Mereka yang Tertimpa Gempa Setiap Hari

facebooktwittergoogle_plusredditmail

download (2)

Pekikan takbir, tangisan anak-anak, jeritan kalut wanita, berpadu dalam langit yang berdebu. Bekas reruntuhan batu bata dan beton berserakan seolah dicerabut dari tanah. Pagi yang berbeda dari biasanya. Pukul enam yang paling lambat terasa. Mataku memotret kengerian dalam retakan dinding rumah. Telingaku merekam kesyahduan yang paling sendu. Pandangan nanar yang bertahan lama di retina, saat kususuri jalanan kota Jogja, 27 Mei 2006.

Tepat dihadapanku, mereka kehilangan atap tempat bernaung. Mereka diterpa kegelapan saat malam menyapa. Mereka tidak berganti pakaian, dan makan seadanya. Bahkan sekolah yang serupa surga bagi anak-anak tak lagi menampakkan sinarnya. Sementara lorong-lorong rumah sakit penuh sesak dengan manusia yang meminta tolong.

Hal itu berlangsung kurang lebih seminggu sampai berbulan-bulan, hingga tiba saatnya masyarakat bersatu beriringan membangun kembali. Pemerintah turun tangan memperbaiki. Lembaga-lembaga swasta dan sukarelawan terjun bahu- membahu. Keadaan, perlahan normal.

Tapi bagaimana bila kita mengalami kejadian tersebut semenjak lahir dan bahkan tidak mempunyai bayangan kapan akan berakhir. Bagaimana bila kita menemui anak yang menghabiskan setiap malam dalam dinginnya jalanan. Bagaimana bila kita mengetahui ada ibu yang mengais sisa nasi bungkus dari tong sampah untuk dibagi bertiga dengan keluarganya. Dan kita jelas-jelas pernah melihat seorang bocah kecil yang menjajakan koran di pinggir jalan di saat seharusnya dia sedang bermain. Aku sendiri sering memandang kelu pada wajah menahan sakit dari orang-orang lanjut usia dan anak-anak yang terpaksa menikmati hari-hari di kamar serba putih.

images (1)

Lalu apa yang sudah kita lakukan untuk mereka? Apa yang sudah aku berikan pada sesamaku?

Akan ada masa dimana jabatan dan nama besar kita tidak akan berguna. Pada masa itu, akan di tanya, kemana harta dan ilmu kita gunakan?

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa darimu, hai ahlul bait, dan membersihkanmu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab:33).

Bahkan zakat disandingkan dengan shalat. Sebuah ayat yang baru hari ini kudalami maknanya. Sebuah solusi yang sudah ada sejak zaman dahulu, tetapi banyak dari kita mengabaikannya Zakat sendiri datangnya dari kewajiban, memuliakan pemberi dan penerimanya. Tidak pernah ada kisah ahli sedekah, infak dan zakat yang jatuh miskin. Justru sebaliknya, Allah mengganti berkali lipat. Ketika harta di sucikan dan menjadi bermanfaat bagi umat, maka kelak juga menjadi amal jariah yang terus mengalir meski roh sudah terpisah dari jasad.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir ; seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui”. (QS. Al-Baqoroh : 261)

Itulah zakat, sebuah jalan yang sudah dibangun oleh Allah sebagai atap, penerang, obat dan pendidikan bagi mereka yang tertimpa gempa setiap hari.

Jakarta, 21 Juni 2014

(Visited 29 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

Leave a Reply

error: Content is protected !!