Tempe Dinner Experience di Resto Gadjah Wong Jogja

facebooktwittergoogle_plusredditmail

Musik gamelan di Gadjah Wong. Dokumentasi Dwi Fibri

Tanggal 9 November lalu, saya menghadiri acara Tempe Dinner Experience di Gadjah Wong sebagai partisipan penelitian. Wah penelitian apa ya? Tentu saja penelitian mengenai makanan, khususnya fine dining dari olahan tempe. Dimana acara ini merupakan bagian dari penelitian S3 Mbak Dwi Larasati Nur Fibri yang menempuh pendidikan di Departemen Food Science, University of Copenhagen. Uji rasa ini berjalan selama tiga hari sejak 7-9 November 2016, dan saya mendapat giliran hari ketiga.

Hidangan yang disajikan merupakan masakan dari Chef Gadjah Wong berkolaborasi dengan Chef Nordic Food Lab dari Denmark. Mereka bekerjasama mencari formula yang pas untuk lidah orang Indonesia, dengan masakan berbahan dasar tempe segar dan tempeto (tempe semangit) baik dari kedelai lokal dan impor. Jadi, chef dari Gadjah Wong mengolah tempe segar, sedangkan chef dari Nordic Food Lab mengolah tempeto. Soal tempeto sendiri saya baru dengar kali ini. Jadi tempeto itu adalah tempe segar yang difermentasi suhu tertentu dan waktu tertentu. Nah tempeto yang kami makan kemarin di fermentasi pada suhu 50 °C selama 20 jam. Ingin tahu keseruan pengalaman saya kemarin?

Kami datang disambut hujan gerimis di Jogja, waiters dari Gadjah Wong menyambut kami dan menanyakan bukti berupa sms/email yang menyatakan bahwa benar kami undangan Tempe Dinner Experience. Setelah menunjukkan bukti sms, saya memasuki resto Gadjah Wong dan disambut Mbak Ardiba, Food Tecnolog yang mendampingi Mbak Dwi dalam penelitian ini. Sata mengisi absensi, sekaligus melihat nomor tempat duduk saya.

Konsepnya fine dining nih. Foto dokpri

Setelah itu, kami menunggu hingga seluruh peserta hadir. Ya memang acara dimulai sekitar pukul 7 malam, tetapi para peserta diminta hadir sejak jam18.15. Saya sempat foto-foto dulu sih sama teman-teman blogger yang ikutan acara ini.

Bersama para blogger. Foto by @primastuti

Setelah semua peserta 99% hadir, maka kami dipersilakan duduk di kursi masing-masing. Mbak Dwi membuka acara Tempe Dinner Experience dan memberikan sambutan serta kata pengantar. Di meja kami sudah tersedia kuisioner yang nantinya akan kami isi saat mencicipi hidangan serba tempe ini. Selama dinner, musik gamelan terus mengalun sehingga cukup menghidupkan suasana.

Tempe Dinner Experience Menu

Minuman kaya rempah nih. Foto dokpri

Hidangan yang pertama kali datang adalah welcome drink dari Gadjah Wong resto, yaitu Cold Lemon Grass and Ginger Fusion, atau dengan kata lain minuman dingin daun lemon dan jahe. Saya sih cocok banget sama minuman ini, dingin di mulut tapi hangat di perut, langsung habis deh. Oke, kita mulai ke menu pertama penelitian ya.

Starters

  1. Spring roll filled with local soybean tempe

Lumpia tempe. Foto dokpri

Dokumentasi Dwi Fibri

Waktu dihidangkan menu ini, ekspektasi saya tinggi, karena Mbak Dwi menyatakan ada kejunya juga, dan ternyata memang benar rasanya enak banget. Saya teringat dengan kroket pepaya resep keluarga besar saya. Dua lumpia rasanya masih kurang nih, saya doyan soalnya. Jadi pingin tanya resep, hehe. Tempenya malah kurang berasa kalau menurut saya, soalnya yang keinget adalah ebi di menu kroket pepaya, hehe. Saya kasih skor 9 lah buat hidangan ini. Oh ya, dalam kuisioner, kami diminta menuliskan rasa yang lidah kami rasakan, termasuk soal selera dan keunikan menu. Ada juga soal saran range harga.

  1. Imported soy bean Tempeto on leaf and root

Bahannya tradisional banget, ada emping, pete, bunga telang, tempe. Foto dokpri

Nah menu kedua ini cukup mencengangkan! Mbak Dwi bilang bahwa semua bisa dimakan kecuali kertas dan piring kayunya. Padahal di atas piring ada akar, dan daun juga, masa bisa dimakan?? Waktu saya mencoba sate tempetonya (yang ditaburi pete) ya lumayan masih bisa menerima rasa tersebut lah, meski menurut saya agak pahit. Mungkin akan terbatu jika kuah manis di bawah empingnya lebih banyak lagi, jadi sate lilit Tempeto bisa dicocol ke kuah manis yang entah apa itu. Emping bakarnya sih enak. Ada kolang-kaling di atas daun yang juga ditaburi tempeto dan ditaburi bunga telang, saya sempat mencicipinya dan masih kemakan lah, agak hambar soalnya. Tapi begitu pada bilang kalau daunnya enak, saya jadi penasaran, apakah benar? Akhirnya nyobain juga deh daunnya. Ajaib, ternyata benar daunnya enak! Rasa lemon dan minta menjadi satu, kalau kata Mbak Ardiba sih kayak daun kemangi. Wah tahu gitu dari tadi makan daun beserta menu lain di piring tersebut ya, hehe. Untuk menu ini saya kasih nilai 6,5 lah. Unik sih, tapi kurang cocok di lidah saya.

Main Course

  1. Imported soybean tempe sate with lontong

Sate tempe. Dokumentasi Dwi Fibri

Yeay, masuk juga ke main course, padahal perut sudah lumayan kenyang, hehe. Menu utama yang pertama kali dihidangkan adalah sate tempe. Rasanya tentu saja enak, mungkin karena sudah familiar dengan menu ini. Sate tempe dan lontongnya pakai saus kacang. Selain itu ada lauknya berupa kering tempe, krecek tempe bumbu santan pedas, dan kriuk atau peyek tempe. Peyeknya enak lho, saya berasa kurang banyak peyeknya,hehe. Ada sambalnya juga dan sempat saya icip, ternyata huh hah pedes banget! Untuk menu ini saya kasih nilai 8.

  1. Rice, ginger leaves, and tempeto sauce from velvet bean

Burger nasi dengan saus tempeto. Dokumentasi Dwi Fibri

Menu utama kedua ini berupa nasi burger kalau sebutan saya. Soalnya saya sering buat menu kayak gini buat anak saya yang nggak doyan nasi, hehe. Jadi nasinya di olah sedemikian rupa baru di panggang berbentuk lingkaran kayak burger. Bedanya, burger nasi Gadjah Wong ini pakai saus tempeto dan kacang merah. Uniknya lagi, di atasnya ada daun ginseng dengan saus cabai. Terus terang saya baru pertama kali lihat daun ginseng, dan baru pertama kali memakannya ya kemarin itu. Rasanya cukup enak sih, cocok dimakan bersama burger nasi dan saus tempetonya. Cuma dari segi rasa masih agak hambar. Nilainya 7 deh untuk menu ini:).

Dessert

  1. Onde-onde and es campur with velvet bean tempe

Onde-onde tempe dan es campur tempe. Dokumentasi Dwi Fibri

Dessert adalah menu yang saya tunggu-tunggu soalnya saya suka makanan manis yang lucu-lucu. Untuk menu penutup pertama adalah onde-onde isi tempe dan es campur. Rasanya yummy banget! Ternyata onde-onde nggak harus selalu berisi kacang hijau ya. Buktinya isi tempe aja enak begini rasanya. Apalagi waktu dihidangkan onde-onde masih hangat, jadi dalamnya lembut kacang kedelai tempe, dan luarnya kriuk dari lapisan luar onde-onde yang ada wijennya itu.

Es campurnya sendiri buat saya cukup unik. Selain berisi buah-buahan seperti melon dan nanas, ternyata ada puding tempenya lho. Jadi kayak potongan puddng gitu atasnya empuk dan kenyal, bawahnya tempe, so far cocok di lidah saya. Untuk menu dessert ini saya kasih nilai 10, sempurna!

  1. Snake fruit leaves, and local soybean tempeto

Tempeto dihaluskan dengan jus salak. Dokumentasi Dwi Fibri

Tibalah menu terakhir, agak deg-degan juga karena dari namanya ada salak-salaknya. Ketika hidangan muncul di meja saya, dan melihat penampakannya, saya kira tempetonya dibuat es krim. Soalnya coklat-coklat lembut teksturnya seperti es krim, tapi ternyata bukan! Tempeto hanya dihaluskan saja lalu ditaruh ke dalam mangkuk dan di beri kuah jus salak, ditambah selasih. Rasanya? Kecut dan pahit. Pahit dari tempetonya, dan kecut dari jus salaknya. Maaf, saya hanya sanggup mencicip dua suapan kecil saja. Terpaksa hanya menyendok jus salak dan selasihnya. Mungkin kalau kuahnya dibuat manis masih agak ketolong lah ya. Atau dibuat menu es krim sekalian? Hehe. Nilainya 6 lah, unik tapi nggak pas di lidah saya.

Oh ya, sempat ada juga minuman Lemon mint squash dari Gadjah Wong, tetapi saya kurang cocok, agak asam kalau untuk lidah dan perut saya, hehe. jadi nggak saya habiskan deh, lebih suka yang welcome drink sebelumnya:)

Alhamdulillah acara selesai juga, karena ini hari terakhir, maka Mbak Dwi memperkenalkan para chef di balik Tempe Dinner Experience. Yeay, bertemulah kami dengan pemilik resto Gadjah Wong dan chef dari Nordic Food Lab yang ternyata cowok lho, bule gitu pula. Siapa sangka orang luar juga bisa memasak menu tempe ya.

Foto dari kiri ke kanan: Mbak Dwi Fibri, Bu Yani (Chef sekaligus owner Gadjah Wong), Anna (Asisten Roberto Flore), Roberto Flore (Chef Nordic Food Lab). Foto by @nonirosliyani

Acara diakhiri dengan ucapan terimakasih dari Mbak Dwi kepada seluruh peserta dan semua orang yang membantu terselenggaranya penelitian Tempe Dinner Experience ini. Tak lupa Mbak Dwi juga mengingatkan agar kuisioner kami dicek terlebih dahulu sebelum pulang, jangan sampai ada nomor yang terlewat belum diisi, karena bisa menggugurkan hasil penelitian.

Pulangnya tak lupa para blogger foto-foto dulu dong. Makasih ya Mbak Dwi dan Mbak Ardiba atas kesempatannya menjadi bagian dari Tempe Dinner Experience ini, sungguh pengalaman tak terlupakan mencicipi menu serba tempe dari mulai appetizer hingga dessert.

(Visited 87 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

8 Comments

  • Ardiba November 19, 2016 Reply

    Makasih ulasannya Mak. Oh iya, yang tempeto itu sajiannya Nordic. Jadi bukan punya Gadjah Wong.

  • Ika koentjoro November 19, 2016 Reply

    Tempe to yang dikolaborasiin sama salak itu kayak e enak ya. Seger

  • Helma Vania November 19, 2016 Reply

    Wah, aku juga dateng di acara inj mba. Tapi tanggal 7 nya. Unik2 ya hidangan nya. Hehehe

  • Vety Fakhrudin November 24, 2016 Reply

    Mbak, makanannya menggugah selera banget…jadi laper…hihihi

    • dian.ismyama November 27, 2016 Reply

      Hihi, nanti kalo udah dijual menunnya bisa dicoba

Leave a Reply

error: Content is protected !!