Perilaku Negatif Anak: Salah Orangtua!

facebooktwittergoogle_plusredditmail

Anak nggak suka makan sayur, salah orangtua!
Anak belum bisa baca tulis, salah orangtua!
Anak tantrum, salah orangtua!
Anak mengucapkan kata-kata kasar, salah orangtua!
Anak pendiam, tidak mau bersosialisasi, salah orangtua!
Anak sering sakit, salah orangtua!

Haduh, kasian banget ya jadi orangtua. Udah nggak ada sekolahnya, eh dijadikan orang yang paling bersalah atas semua sikap anak. Bahkan dibully oleh semua kelakuan anak yang dipandang “beda” di masyarakat. Sudah gitu, pelakunya (pencap salah orangtua) biasanya adalah orang terdekat orangtua itu sendiri. Bayangkan saja kalau suamimu malah bilang, “Salah bunda kalau adek belum bisa baca! Kan Bunda yang seharian sama adek, ngapain aja sih? Nggak diajarin?!” atau ada saudara nyeletuk, “Anak lo itu nggak diajarin sopan santun ya? Ambil makanan main nyelonong aja!” Weits, kenapa nggak ditegur baik-baik terus dikasih contoh yang cara yang baik aja Jeng??:)

Pantesan banyak orangtua yang akhirnya menjadi tidak percaya diri, minder, punya perasaaan bersalah, bahkan merasa gagal. Ketika orangtua down, akibatnya anak semakin jauh dari ideal. Maka wajar bila kita beberapa kali mendengar orangtua bunuh diri, depresi atau membunuh anak-anaknya.

Kalau kata suami saya sih, ” Ini bukan tentang siapa yang salah, tapi ini tentang fokus pada solusi.” Dan saya sepakat. Nggak akan ada habisnya kalau cuma menyalahkan. Karena jadi orangtua itu berat. Belajarnya sepanjang hayat. Ketika anak-anak sudah besar pun tetap akan ada ujian sebagai orangtua. Solusinya ya cuma satu, tuntut ilmu terus, dan berdoa sama Empunya hidup. Karena tiap anak itu unik, yang kembar aja karakternya bisa bertolak belakang. Kakak-adik sifatnya bisa jadi beda. Apalagi anak orang lain, kan? Jadi stop merasa dirinya paling hebat mengurus anak. Stop merasa anaknya paling ideal dan nggak pernah berperilaku negatif. Ok, kalaupun merasa paling jago, paling tidak nggak usah menghakimi orangtua lainnnya deh. Lebih baik rajin bersyukur sehingga Allah tidak mencabut nikmat tersebut #eh

Kalau Papa saya bilang, orang-orang seperti itu ndak perlu diurusin, menghabiskan energi saja. Sawang sinawang, yang terlihat belum tentu seperti yang sebenarnya. Karena pada dasarnya semua anak itu akan melewati tahapan-tahapan susah makan, susah mengikuti kata orangtua (yang pada akhirnya menjadi tantrum), “mungkin” sedang bereksperimen dengan kata-kata kasar atau perilaku negatif lainnya. Kadang anak juga malas menjalin pertemanan dengan orang lain, atau kondisi anak memang tidak fit sehingga mudah tertular sakit. Ada juga anak-anak dengan alergi debu misalnya, mau nggak mau orangtua effort-nya lebih untuk membuat rumah menjadi bersih dan sebagainya. Atau anak yang nggak bisa baca ternyata setelah dicek dia disleksia (terus langsung inget film india deh, hehe). Itu salah satu dari banyak hal yang orang lain belum tentu tahu, dan peduli.

Eits tapi ada juga sih penyebab yang memang orangtua perlu introspeksi … dan berubah. Misal kita sendiri nggak suka sayur sehingga nggak ada contoh orang dewasa yang doyan sayur. Tapi tetap, IMHO, “Stop blame yourself, or blame others!” Tugas kita kalau memang ingin membantu sebagai sesama orangtua, ya dekati, buktikan bahwa kita memang tulus ingin berbagi ilmu parenting dan pengalaman. Jadikan sesama orangtua nyaman bergaul dengan anda.

Jelas ya, tulisan ini bukan membenarkan orangtua lepas tanggungjawab. “Tuhkan, apa saya bilang, bukan orangtua yang salah!” Padahal yang saya maksud adalah sebagai orangtua kita senantiasa memperbaiki cara mendidik anak, sesuaikan karakternya dan tidak perlu berkecil hati bila ada yang membandingkan anak kita dengan anak orang lain.

Siapa sih yang nggak mau anaknya kayak gini?:)

Satu hal yang saya paling ingat dari pesan Papa saya (beliau adalah orang paling bijak yang saya kenal dekat. Mungkin Mario Teguh lebih bijak, tapikan saya nggak kenal dekat. Haha), bahwa “Hidup itu penuh dengan ujian untuk naik tingkat, kalau Allah kasih kamu ujian soal anak, itu artinya kamu mampu, kamu ditempa untuk jadi orangtua yang kuat!” Orang lain yang anaknya “mudah” mereka ya dikasih ujian /permasalahan di bagian lainnya. Well, saya sendiri udah mengalami yang namanya anak GTM, tantrum, anak gampang sakit, dll dan berasa banget suport orang-orang terdekat termasuk lingkungan memang penting. Alhamdulillah sekarang semua terlewati dan Najla semakin “mudah”. Let’s say, “Satu episode hidup tentang parenting terlewati, masih menanti episode lainnya. Balita beralih ke masa anak-anak, lalu remaja, dengan perbedaan ujian tentunya.”

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 64:14)

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS 63:9)

Bahkan Allah pun telah memperingatkan dan menjabarkan bahwa anak, istri dan harta akan menjadi bagian dari ujian yang diberikan, untuk melihat siapa yang lebih mendekatkan diri pada Allah atau justru menjadi semakin jauh dari-Nya. Semoga kita termasuk orang-orang yang lulus ujian tersebut. Aamiin

(Visited 88 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

4 Comments

  • rizka January 8, 2015 Reply

    Betul Mak, kalau mencari kesalahan tidak akan memperbaiki masalah. Fokus pada akar dan penyelesaian masalah, lagi setiap anak itu unik dan berbeda.

    • dian farida January 11, 2015 Reply

      Iy memang itu maksudny. Sebagai ortu kan jg proses belajar

  • HP Yitno January 10, 2015 Reply

    Yang terpenting bagaiman cara mencari solusinya. Bukan malah mencari siapa yang salah. Kalau mencari yang salah, sang anak akan tetap menjadi korban orang tuanya.

    • dian farida January 11, 2015 Reply

      Iy mas. Solusi yg terpenting.itu berlaku di semua haI sepertinya

Leave a Reply