Karyasih, kekasihku

facebooktwittergoogle_plusredditmail

sakit_02

Ini kisah tentang seseorang yang aku sayangi. Ini cerita tentang kebanggaan di atas keterbatasanku. Kekasihku pergi merajut mimpi. Sementara aku, bergelut dengan keseharian yang sunyi, di dalam rumah petak peninggalan orangtua.

Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Aku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan sendiri
Aku benci

Aroma air asin begitu nyata di mimpiku. Bahkan pekatnya bulir pasir pun teraba lekat di kulitku. Terakhir kali bercinta dengan laut, perahu yang aku nahkodai justru memadu asmara dengan badai. Sialan! Karang di depan mata tak terelakkan. Jadilah paru-paruku tenggelam, sesak. Entah apa maksud Tuhan takjadi mengirimkan Izrail padaku. Nyatanya, kekasih dan kerumunan itu menemukanku terpejam di bibir pantai, dengan luka borok di paha.

Aku ingin bingar,
Aku mau di pasar
Bosan aku dengan penat,
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri

Siapa bilang luka itu mudah pulih bila diobati? Borokku sempat menampakkan tanda-tanda kematiannya, hingga kemudian kekasihku takmampu lagi menebus obat. Kau tahukan harga ikan pun jauh lebih murah daripada ongkos ke rumah sakit di kota. Harga beras jauh lebih masuk akal dibanding biaya foto paru-paruku. Hingga perlahan, kekasihku menyerah, dia gadaikan cintanya dengan iming-iming limpahan harta. Merantau ke negeri seberang, meninggalkan si sulung dan si bungsu bersamaku.

Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera

Prangg!! Kali ini aku muntahkan masakan si sulung dan berderailah pecahan piring di lantai tanah gubug kami. Surat kekasihku taklagi datang, apalagi wesel bulanan. Kau pernah dengar, kan, ada kisah TKW di Arab yang pulang bersama keranda? Ada pula yang takpulang, tinggal nama di surat kabar karena dihukum pancung. Aku bosan menunggu kabar bualan cukong pengirim tenaga kerja ilegal, ketika aku mempertanyakan keberadaanmu. Aku jenuh hanya menatap langit-langit kamar dan menghirup bau anyir tubuhku sendiri. Aku muak makan ikan yang disuguhkan putriku pagi dan petang. Aku kehabisan air mata memandang foto yang kusut dari dalam dompet, foto itu menampakkan paras elokmu.

Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?
enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika kusendiri
bosan aku dengan penat

Hingga suatu senja menjelang enam tahun tanpa tawamu, Karyasih kekasihku, berdiri di ambang pintu. Menggandeng balita berwajah timur tengah. Duh, penat semakin mendesak menindih dada.

373 kata. Ditulis untuk Monday Flash Fiction, Prompt#45: Ada Apa Dengan Cinta

(Visited 42 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

10 Comments

  • RedCarra April 6, 2014 Reply

    :)

    • dian farida April 6, 2014 Reply

      Kurang ngetwist ya mba? He he.

  • jampang April 7, 2014 Reply

    jadi ingat berita…. kalau katanya di bandara ada tempat penitipan para TKW yang nggak dibawa pulang ke kampung karena malu

    • dian farida April 7, 2014 Reply

      Oh y?ini memang terinspirasi dari beberapa berita ttg TKI,tp g semua kayak gini sih

  • Istiadzah April 8, 2014 Reply

    Duh. -_-

  • riga April 10, 2014 Reply

    sepertinya antara kutipan puisi dengan cerita nggak sinergis, Dian. Masing-masing berdiri sendiri layaknya dua kutub berlawanan.

    • dian farida April 10, 2014 Reply

      Nah itu dia, ini prtma kali aku buat cerita dari puisi. Mksdny yg sinergis itu gimana?

  • riga April 10, 2014 Reply

    maksudnya adalah isi puisi mendukung atau sejalan.
    misalnya paragraf dan potongan puisi berikut.
    ..
    Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh,
    Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
    Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera

    Prangg!! Kali ini aku muntahkan masakan si sulung dan berderailah pecahan piring di lantai tanah gubug kami. Surat kekasihku taklagi datang, apalagi wesel bulanan. Kau pernah dengar, kan, ada kisah TKW di Arab yang pulang bersama keranda?

    adakah hubungan yang erat antara keduanya? :)

    • dian farida April 10, 2014 Reply

      Owh.. Interpretasiku pecahnya gelas&bunyinya lonceng itu menandakan sesuatu kondisi dititik nadir, kacau, dll. Tapi yg jaring laba-laba memang nggak punya interpretasi apa2,hoho.thanks masukannya.bang Riga buat donk cerita dari puisi yg ini:)

  • riga April 11, 2014 Reply

    nggak dapet ‘feelnya’, ntar jadinya malah kacau. 😀 *ngeles*

Leave a Reply

error: Content is protected !!