Dilan 1990

Kenapa Film Dilan 1990 Bisa Bikin Cewek Kelepek-kelepek?

facebooktwittergoogle_plusredditmail

Film Dilan 1990 berhasil meraup 225.000 penonton di hari pertama. Menyaingi AADC 2 dengan 200.000 penonton di hari kesatu. Mendekati penggemar Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part. 1 yang berjumlah 270.000 saat tayang perdana. Film Dilan bahkan dikabarkan akan masuk menjadi film Indonesia box office di tahun 2018. Kok bisa? Lanjut baca review saya ya.

cover film Dilan

Genre: Drama
Duration: 110 minute

Distributor: Max Pictures
Producer: Ody Mulya Hidayat
Director: Fajar Bustomi, Pidi Baiq
Writer: Pidi Baiq, Titien Wattimena
Cast: Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla, Giulio Parengkuan, Omara Esteghlal, Teuku Rifnu Wikana, Happy Salma, Ira Wibowo, Farhan

Milea (Vanesha Prescilla) bertemu dengan Dilan (Iqbaal Ramadhan) di sebuah SMA di Bandung. Itu adalah tahun 1990, saat Milea pindah dari Jakarta ke Bandung.
Perkenalan yang tidak biasa kemudian membawa Milea mulai mengenal keunikan Dilan lebih jauh. Dilan yang pintar, baik hati dan romantis… semua dengan caranya sendiri. Cara Dilan mendekati Milea tidak sama dengan teman-teman lelakinya yang lain, bahkan Beni, pacar Milea di Jakarta.
Bahkan cara berbicara Dilan yang terdengar kaku, lambat laun justru membuat Milea kerap merindukannya jika sehari saja ia tak mendengar suara itu. Perjalanan hubungan mereka tak selalu mulus. Beni, gank motor, tawuran, Anhar, Kang Adi, semua mewarnai perjalanan itu. Dan Dilan… dengan caranya sendiri…selalu bisa membuat Milea percaya ia bisa tiba di tujuan dengan selamat. Tujuan dari perjalanan ini. Perjalanan mereka berdua.

Katanya, dunia SMA adalah dunia paling indah. Dunia Milea dan Dilan satu tingkat lebih indah daripada itu …

Saya pertama kali mengetahui kisah Dilan dari status seorang teman. Dia memposting tulisan di blog Pidi Baiq. Sepenggal kisah Dilan, bikin saya penasaran dan membuat saya membacanya hingga tamat. Gaya bahasa yang digunakan Pidi Baiq begitu santai, kocak, dan bikin baper=D. Ternyata, tulisan tersebut mau diterbitkan menjadi sebuah novel berjudul “Dilan 1990.” Wow, pasti beli dong,” batin saya. Meski saya bukan anak SMA di tahun 1990-an, tapi saya kepo banget sama kisahnya Dilan.

Begitu novelnya ada di toko buku, saya membawa pulang novel tersebut, dan nggak perlu waktu lama untuk menyelesaikannya. Kelar Novel Dilan 1990, terbit novel bagian kedua berjudul “Dia adalah Dilanku, tahun 1991.” Kemudian muncul bagian ketiga dengan judul, “Milea, Suara dari Dilan.” Semuanya bikin baper=D

Ekspektasi awal

Dilan Milea

Kali ini, saya nggak bahas tentang novelnya, tapi bakal bahas filmnya yang baru aja premier tanggal 25 Januari 2018. Terus terang, gonjang-ganjing siapa pemeran Milea dan Dilan sempat nyaring terdengar. Untuk pemeran Milea, dari penampakan Vanescha sih udah nggak diragukan lagi, cantik dari sananya, pas lah memerankan Milea.

Nah, Dilan nih yang susah. Bad boy tapi romantis, suka gombal tapi kata temen saya gombalannya nggak receh dan cerdas. Bayangan saya tentang sosok Dilan di novel itu begitu spesial, mungkin nggak terlalu ganteng, cenderung nakal tapi baik. Kalau soal akting, saya tadinya menjagokan Adipati Dolken, tapi ternyata yang terpilih adalah Iqbal=D. Awalnya saya masih merasa biasa saja, sampai trailer film Dilan muncul.

Diawali dengan soundtrack film yang baper abis, lalu aktingnya Milea yang kayak dirinya sendiri alias udah nyatu banget lah jadi cewek cantik, jutek dan cool. Eh pas Dilannya ngomong, ternyata malah kaku gitu, dingin. Kalimat romantisnya jadi berasa hambar, hiks. Bikin saya jadi ragu buat nonton filmnya. Tapi nyatanya, keraguan saya kalah dengan rasa penasaran. Apa iya separah itu akting Iqbal? Apa iya filmnya dibanding novelnya bakal jauh banget?

Akhirnya di hari H, saya berhasil ngomporin kembaran saya Diyan (kembar nama doang sih) buat barengan nonton Dilan, 1990. Itu juga pakai syarat mau nonton film “Bunda, Cinta Dua Kodi” begitu tayang Februari nanti. Tantangan tersebut saya ambil, karena memang mau nonton filmnya Bunda, berasa konfliknya itu mahmud (mamah muda) bangets.

Tiket sudah di tangan (berbekal mtix milik suami, hehe). Kami sampai di lokasi, XXI JCM ngepas banget pukul 18.50 wib, padahal film mulai jam tujuh kurang lima belas. Pas masuk pintu bioskop, buju buneng itu antrian tiket ramai bener. Entah pada antri Dilan, atau antri Maze Runner:)). Begitu masuk studio 3, saya lebih kaget lagi, kursinya penuh lho! “Wah, ternyata peminat film Dilan banyak juga ya,” batin saya.

Layar mulai menyala, eh ada iklan #TemanTapiMenikah, yang main Vanescha lagi, tapi kali ini pasangannya Adipati Dolken, hihi, baiklah sepertinya mau nonton juga nantinya. Terus ada Aa Reza Rahardian yang always TOP aktingnya. Jadi Habibie bisa, jadi Benyamin juga cocok! Heran saya=). Seneng sih, dunia perfilman Indonesia sudah mengalami kebangkitan. Banyak pilihan genre film yang bisa dinikmati dan dibanggakan.

Kenapa film Dilan bisa bikin cewek kelepek-kelepek?

Oke, kita masuk ke review film ya.

Dilan 1990

Dilan di atas motor menghampiri Milea yang jalan kaki.

Deru motor terdengar keras, lalu semakin pelan kala pemiliknya menyapa seorang gadis cantik yang sedang jalan kaki.

“Kamu Milea ya?”
“Iya.”
“Aku ramal, nanti kita bakal ketemu di kantin.”

Terus muncul deh lagu ‘Dulu kita masih Remaja’. Liriknya aja udah bikin saya bernostalgia, apalagi dibarengi dengan filmnya. Adegan demi adegan tayang di layar. Persis dengan apa yang ada. di novel, nyaris nggak ada yang diubah.

Lambat laun, karakter Dilan ternyata cocok diperankan oleh Iqbal=). Yang tadinya underestimated, berubah jadi pujian. Yup, Iqbal berhasil memerankan tokoh Dilan dengan baik. Ekspresinya dapat. Cool -nya Dilan, cueknya Dilan, bahkan marahnya Dilan pun dapet! Saya sampai ngeri waktu Dilan mengancam mau bakar sekolah. Alamak, gimana Milea nggak meleleh.

Paling ada ruhnya itu justru adegan Dilan lagi penuh emosi, sampai napasnya tersengal-sengal, terus Milea berusaha nenangin. Cuma pakai pandangan mata, sentuhan sedikit di lengan atau di bahu, dan sepatah dua patah kata dari Milea, udah berhasil bikin Dilan turun emosinya.

Berantemnya Iqbal, eh Dilan juga jago lho. Kalau saya jadi anak SMA sih memang nggak suka sama yang dikit-dikit berantem, tapi tetep keren lah, haha, dibanding cowok yang nggak berani ngelawan atau membela diri.

Karakter Dilan

Karakter Dilan memang unik, sama halnya dengan cara dia deketin Milea. Kisahnya tuh remaja banget, termasuk ketika ada hal-hal yang tak tersampaikan antara Dilan dengan Milea (Milea nggak suka kalau Dilan tawuran, dan dia berusaha bikin Dilan nggak kemana-mana kecuali pergi sama Milea seharian).

Remaja banget kan? Nggak to the point. Meski pada akhirnya Milea terus terang bilang bahwa dia nggak suka kalau Dilan nyerang-nyerang sekolah lain. Tahu banget sih perasaan Milea, dia cuma nggak mau cowoknya terluka. Padahal kan, Dilan Panglima Tempur ya, hihi.

“Kamu mau tahu caranya supaya aku nangis? Gampang, menghilanglah dari bumi!” (duh, Mas…)
“Cemburu itu cuma buat orang yang tidak percaya diri, dan aku sedang tidak percaya diri!” (unch…unch)

Quote Dilan

Iqbal juga berhasil memerankan romantisnya Dilan dengan gombalan-gombalan yang kalimat-kalimatnya tak lekang sepanjang masa. Bisa deh kalau gombalan itu kamu pakai di zaman sekarang, kayaknya bakal masih banyak cewek yang kelepek-kelepek. Seisi bioskop aja langsung pada ketawa-ketiwi, heboh dan baper tiap Dilan ngegombal.

Iqbal Dilan

Lihat deh tatapan Dilan ke Milea. Eeaa

Herannya, suara cewek-cewek yang nonton film Dilan itu lho, pada berasa mereka Milea dan tersipu-sipu oleh Dilan (termasuk saya nggak ya? =)). Terus penonton cowok banyak yang ngakak, seolah-olah mikir, “Gila ya Dilan, bisaan banget ngegaet cewek dengan puitisnya!”

Kok saya bisa ngeh? Ya iyalah, sebelah saya pasangan gitu, yang cewek baper, yang cowok terpingkal-pingkal nonton tingkahnya Milea dan Dilan.

Kembaran saya, ketawa terus sepanjang film, dia bilang,” Dilan lucu, ada ya cowok kayak gitu?” Dari awal, teman nonton saya, Diyan, memang sudah cerita kalau dia belum baca novelnya, makanya tiap ada kalimat unik, dia ngakak dan baper. Sedangkan saya yang sudah baca, ya senyum-senyum aja, secara hebohnya udah pas baca novel=D. Tapi visualisasi novel Dilan berhasil kok, sesuai ekspektasi saya.

Setting film.

Dilan telepon

Nostalgia telepon umum dan telepon rumah:D

Setting di tahun 1990, mau nggak mau membawa saya ke masa lampau. Gimana serunya ngobrol di telepon umum. sambil berdiri atau bersandar. Gimana asyiknya nelepon berjam-jam via telepon rumah (ndilalah suasana sudut telepon rumah Milea, mirip di rumah saya:D, maksudnya ada sofa kecilnya gitu, hehe. Saya yakin nggak cuma rumah saya sih yang begitu).

Kalau menelepon ke rumah, yang mengangkat teleponmu bisa siapa aja. Bisa bohong bilang kamu lagi nggak ada di rumah, lagi sakit, atau lagi apalah, ketika malas angkat telepon dari seseorang. Persis yang dilakuin Milea ke Beni (cowoknya yang udah diputusin).

Beda ya sama zaman dimana tiap orang udah pegang smartphone. Nggak mau angkat telepon ya pura-pura di silent, didiemin aja sampai yang nelepon capek sendiri, atau bahkan diblokir biar nggak bisa berkomunikasi lagi, hmm.

Kok tahu? Soalnya saya ngalamin semuanya, haha. Mulai dari malas angkat telepon rumah dari orang-orang tertentu, sampai pernah juga ketika saya nelepon eh diujung sana yang mengangkat telepon bilang ybs nggak ada di rumah. Padahal feeling berkata lain=D. Kalau diblokir di masa sekarang? Pernah ngalamin juga nih=D.

Kota Bandung yang digunakan sebagai lokasi film, juga menguatkan isi cerita. Selain memang sesuai dengan novelnya, kota Bandung identik dengan hawa sejuk nan romantis. Kebayang deh motoran sama cowok yang disukai di daerah yang masih sepi, asri, di bawah pohon rindang, uhuk. Kalau di Jogja kayak di Kaliurang gitu (haha apa sih =))

Yang disukai

Selama film, kamu akan disuguhi adegan romantis yang simpel, tapi mengena. Buat beberapa orang mungkin kesannya nggilani, aneh, tapi buat penggemar novel Dilan, romantisnya itu so sweet banget.

“Jangan bilang ada yang menyakitimu Milea, besoknya orang itu akan hilang!”
Vanesha

Yang bikin Milea nangis bakal diajak berantem

Bahkan temen saya sampai bilang, “Gombalannya Dilan itu nggak receh.” Terus saya nyeletuk, “Ya iyalah, di kamar Dilan aja bukunya banyak banget. Kayaknya ada dua lemari besar gitu. Belum lagi majalah-majalah yang berserakan di karpet kamarnya.”

Jadi inget tahun 90-an kan? Masa dimana majalah itu bagai oase di tengah-tengah padang gurun buku pelajaran yang bikin tenggorokan kering, hehe. Banyaknya buku yang dibaca Dilan, juga jadi salah satu alasan kenapa Dilan suka nulis puisi. Puisi bisa tercipta ketika kita dapat ide, dan ide bisa dari mana saja, salah satunya buku bacaan (analisa berdasar pengalaman pribadi sih).

Tokoh-tokoh lainnya juga oke aktingnya, walaupun banyak pemain muda yang jarang saya lihat. Kalau film Dilan adalah debut mereka, maka sutradara, pengarah gaya dll patut diacungi jempol. Pemain – pemain tadi berhasil beradu akting dengan para aktor dan artis kawakan lho, kayak ke Ira Wibowo, Happy Salma, dan sebagainya.

Saya suka kedekatan Dilan sama Bundanya. Duh, kalau punya anak cowok, saya pingin sedekat itu, kayaknya seru ya. Kedekatan Milea sama ayah dan ibunya juga jadi self reminder nih buat para mahmud dan pahmud, siap-siap kalau nanti anaknya udah remaja.

Saya juga suka scene Dilan beberapa kali minta tolong temennya buat bawa motornya (karena mau jalan kaki sama Milea), atau kisah Dilan minta tolong sama Bi Asih, tukang pijat buat merilekskan Milea. Juga ketika Dilan berinteraksi sama tukang sayur, tukang koran, membuktikan bahwa Dilan tuh humble banget. Suka deh, semoga aja ditiru sama remaja-remaja yang nonton, supaya nggak sombong, tetap merakyat lah.

Yang sedikit mengganggu

Jika boleh berkomentar, ada beberapa hal yang menurut saya mengganggu, antara lain tokoh Nandan yang secara penampilan rapi, berkaca mata, terkesan kutu buku, tapi diceritanya jadi anak basket, kan aneh. Terus si Anhar, dari pertama tokoh ini muncul dan ngomong pas di Kantin Bi Eem, duh kayak ngelantur, seperti habis mabuk gitu, emang mabuk atau gimana ya?

Ada beberapa adegan yang menarik perhatian saya, yaitu saat Pak Suripto menampar Dilan di muka umum. Nggak tahu kenapa, saya kayak pingin mengorek masa lalunya Pak Suripto deh, hihi. Apa dia dibesarkan dengan kekerasan? Atau dia nggak dekat sama orangtuanya? Berasa kepo deh.

Adegan Milea ke kamar Dilan juga ada yang menarik, yaitu ketika poster quote dari Ronald Reagen disorot dalam beberapa detik. Ada satu kata yang saya ingat yaitu “perang”. Kebaca banget kan darimana jiwa pemberontaknya Dilan?

Ketika film selesai dan menulis review-nya, baru saya sadari bahwa seharusnya poster yang ada di kamar Dilan adalah Mick Jagger dan Ayatullah Rahullah Khomeini. Hmm, kenapa diganti ya? Lainnya mah aman, tapi saya sempat kaget sih sama ending -nya. Pantesan kok sepanjang film Dilan 1990  plotnya nggak secepat film lainnya. Ternyata oh ternyata… =)

Akhir cerita, saat kami keluar studio, kok macet ya. Ealah, kenapa banyak ABG ya? Haha ternyata mereka lagi pada antri masuk, mau nonton film Dilan di jam berikutnya. Wah, berasa dejavu zaman AADC 1 nih. Bisa jadi, film Dilan semeledak AADC.

Wah udah panjang ya review saya. Intinya saya kasih nilai 4,5 dari 5 bintang =)

Saya sempat bertanya nih ke teman nonton saya yang guru, menurut dia gimana filmnya, dari sudut pandang guru SMA.

Ini jawabannya : Aku seneng filmnya, tapi sebagai guru aku gak akan merekomendasikan ke murid lah. Tawuran, geng motor, berantem, sama guru seberani itu, naik motor gak pake helm. Nayyy, takut ditiru, hahahaha. Padahal mungkin itu sih gak akan diperhatikan anak ya. kwkwkwk, tapi karena tadi ditanyain aku sebagai guru, fokusku langsung ke hal yg mungkin bagi orang lain bukan hal penting.

Meski begitu, Diyan bilang film Dilan ini bagus lho.

Kalau dilihat dari kategori usia, film Dilan berkategori 13+. Menurut saya sih bisa dinaikin lagi kategori usianya, 15+ misalnya, pas deh usia mau masuk SMA. Seperti yang disampaikan Diyan, alasannya karena ada adegan kekerasan dan anarkis yang takut ditiru oleh remaja.

Masa SMA itu memang masa paling indah, setidaknya, saya juga merasakannya. Meski nggak seunik kisah Dilan – Milea, tapi cukup bikin baper dan senyum-senyum sendiri, bernostalgia mengenang masa lalu.

Selamat menonton ya, yakin deh nggak akan nyesel! Kamu bakal kelepek-kelepek selama hampir 2 jam saat menonton film Dilan, 1990=)

Tiket film Dilan

Notes:

Foto berasal dari screenshot trailer film Dilan di youtube, kecuali foto pertama dari 21cineplex.com

(Visited 872 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

9 Comments

  • khairulleon.com February 5, 2018 Reply

    AKu belum percaya kalo belum nonton sendiri.
    Tapi Pengen nonton malas ah ga suka film cinta-cintaan.
    Berasa lebay banget filmnya teh -_-“

    • dian.ismyama February 5, 2018 Reply

      Haha ya udah nggak usah nonton:). Besok yang Bunda Cinta Dua Kodi ajah

  • Jiah February 6, 2018 Reply

    Aku mah ngajakin tetangga nonton, tp blm pada fix jadwalnya. Ini baca bukunya dulu. Sejauh ini aku biasa aja sama Dilan. Gak pengen punya cowok kaya dia, hahaha

    • dian.ismyama February 8, 2018 Reply

      Yang nonton dan baper bukan pingin punya cowok kayak Dilan, tapi karena teringat seseorang kayak Dilan,wkkka

  • Riska agustina February 9, 2018 Reply

    Film ini bener2 menyedot penontin di hari ke12 mencapai 4 juta penonton tanpa paksaan semua mengalir alami…
    Mungkin pidi baiq juga gak akan nyangka semeledak ini..
    Film ini bener2 natural loh tanpa ada paksaan untul nonton tapi penontonnya sendiri yg penasaran ingin nonton..

    • dian.ismyama February 9, 2018 Reply

      Bener Mbak, kok bisa ya? Entah apa magnetnya? Ada yang memang penggemar novelnya. Ada yang fans fanatiknya Ayah Pidi, ada yang suka sama Iqbal dan Vaneshanya. Ada yang baper sama ceritanya (itu akuh maksudnya, haha)

  • Irfa Hudaya February 9, 2018 Reply

    Aku siap-siap jadi bendahara dan supir lagi. Duo krucil pengen lagi :)

  • Siti Faridah February 9, 2018 Reply

    Dilan bikin baper ya mbak. Pengen baca novelnya juga aku mbak.

Leave a Reply

error: Content is protected !!