Pengalaman Anakku Sehabis Imunisasi ini Akan Mengejutkanmu

facebooktwittergoogle_plusredditmail

Imunisasi MR didakan serempak pada bulan Agustus 2017 di pulau Jawa dan bulan September 2018 di luar Jawa. Ada yang tanpa berpikir macam-macam langsung mengikuti program pemerintah, apalagi imunisasinya gratis. Sementara lainnya, mulai tanya-tanya sana sini, browsing, hingga mencari tahu ke berbagai pihak, apakah imunisasi ini wajib, atau tidak apa-apa kalau anaknya tidak diimunisasi.

injeksi

Ada lagi golongan yang sejak zaman dahulu, sama sekali tidak mau mengimunisasi anaknya, dengan berbagai alasan. Biasanya alasannya adalah isu kehalalan, khawatir ada efek samping paska imunisasi, atau karena imunisasi dan obat dokter pantang diberikan pada anaknya. Sebutan bahan kimia pun dilayangkan pada obat dokter, termasuk vaksin. Mereka hanya mau menggunakan herbal, madu, kurma, yang dianggap berasal dari alam. Padahal kalau mau membaca lebih banyak, toh semua bahan tadi, termasuk herbal juga mengandung zat kimia lho. Air pun terdiri dari unsur kimia yaitu H2O. Dari yang saya ketahui selama belajar di farmasi, herbal itu justru banyak yang belum diketahui dosis efektif dan efek sampingnya. Oleh karena itu, jika tidak hati-hati, justru akan bahaya. Apalagi orang awam yang tidak belajar ilmu medis, nggak tahu anatomi manusia, atau bahkan nggak tahu bedanya penyakit A dengan penyakit X misalnya, tetapi malah kekeh bin ngotot anaknya sama sekali nggak boleh terpapar obat dokter dan malah diobati sendiri dengan ramuan yang juga dibuat sendiri. Apa nggak ngeri tuh? Sedihnya, kadang pemikiran seperti ini ditularkan ke orang lain.  

Hari H imunisasi

Duh tulisan ini malah jadi kemana-mana deh, hehe. Padahal saya mau cerita tentang pengalaman anak saya sehabis imunisasi MR tanggal 23 Agustus 2017 kemarin. Imunisasi ini dilakukan di TKnya, dimana pada hari tersebut, kegiatan sekolah diliburkan. Imunisasi dimulai pukul 7 pagi hingga selesai. Tadinya saya kira, anak-anak TK akan heboh dan menangis saat melihat jarum suntik. Nyatanya, suasana di TK anak saya adem ayem. Anak saya datang pukul 8.30, lumayan telat karena saya baru mandi setelah dia selesai mandi dan sarapan. Setiba di sekolah, suasana lumayan sepi karena anak yang sudah selsai imunisasi langsung pulang. Kami di arahkan ke salah satu ruangan di TK. Di kiri saya ada Ibu kepala sekolah yang sedang duduk memeriksa absen. Sementara di hadapan saya, ada dua petugas kesehatan, yang satu perempuan, sedangkan satunya bapak-bapak. Mereka mengenakan masker, dan yang perempuan menyiapkan injeksi atau suntikan. Meja di depan saya cukup rendah sehingga saat duduk saya dapat melihat apa saja isinya.

Pengalaman imunisasi rubella

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah kardus kuning yang merupakan safety box atau tempat pembuangan limbah infeksi termasuk bekas jarum suntik, dan ampul (wadah obat injeksi) yang sudah dipatahkan. Tentu saja box tersebut berada di TK anak saya, karena proses imunisasi menggunakan vaksin yang mengandung virus yang dilemahkan, dan proses imunisasi menggunakan benda tajam yaitu jarum suntik. Kelak limbah ini, dibuang sedemikian rupa sesuai prosedur rumah sakit, agar tidak berbahaya bagi orang lain dan tidak dapat disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.



Sebelum anak saya, ada satu anak yang disuntik. Di luar dugaan saya, anak tersebut diam saja, sama sekali tidak merengek, heboh, juga tidak menangis.

Pengalaman imunisasi rubella

Saya pun melihat gerak-gerik anak saya. Matanya memandang sekitar, tangannya berada di samping badan, sementara kakinya digerakkan ke kanan dan ke kiri. Ok, sepertinya anak saya sedikit gelisah. Ini wajar, meskipun beberapa hari sebelumnya, termasuk tadi malam, saya sudah menyampaikan kepadanya bahwa hari ini akan disuntik vaksin. Komunikasi pada anak itu penting, anak harus tahu mengapa dia disuntik, apa tujuannya, hingga perkiraan rasa disuntik itu seperti apa, agar anak tidak menangis tiba-tiba hanya karena tidak tahu dia mau diapakan, atau karena anak merasa tidak nyaman. Untuk anak yang ambang rasa sakitnya rendah, setiap ibu pasti punya cara tersendiri untuk meyakinkan anak, atau untuk membujuknya agar mau diimunisasi. Ingat, imunisasi MR ini tidak hanya penting untuk kesehatan anak teman-teman, tapi juga untuk kesehatan anak lain di sekelilingnya dan kesehatan ibu hamil. Jadi, buat saya, alasan nggak mau imunisasi karena nggak tega lihat anak menangis itu sama sekali nggak masuk akal. Orangtua bisa jauh-jauh hari mengkomunikasikan ke anak, menemani saat imunisasi, dan juga mengobservasi serta membuat anak merasa nyaman paska imunisasi.

Tibalah giliran anak saya untuk diimunisasi. Saya pun mengabadikan momen tersebut dengan foto dan video. Maklum, mau dikirim ke Ayahnya, sekaligus akan saya masukkan ke dalam blog. Petugas kesehatan yang perempuan mengambil posisi di samping anak saya, dia menggulung lengan baju anak saya. Kemudian, petugas laki-laki menyuntikkan vaksin di lengan kiri. Nggak sampai satu detik adegan itu berlangsung, saya sampai kaget kok sudah selesai. Wajah anak saya pun biasa saja, mengernyit saja tidak. Setelah disuntik, anak saya mendapat kotak makanan berupa ayam kriuk, lengkap dengan nasi dan kue brownis, serta burger mini. Tadinya ada balon juga yang dibagikan, tapi karena anak saya telat, jadi sudah habis deh balonnya, hehe. Menurut pandangan saya, ini cara sekolah untuk membuat anak-anak merasa nyaman sehabis imunisasi. Tidak semua sekolah harus mempraktekkannya sih, tapi orangtua bisa meniru cara ini, khususnya untuk anak yang mudah panik atau ambang rasa sakitnya rendah.

Oh ya, bila anak teman-teman sedang demam, pastikan bilang ke petugas kesehatannya ya. Sampaikan demam berapa derajat (dicek dengan termometer), dan bila sudah minum obat penurun panas juga sampaikan kapan terakhir minum obat, agar jika petugas kesehatan mencek suhu anak, mereka dapat mengetahui suhu tersebut didapat karena barusan minum obat atau tidak. Bila anak teman-teman mempunyai penyakit tertentu seperti leukemia, penyakit imun, kanker, ginjal, atau penyakit berat lainnya, sampaikan juga ke petugas, karena penyakit-penyakit di atas termasuk kategori kontraindikasi (tidak diperbolehkan) untuk menerima imunisasi. Sama halnya dengan anak yang meminum obat imunosupresan (penekan sistem imun), dan anak yang mempunyai riwayat alergi terhadap bahan yang dikandung dalam vaksin, juga tidak boleh diimunisasi. Nah, anak sehat yang diimunisasi, berperan dalam melindungi anak-anak yang tidak bisa diimunisasi tersebut. Inilah yang disebut sebagai herd immunity.

Baca Masih ragu Imunisasi MR?

Sehabis imunisasi, saya dan anak saya langsung pulang ke rumah. Sengaja hari itu saya tidak kemana-mana agar anak nggak kecapekan, dan nggak kenapa-napa. Kacau kan, kalau anak sehabis diimunisasi terus berenang di waterpark misalnya, dan setelahnya anak demam atau pilek, bisa-bisa imunisasinya yang disalahin. Atau anak jajan sembarangan terus diare, jangan-jangan diarenya dikira efek samping imunisasi:D. Bukan nggak boleh main paska imunisasi, boleh-boleh saja tapi yang wajar lah. Anak habis disuntik virus yang dilemahkan agar tubuh membuat antibodi, tentu sebaiknya tenaganya nggak diforsir pada hari mereka diimunisasi. Lebih baik ajak anak bermain di rumah, membaca buku atau menggambar.

Paska imunisasi

Hari ini, hampir seminggu paska imunisasi, anak saya tidak mengalami efek samping apapun. Dia tetap sehat, bermain seperti biasa, dan masuk sekolah juga seperti biasanya. Saya yakin, bila orangtuanya sendiri tidak ragu dan memberikan pemahaman kepada anak, maka anak pun akan merasa lebih nyaman dan percaya diri saat hari imunisasi tiba. Ada anak-anak yang mudah merasa sakit (saat disuntik) atau mungkin ada yang trauma terhadap jarum suntik, tentu orangtua dan petugas kesehatan memilik cara sendiri dalam menghadapinya.

pengalaman imunisasi MR

Teman-teman yang anaknya sudah diimunisasi gimana nih pengalamannya? Cerita di sini dong:)

(Visited 139 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

8 Comments

  • Kartika Nugmalia September 3, 2017 Reply

    Shoji Rey udah doong. Shoji semangat banget buat disuntik. Tapi pas suntik juga dia sempat jerit sih “aww” gitu mungkin kaget ya, tapi setelah dikasih bolu kukus dan stempel tanda udah selesai imun jadi HEPI lagiii

    • dian.ismyama September 4, 2017 Reply

      wah samaan ini dikasih kue setelahnya. oh iya, kakak Najla juga dikasih tanda udah imunisasi ding, tapi spidol marker ungu gitu di kuku kelingkingnya, kayak habis coblosan=)

  • Anne Lesmana September 4, 2017 Reply

    Sama mbak kya Quinn, anakku, gada reaksi demamnya.. alhamdulillah..
    Wah enak tuh hbs suntik lgsg dikasih maem.. di sekolah anakku cm dikasih stempel n permen. Jadwal mkn bersamanya soalnya bkn hari itu.. hehe..

    • dian.ismyama September 4, 2017 Reply

      alhamdulilah ya reaksi paska imunisasi so far so good. iya anak-anak kalo dikasih hadiah pasti happy

  • Dian Radiata September 4, 2017 Reply

    Wah boleh ditiru nih cara sekolah bikin anak jadi nyaman setelah imunisasi, jadi si anak gak parno.. Anakku belum imunisasi MR. Belum dapet giliran niih..

    • dian.ismyama September 4, 2017 Reply

      benar Mbak, anak-anak lihat balon aja udah sumringah=)

  • Ivonie September 4, 2017 Reply

    Saya gak nulis pengalaman imunisasi Aiman krn udah di tulis papanya mbak
    Cuma pas diimunisasi Aiman sempat berkaca2 mau nangis gt tapi ya gak sampai nangis 😀

    • dian.ismyama September 4, 2017 Reply

      haha udah ditulis sama suami ya. Wah, Aiman hebat!

Leave a Reply

error: Content is protected !!