Fakta dan Mitos Kebakaran Hutan dan Lahan

Facebooktwitterredditmail

Kebakaran hutan dan lahan, yuk cari tahu mitos dan faktanya.

Karhutla penyebabnya apa?

“In the jungle, life and food depend on keeping your temper.”

(Di hutan, hidup dan makanan bergantung pada bagaimana menjaga perangaimu) -Rudyard Kipling

Kapan terakhir kali ke hutan? Saya sudah lama sekali. Kalau hutan buatan sih pernah ke sana tahun 2022 ini. Tapi hutan belantara, duh sangat jarang. Mungkin karena saya tinggal di Pulau Jawa, jadi jarang ketemu hutan ya. Atau ya belum berkesempatan saja menjelajah hutan dan isinya.

Malah terakhir mendengar kabar tentang hutan, dari televisi. Bukan berita baik, karena saat itu televisi mengabarkan berita menyedihkan yaitu asap akibat karhutla (kebakaran hutan dan lahan), pada tahun 2019.

Asapnya sampai menyeberang ke negara tetangga sehingga mengakibatkan ketegangan dengan negara lain tersebut. Tak hanya itu, warga sekitar terkena ISPA karena menghirup asap. Mereka juga tidak bisa berangkat sekolah karena jarak pandang yang pendek.

Waktu nonton beritanya, ya Allah, beneran udara jadi putih penuh asap. Jurnalis yang membawakan beritapun harus pakai masker. Karena kalau enggak ya bisa batuk-batuk.

Nah, Jumat 10 Juni 2022 kemarin saya mengikuti Online Gathering dengan tema Fakta Kebakaran Hutan dan Lahan yang diadakan Eco Blogger Squad dengan narasumber dari Auriga Nusantara.

Karhutla salah siapa?

Temanya menarik banget, kan? Langsung membawa ingatan saya pada kejadian asap akibat karhulta yang saya tonton di televisi beberapa tahun lalu. 

Narasumber dari Auriga Nusantara adalah Kak Cecilinia Tika Laura, selaku Spatial and Landscap Specialist Auriga Nusantara. Kak Cecil bekerja menganalisis luasan hutan di Indonesia dan per pulaunya. Selain itu, juga menganalisis kebakaran untuk mengetahui berapa luasnya saat kejadian, berapa area yang terbakar, dan dimana sebenarnya kebakaran terjadi.

Kak Cecil mengungkapkan fakta kalau ternyata karhulta tahun 2019 adalah salah satu yang paling mengkhawatirkan selama dua dekade terakhir. Wah! Pantas saja saat itu beritanya heboh.

Data pemerintah menunjukkan bahwa luas hutan dan lahan yang terbakar sebesar 1,6 juta hektar. Sebagai informasi, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.

Sahabat ismi cek yuk, mitos dan fakta terkait karhutla, terutama di Indonesia.

Mitos dan Fakta Terkait Karhutla

Mitos kebakaran hutan

 

1. Mitos: Penyebab karhutla adalah El Nino (kemarau panjang).

Fakta: Kebakaran terus terjadi bahkan di tahun-tahun tanpa kemaran panjang.

Dengan kata lain, penyebab utama yang lebih valid adalah ulah manusia! Hiks, sedih ya. 

2. Mitos: Luas karhutla menentukan tingkat bahayanya.

Fakta: Luas area krhutla tahun 2019 lebih kecil dibanding empat tahun sebelumnya, tapi sama bahayanya.

Pada tahun 2015, luas hutan dan lahan yang terbakar mencapai 2.611.411 hektar. Sedangkan karhutla 2019 seluas 1.649.258 hektar. Tapi ternyata karhutla tahun 2019 justru melepaskan 708 juta ton emisi gas rumah kaca (CO2 e). Jumlah ini hampir 2x lipat leih besar daripada kebakaran di sebagian Amazon, Brazil (CAMS, 2019). Beberapa emisi harian tahun 2019 bahkan melebihi emisi tahun 2015.

3. Mitos: Karhutla hanya berdampak pada tumbuhan dan satwa di hutan

Fakta: Dampak karhulta sangat luas, termasuk kesehatan manusia, pendidikan, hingga lingkungan.

Akibat dari kebakaran hutan

Pada kebakaran hutan tahun 2015, sebanyak 24 orang meninggal dunia, dan 600 ribu lainnya menderita ISPA. Diantaranya termasuk bayi yang menderita batuk flu, sesak napas dan muntah.

Bagaimana dampaknya pada pendidikan? Sebagai informasi, karhutla 2015 mengakibatkan 1,5 juta murid tertinggal pelajaran. Sementara itu, karhutla 2019 mengakibatkan lebih dari 46.000 sekolah memiliki kualitas udara buruk (data UNICEF).

Dampak karhutla pada satwa dan tumbuhan jangan ditanya. Dari foto di bawah ini, sahabat ismi bisa melihat nasib orang utan Kalimantan yang harus dievakuasi karena hutan di Pulau Salat, Palangka Raya terbakar dan penuh kabut asap. 

Kenapa kebakaran hutan terjadi?

Bahkan ada anak gajah yang terjerat karena warga sekitar tidak mau pemukimannya dimasuki oleh satwa liar. Padahal hewan-hewan tersebut masuk ke pemukiman karena hidup dan makanannya terganggu akibat karhutla. Seperti kata Rudyard Kipling yang saya tuliskan di atas, perangai manusia telah merenggut kehidupan para hewan dan tumbuhan di hutan.

4. Mitos: Karhutla selalu terjadi pada area baru. 

Fakta: Faktanya, karhutla terjadi secara berulang. Di kabupaten yang sama, pada bulan yang sama. Selain itu, muncul pula fenomena episentrum api baru.

Bulan apa karhutla di Indonesia?

Misalnya saja karhutla yang terjadi di Riau (proporsi hotspot 19%). Di Riau, tiap tahunnya terjadi 2 gelombang api, yaitu Januari- Maret (di 6 kabupaten) dan Mei-September (di 8 kabupaten). Untuk detail contoh lain bisa sahabat ismi lihat pada gambar di atas.

Mitos dan fakta kebakaran hutan

Data lain menyatakan bahwa area yang mengalami kebakaran berulang sama banyak dengan area kebakaran baru. Meskipun ada tahun-tahun dimana wilayah kebakaran baru lebih luas dibanding wilayah yang mengalami kebakaran berulang.

Adanya titik api, sebenarnya bisa menjadi cara untuk dilakukan pencegahan agar karhutla tidak terjadi berulang di tempat yang sama. Tapi jika ternyata hutan dan lahan sengaja dibakar oleh manusia, maka pencegahan tampaknya akan sulit diwujudkan.

Pentingnya Lahan Gambut dan Hubungannya dengan Karhutla

Gambut adalah jenis lahan basah yang terbentuk dari timbunan material organik berupa sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut dan jasad hewan yang membusuk di dalam tanah. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam Permen LH No.7/2006 menjelaskan tanah gambut yaitu tanah hasil penumpukan bahan organik melalui produksi biomassa hutan hujan tropis.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki lahan gambut yang luas. Luas lahan gambut di Indonesia diperkirakan mencapai 22,5 juta hektar. Persebaran lahan gambut di Indonesia antara lain di pulau Sumatera, Kalimantan, Papua serta sebagian kecil di Sulawesi.

Proses pembentukan gambut di wilayah tropika dimulai dari adanya genangan di daerah rawa, danau maupun cekungan yang diikuti dengan curah hujan tinggi sehingga proses pencucian basa-basa dan pengasaman tanah berlangsung intensif

Proses tersebut dilanjutkan dengan penurunan aktivitas jasad renik perombak bahan organik. Gambut yang terbentuk di daerah rawa belakang sungai terisi oleh limpahan air sungai yang membawa bahan erosi dari hulunya. Akibatnya timbunan gambut bercampur dengan bahan mineral. Campuran tadi disebut sebagai gambut topogen yang umumnya relatif subur.

Fungsi gambut tentu saja amat banyak. Menurut brgm.go.id, salah satunya adalah kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah besar yaitu hingga 30 persen jumlah karbon dunia. Tujuannya agar karbon tersebut tidak terlepas ke atmosfer.

Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan gambut memiliki fungsi untuk mencegah perubahan iklim, bencana alam, hingga menjadi penunjang perekonomian masyarakat sekitar.

Gambut juga penting bagi masyarakat yang memanfaatkan ekosistemnya . Hal ini disebabkan karena gambut dekat dengan perairan seperti sungai, rawa, atau laut, untuk kegiatan perikanan.

Perlu sahabat ismi ketahui bahwa ciri lahan gambut dapat berubah akibat adanya tindakan manusia seperti pembukaan lahan, pembuatan saluran drainase, penambangan dan tentu saja pembakaran lahan.

Lahan gambut yang rusak dan kering rentan terhadap karhutla. Bahkan jika terlanjur terjadi, kebakaran di lahan gambut akan sulit untuk dipadamkan karena api yang menyala berada di bawah tanah.

Proses pembentukan gambut

Inilah yang terjadi di Indonesia. Sebagian besar titik panas selama 20 tahun terakhir berada di lahan gambut. Terutama di Kalimantan Tengah, Riau, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Papua. Hal ini mengakibatkan karhutla di Indonesia semakin sulit dipadamkan. Api menjalar di perut gambut dan memicu bencana asap.

Gambut memang memiliki tipe kebakaran yang unik. Karena api masuk ke dalam tanah. Makanya sering tidak terlihat ada apinya. Lau bagaimana cara mendeteksinya? Untuk mendeteksi kebakaran di lahan gambut, terus terang cukup susah. Harus ada warga atau petugas yang sering patroli. Cek di lahan gambut tersebut sudah berhenti belum kebakarannya.

Data menyatakan bahwa pada tahun 2019, seluas 1,65 juta hektar hutan dan lahan terbakar. Dari total luas kebakaran 2015-2019, sekitar 2 juta hektar berada dalam Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) dengan 60% diantaranya (1,6 juta hektar) berada di fungsi lindung gambut.

Studi Kasus Kebakaran Hutan dan Lahan

Beberapa studi kasus yang dilakukan oleh Airuga Nusantara menggambarkan terjadi pengeringan lahan gambut, kebakaran gambut, lalu diikuti dengan penanaman akasia/ tanaman baru di area kebakaran. Ada pula yang diawali dengan Pembukaan lahan, kebakaran, dan diakhiri dengan penanaman sawit di area kebakaran.

Studi kasus di atas jelas menunjukkan bahwa penyebab utama karhutla yang terjadi di Indonesia merupakan ulah manusia. Bukan kemarau panjang yang selama ini digembar-gemborkan.

Yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan

Lalu, apa yang bisa sahabat ismi lakukan agar dapat berpatisipasi dalam pencegahan karhutla?

  1. Tulis atau buat konten di media sosial dan blog

Di era digital ini, saya percaya dengan kekuatan nitizen. Konten viral di media sosial, atau tulisan bermakna dari sahabat ismi tentang karhutla, diharapkan bisa membuka mata banyak orang.

Syukur-syukur ada pihak yang berkepentingan/ stakeholder yang membaca/ menonton konten tersebut. Tentunya, tetap gunakan bahasa yang bijak, tidak hoax apalagi menyinggung SARA.

  1. Donasi untuk pencegahan karhutla

Selain bercuit di media sosial, sahabat ismi bisa turut serta berdonasi untuk menjaga hutan dan mencegah karhutla. Umumnya donasi ini akan digunakan untuk membantu masyarakat sekitar dalam membuat sekat bakar. Tujuannya agar karhutla tidak menyebar kemana-mana. 

Selain itu, bisa pula mendanai patroli yang dilakukan oleh warga atau pihak swasta. Sahabat ismi bisa berdonasi ke WWF Indonesia, Greenpeace Indonesia, dan organisasi-organisasi lainnya yang bergerak dalam bidang perlindungan lingkungan, satwa atau tumbuhan.

Semoga tulisan saya ini bermanfaat ya untuk sahabat ismi. Setidaknya jadi tahu mitos dan fakta tentang karhutla. 

Referensi:

Pemaparan narasumber dari Auriga Indonesia.

https://lindungihutan.com/blog/gambut-adalah-jenis-dan-ciri-lahan-gambut/

(Visited 103 times, 2 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

11 thoughts on “Fakta dan Mitos Kebakaran Hutan dan Lahan

  1. Uniek Kaswarganti Reply

    Ternyata gitu ya penjelasannya kenapa kebakaran yang terjadi di lahan gambut susah banget diatasi. SEkalinya kebakaran, apinya masih terperangkap di bawah tanah. Miris juga ya kalau ingat jaman karhutla terjadi di banyak tempat. Banyak orang yang terkena ispa, semua sisi kehidupan terganggu gara2 karhutla ini.

  2. Mugniar Reply

    Luas lahan yang terbakar sampai sejutaan lebih hektar … ya Allah, luas sekali itu. Pasti dampaknya besar banget tahun 2019 itu. Semoga tidak terulang lagi.

  3. Husnul Khotimah Reply

    Saya juga gak pernah ke Hutan mbak, tapi kalau ke rumah Mertua di Kalimantan, pasti sih lewatin hutan hutan 😁. Ternyata.. separah itu bahaya Karhutla ya mbak, saya bayangin daerah yang.kena asap dah ngerasa sesak sendiri. Semoga punya kesempatan untuk bisa menulis tentang hutan, agar hutan kita aman.

  4. Dian Reply

    Ternyata seperti itu ya, fakta dan mitos tentang kebakaran hutan dan lahan
    Sedih banget, setelah tahu bahwa ulah manusia jadi faktor utama penyebab kebakaran hutan dan lahan

  5. HM Zwan Reply

    Jadi inget, aku pernah tinggal 3 tahun di Siak Riau, daerah yg aktif urusan “kebakaran lahan hutan” :(. Parahnya tahun 2015,efeknya memang melebar kemana mana. Sudah pasti anak libur sekolah berminggu minggu bahkan bulan, keluar rumah juga harus hati hati karena tebalnya asap.

  6. Ria Rochma Reply

    Dampak kebakaran hutan ini, diakibatkan oleh manusia, dan dampaknya kembali ke manusia. Miris, baca tentang dampak kebakaran ini ke pendidikan anak-anak. Karena selama ini, kebanyakan yg disorot adalah masalah kesehatan

  7. Eri Udiyawati Reply

    Dampak dari kebakaran hutan ini bisa ke mana-mana ya. Bukan hanya menyebabkan polusi udara kian akut. Tapi juga merembet ke kesehatan, pendidikan, bahkan efek gas rumah kaca pun kian meningkat yang berdampak rusaknya atmosfer.

  8. Rina Susanti Reply

    Dari dulu saya lebih percaya fakta kebakaran hutan akibat manusia, pembalakan liar dan pembukaan lahan. Karena kalau kemarau panjang rasanya panasnya ga terlalu cukup buat membakar hutan kecuali ada pemicunya yaitu manusia yg mulai. Sedih ya , protes /kritik aktivis ga ditanggapi dengan serius

  9. Utie adnu Reply

    Semoga Ada pencegahan ya mba karhutla selalu terjadi sepanjang tahun herannya … Takut Juga sih ya dampaknya padahal hutan itu paru2 dunia.. semoga Ada jalan keluar nya nih..

    Wajib Kita bersama nih melindungi hutan sebenarnya

  10. lendyagassi Reply

    Membahas mengenai mitos atau fakta kebakaran hutan memang seru sekali.
    Ada kalanya kita sebagai masyarakat gak paham mengenai undang-undang yang mengatur kelestarian hutan Indonesia karena nyatanya masih sering terjadi kebakaran hutan karena manusia dan ini pastinya merugikan banyak pihak.

  11. Latifika Reply

    Halo Mba, itu aku yang di bawah Mba ya, harus lepas masker apa ya biar gak nyatu sama background 😂 aduuuh…

    Aku paling suka paparan Mba yang dibuat infografis ttg mitos dan fakta, bikin orang awam langsung dapat poinnya, aku kurang meng-highlight bagian itu. Next artikel mau rajin kayak Mba Dian aah. ….

Leave a Reply

Your email address will not be published.