Pak Lurah vs Pak Camat

facebooktwittergoogle_plusredditmail

Rabu minggu lalu sungguh kelabu. Kulihat Pak Lurah di pusat perbelanjaan. Senyum Pak Lurah merekah. Tangannya mengamit mesra perempuan muda. Kututup wajahku dengan map.

Lalu Pak Lurah keluar mall. Kupinta sopir mengikuti mobil biru mereka. Bukan karena aku biang gosip. Sama sekali bukan. Adikku istri sahnya Pak Lurah!

Hal selanjutnya di luar dugaanku. Mereka parkir di hotel bintang lima.

Kuturun dari mobil, mengendap-endap. Rangkulan Pak Lurah makin erat. Tawa perempuan kencur makin lebar. Dadaku sesak. Geram. Ingin kulabrak saat itu juga. Tapi kuurungkan niat. Ingat etika. Ingat tidak boleh cepat menyimpulkan tanpa bukti.

Heran, kunci kamar diberikan dengan wajah sumringah. Ah, tampaknya sudah check-in entah kapan. Bayangan mereka hilang ditelan lift, aku mendatangi Mbak resepsionis.

“Maaf, Bapak yang tadi pakai kemeja biru itu, kamar berapa ya?”

“Atas nama siapa?”

Kusebutkan nama Pak Lurah. Kucatat nomor kamar maksiat itu. Kepalaku memanas.

“Perempuan muda itu siapanya ya, Mbak? Hotel ini bukan tempat ilegal pasangan tanpa ikatan sah, kan?” suaraku meninggi.

Si Mbak diam.

“Kalau terbukti hotel esek-esek, bisa saya laporkan untuk digerebek polisi lho, Mbak!”

“Identitasnya lengkap kok, Bu. Surat nikahnya ada. Pasangan bulan madu!”

Rabu kelabu. Adikku punya anak satu. Namanya Biru. Diberi nama itu karena Pak Lurah penyuka warna biru. Semua serba biru. Termasuk mobil. Bahkan gaun-gaun yang dibelikan untuk adikku. Biru benhur, biru metalik, biru gerau, semua biru.

Kini tanganku pun membiru. Spontan meninju meja resepsionis. Si Mbak ketakutan.

Hari itu juga kutelepon adikku.

“Dik, aku lihat Pak Lurah. Masuk hotel sama perempuan kencur. Resepsionis bilang mereka pasangan sah. Sedang bulan madu!”

Hatiku perih mengatakannya. Tapi harus dikatakan. Aku tak suka sesama istri diinjak kehormatannya, harga dirinya.

Hening.

“Aku sudah tahu, Mbak Kinar. Perempuan itu namanya Nani.”

“Kamu tahu tapi diam saja?!” lidahku kelu.

“Bapak pernah ijin mau menikahinya. Aku marah besar. Berdebat. Bapak bilang agama tak melarang poligami. Aku bilang, ingat Biru, Pak!” suara adikku bergetar.

“Kenapa kamu nggak cerita sama aku, Dik?” Dahiku berkerut. Bingung bukan kepalang.

“Aku nggak mau menambah pikiranmu, Mbak. Lima anakmu tentu sudah menguras tenaga.” Adikku terisak.

Ya, beranak lima. Seperti sol, tangga nada tinggi. Berisik sekali bila kumpul lima-limanya. Walaupun begitu, mereka adalah kebanggaanku. Sebagai seorang istri, sekaligus ibu. Setidaknya, anak-anak membuat suamiku betah di rumah.

Maka di sini aku berdiri. Seminggu cukup untuk mendengar keluh kesah adikku. Pak Lurah yang sering tak pulang. Pak Lurah yang lupa ulang tahun Biru. Pak Lurah yang jarang masuk kantor!

Rabu kelabu. Kantor Kelurahan Ciracas banjir perempuan.

“Lengserkan Pak Lurah!”

“Lurah gemblung beristri muda!”

Langit biru memendung.

“Kami nggak sudi dipimpin Lurah genit!”

Mendung menggelap, turun rintik hujan.

Payung dibuka lebar-lebar. Orasi makin diteriakkan. Tak mau kalah dengan suara hujan.

Karton bertulis tinta biru luntur sebagian. Tak membuat para perempuan gentar.

Hujan makin lebat. Kami perempuan persatuan istri Camat se-Ciracas berteduh. Seorang anak menghampiriku. Diserahkannya amplop coklat besar.

Kubuka amplop yang basah karena hujan.

Berlembar foto suamiku dengan perempuan berbeda.

Dadaku bergemuruh.

Kubolak-balik foto-foto itu. Ada tulisan: Hentikan kriminalisasi Pak Lurah atau Pak Camat bakal hengkang!

Air mataku menggenang. Terbayang wajah-wajah polos kelima anakku.

Ancaman gombal! Aku tak gentar!

 

*500 kata

Tema yang didapat:

Deadly Sins : Pride

Days: Rabu

Basic notes: Sol

Rainbow Colors: Biru

Ditulis untuk Lucky 7 Stage MFF Idol 2

 

(Visited 616 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

3 Comments

  • linda February 11, 2015 Reply

    1. suka sama tampilan blognya! ketjeh!

    2. suka sama ff ini hahahahag. jadi kepikiran kps vs polri #plak dan ya beginilah hidup. suka suka sukaaaaaaak 😀

  • liyaswandari February 28, 2015 Reply

    Kerreeeen tapi Kasihaaaaan :(

    Sebenarnya endingnya aku dah tebak sih 😀 soalnya judulnya dah vs gitu. Tapi tetap aja keren soalnya aku nggak bisa bikin FF. hahaha

  • Izwar Zahid Zaidan February 27, 2016 Reply

    Kece Kak Tulisannya, FF itu apa ya Kak ?

Leave a Reply

error: Content is protected !!