Museum Gunung Merapi, Ajak Anak Mengenal Gunung Api

facebooktwittergoogle_plusredditmail

Museum Gunung Merapi, Ajak Anak Mengenal Gunung Api

Masih ingatkah dengan kejadian 6 tahun silam? Gunung Merapi meletuskan awan panas dan lavanya. 3000 rumah habis tersapu wedhus gembel, lebih dari 3000 ternak mati, lebih dari 800 orang kehilangan mata pencahariannya, dan 398 jiwa meninggal dunia.



Saya masih ingat hari itu, kala sirine ambulance meraung di malam hari, dan ketika melihat keluar rumah, pohon-pohon dan jalanan sudah tertutup abu merapi. Berita di televisi menambah kengerian, Merapi dikabarkan masih akan meletus lagi.

Hari-hari pertama setelah letusan yang pertama, saya sempat turun ke jalan membagikan masker gratis untuk para pengendara sepeda motor. Saya juga sempat masuk kerja satu kali di apotek hingga akhirnya apotek memutuskan untuk meliburkan saya karena kondisi debu dan abu yang semakin tebal. Lalu saya menggabungkan diri sebagai relawan di dapur umum menyiapkan nasi bungkus untuk dibagikan ke pos-pos pengungsian. Sempat juga saya ikut sehari menjadi relawan tenaga kesehatan di salah satu pos pengungsian di sleman, ngurusi obat ceritanya. Tapi itu cuma beberapa hari awal, karena akhirnya saya sekeluarga mengungsi ke Semarang. Mengapa? Karena ada isu merapi akan meletus lagi. Sementara abu vulkanik yang dapat menyebabkan masalah pernapasan itu kian menebal. Kami mengungsi di rumah saudara di Semarang.

Perlu diketahui bahwa Gunung Merapi sendiri melingkupi empat daerah yaitu, Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten, sehingga saat ada abu dan lava ya mengarah ke sana. Bahkan saat kami melewati Magelang untuk ke Semarang, jalanan di Magelang sama gelapnya, tertutup kabut dan abu. Pohon-pohon kering karena tertutup abu.
Sebelum saya lanjut berkisah tentang MGM, kita tilik dulu yuk sejarah Gunung Merapi.

Tentang Merapi

Dari 120 gunung api di indonesia, Gunung Merapi termasuk yang aktif, terletak di DIY dan Jateng. Gunung Merapi merupakan sumber daya tempatt bergantung penduduk sekitar. Berpotensi wisata, tapi juga berpotensi bahaya.

Tipe letusan Gunung Merapi adalah tipe ekslusif dan afusif (adanya kubah lava di awal erupsi) Sejak tahun 1800an, Merapi meletus hampir 100x. Ada letusan besar di tahun 1872, sementara tahun 1930 menewaskan 1200 orang, lalu tahun, 2010 yang menewaskan 300an orang.

Perjalanan letusan 2010

Pada tahun 2006 sebenarnya sudah ada peringatan awal bukaan kawah ke arah selatan yang dideteksi oleh tim Merapi. Tahun 2008 ada peringatan awal bukaan ke selatan dan tenggara (ancaman awan panas dimana Sleman akan paling banyak terkena, yaitu estimasi alur Kali Gendol 12km, Kali Kuning 10km, Kali Boyong 8km). Tahun 2008 dan 2009 ada gempa vulkanik, diikuti pada tahun 2010 ada peningkatan aktivitas, ada asap putih bertekanan kuat tegak ke atas menandakan adanya kelainan. Aktivitas kegempaan meningkat, lalu oada tanggal 20 September 2010 status Merapi waspada, gempa sudah mencapai 200x perhari. Ketidaklaziman tersebut membuat tim Merapi melakukan misis khusus yaitu, sampling gas vulkanik pada Oktober 2010 untuk mengecek kadar CO2. Ternyata hasil menunjukkan tingginya aktivitas magma, yaitu kadar CO2 hingga 60%. Status Merapi menjadi siaga. Lalu gempa 400x perhari, sehingga pada Oktober 2010 status berubah menjadi awas. Terjadi gemuruh hingga 360 km dari puncak, magma mendesak keluar.

Pada 20 Oktober 2010 letusan pertama terjadi, berupa awan panas ke arah selatan, sedangkan debu dan butiran pasir halus sejauh 8 km. Pada tanggal 5 November terbentuk kubah lava baru memicu awan panas sejauh 5 km ke arah Kali Gendol. Radius aman dinaikkan. Isu letusan membesar. Pengungsi dari 200 ribu menjadi 400 ribu. Sebanyak 3000 rumah habis tersapu, lebih dari 3000 ternak mati, 398 jiwa meninggal dunia. Lebih dari 800 orang kehilangan usaha. Kerugian ditaksir hingga 3,5 triliun rupiah.

Antisipasi letusan ke depannya

Saat ini, sudah terjadi perbaikan di segala sektor di sekitar Gunung Merapi. Baik ekonomi hingga tempat tinggal warga. Selain itu, dilakukan antisipasi jika Merapi meletus lagi, yaitu dengan mitigasi bencana melalui penataan ruang. Ada juga kegiatan wajib latih kegiatan bencana dan sistem siaga bencana.

Museum Gunung Merapi

Kembali ke Museum, dengan tiket hanya 5000 rupiah per orang, kita dapat melihat dahsyatnya letusan Gunung Merapi. Setelah membeli tiket di loket, kita akan memasuki ruang Museum yang luas. Di pintu depan kita disuguhi prototipe Merapi yang bisa mengeluarkan suara gemuruh dan mengeluarkan lava.

Atas: foto miniatur desa terkena awan panas, miniatur bentuk awan panas letusan Merapi. Bawah: miniatur Gunung Merapi, lorong di MGM

Lalu kita akan diarahkan untuk terlebih dahulu menuju ruang teater untuk menonton film tentang Gunung Merapi.

Lampu dimatikan, suara menggelegar sempat bikin kakak dan Sara minta keluar ruangan, hehe. Kurang lebih setengah jam, film selesai, lalu kami melanjutkan berkeliling ruangan museum.

Ada berbagai foto letusan Merapi, termasuk prototipe bentuk awan panas dari tahun ke tahun.

Atas: prototipe bentuk awan panas, bola dunia Bawah: barang warga yang terkena abu, suasana di dalam teater MGM

Setelah puas berkeliling lantai atas, kami menuju lantai bawah. Terdapat barang-barang warga yang terkena abu vulkanik. Ada juga jenis batuan, dan berbagai foto Merapi. Terdapat juga taman miniatur suasana desa yang terkena letusan. Batang-batang pohon yang kering dan pasir abu-abu mendominasi (foto di atas). Dari gambar dapat dilihat bahwa MGM rapi dan bersih.

Kakak Najla senang sekali mengunjungi museum, sementara baby koala mah lempeng-lempeng aja, hehe. Beruntung, kami tinggal di Jogja yang banyak museumnya, seperti museum anak kolong tangga, deMata museum tiga dimensi, museum biologi, museum dirgantara, dan sebagainya. Hari itu, setelah puas berkeliling mendalami soal Gunung Merapi dan juga foto-foto, kami pun makan siang di depan museum. Sebenarnya ada gazebonya sih, sayang lantainya nggak ada kursinya, jadi lesehan gitu. Better bawa tikar sendiri kalau mau santai di gazebonya. Karena kami nggak bawa tikar, akhirnya nekat makan di konblok dekat taman ayunan anak-anak. Lokasinya persis di depan agak samping museum, dekat parkiran lah.

Setelah mengisi perut, kami salat dhuhur dulu di musholanya. Lokasinya agak jauh dari museum, jadi saat itu sekalian deh kendaraan kami pindah parkiran. Agak ke bawah dikit dari museumnya, dan parkirnya sangat luas, bus aja cukup lho. Musholanya juga luas, sayang agak kurang bersih saja, mungkin karena saat itu musim hujan.

Nah, sekarang jadi tahu ‘kan, sejarah MGM dan apa saja yang bisa teman-teman lakukan di sana. Bawa anak-anak juga seru kok.

Oke, sampai jumpa lagi di petualangan ke museum-museum selanjutnya ya teman-teman=)

(Visited 125 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

7 Comments

  • Khoirur Rohmah October 18, 2016 Reply

    Ahhh aku belum pernah menjejakkan kaki ke Yogya samsek mbak.
    Meseum Gunung Merapi, bisa kumasukkan list kalo seandainya jalan2 ke Yogya .. hee

  • De October 19, 2016 Reply

    Baru tau kalo ada museum Gunung Merapi

    boleh juga nih kapan2 bawa anak2 kesini untuk menambah pengetahun mereka

  • Molly October 19, 2016 Reply

    Aku suka berkunjung ke museum, apalagi yang kayak gini, mba. Banyak nemu hal-hal unik di sana pastinya :).

  • Intan Rastini February 9, 2018 Reply

    Tiket masuknya murah ya. Dan kebetulan saat ini di Bali ada gunung api yang lagi aktif saat ini yaitu Gunung Agung.

Leave a Reply

error: Content is protected !!