Omah perden

Omah Perden, Membantu dan Mendampingi Stimulasi Anak

facebooktwittergoogle_plusredditmail

Omah perden

Omah Perden, membuat saya belajar cara stimulasi dan mengerti anak.

Jadi ibu itu nggak ada sekolahnya, jadi belajarnya harus sepanjang hayat.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengirim pesan whatsapp ke saya. Isinya menceritakan kegelisahannya karena putranya yang berusia 4 tahun lebih belum mau memegang pensil ataupun krayon. Padahal anak tersebut tertarik jika dibacakan buku, dan di TK nya juga mau mengikuti tarian, drumband, serta TPA. Intinya untuk aktivitas yang menggunakan fisik anak teman saya ini menikmati, tapi jika belajar memegang alat tulis termasuk melukis, masih susah. Teman saya sampai galau apakah perlu diperiksa ke klinik tumbuh kembang anak, atau harus kah dia mendatangi dokter anak dan psikolog?



Kisah di atas adalah satu dari sekian kisah kegalauan ibu-ibu muda seperti saya. Kalau anak saya malah kebalikannya, anak saya mau mengikuti aktivitas yang berhubungan dengan motorik halus, sebaliknya motorik kasar kayak diesel, harus panas dulu baru mau gerak =)

Nah pas banget nih, dua minggu lalu saya menghadiri pembukaan Omah Perden, yaitu rumah stimulasi untuk anak 8 bulan-6 tahun. Perden sendiri berasal dari kata predi ato perdi, artinya stimulasi. Yang unik dari rumah ini adalah, tidak hanya berbasis psikologi dan pendidikan, tapi juga berbasis budaya. Yup, tradisi daerah yang mulai luntur, diangkat kembali oleh Omah Perden. Saat berkeliling, founder Omah Perden menjelaskan fungsi tiap ruangan, dan filosofi apa yang terkandung di dalamnya.

Dalam rangka memperkenalkan Omah Perden, diadakan lah free seminar dan free trial. Kali ini saya mau cerita tentang seminarnya dulu ya. Saya mendaftar untuk mengikuti beberapa tema, salah satunya komunikasi efektif pada anak, tetapi sayang jadwal diubah dan kebetulan di tanggal yang baru saya malah sedang ada acara lain. Akhirnya saya memilih tema Pentingnya Sensori pada Perkembangan Anak dan Pengaruh Lingkungan terhadap Perkembangan Anak. Kedua materi tersebut dibawakan oleh Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M. Si., seorang Psikolog.

Pengaruh Lingkungan Terhadap Perkembangan Anak.

Saya mulai ya rangkuman dari tema pertama yaitu Pengaruh Lingkungan terhadap Perkembangan Anak. Bu Gamayanti mengingatkan agar para ibu santai dalam mendampingi anak menuju kualitas dirinya yang terbaik. Dengan begitu, anak tak perlu takut dinilai, atau takut tidak dapat memenuhi harapan, sehingga geraknya justru terhambat. Santai di sini maksudnya jangan bersikap otoriter, tapi lebih kepada memberi kebebasan yang bertanggung jawab.

Ada beberapa aspek yang perlu distimulasi pada anak, antara lain aspek emosi, sosial dan karakter. Kedua aspek ini dapat distmulasi dengan cara tidak terpaku pada kekurangan, menghargai dan mengembangkan betapa pun kecilnya potensi yang ada, serta mengutamakan proses bukan hasil.

Omah Perden

alat musik tradisional untuk nembang

Omah Perden percaya bahwa dengan mengajarkan basa (tutur, rasa, penganggo, polah tingkah), dolanan dan tembang, dapat ikut menstimulasi karakter, emosi dan sosial anak. Misalnya saja pada bahasa jawa, adanya tingkatan kromo inggil, ngoko, membuat anak mempelajari kesopanan. Perkembangan bahasa adalah kunci untuk memahami dan mengaplikasikan apa yang ketahui. Banyak orangtua yang ingin anaknya cepet bahasa asing, padahal pondasi belum kuat, karena bahasa juga terkait dengan gen. Bu Gamayanti menekankan

jangan bangga bahasa asing kalau lupa bahasa daerahnya sendiri, karena unggulmya sebuah bangsa terlihat dari bahasanya. Ketika bahasa nya tertutup dari bahasa negara lain, maka negara tersebut berada di bawah negara yang bahasanya dipakai.

Lalu boso daharan juga berpengaruh terhadap karakter, emosi dan sosial anak. Misalnya saja, anak yang terbiasa makan hamburger, pizza, sebaiknya tetap harus dikenalkan dengan makanan tradisional seperti gatot yang mengandung probiotik tinggi laiknya yakult. Kenikir dan lembayung zat antioksidannya juga tinggi sekali, sehingga di China sudah dinyatakan sebagai anti kanker.



Sementara itu, untuk tembang sendiri, stimulasi lebih ke orangtua karena isinya pitutur, sedangkan tembang dolanan bermanfaat untuk anak, karena anak tidak hanya beraktivitas, tapi juga bergerak mengikuti lagu. Misalnya cublak-cublak suweng, yang mengajarkan kebersamaan, menunggu, social rule, dan menebak rasa. Sama halnya seperti dongeng juga memberi pesan moral. Mengapa tuladha atau contoh itu penting? Karena anak perlu diajari sesuatu yg dekat dan dapat dilihat dulu. Tuladha artinya anak meniru orangtua. 

Pengaruh lingkungan ini dibagi menjadi tiga yaitu lingkungan fisik, psikis, sosial, spiritual. Lingkungan fisik antara lain lingkungan rumah, alam, dan fasilitas fisik. Sementara aspek perkembangan dasar anak ada lima, yaitu kognitif, emosi, sosial, motorik (kasar dan halus), dan bahasa. Contoh perkembangan emosi antara lain keuletan, semangat, berdaya juang tinggi.

Apabila ada dua orang dengan tingkat intelegensi yang sama, tetapi jika yang satu lebih cerdas secara emosi, maka orang tersebut lah yang akan lebih berhasil.

Sementara aspek sosial tidak hanya berhubungan dengan manusia, tapi juga dengan alam, dan hewan. Perkembangan anak optimal apabila potensi yang ada pada diri anak dapat dikembangkan dan dibina sehingga tercapai suatu kemampuan tertunggi, yang dapat dicapai sesuai dengan taraf, ragam potensi dan usia masing-masing individu.

Pentingnya Stimulasi Sensori pada Perkembangan Anak

Omah Perden

Mainan edukatif bisa untuk stimulasi sensori juga

Kita lanjut pada rangkuman seminar Pentingnya Stimulasi Sensori pada Perkembangan Anak. Menstimulasi itu mengenalkan sesuatu pada anak, kemudian membiasakan. Jadi nggak ujuk-ujuk kita berharap anak bisa nulis, padahal kita belum mengenalkan cara memegang pensil yang benar, atau kita belum mengenalkan fungsi tangan sebagai indera. Sama halnya dengan anak saya yang masih butuh waktu lama untuk beradaptasi karena sewaktu kecil memang jarang bermain dengan anak seusianya. 

Apakah stimulasi sensori itu?

Simulasi sensori adalah proses untuk mengenal, mengubah, membedakan sensasi yang diperoleh untuk menghasilkan suatu respon yang adaptif dan bertujuan. Respon adaptif ini berbeda pada setiap anak, tergantung dari tingkat perkembangan, derajat stimulasi sensori, dan tingkat ketrampilan yang tercapai sebelumnya. Respon adaptif mencerminkan kemampuan anak dalam menghadapi tantangan dan hal-hal baru.

Stimulasi sensori adalah bagian dari pembelajaran. Dalam stimulasi sensori, anak perlu menyentuh tanah, pasir, krakal, krikil, air dan sebagainya. Saya sempat motret contoh stimulasi sensori memakai bahan alami dan tradisional nih.

Omah Perden

Omah Perden

Omah Perden

Budaya Jawa sendiri mengenal istilah tedak siten, dimana merupakan saatnya anak turun ke tanah agar terstimulasi. Simulasi sensori terjadi akibat proses sensasi melihat, mendengar, taktil, vestibular, dan proprioseptif.

Teman-teman tahu nggak stimulasi sensori ini dimulai sejak kapan?

Pasti kaget kalau saya bilang dimulai sejak bayi di dalam kandungan. Yup, misalnya saja fungsi vestibular muncul pada gestasi usia 9 minggu dan membentuk efek moro. Input taktil juga berkembang pada usia getasi 12 minggu untuk eksplorasi tangan dan mulut. Sistem sensori akan terus berkembang sesuai usia anak.

Ada anak-anak yang hipersensitif terhadap sensori. Anak saya sendiri ternyata sewaktu saya mengetahui list hipersensitivitas, ternyata ada beberapa ciri yang dia alami. Apa saja ciri-cirinya? Kalau Kakak Najla misalnya tidak bisa mendengar suara yang terlalu keras, kayak suara motor di starter, suara truk besar lewat, pesawat dan sebagainya, terutama saat dia kecil dulu. Kalau sekarang sih sudah agak lumayan. Putri saya juga suka mengendus makanan sebelum dia makan. Hal ini sebenarnya juga terjadi pada saya sih=). Kadang anak saya juga duduk dalam posisi W dan picky terhadap makanan.

Kalau ciri lain anak yang dihipersensitif apa saja sih?

– kemampuan motorik halus kurang (menulis, menggunting)
– mengalami kesulitan untuk memakai baju sendiri
– sulit berkonsentrasi
– merasa tidak nyaman dengan label pakaian
– sering memegang sesuatu terlalu keras atau terlalu lemah
– melindungi mata dari sinar yang menyilaukan
– tidak suka dipeluk atau digelitik.
– memiliki kesulitan dalam pendengaran, yaitu memilih apa yang ingin didengar.
– tidak suka rambutnya dipotong, disisir atau dikeramas.

Apakah anak teman-teman mengalami hipersensitivitas?

Oh ya, seminar stimulasi sensori ini saya rangkum di live tweet #omahperden #stimulasisensori di Twitter saya @dian_ismy

Next saya bakal menuliskan keseruan Kakak Najla mengikuti free trial di Omah Perden ya=)

Silakan baca di sini tentang free trial nya.

(Visited 123 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

5 Comments

  • ZILQIAH September 23, 2017 Reply

    keren banged ulasannya mak,, semoga aq juga bisa jadi ibu yang baik buat anak2 yaaa, di rumah pun sy juga sering sih ngasih stimulasi sensori tp ya gak selengkap yg ada di kemuning kembar ini,kerenn

  • Maya Siswadi September 25, 2017 Reply

    Kearifan-kearifan lokal itu memang harus terus diangkat supaya kawula muda sekarang paham ya. Ga hilang ditelan zaman

  • mbak avy September 25, 2017 Reply

    komplit mak ulasannya
    bisa jadi referensi…makasih ya

  • Nana Aditya September 26, 2017 Reply

    wiiih..lengkap banget infonyaaa iniii…. :)

  • April Hamsa September 27, 2017 Reply

    Tedak sinten ternyata kaya filosofi dan fungsi yaaaaa

    Kalau di depok ada gak ya semacam itu?
    Aku ini Maxy juga ada beberapa yg aku rasa miss, mau bawa ke tumbang jg tapi blm tau mesti kemana yg cocok buat anak ini…
    TFS infonya ya

Leave a Reply

error: Content is protected !!