Lima Alasan Jembatan Ampera menjadi Destinasi Impianku

facebooktwittergoogle_plusredditmail
Foto asli sebelum diedit dari mizan photography

Foto asli sebelum diedit dari mizan photography

Menaiki gondola sambil menikmati pemandangan malam dari perairan tentu sangat menarik. Sayangnya, tiket ke Venesia tidaklah murah. Tapi jangan sedih, negeri kita Indonesia juga memiliki lokasi seperti Venesia. Dimana lagi kalau bukan di perairan bawah Jembatan Ampera.

Saya sendiri terus terang belum pernah kesana. Padahal, nenek moyang berasal dari Sumatera Selatan. Hal tersebut karena dulunya, Bangka masuk ke wilayah Sumatera Selatan. Iya, ibu saya orang asli Bangka. Dulu ibukotanya Palembang, kan? Makanan khas Palembang seperti empek-empek dan otak-otak sudah akrab di lidah saya. Ke Bangka sih saya pernah beberapa kali, tapi ke Palembang belum pernah. Siapa tahu beneran bisa ke sana suatu hari nanti. Aamiin.

Mengapa Jembatan Ampera menjadi destinasi impianku?

Setidaknya ada lima alasan. Apa saja ya?

1. Keindahannya

Seperti sudah disebutkan di atas, bahwa panorama Jembatan Ampera memang tidak tertandingi. Bila daerah sungai di bawahnya seperti venesia, maka jembatannya sendiri mengingatkan kita pada Golden Gate Bridge di San Fransisco, Amerika Serikat. Lihat deh kemiripannya.

Jembatan Ampera. Foto oleh Dimas Wahyu (Non Commercial Lisence)

Jembatan Ampera. Foto oleh Dimas Wahyu (Non Commercial Lisence)

Golden Gate Bridge. Image source

Golden Gate Bridge. Image source

Mungkin karena warnanya sama-sama merah ya. Eh tapi jangan salah, dulunya, Jembatan Ampera pernah berwarna lain lho, yaitu abu-abu (saat diresmikan tahun 1965) dan kuning (tahun 1992). Sementara warna merah baru di tahun 2002. Saya juga baru tahu nih. Kalau gitu, kita sebaiknya menilik dulu sejarah Jembatan Ampera, karena sejarahnya merupakan keunikan tersendiri.

2. Sejarahnya

Siapa sangka dulunya Jembatan Ampera pernah diberi nama Jembatan Bung Karno. Ada alasan khusus mengapa masyarakat ingin menamakannya Jembatan Bung Karno. Tak lain dan tak bukan, karena jembatan ini bisa berdiri karena perjuangan Bung Karno untuk membangunnya. Ya, penamaan tersebut sebagai rasa terimakasih rakyat Palembang, tapi karena Bung Karno tidak setuju dan sempat ada pergolakan politik, maka tahun 1966, namanya diubah menjadi Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat, sebuah slogan Indonesia di tahun 1960-an).

Jembatan ini dibangun tahun 1962, dengan menggunakan dana rampasan perang dari Jepang. Bahkan ahli pembuatan jembatanpun berasal dari Jepang. Wah pantas kuat dan megah ya Jembatan Ampera.

Nilai historis Jembatan Ampera yang tinggi inilah, yang membuat saya jadi semakin tertarik untuk melihat secara langsung saksi sejarah tersebut.

3. Keistimewaannya

Sebelum membahas keistimewaannya, kita lihat dulu ukuran Jembatan Ampera.
Panjang : 1.117 m (bagian tengah 71,90 m)
Lebar : 22 m
Tinggi : 11.5 m dari permukaan air
Tinggi Menara : 63 m dari permukaan tanah
Jarak antara menara : 75 m
Berat : 944 ton

Nah, ternyata bagian tengah jembatan ini bisa diangkat lebih tinggi lho.

Jembatan Ampera berwarna abu-abu dan badan jembatan bisa diangkat.

Jembatan Ampera berwarna abu-abu dan badan jembatan bisa diangkat.

Fungsinya agar kapal yang lewat di bawahnya, tidak menabrak badan jembatan. Ukuran kapal yang bisa lewat menjadi hingga lebar 60 meter dan tinggi hinggaa 44,5 meter. Sementara kalau badan jembatan tidak diangkat, tinggi kapal yang lewat hanya sebatas 9 meter saja. Keren ya idenya. Saya jadi ingat jembatan apa itu di London yang malah bisa dibuka tutup di waktu tertentu, “Ajaib”, batin saya waktu menonton liputannya di televisi.

Cara mengangkatnya gimana?

Yaitu dengan dua peralatan mekanis berupa dua bandul pemberat (500 ton) di dua menaranya. Dengan kecepatan pengangkatan 10 meter/menit, dibutuhkan waktu 30 menit untuk memaksimalkan pengangkatan badan jembatan. Sayangnya, pada tahun 1970 aktivitas pengangkat turunan tersebut sudah tidak lagi dilakukan. Baik karena alasan prosesnya mengganggu lalu lintas di atas jembatan, maupun alasan Sungai Musi tidak bisa dilewati kapal besar karena adanya pendangkalan. Bahkan pada tahun 1990, dua bandul pemberatnya sudah dibongkar. Padahal kalau badan jembatan masih bisa diangkat, dapat menjadi keunikan sendiri saat wisatawan datang ke Jembatan Ampera. Misalnya saja setiap dua atau tiga kali dalam seminggu, wah para wisatawan mungkin berbondong-bondong datang di saat tersebut.

4. Fungsinya

Jembatan tentu saja berfungsi sebagai penghubung dua tempat. Sama seperti Jembatan Ampera yang menjadi penghubung bagian ulu dan ilir dari dua daerah yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Dengan adanya jembatan, transportasi dan aktivitas perekonomian, pendidikan dan akses kesehatan juga menjadi lebih lancar. Saya ingin melihat langsung jembatan yang sudah puluhan tahun berdiri dan berhasil membuat Palembang menjadi maju seperti sekarang.

5. Ikon Wisata

Seperti kita ketahui bahwa di sepanjang Sungai Musi banyak kuliner Palembang, baik di tepi maupun di rumah makan terapungnya.

Rumah makan terapung di Sungai Musi. Image source

Rumah makan terapung di Sungai Musi. Image source

Apa saja yang dijajakan? Tentu saja makanan khas Sumatera Selatan seperti pindang ikan patin, empek-empek, kerupuk ikan, bahkan kerajinan tangan seperti songket dan jumputan. Di Sungai ini juga ada wisata rumah rakit (rumah khas Palembang) dan pada saat tertentu ada festival air yang dapat diabadikan. Di tepinya, ada juga Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan Pelabuhan Boom Baru yang dapat dikunjungi. Para wisatawan juga sering kemari untuk melihat matahari terbenam dan menikmati lampu-lampu yang indah serta tentu saja melihat keindahan dan keanggunan Jembatan Ampera.

Jelas sudah bahwa Jembatan Ampera menjadi trade mark Palembang yang tidak bisa dipisahkan dari Sungai Musi, dan menjadi destinasi wisata.

Sebagai informasi, Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin dan Pemerintah Kota Palembang akan menutup Jembatan Ampera pada saat gerhana matahari tanggal 9 Maret mendatang. Penutupan akan dilakukan mulai jam 24.00 hingga jam 10.00 wib, agar tempat tersebut dapat digunakan untuk melihat gerhana matahari total. Selain gerhana terlihat jelas dari sana, sepanjang Jembatan Ampera juga akan “disulap” menjadi tempat kuliner. Wah sudah terbayang nih serunya melihat gerhana matahari total dari atas jembatan sambil menikmati empek-empek Palembang.

Kamu juga mau? Yuk kita ke Palembang=)

Referensi:
http://sonsakira.blogspot.co.id
Wisata Sungai Musi
http://m.inilah.com/news/detail/2266389/gerhana-matahari-jembatan-ampera-pusat-kuliner

(Visited 242 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

3 Comments

  • Hastira February 22, 2016 Reply

    aku suka banget lihat jembatan, jadi saat ke Palembang terpesona apalagi malam hari, gagah

    • dian.ismyama February 22, 2016 Reply

      Wah sudah pernah ya ke jembatan Ampera? #ngiri

  • Lestarie February 22, 2016 Reply

    Mbaaakkk…..aku mau ikottt donk ke Palembang. Nanti kita selfie yaaaa. Pasti cantikkk banget poto kita berlatar belakang Jembatan Ampera :*

Leave a Reply