Filipina yang punya. Itupun masih ada kekurangannya, UU -nya bagus tapi implementasinya kurang. Kalau UU tentang masyarakat adat di Indonesia disahkan, maka bisa menjadi sejarah penting di dunia. Dan tentu saja bisa melindungi masyarakat adat di Indonesia.

Saat ini di Indonesia hanya ada UU sektoral No 32 tahun 2009 terutama terkait pengetahuan tradisional dalam mengelola lingkungan. Ada pula di UU tentang pulau-pulau kecil. Ada pula Permendagri No 52 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat. Akan tetapi UU nasional belum ada.

Potensi masyarakat adat

Saya percaya bahwa masyarakat adalah sudah melakukan lebih dari yang dibayangkan untuk melestarikan alam termasuk hutan. Sudah saatnya, kita sebagai bagian dari rakyat Indonesia turut memperjuangkan hak-hak masyarakat adat.

Terus terang, saya pribadi ingin banget bisa bertemu langsung dari mereka. Menimba ilmu tentang pangan, seni dan ladang. Menimba ilmu tentang merunduk pada alam.

Karena sesungguhnya manusia tidak boleh sombong. Kita diberi amanah untuk memimpin dunia termasuk memanfaatkan sumber daya alam. Akan tetapi tidak seharusnya kita bertindak semena-mena dan mengeksploitasi alam. Perlu siklus yang berkelanjutan agar alam tetap memberikan hasil terbaiknya. Caranya ya kita dulu yang menjaga mereka. Jaga alam dan masyarakat adat sang penjaga alam.

(Visited 128 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

30 thoughts on “Masyarakat Adat, Siapa Mereka dan Apa Yang Mereka Perjuangkan?

  1. Nurul Dwi Larasati Reply

    Ternyata masyarakat adat itu kontribusi buat alam banyak banget ya. Penjaga kondisi bumi sesungguhnya. Suku-suku yang ada di masyarakat adat otomatis membuat keadaan alam seimbang.

  2. tukang jalan jajan Reply

    Masyarakat adat adalah penjaga kelestarian lingkungan sih menurutku. Keberadaan mereka menyeimbangkan ekosistem dan menjaganya. Perlu ada UU yang bisa melindungi kepentingannya dari tangan tangan industri yang mulai membuka lahan

  3. Mei Daema Reply

    sehat selalu masyarakat adat di smeua wilayah hutan Indonesia, agar hutan ini tetap terjaga dan kembali membaik. saya pernah bertemu dengan beberapa masyarakat adat ini ketika saya ke Kalimantan. mereka begitu hebat menjaga hutan untuk keberlangsungan bumi dan termasuk membantu menyelamatkan manusia lainnya dari bencana

  4. Demia Reply

    Banyak banget kontrubusinnya untuk kelestarian alam yaa, semoga selalu diberikan kesehatan buat masyarakat adat, 🙂

  5. Sandra Reply

    Jadi inget bacaan di buku ensiklopedia deh emang sih ya mereka menjaga lingkungan dengan sangat baik, bersinergi melestarikan budaya dan alam bumi pertiwi

  6. Fenni Bungsu Reply

    Inspirasi dari masyarakat adat ini bisa kita contoh agar menjaga alam ini tetap terus dilakukan, karena kita bergantung dengan alam maka kita yang merawatnya

  7. Nadia fathiya Reply

    Masyarakat adat selalu menjaga kelestarian alam ya .. banyak kontribusi masyarakat adat ini untuk alam . Selalu sehat untuk mereka

  8. hallowulandari Reply

    memang yaa, mengesahkan uu prosesnya panjang dan lama banget. Padahal yg diperjuangkan masyarakat adat tuh salah satunya ttg wilayah adat dan hutannya, yang hal itu juga buat kebaikan lingkungan dan keberlangsungan manusia di masa mendatang ya

  9. Ida Raihan Reply

    Masyarakat adat, sangat patuh menjaga hukum adat dan alam, serta menjaga kelestarannya. Keren loh mereka itu. DUlu pernah bertemu dengan Baduy Banten. Semoga kelak bisa berkunjung lagi ke sana.

  10. Ida Raihan Reply

    Masyarakat adat sangat patuh pada hukum adat dan alam, serta menjaga kelestariannya. Keren mereka itu. Dulu pernah bertemu dengan Baduy Banten. Semoga kelak bisa ikut berkunjung lagi ke sana.

  11. nurrahmah widyawati Reply

    Modernisasi masyarakat adat memang menimbulkan pro kontra ya kak. Terutama untuk sisi kebersamaan dan adat istiadat yang harus lestari, apalagi segi alamnya. Patutlah berterimakasih dengan mereka karena telah menjaga alam tetap dalam keseimbangan ^^

  12. nurrahmah widyawati Reply

    Modernisasi masyarakat adat memang menimbulkan pro kontra ya kak. Terutama untuk sisi kebersamaan dan adat istiadat yang harus lestari, apalagi segi alamnya. Patutlah berterimakasih dengan mereka karena telah menjaga alam tetap dalam keseimbangan

  13. Annisakih Reply

    Kita harus Belajar banyak dari masyarakat adat. Bagaimana mereka bisa hidup selaras dengan alam sekaligus menjaga bumi ini tetap lestari. Salut juga dengan penggagas gerakan pulang kampung. Potensi cuan tetap besar meski di daerah sendiri dan tidak harus urbanisasi

  14. Dita Indrihapsari Reply

    Semoga ya makin banyak pemuda setempat yang bisa mengembangkan tanah adatnya dan bisa berdaya. Tanah diolah dan bisa menghasilkan, dari mereka untuk mereka… 🙂 Salut banget sama masyarakat adat yang melestarikan lingkungannya. Mesti banyak belajar sama masyarakat adat nih…

  15. Sugianto Reply

    Kontribusi masyarakat adat dalam menjaga lingkungan sangat besar. Apa yang mereka lakukan selalu berorientasi pada bagaimana alam bisa diwariskan pada anak cucu. Namun, sayangnya ada saja pihak yang masih mengedepankan kepentingan pribadi daripada kepentingan bersama.

  16. Happy Hawra Reply

    wah iya ya, suka sedih kalau liat tragedi-tragedi perampasan wilayah gitu. kadang liat di film juga jadi ngebayangin yang nyatanya. udah capek-capek menjaga tau-tau dirampas.

  17. Yanti Reply

    Populasi masyarakat adat harus dijaga sebaik2nya ya ka karena sangat berjasa untuk menjaga kelestarian alam dan juga budaya serta adat istiadat yang mereka terapkan dalam kehidupan sehari2 merupakan kekayaan Indonesia

  18. Katerina Reply

    Mbak Dian, aku fokus ke soal padi hasil ladang tahan sampai 7 tahun. Itu bener nyata mbak. Di daerah nenekku di Muaraenim Sumsel sana. Dulu orang bertanam padi di ladang. Sekali panen bisa buat bertahun-tahun dan berasnya itu awet, rasanya pun enak banget. Beda dengan padi sawah. Entah sekarang masih apa gak. Soalnya ladang-ladang padi dan sayur sudah berubah jadi kebun karet.

  19. Riri Reply

    Banyak juga ya kontribusi mereka untuk pelestarian hutan. Kalau ingat masyarakat adat, saya jdi teringat waktu bermalam di Baduy dalam, begitu banyak aturan bagi pendatang, salah satunya tidak boleh mandi menggunakan sabun/shampoo, sikat gigi pun tidak boleh menggunakan odol, yang ternyata untuk melindungi lingkungan mereka dari pencemaran bahan kimia.

  20. Riri Reply

    Keberadaan mereka berkontribusi banyak ya buat alam, jadi teringat saat saya backpakeran bermalam di Baduy dalam, saat itu banyak peraturan bagi pendatang. Salah satunya tidak diperbolehkan menggunakan sabun,shampo saat mandi,bahkan sikat gigipun dilarang menggunakan pasta gigi, selain karna peraturan adat yang harus ditaati, kalau kita cerna alasanya tentu karna takut mencemari lingkungan dari bahan kimia yang kita pakai.

  21. Ria Andika Reply

    Happy banget tahun ini 17 Agustus bisa semarak dengan aneka lomba dan kegiatan lainnya, setelah pandemi panjang akhirnya kita semua bisa merasakan kemeriahan merah putih

  22. Mpo Ratne Reply

    Masyarakat adat terbiasa hidup bebas turun menurun sehingga mereka perlu belajar dan beradaptasi buat menjaga alam. Tugas pemerintah dan volunteer buat membantu mereka dengan memberikan edukasi

  23. Ulfah Aulia Reply

    Nah, makin percaya sekarang mengapa sih masyarakat adat disebut penjaga bumi. Mereka memang sepenuhnya hidup di alam dan hutan yaa Mbak, mereka patut diapresiasi karena dah merawat dan menjaga bumi kita, sehingga kita masih diberikan udara yang segar jga

  24. Amir Reply

    Salut banget dengan masyarakat adat. Mereka yang secara langsung melindungi hutan sebagai sumber kehidupan makhluk bumi. 80% biodiversitas juga diamankan oleh masyarakat adat. Namun sayangnya mereka seringkali dikriminilasisasi padahal itu wilayah mereka. Jadi mari bersama-sama dukung RUU Masyarakat Adat terbentuk karena sudah lama banget belum jadi juga. Agar hak-hak mereka terpenuhi..

  25. Fenni Bungsu Reply

    Tantangan external sulit juga ya.
    Namun begitu tentu ada solusinya, apalagi dari masyarakat adat banyak menginspirasi kita untuk menjaga alam

  26. Lia Yuliani Reply

    Baru tahu kalau tanggal 09 Agustus kemarin diperingati sebagai Hari Masyarakat Adat. Memang Kita perlu mendukung mereka untuk memperoleh pengesahan RUU masyarakat adat karena masyarakat adat ada untuk menjaga kelestarian lingkungan

  27. Chocodilla Reply

    Memang banyak sekali yang merantau ke kota besar karena ingin mendapatkan pekerjaan. Padahal tak semudah itu, karena banyak pesaing sehingga akhirnya kerja tak jelas atau bahkan menjadi pemulung. Padahal kalau mereka di kampung halaman sendiri, sudah punya rumah dan ladang yang bisa digarap yang jika diolah dengan serius bisa menghasilkan uang yang lebih banyak.

  28. Dian Reply

    Selama ini masyarakat adat sudah menjaga kita dengan menjadi garda terdepan dalam menjaga hutan
    Sudah selayaknya kita membantu perjuangan masyarakat adat
    Semoga RUU masyarakat adat segera disahkan

  29. Nanik Kristiyaningsih Reply

    Bicara masyarakat adat, saya koq jadi ingat tradisi di Bali.
    Kalau kita mau jujur diantara modernisasi dan ekploitasi industri pariwisata yang terjadi di sana, Bali tetap asri dan alami. Kondisi ini tak lain karena perjuangan pemangku adat dan masyrakat adatnya yang juga menjadi orang pemerintah.
    Andai semua masyarakat adat di nusantara punya nasib sebaik masyarkat di Bali, ya kak?
    Mungkin hutan dan alam lebih lestari, tanpa eksplotasi berlebih.

Leave a Reply

Your email address will not be published.