Kesempatan Kerja Bagi Mantan Penderita Kusta, Pentingkah?

Facebooktwitterredditmail

“Semua manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan baik, sempurna, dan memiliki derajat yang sama.” 

Kalimat tersebut disampaikan oleh Pak Angga Yanuar dalam program Ruang Publik KBR dengan tema “Memberikan kesempatan kerja bagi disabilitas dan orang yang pernah mengalami kusta? Kenapa tidak!” Pesan Pak Angga begitu dalam agar kita sebagai masyarakat tidak membedakan sesama manusia hanya karena ia pernah menderita sakit, atau mengalami disabilitas.

Orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) mendapat berbagai macam stigma selama hidupnya. Walaupun sudah berobat dan sembuh dari kusta, banyak dari mereka yang mengalami diskriminasi. Salah satu contohnya dalam hal pekerjaan. OYPMK susah mendapatkan pekerjaan. Padahal mereka membutuhkan mata pencaharian agar dapat hidup dengan layak.

Apakah kusta bisa sembuh

Oleh karena itu, Ruang Publik KBR mengelenggarakan diskusi di youtube Berita KBR dengan mengundang berbagai narasumber, yaitu Angga Yanuar – Manager Proyek Inklusi Disabilitas NLR Indonesia, Zukirah Ilmiana – Owner PT Anugrah Frozen Food, dan Muhamad Arfah – Pemuda OYPMK.

Apa yang dapat dilakukan untuk membangun kemandirian OYPMK termasuk penyandang disabilitas lainnya? Dan bagaimana cara untuk membuka kesempatan kerja bagi mereka? Jawaban dari pertanyaan tersebut akan teman-teman dapatkan dari artikel ini.

Apa Sih Kusta Itu?

Kalau mendengar tentang kusta, apa yang ada di benak teman-teman? Penyakit kutukan kah? Penyakit kulit yang menular dan enggak bisa sembuh?

Apakah kusta penyakit kutukan

Tanda awal kusta yaitu munculnya bercak putih atau merah yang mati rasa. Gejala lainnya adalah terjadinya penebalan saraf, pembengkakan yang bisa ditindak lanjuti secara medis oleh dokter.

Apa itu eliminasi kusta

Sebagai informasi, Indonesia masih menduduki peringkat 3 dunia untuk kasus terbanyak kusta setelah India dan Brazil. Indonesia pernah mencapai eliminasi tahun 2000, kasus kusta baru tidak lebih dari 1/ 10.000 penduduk. 

Kusta adalah penyakit infeksius yang disebabkan oleh bakteri. Kusta termasuk dalam kategori penyakit tropikal yang terabaikan, karena mengalami banyak tantangan ketika akan dielimasi. 

Kusta merupakan penyakit kulit yang jika tidak segera dilakukan penanganan akan mengakibatkan kondisi disabilitas. Hal ini terjadi karena kusta menyerang saraf tepi dimana fungsi sensorik, motorik, dan saraf-saraf otonom akan terpengaruh. Kusta yang tidak diobati bisa mengakibatkan deformitas atau kelainan struktur tubuh, dan mempertinggi tingkat disabilitas pasien.

Organisasi eliminasi kusta
Atas kiri: moderator, kanan: Pak Angga. Bawah kiri: Mas Arfah, kanan: Mbak Zukirah

Pak Angga menyampaikan data bahwa tren kusta sebenarnya cenderung menurun. Pada tahun 2000- 2002 kasus kusta di Indonesia masih di angka 20000-an, tetapi mulai 2015- sekarang kasus baru sudah menurun menjadi 15000-17000 secara nasional.

Penyebaran kusta masih ada di sembilan provinsi. Dua-tiga tahun ke belakang, ada beberapa provinsi yang masih cukup tinggi kasus kustanya, yaitu di Papua, Sulawesi Selatan, NTT, Jawa Timur, dan Sumatera Barat.

Stigma yang Dialami Penderita Kusta

Kusta merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan stigma. Bentuk stigmanya antara lain stigma diri atau internalisasi. Stigma diri adalah stigma yang dialami oleh pasien kusta karena mengidap kusta merupakan penyakit yang tidak menyenangkan. 

Stigma kusta

Mas Muhamad Arfah selaku OYPMK menceritakan tentang stigma yang pernah dirasakan saat pengobatan kelas 3 SMP. Saat itu wajahnya putih gosong belang-belang. Stigma yang dialaminya antara lain diejek oleh teman-teman. Diejek monster, roti gosong sehingga membuat Arfah jarang ke sekolah. 

Sekarang kulitnya sudah membaik, sudah berani testimoni di depan penderita kusta. “Kita bisa sembuh, dan kita punya kelebihan masing-masing,” kata Mas Arfah saat memotivasi teman-teman penderita kusta.

Tentunya, saya dan teman-teman tidak mau pem- bully- an dan stigma terhadap OYPMK terus terjadi. Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat?

Perlu diketahui bahwa sumber pem- bully -an berasal dari tiga hal yaitu pribadi, masyarakat, dan institusi.

Sebagai masyarakat, yang bisa teman-teman lakukan antara lain:

  1. Menjaga konsep bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang semuanya baik, semuanya sempurna, dan memiliki derajat yang sama.
  2. Membaca atau membekali diri terkait kondisi tertentu yang dialami oleh OYPMK
  3. Mendorong atau melakukan komunikasi publik sehingga memunculkan kebijakan-kebijakan yang mendukung pengurangan stigma dan peningkatan rasa percaya diri penyandang disablitias dan OYPMK.

Saat diskusi Ruang Publik KBR, Mas Arfah juga menyampaikan tips agar OYPMK bisa tegar saat di- bully, yaitu selalu berpikir pasti bisa, kuat, dan semangat dalam melanjutkan pengobatan. Penderita kusta jangan mengurung diri dan tetap percaya diri. 

Selain itu, dukungan keluarga amat penting. Mas Arfah bisa sampai di titik ini karena dukungan orang-orang yang menyayanginya. Jadi, kalau ada keluarga teman-teman yang menderita kusta, plis jangan dijauhi apalagi di- bully. Bantu dia, dukung dia, agar bisa sembuh total.

Peningkatan Kepercayaan Diri OYPMK

Pak Angga sebagai Manager Proyek Inklusi Disabilitas NLR Indonesia menyampaikan bahwa penerimaan diri dan kepercayaan diri OYPMK perlu ditingkatkan. Nah, apa yang bisa dilakukan agar OYPMK menjadi lebih percaya diri? Menurut Pak Angga, ada dua hal yang dapat dilakukan, yaitu:

  1. Meningkatkan motivasi secara khusus kepada tiap individu OYPMK. OYPMK juga dapat meningkatkan kapasitas atau keahliannya agar lebih percaya diri.
  2. Meningkatkan kesadaran masyarakat kepada OYPMK (masyarakat perlu membekali diri dengan pengetahuan yang cukup agar memandang penderita kusta dan OYPMK, dan menghilangkan persepsi negatif terhadap kusta)

Oleh karena itu, NLR hadir dalam mempersiapkan OYPMK dengan pembekalan keterampilan yang dibutuhkan khususnya di bidang organisasi non pemerintah.

NLR juga meningkatkan kualitas komunikasi dan kemampuan interpersonal teman-teman OYPMK.  Salah satunya dengan program magang. Kegiatan pemagangan terdekat ada di bulan Juli dan Agustus 2021. Akan ada tiga orang kandidat yang akan dipilih. 

Saat ini sudah ada 21 pelamar, tapi karena keterbatasan, NLR hanya bisa memilih 3 orang untuk belajar manajemen perencanaan dan pengelolaan proyek; administrasi dan pengelolaan keuangan; mobilisasi sumber daya dan penggalangan dana. Tiga hal tersebut merupakan keahlian dasar yang harus dimiliki di lembaga swasta non pemerintah sehingga NLR mengambilnya sebagai belajar  untuk OYPMK yang akan magang.

Bagaimana cara mencegah penyakit kusta
Mas Arfah, pemuda OYPMK

Mas Arfah sendiri merupakan OYPMK yang pernah magang di bagian administrasi satpol PP Makasar. Ia bercerita tentang tantangan atau kendala yang pernah dihadapi saat magang yaitu masalah transportasi dan jarak dengan rumah sangat jauh sehingga sering terlambat.

Membuka Kesempatan Kerja Bagi OYPMK

Apakah mungkin OYPMK bekerja di masyarakat? 

Jawabannya, sangat mungkin. Sebenarnya, sudah ada peraturan dari pemerintah yaitu PP No 60 tahun 2020 bahwa semua perusahaan wajib mempekerjakan penyandang disabilitas sebanyak 1% di perusahaan swasta, dan 2% di lingkungan negeri/ aparatur sipil negara. 

Bagaimana implementasinya? Harusnya ada mekanisme sanksi atau reward. Terkait pula dengan budaya, karena di perusahaan ada 100 lebih orang, apakah sudah aware atau memahami isu disabilitas? Ketika ada 2 pekerja disabilitas, apakah karyawan lain akan menolak atau sebaliknya?

Pak Angga menyatakan banyak pekerjaan cocok untuk penyandang disabilitas, meskipun di beberapa hal perlu melakukan penyesuaian. Misalnya keberadaan kubikel di perusahaan, biasanya tempat berjalan antar kubikel cukup sempit sehingga menyulitkan penyandang disabilitas.

Bidang pekerjaan yang digeluti oleh penyandang disabilitas khususnya OYPMK, umumnya adalah pekerjaan yang masuknya tanpa seleksi, tidak memerlukan background edukasi tertentu, dan bekerja secara sendiri (tidak bekerja dalam tim). Misalnya juru parkir, jualan makanan, dll.

Hal apa saja yang harus dipersiapkan oleh perusahaan jika mau menerima atau memberikan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas/ OYPMK?

Persiapan tergantung siapa disabilitas yang bekerja. Misalnya penyediaan bidang miring untuk menghubungkan dua tempat yang berbeda. Selain itu, handle pintu yang bulat sebaiknya dihindari karena tidak akan bisa diakses oleh OYPMK yang mengalami deformitas di telapak tangan. Beberapa alat perlu disediakan jika menerima disabilitas tuna netra misalnya.

Sansori, motorik, dan saraf otonom OYPMK juga kurang berfungsi dengan baik, sehingga perusahaan perlu memperhatikan sarana keamanan. Misal dipekerjakan di tempat yang suhunya tinggi, maka perlu diberikan sarung tangan, sepatu safety untuk perlindungan. Karena apapun yang disentuh tidak dapat dirasakan oleh sebagian pasien kusta dan OYPMK.

Bagi penyandang disabilitas atau OYPMK yang mencari pekerjaan, mereka bisa membuka platform berbasis web seperti kerjabilitas, dan disabel yang mempertemukan penyandang disabilitas dengan pemberi kerja.

Selain itu, di perusahaan tertentu dan dinas tenaga kerja kabupaten kota, ada unit layanan disabilitas di dunia pekerjaan seharusnya ada informasi tentang lowongan pekerjaan untuk penyandang disablititas. 

Testimoni Pemberi Kerja OYPMK

PT Anugrah Frozen Food di Bulukambah merupakan salah satu perusahaan penerima magang disabilitas dalam Program Kerja Inklusif/KATALIS yang diinisiasi oleh NLR Indonesia bersama mitra organisasi di Sulawesi Selatan. 

Apa penyebab terkena penyakit kusta
Mbak Zukirah, owner PT. Anugerah Frozen Food

Sebagai owner PT Anugrah Frozen Food, Mbak Zukirah memandang kusta sebagai penyakit kulit yang selama ini dianggap buruk oleh masyarakat. Stigma negatif menjadi perilaku diskriminatif yang dialami pasien. Isu ini tidak boleh didiamkan saja.

Akibat adanya stigma negatif, penderita kusta menjadi menyembunyikan penyakitnya dari lingkungan, karena takut dikucilkan. Seharusnya sebagai masyarakat tidak perlu merespon terhadap isu tersebut. Seharusnya kita memberi respon positif terhadap OYPMK, termasuk kepada penyandang disabilitas.

Diskriminasi OYPMK melahirkan ketidakadilan, kesenjangan, dalam pemenuhan hak-hak penderita kusta dan penyandang disabilitas. Ditambah lagi adanya pemikiran bahwa kesejahteraan OYPMK dan penyandang disabilitas hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Sosial saja. Padahal sebenarnya ini adalah tanggung jawab seluruh masyarakat.

Mbak Zukirah bercerita bagaimana awalnya OYPMK diterima magang di perusahaannya. Ternyata,  OYPMK tersebut sudah mendaftar di beberapa perusahaan, tetapi semuanya menolak.

Salah satu penyandang disabilitas menemui Mbak Zakirah agar dapat menerima OYPMK tadi. Mbak Zakirah menerimanya, dan ternyata OYPMK tadi sangat membantu pekerjaan di perusahaan. 

Sebagai informasi, saat ini baru satu pemagang di PT Anugrah Frozen Food. Tapi Mbak Zakirah tidak menutup kemungkinan untuk menambah penyandang disabilitas atau OYPMK bekerja di perusahaannya. Ia percaya bahwa selama penyakit tidak berat dan OYPMK percaya diri, sebenarnya secara potensi dan kemampuan, OYPMK bisa bekerja dengan baik. Bahkan secara skill, karyawan penyandang disabilitas lebih cepat tanggap sewaktu diajarkan.

Mbak Zukirah membuat kebijakan atau aturan khusus perusahaan terkait disabilitas misalnya penggunan bahasa yang diubah, contoh bukan cacat atau tidak normal tapi disabilitas.  

Orang yang pernah mengalami kusta

Apakah kusta merupakan penyakit keturunan

Bagaimana dengan reaksi karyawan lain di PT Anugrah Frozen Food? Ternyata, OYPMK tidak dibedakan, diperlakukan sama. Fasilitas yang didapatkan juga sama.

Tantangan yang dihadapi justru dari pelanggan, cara pelanggan menatap karyawan disabilitas. Cara menatapnya sinis, atau bertanya ke owner siapa yang menjadi kasir sehingga Mbak Zakirah harus menjelaskan ke pelanggan. Kejadian tersebut justru menjadi tantangan bagi Mbak Zukirah agar stigma negatif bisa lepas dari OYPMK.

Nah, gimana menurut teman-teman? OYPMK layak kan mendapatkan kesempatan kerja? Kalau iya, ayo dukung OYPMK agar lebih percaya diri. Mulailah dengan tidak memberikan stigma negatif terhadap OYPMK, dan bantu mereka agar bisa meningkatkan keahliannya sehingga bisa bekerja di masyarakat.

(Visited 105 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

4 thoughts on “Kesempatan Kerja Bagi Mantan Penderita Kusta, Pentingkah?

  1. Okti Li Reply

    Mereka oypmk juga manusia. Jelas dong butuh kerja karena hak mereka sebagai WNI yang dilindungi UUD
    Karena itu OYPMK harus membekali diri dengan berbagai skill sehingga bisa bekerja. Lama-lama juga masyarakat akan menerima. Apalagi kalau kerjanya disiplin dan tekun…

  2. Mer Reply

    Masyarakat kita umumnya sulit menerima fenomena ganjil dilingkungan, apalagi menemukan penyakit yg ‘asing’. Ini perlu edukasi kpd masyarakat. Sangat bersykur jika ada orang baik yg memberikan kesempatan bekerja.

  3. Kangamir.com Reply

    Kasian banget kalau ada orang sampe dibully dan dikucilkan. Padahal mereke seperti itu bukan karena keinginannya. Penyandang disabilitas juga manusia yang butuh nafkah hidup. Jadi sebaiknya jangan ada beda antara yang beruntung dengan yang kurang beruntung. Yang penting hasil kinerjanya seperti apa di tempat kerja.

  4. Diaz Bela Reply

    Setiap orang di dunia ini memiliki kesempatan yang sama untuk memiliki pekerjaan. Sebuah insight baru juga nih buat aku kalau ada diskriminasi bagi OYPMK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *