Lakukan 7 Hal Ini Bila Berat Badan Anak Lambat Naik

Facebooktwittergoogle_plusredditmail

Berat badan anak lambat naik. Mempunyai anak dengan berat ideal dan sehat adalah keinginan setiap orangtua, tapi kadang hal tersebut tidak terjadi pada anak kita. Sehat sih, tapi geraknya yang super aktif jelas membuat kalori yang masuk tidak sebanding dengan kalori yang keluar. Atau bahkan ada yang anaknya sudah makan banyak tapi badannya segitu-gitu saja. Sebagai ibu, tentu hal itu mengusik naluri kita.

lakukan 7 hal ini bila berat badan anak naik lambat

Tanpa baper, 7 hal berikut ini dapat kita lakukan sebagai seorang ibu untuk mengatasi berat badan anak lambat naik.


1. Berikan makanan tinggi kalori

Ada anak yang nggak bisa makan banyak sekaligus. Perut mereka yang mungil kadang terasa penuh dengan beberapa suapan saja. Tapi beberapa jam kemudian mulai lapar lagi. Ibu dapat mengakalinya dengan memberikan makanan atau cemilan tinggi kalori. Seperti saya kutip dari dokter anak Najla, berikan makan besar 2 centong nasi 3x sehari, atau 1 centong tetapi 6x sehari, sementara sisanya siapkan cemilan dengan kalori tinggi seperti burger mini, perkedel daging, jus alpukat atau pisang. Saya sendiri tidak berpatok makan besar harus nasi. Ibu bisa menggantinya dengan karbohidrat lain seperti makaroni keju, jagung+mentega, atau ubi. Jadi anak juga tidak mudah bosan. Hindarkan makanan yang manis-manis, kriuk-kriuk, atau keripik yang mengenyangkan tetapi kosong gizi dan kalorinya.
Baca juga resep makanan booster berat badan anak.

2. Cek kurva pertumbuhan anak

Bila dengan makanan tinggi kalori berat badan anak masih belum naik dengan normal, Ibu dapat mengecek kurva pertumbuhannya. Pertumbuhan yang ideal dan baik, tidak hanya sekedar dilihat berat badannya saja, tetapi juga dilihat kurvanya, dengan membandingkan tinggi badan anak, berat lahir, serta grafik pertumbuhan selama hidupnya. Ibu dapat mempelajari kurva pertumbuhan anak dengan bertanya pada dokter atau browsing mengenai gworth chart WHO.

3. Cek adakah ADB (Anemia Defisiensi Besi)

Biasanya anak ASI mulai seret berat badannya setelah MPASI. Kandungan zat besi dalam asi memang menurun seiring bertambahnya usia bayi. WHO menyarankan pemberian suplemen zat besi sejak bayi ASI berusia 4 bulan atau 6 bulan. Bayi atau anak-anak dapat kekurangan zat besi bila kurang asupan/makanan yang mengandung zat besi. ADB juga rentan terjadi pada anak yang mengkonsumsi susu formula rendah zat besi dan bayi yang ibunya mengalami anemia ketika hamil.

Zat besi sendiri dibutuhkan untuk perkembangan sistem saraf dan pembuatan sel darah merah yang fungsinya mengangkut oksigen dan sari makanan ke dalam sel. Bayangkan bila anak kita kekurangan zat besi. Sel darah merahnya kurang dan pada akhirnya nutrisi yang masuk ke sel juga berkurang. Jelas bisa jadi berat anakpun kurang, atau berat badan anak lambat naik. Ibu bisa meminta dokter untuk memberi surat periksa laboratorium terkait kemungkinan ADB ini. Bila hasilnya positif, akan dilakukan pengobatan dengan resep dokter. Sementara untuk pencegahan, pemberian suplemen zat besi juga bisa dilakukan. Berikan juga makanan yang tinggi zat besinya seperti daging sapi, bayam, dan sayuran hijau lainnya. Lengkapi dengan pemberian makanan yang tinggi vitamin B seperti kacang hijau. Makanya kalau lagi posyandu, sering dibagi bubur kacang hijau ya=)

4. Bila ADB negatif, cek ISK (Infeksi Saluran Kemih)

Bila ADB negatif, ibu bisa meminta dokter untuk melakukan tes ISK. ISK pada anak sering tidak bergejala atau disebut sebagai ISK asimptomatik. Infeksi bisa terjadi bila anak masih memakai diaper atau bila area genital (kelamin) kurang bersih. Oleh karena itu, penting untuk mengganti diaper/popok tiap 4 jam baik penuh atau tidak penuh diapernya. Seperti saya rangkum dari website IDAI, pada bayi baru lahir, gejalanya tidak spesifik sehingga sering tidak ketahuan. Gejala tersebut antara lain kesulitan minum, tampak kuning, gagal tumbuh, muntah, diare, suhu tubuh turun atau meningkat. Kadang bayi juga tampak apatis atau tidak merespon lingkungannya (cuek).



Pada bayi berusia satu bulan hingga satu tahun, gejalanya dapat berupa demam, penurunan berat badan, gagal tumbuh, nafsu makan berkurang, cengeng, tampak kuning, kolik (kram perut), muntah, dan diare. Pada anak yang lebih besar, gejala penyakitnya lebih terlihat, seperti sakit ketika buang air kecil, anyang-anyangan, ngompol, air kencing keruh dan sakit pinggang. Selain itu, bisa juga terjadi mual, muntah, diare, demam tinggi disertai menggigil, yang kadang-kadang sampai kejang.

Bila Ibu curiga anak terkena ISK, mintalah dokter memeriksa air seni dan darah anak untuk memastikan. Jika hasilnya positif, dokter akan meresepkan antibiotik dan gejala pun hilang seiring sembuhnya infeksi. Tentunya berat badan anak akan naik dengan normal lagi.

5. Bila ADB dan ISK negatif, cek Flek

Sama seperti ISK, flek atau TB (tuberkulosis) pada anak juga sering tidak bergejala. Beda dengan orang dewasa yang gejalanya lebih khas (batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh lebih dari 2 minggu, berat badan turun drastis dan sebagainya). Pada anak, berat badan yang tak kunjung naik merupakan tanda yang harus diwaspadai. Biasanya juga disertai pembesaran kelenjar getah bening dibelakang telinga dan diagnosa ditegakkan dengan rontgen serta tes mantoux. Dokter akan menjumlahkan skor gejala-gejala di atas sebelum memutuskan anak terkena flek atau tidak.

Bila hasilnya positif, mau tak mau anak akan meminum antibiotik selama 6 bulan tanpa putus. Setelah 6 bulan, kenaikan berat badan yang normal adalah salah satu indikator keberhasilan pengobatan. Ibu tidak perlu cemas, karena infeksi TB/lazim disebut flek ini bisa sembuh. Yang perlu dicari justru dari mana anak memperoleh kuman TB. Karena kita tahu bahwa sebagian besar orang dewasa di Indonesia memang terinfeksi TB.

6. Bila semua penyakit negatif, perbaiki pola makan dan aktivitasnya

Nomor 6 ini menurut saya termasuk hal yang sulit dilakukan. Karena orangtua disarankan untuk memperbaiki pola makan dan aktivitas harian seperti tidur siang misalnya. Menurut ahli gizi, anak yang tidak dapat merasakan lapar, atau makan sambil bermain, rentan terhadap kejadian tidak lahap ketika makan dan menjadi picky eater. Soalnya saya sendiri mengalami hal ini. Makan sambil naik sepeda, nonton video, jelas membuat anak tidak konsentrasi saat makan. Dia tidak tahu kalau makan itu adalah kebutuhannya. Akibatnya, anak asyik beraktivitas tanpa menyadari sudah lapar dan saatnya makan. Tapi sebagai ibu, saya sepenuhnya sadar untuk mengubah pola ini diperlukan kesepakatan semua pihak. Ya nenek kakeknya kudu tega melihat cucunya lapar demi mau makan (batasi cemilan manis/susu sebelum waktu makan besar).

Anak tidak tidur siang, berpotensi terjadinya kelelahan yang mengakibatkan nafsu makannya berkurang. Berat badan anak lambat naik dikarenakan pola makan dan pola tidurnya yang berantakan tentu jadi kendala tersendiri. Anak kemungkinan ingin tidur tapi belum kenyang dan uring-uringan. PR besar nih untuk orangtua agar mengkondusifkan suasana siang hari agar anak dapat tidur siang teratur.

7. Doakan anak

Ini adalah resep jitu dari ayah saya. Karena sejatinya yang menggerakkan anak mau makan atau tidak adalah yang Maha Kuasa. Maka selain berikhtiar, kita juga harus selalu mendoakan anak. Tentunya dengan doa agar anak mau makan lahap, sehat selalu dan berat badannya naik sesuai usianya.ย Berat badan anak lambat naik pun dapat teratasi dengan doa yang rutin dan tulus dari orangtuanya.

Semua hal di atas sudah saya alami sendiri. Mulai memberi makanan berkalori tinggi, pemberian suplemen besi untuk pencegahan, hingga pengobatan flek selama 6 bulan dan mendoakan anak. Menjadi orangtua memang bukan pekerjaan mudah, bahkan ujiannya selalu ada. Mempunyai anak dengan berat badan rendah adalah salah satu ujian kesabaran dan pembelajaran tersendiri untuk orangtua. Berat badan anak lambat naik tentu membuat orangtua menjadi was-was.ย Semoga 7 hal di atas dapat bermanfaat sehingga anak-anak kita dapat bertumbuh dan berkembang dengan optimal.

(Visited 5,772 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditmail

27 Comments

  • Adriana Dian March 14, 2016 Reply

    Waaaaah berguna banget nih untuk aku. Kebetulan anak aku susah naik BB nya. Makasi sharingnya ya Maaaakkkk

  • rani yulianty March 14, 2016 Reply

    Fathan suka banget makan yang manis-manis, hiksss… dulu pernah flek juga di paru-parunya, makasih tipsnya ya, mak

  • Julia March 14, 2016 Reply

    Anakku makannya tergantung mood Mba’, kalo pas lagi lahap ya lahap, lagi males ya males. Cuma seringnya pas males,heu heu.
    Tapi berat badannya normal, cuma naiknya tiap bulan cuma 1 atau 2 ons.. ๐Ÿ˜€
    Makasih sharingnya Mba’.. ๐Ÿ™‚

  • nova violita March 14, 2016 Reply

    banyakin..kalori ya..mba..
    anakku susah banget mo dikasi alpukat…. apalagi bentuk jus..dilepehin deh..

    • dian.ismyama March 18, 2016 Reply

      Mgkn alpukatnya pahit mba..harus ekstra ditambah macem2 kalo alpukat

  • Ririe Khayan March 14, 2016 Reply

    Dulu ada keponakanku yg BBnya susah naik, akhirnya ketahuan klo ada flek.

  • kopisusu March 14, 2016 Reply

    Yang no. 7 itu dalem banget Maak … aku tertohok :'(

  • Grace Melia March 16, 2016 Reply

    Kurang lebih sama kayak postinganku yang berjudul Tips Menambah Berat Badan Anak, tapi poin Mak Dian no 7 makjlebh, aku lupa nulis. Berdoaaa. Hahaha. Makasi mak reminder nya :*

    • dian.ismyama March 18, 2016 Reply

      Oh ya mak?malah lupa saya udah pernah baca blm ya postingan mak grace yang itu?meluncur ah.iy,berdoa itu yg selalu ngingetin bapakku

  • andyhardiyanti March 16, 2016 Reply

    Saya dulu pernah kena TB saat hamil mbak, jadi begitu si anak lahir langsung minum obat selama 6 bulan. BBnya naik. Tapi saat usia 1 tahun ke atas hingga sekarang beratnya termasuk rendah dibanding seumurannya. Sudah periksa ke dokter, tapi Alhamdulillah tidak sakit apa-apa.

    Sepertinya perlu diperbaiki pemilihan makanannya nih dan itu poin nomor 7, aih…kok malah itu yang terlupakan ๐Ÿ™

    Terima kasih sudah mengingatkan ya mbak ๐Ÿ™‚

    • dian.ismyama March 18, 2016 Reply

      Wew,pas hamil kena TB?tentang pola makan memang ga mudah mengubahnya.saya pun mengalami.sm2 mba poin no 7 memang kadang terlupakan ya

  • Yulia March 17, 2016 Reply

    Anak2 itu kertas putih para orang tuanya. Klo sya n suami n neneknya sudah komitment dari lahir dia sudah belajar disiplin. Makan di kursi dan tepat waktu sehari 3x, tidur siang mulai jm 1 smp jm 4. Tidur malam paling telat jm 10. Beri makanan sehat, utamakan buatan sendiri. Alhamdulillah anak2 sudah terbiasa, memang sulit mengatur anak2 yg skrng mulai sok tahu. Alhamdulillah BB n tinggi badan sesusai dengan usianya.

    • dian.ismyama March 18, 2016 Reply

      Iya mba.enak kalo yang seluruh anggota keluarga bisa komit kayak gitu.sebagian besar nggak tega

  • Prima Hapsari March 21, 2016 Reply

    Makasih tips nya Mak DIan, anak ku yg pertama juga langsiiiing, beda ama adiknya yg ndut, coba praktekin sering ngasih cemilan tinggi kalori nih

  • Turis Cantik May 2, 2016 Reply

    Saya save ah tipsnya makasih mbak

  • Dina March 13, 2017 Reply

    Mba Dian normalnya brp gram kenaikan bb anak usia dibawah 1 thn dalam sebulan? Anak ku setiap bulan naiknya dikit sekali cuma 1ons smp 2 ons.

    • dian.ismyama March 13, 2017 Reply

      Ada Mbak di KMS anak, seingetku kalo diatas 6 bulan memang 100-200ons

  • zian December 16, 2017 Reply

    anak saya 3 tahun 6 bulan beratnya masih 12an gt tinggi 95…kalau makan sih ya makan aja..itu masih normal ajakah

  • Finda January 22, 2018 Reply

    Maaf bun mau tanya, klo cek semua ini ke DSA habis brp ya bun?.

    • dian.ismyama January 23, 2018 Reply

      Beda-beda Bun, tergantung tes apa saja. Coba langsung tanya ke RS yang bersangkutan. Kalau untuk biaya konsultasi DSA rata-rata sama ya, 100-150 ribu rupiah, tapi biaya cek lab, cek mantoux itu yang bisa beda tiap RS

Leave a Reply

error: Content is protected !!