Workshop Mendongeng bersama Kak Awam dan PUAN: Pentingnya Dongeng bagi Anak

facebooktwittergoogle_plusredditmail

Workshop Mendongeng bersama Kak Awam dan PUAN: Pentingnya Dongeng bagi Anak

Hari Sabtu kemarin, saya mengikuti acara workshop dongeng anak yang diadakan oleh PUAN (Perempuan Amanat Nasional) ditujukan untuk 1000 guru PAUD di Yogyakarta. Saat membaca bahwa tema workshopnya mendongeng, otomatis saya langsung tertarik. Apalagi saya punya dua anak yang sangat suka mendengarkan dongeng. Saya pribadi juga termasuk orangtua yang sering menggunakan dongeng sebagai media dalam menyampaikan pesan.

Acara dimulai dengan sambutan dari Mbak Hanum Rais. Beliau menyampaikan bahwa dongeng kisah perjuangan khalifah Islam yang dibawakan ayahnya saat kecillah yang menginspirasi dikemudian hari, hingga akhrinya Mbak Hanum menjadi seorang penulis yang novelnya di filmkan. Dari ketekunan ayahnya saat menceritakan kisah-kisah di zaman Nabi ataupun kisah fiksi seperti Kancil Nyolong Timun lah, Mbak Hanum belajar bahwa penyampaian cerita itu bisa terpatri ke dalam hati dan membentuk karakter seorang anak.

Setelah itu, ada penampilan Tari Saman dari anak-anak TK Budi Mulia, mereka lucu dan menggemaskan sekali. Kompak juga narinya, saya jadi teringat putri saya, hehe

Lalu, tibalah acara inti yaitu workshop bersama Kak Awam Prakoso. Kak Awa mini membuka sesi workshop dengan menyenangkan sekali. Biar nggak bosan, para guru diminta ber-yell, menyanyi, berjoget, hingga menirukan suara hewan. Wah, pokoknya meriah banget. Kami yang orang dewasa saja tertarik, apalagi anak-anak ya.

Saya langsung masuk ke materi yang saya dapat ya. Jadi kebanyakan guru PAUD itu mengaku kesulitan dalam mendongeng anak didiknya, entah anak cepat bosan, atau para guru sendiri yang kebingungan mau inovasi dongeng apalagi. Wah sama banget nih dengan saya yang kadang suka bingung mau dongeng apa, sampai-sampai saya harus beli buku yang banyak buat ide cerita, hehe.

Dongeng sendiri sebenarnya dibagi menjadi dua, yaitu dongeng fiksi alias tidak nyata. Misalnya saja seperti fable, cerita rakyat, dan sebagainya. Sementara kisah nyata seperti zaman nabi dan kisah zaman khalifah Islam. Kita harus membedakan dua tipe ini ya. Kalau kisah tidak nyata, lebih bisa kita improvisasi dan inovasi banyak hal. Tapi kisah nyata ya harus sesuai aslinya.

Kalau manfaat dongeng sendiri apa saja?

Seperti sudah saya tulis di atas, saya memanfaatkan dongeng untuk menyampaikan pesan tertentu ke anak.  Paling tidak, ada tiga manfaat dongeng lainnya, yaitu:

  1. Penanaman karakter

Karakter anak itu dibentuk oleh orang terdekatnya, termasuk keluarga, teman-teman, dan lingkungan. Nah, dengan dongeng, guru atau orangtua dapat menanamkan karakter penting seperti kejujuran, kesetiaan, senang berbagi dan sebagainya sejak dini.

  1. Ilmu pengetahuan

Melalui dongeng, anak belajar banyak hal. Tak hanya belajar kosakata, tapi juga ilmu baru. Misalnya saja nama makanan hewan, anatomi hewan, sejarah nabi, geografi setting dongeng, dan sebagainya.

  1. Menangani sikon tertentu yang tidak menyenangkan pada anak

Contohnya saat anak menangis karena berbagai sebab. Dongeng dapat kita gunakan agar anak teralihkan dan tertarik mendengarkan kata orangtua atau gurunya, hehe. Tips yang jitu nih, dan ketika saya praktekkan memang terbukti. Pas najla nangis saya tenangkan pakai suara vocal hewan, berhenti deh nangisnya.

Mendongeng itu tidak mudah tapi juga tidak sulit. Setidaknya ada beberapa kendala yang sering dialami guru atau orangtua, antara lain:

  1. Saya belum bisa bercerita

Semua orang terlahir dengan senang bercerita, jadi semua orang pasti dapat bercerita. Tinggal mau atau tidak mau saja.

  1. Tidak ada referensi cerita

Ini perlu banyak membaca buku, banyak mencari ide, dan sebagainya.

3.Tidak percaya diri

Nah ini perlu belajar dan latihan

Kalau kunci dalam mendongeng apa saja?

Ada dua hal yaitu kuasai materi dan biasakan tampil. Dengan menguasai materi, kita menjadi lebih pede. Dengan membiasakan diri tampil, kita juga jadi lebih pede.

Tips mendongeng juga disampaikan oleh kak Awam, yaitu:

  1. Hati-hati jangan sampai menyesatkan

Misalnya cerita meminta sesuatu ke jin. Nah, itukan dari agama kita jelas menyesatkan. Boleh misal ada adegan tersebut, tapi si tokok menolak dan berkata bahwa meminta sesuatu hanya kepada Allah saja.

  1. Sesuaikan usia

Mendongeng anak TK dan anak SMP jelas beda lho ya tema cerita dan agaya berceritanya.

  1. Tidak boleh terlalu lama

Cukup 5 menit tapi 3-4 cerita, dibanding 1 cerita tapi sejam misalnya. Atau buat cerita bersambung agar anak penasaran. Kalau terlalu lama, anak akan bosan lho.

  1. Alat

Jangan lupa alat peraga bila memang ingin tampil lebih allout. Misalnya pakai boneka, origami, wayang, buku bergambar dan sebagainya

  1. Berlatih

Latihan adalah kunci utama. Semakin sering berlatih, semakin lihai kita mendongeng.

Saat mendongeng, ada beberapa teknik mencari perhatian, misalnya dengan bernyanyi, permainan ringan, yel-yel, persis seperti yang Kak Awam lakukan saat workshop kemarin.

Nah Kak Awam membagi gaya bercerita menjadi 3 kategori, yaitu:

  1. Tanpa alat peraga

Mendongeng tanpa alat peraga artinya si pendongeng harus mengatur bloking, moving, dan posisi berdiri agar tidak kaku.

  1. Membuat karakter vocal penokohan

Mengapa? Karena anak-anak suka dengan suara yang lucu dan unik. Mereka akan tertarik dengan suara-suara hewan dan penokohan, disbanding suara biasa.

  1. Dengan alat peraga

Alat peraga sangat membantu dalam mendongeng. Dengan alat peraga ini anak-anak akan lebih paham, karena melihat boneka hewan misalnya.

Tibalah kita saat tampil, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

  1. Jangan terburu-buru, agar bermutu
  2. Improvisasi pada dongeng, menghasilkan cerita nyata.
  3. Tidak hanya mengolah vocal suara tapi menuturkan kata
  4. Suasana harus dibangun. Misal suasana hutan, suasana negeri hewan, dan sebagainya
  5. jangan membungkus cerita dengan sindiran. Big No ya! Saya juga baru tahu nih, padahal dulu sering cerita pakai sindiran, hoho.
  6. Jangan membungkus cerita dalam bentuk ceramah. Anak-anak paling tidak suka lho diceramahi, baik dalam bentuk dongeng sekalipun
  7. Berikan insentif, libatkan anak, dengan ada interaks
  8. Fun (menyenangkan)
  9. Menangani sikon pada anak
  10. Menutup cerita bukan untuk mengingat kesalahan anak tetapi lebih kepada untuk menanamkan budi pekerti.

Ada quote bagus nih dari Kak Awam,

Ibarat makanan, jangan hanya mengenyangkan tetapi juga menyehatkan. Demikian juga dengan dongeng, tidak hanya menyenangkantapi juga memiliki kekuatan pesan.

Seru sekali kan workshopnya? Acara ditutup dengan kehadiran beberapa anggota DPR, ada Eko Patrio juga nih.

Setelah itu dibagikan doorprice dari PUAN sejumlah 200 lebih doorpricenya, wuih. PUAN berharap dapat mengembangkan guru pada khususnya, dan semua perempuan Indonesia pada umumnya, karena dari pendidikan perempuan lah lahir generasi depan yang mumpuni dan berkarakter baik. Aamiin. Terimakasih PUAN, sudah diperkenankah ikut workshop dongeng kemarin=)

(Visited 118 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

One Comments

  • Kang Nurul Iman November 3, 2016 Reply

    Seru sekali ya mbak acaranya sampai ada mas eko juga jadi pengen juga deh ikutan tapi kayaknya kebanyakan ibu ibu ya penontonnya ?

Leave a Reply

error: Content is protected !!