Adonan Kastengel yang Gagal, Pelajaran Berharga di Bulan Ramadan

Facebooktwitterredditmail

Sore itu seorang teman BBM saya mengganti DP-nya dengan gambar kue sagu keju (di mana hari-hari sebelumnya ada foto nastar karakter, nastar berbentuk buah, kastengel, dan sebagainya). Saya yang lagi ngidam langsung tanya berapa harganya per stoples, di jawablah 1 kg Rp.95.000,- 500 g Rp.50.000,-, 400 g Rp.40.000,- dan 250 g Rp.25.000,-. Wah lumayan juga harganya. Tapi yang lebih penting, kue ini dikirim dari daerah mana? Dekatkah dengan rumah saya? Ternyata dari Semarang, lumayan dekat sih. Selanjutnya, saya menyatakan kecemasan saya bila kue remuk ketika di perjalanan.

Jawaban yang tidak diduga, si pembuat kue berkata, “Buat sendiri aja Mbak, mudah kok.”

Lho, lucu ini, mau beli kok malah diminta bikin, haha. Jadilah, hati kecil saya tergugah. Bulan Ramadan kali ini, memang saya lewati dengan cukup banyak kelonggaran waktu bersama putri saya di rumah. Masa-masa awal kehamilan yang membuat saya tepar dan mual sepanjang hari, membuat saya malas berkegiatan di luar rumah. Boro-boro ngabuburit, naik motor beli kelapa muda di gang saja tetap nggak semangat.

Tantangan untuk membuat kue pun saya terima. Setelah mengecek kelengkapan alat dan bahan di dapur, akhirnya saya memutuskan untuk membuat kastengel. Terigu, maizena, dan baking powder saya ambil dari lemari di dapur bersih. Keju dan telur saya ambil dari kulkas di ruang tengah. Sementara mentega saya ambil dari wadah roti di ruang makan. Lalu setelah timbangan kue dan oven siap, saya memanggil putri saya untuk ikut bereksplorasi.

Wajah anak saya sumringah, Najla (3 tahun) senang sekali bila dilibatkan dalam kegiatan Bundanya. Saya menimbang semua bahan, memasukkan mentega dan memisahkan kuning telur dengan putih telur lalu memasukkan kuningnya saja ke wadah mixer. Najla ikut memegang mixer yang berputar, tangannya berada di atas tangan saya tentunya.

Najla menuang keju
Najla menuang keju

Tahap selanjutnya memasukkan keju yang sudah saya parut. Najla membantu menyendok parutan keju tersebut dengan perlahan. Semua berjalan dengan mulus, meskipun ada sedikit keju yang tumpah ketika dipindah, tapi masih bisa diselamatkan.

Langkah berikutnya di resep adalah masukkan terigu pelan-pelan, sembari diayak terlebih dahulu. Sayangnya, saya agak nggak nurut resep, malas mengayak. Langsung saja saya meminta Najla menyendok terigu dari timbangan untuk dipindahkan ke wadah mixer, bercampur dengan adonan mentega, telur dan keju. Dengan semangat 45, Najla menyendok terigu-terigu itu. Sesekali saya mengaktifkan mixer agar terigu tercampur rata. Kemudian, Najla lanjut menyendok lagi, tapi tiba-tiba, mata saya dikejutkan oleh makhluk yang bergerak-gerak di dalam terigu. Warnanya coklat, langsing, berukuran 1 cm. Astagfirullah, ulat! Saya coba menipiskan tumpukan terigu di wadah timbangan, baru deh kelihatan hewan-hewan itu menggeliat, masih hidup. Jumlahnya bukan cuma satu, melainkan banyak! Lalu pandangan saya beralih ke adonan di bawah mixer, hiks setelah diamati, para ulat itu sudah bercampur dengan adonan kue. Ada yang sudah mati, ada pula yang masih berusaha mencari oksigen dengan merangkak menembus adonan pekat. Hueek!

Rasa sedih, kecewa, dan bingung menjadi satu. Menyesal terhadap diri sendiri yang ceroboh, tidak mengayak terigu, dan tidak meneliti bahan sebelum dicampur dengan bahan lain. Najla yang saya beri penjelasan bahwa kita terpaksa menghentikan pembuatan kue kering, mengangguk mengerti. Sementara saya, membuang adonan yang sudah hampir jadi tersebut ke tempat sampah di samping rumah dengan perasaan kesal. Orang rumah terpaksa membeli terigu yang baru, tapi saya terlanjur tidak bergairah dan sudah kesorean kalau mau mengulang lagi.

Sebuah pelajaran berharga yang saya petik dari Ramadan di rumah.

Bahwa segala sesuatu yang akan dikerjakan, hendaknya dipersiapkan dengan lebih teliti, termasuk menyimpan bahan-bahan rumah tangga dengan benar.

Semestinya, terigu yang isinya tinggal setengah itu saya pindahkan ke dalam wadah kedap udara sejak awal dibuka. Baru disimpan di dalam lemari dapur. Maka prioritas saya hari itu adalah merapikan isi lemari dengan menyortir bahan makanan yang masih layak dengan yang sudah tidak layak (entah kedaluwarsa, dirubung semut, atau bahkan berulat). Semoga dikemudian hari tidak ada kejadian gagal bikin masakan karena bahan yang tidak higienis.

Ibu-ibu yang bingung mau ngapain selama Ramadan di rumah, bisa lho ikutan bersih-bersih dan beres-beres lemari dapur. Setelah semua beres, baru deh esoknya siap membuat kue kering.

Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes blog “Ramadhan di Rumah”

(Visited 606 times, 1 visits today)
Facebooktwitterredditmail Nih buat jajan

2 thoughts on “Adonan Kastengel yang Gagal, Pelajaran Berharga di Bulan Ramadan

  1. rumahdewi Reply

    setelah dilihat, ternyata artikel ini untuk kontes ya sis,,haha
    btw susunan katanya sangat kompleks, mantap sis

Leave a Reply

Your email address will not be published.