#InternetBAIK Bekal Anak di Masa Datang

facebooktwittergoogle_plusredditmail

#InternetBAIK Bekal Anak di Masa Datang

Teknologi itu seperti sungai yang mengalir di depan rumah kita. Orangtua yang penyayang akan membangun tembok di depan rumah agar anak-anak tidak menuju sungai. Bahkan kalau perlu pasang pagar tinggi, kawat duri atau dialiri listrik. Tetapi orangtua yang bijak akan mengajari anak-anaknya berenang. Agar mereka bisa mengarungi sungai dengan selamat, menuju laut lepas (Siti Hairul-catatansiemak.com)

Quote di atas disampaikan Mak Irul saat arisan ilmu EmakBloggerJogja kemarin Minggu, 18 September 2016. Saya bersama puluhan emak blogger lainnya mendapatkan materi #internetBAIK dari Primastuti dan Siti Hairul. Saya sendiri tertarik mengikuti arisan ilmu ini karena tak dapat dipungkiri, sebagai ibu dari dua orang anak, kami sangat akrab dengan internet. Anak pertama saya, 4 tahun 9 bulan, sudah fasih youtube-an dan main game dengan gadget. Kadang kala syok juga sih kalau putri saya lagi nge-game kok pinter banget, sementara kalau main di alam dan permainan non gadget kok mudah bosan. Pernah juga cukup kaget dengan konten salah satu game (game Tom dan Angela) yang ada adegan pegangan tangannya segala, meskipun Najla mudengnya ya pegangan tangan itu tanda sayang antar teman dan keluarga. Pernah juga nyaris kebuka video yang nggak-nggak, saat searching dengan kata kunci Cinderella, niatnya sih mau nonton film atau lagu Cinderella, tapi makin ke bawah, video agak aneh mulai tampak, hiks. Untung saya ada di sampingnya, langsung deh dipilihin video lainnya.

Data pada Januari 2016 menunjukkan bahwa dari 259,1 juta jiwa di Indonesia, sebanyak 88,1 jutanya adalah pengguna aktif internet. Sementara 79,0 jutanya adalah pengguna aktif sosial media, sedangkan 326,3 juta jiwa terkoneksi secara mobile, artinya setiap orang punya lebih dari dua gadget. Pertumbuhan pengguna internet jelas semakin meningkat, dengan persentase terbesar di Jawa dan Bali yaitu 52,0 juta jiwa, dengan rentang usia berinternet tertinggi adalah 18-25 tahun (digital native).

Sedihnya, google melalui mesin pencarinya, menempatkan Indonesia di urutan ke 6 sebagai negara pengakses situs porno. Bahkan hasil survey dari Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) tahun 2015 dari 2064 responden kelas 4-6 SD, diketahui bahwa 90% nya sudah terpapar pornografi melalui media game online (13%), gadget (5%), dan internet (13%). Faktanya, 90% isi internet adalah hal positif, tetapi hanya 10% pengguna internet yang mengaksesnya, sedangkan 10% konten internet yang negative justru diakses oleh 90% pengguna internet. Data yang mengerikan, ’kan?

Oleh karena itu, kemarin Mak Ima dan Mak Irul membahas mengapa #internetBAIK ini perlu diketahui dan dipraktekkan oleh orangtua.

Apa itu #InternetBAIK?

Sebelumnya, perlu teman-teman ketahui bahwa #InternetBAIK adalah salah satu program Telkomsel sebagai bentuk tanggung jawabnya kepada masyarakat, yaitu dengan mengkampanyekan internet yang sehat dan aman. BAIK sendiri adalah akronim dari Bertanggungjawab, Aman, Inspiratif, Kreatif. Tujuannya agar kita semua paham tentang risiko berinternet, sehingga secara sadar dapat melindungi diri sendiri dan orang lain.

Di bawah ini adalah penjelasan mengenai #internetBAIK

Slide arisan ilmu

Survei YKBH terhadap 2064 anak usia 9-12 tahun menunjukkan bahwa 16% anak menonton film/video dengan internet, sedangkan 20%nya bermain games, dan 21%nya belajar melalui internet. Tapi jangan salah, anak-anak belajar dari internet itu juga perlu pendampingan dan rentan terhadap masuknya konten pornografi yang tidak sengaja. Sebut saja misal mereka mendapatkan tugas dari sekolah untuk mencari daur hidup kupu-kupu. Ketika mereka mengetik kata kunci (keyword) kupu-kupu di google, eh ternyata yang muncul justru beragam. Tak hanya kupu-kupu yang sebenarnya, tapi juga ada “kupu-kupu” lain, hii serem, ‘kan?

Belum lagi soal games, susupan pornografi, bullying, hingga kekerasan dapat dengan mudah ditemukan dalam banyak games. Tanpa kita sadari ada unsur-unsur di atas yang membahayakan otak anak kita.  Saat arisan ilmu kemarin, disampaikan banyak kasus kekerasan yang dilatar belakangi karena meniru games. Sama halnya, ketika dulu ada berita mengenai anak yang lompat dari lantai sekian, karena meniru superhero Spiderman. Hmm, inilah zaman digital native yang sering kebablasan. Kadang mereka belum dapat memilah mana yang asli dapat dilakukan di dunia nyata, mana yang tidak. Oleh karena itu, Telkomsel mensosialisaikan 5 Tips Berinternet Baik. Apa aja? Simak yuk

  1. Keep Playing or Stop

Nah ini tentang kecanduan games, jadi inget putri saya. Begitu nge-game duh susah banget berhentinya, kecuali diajak pergi keluar rumah atau baterai habis, hiks. Dampak negatif yang terlihat jelas jadi males ngapa-ngapain. Malas mandi, malas makan, dan susah diajak tidur siang. Efek lebih buruknya lagi, mata anak dapat terkena radiasi sinar biru, sehingga lutein (lapisan yang melindungi retina) akan terkikis, serem ya. Belum lagi bahaya posisi badan jadi bungkuk sehingga  mengakibatkan nyeri, jari jadi meradang, dan sebagainya,  Kalau sudah gitu, sering saya akali ngasih gadget yang baterainya sedikit, hehe. Tapi ternyata sekarang sudah ada parental control lho, yang berupa program ramah anak, termasuk bisa membatasi jumlah jam bermain games. Jadi games akan terkunci jika jatah jumlah jam bermain games sudah habis.

Oh ya ada kategori game yang perlu orangtua ketahui lho, PENTING INI! Kategori game terbagi menjadi EC (Early Childhood, usia di atas 3 tahun), E (Everyone, diatas 6 tahun), E 10+ (Everyone di atas 10 tahun), T (Teen, di atas 13 tahun), M (Mature, di atas 17 tahun), AO (adult Only, di atas 18 tahun), RP (Rating Pending, ratingnya masih dalam proses pengajuan ESRB). Nah setelah mengetahui ada kategori rating dalam games, kita sebaiknya mengecek apakah rating game yang dimainkan oleh anak sudah sesuai atau belum. Bila tidak sesuai, meski dengan pendampingan, BIG NO ya kalau buat saya pribadi! Sama halnya kayak menonton film di bioskop yang tidak sesuai kategori usia anak, hehe.

  1. Click or Close

Klik konten positif atau tutup internet yang mengandung konten pornografi! Mengapa? Karen pornografi terbukti merusak otak, terutama bagian PFC (Pre Frontal Cortex) yaitu bagian yang berfungsi untuk memilih, mengatur, merencanakan, mengendalikan, mengontrol, dan mengingat. Bila bagian tersebut rusak, masa rusaklah masa depan kita. Anak tak dapat mengendalikan perilakunya, karena pornografi itu seperti candu, akan membuat orang yang menontonnya ketagihan dan sulit berhenti. Lebih lanjut, anak tidak dapat merencanakan masa depannya, hiks.

CLOSE sendiri adalah akronim untuk mencegah pornografi, yaitu C (Cepat tolak ajakan teman), L (Lakukan pemilihan teman yang bukan pecandu porno, O (Omongin temanmu kalau porno itu merusak otak), S (Sering berlatih menahan diri), E (Energimu besar, alihkan melakukan kegiatan positif).

  1. Think before Posting

Semua tampaknya sudah tahu ya tentang menyaring apapun, baik status, video, atau foto sebelum kita posting ke internet. Mengapa? Karena data tersebut akan selamanya ada, meskipun sudah kita hapus, bisa lho dilacak. Sebelum mem-posting, pikirkan lagi, penting nggaknya, perlu nggaknya, memberi manfaat atau tidaknya. Contohnya banyak tuh anak muda yang posting foto mesra sama pacarnya, atau posting foto bullying (saya pernah lihat ada yang mem-posting foto melakukan kekerasan fisik dan mental terhadap temannya yang sedang berulang tahun). Duh, Dek, orangtuanya kemana to? Saya sendiri dan anak saya pernah jadi korban bullying di internet, duh rasanya nggak karuan saat itu, kalau nekat sih pinginnya dilaporin sekalian ya melalui UU ITE (lebay dikitlah, hehe)

  1. Saring before Sharing

Nah ini untuk berita HOAX, jangan asal bagikan sebelum kita tabayyun dulu alias mengecek kebenarannya. Kan sama saja menyebar berita tidak benar, fitnah, kalau ternyata beritanya palsu. Saring dulu kebenarannya, manfaatnya, sebelum kita men-sharing sesuatu di internet.

  1. Wise while Online.

Ketika online, sebaiknya kita menjadi bijak. Nggak perlu lah mengeluh di internet, apalagi menyebar aib dan menyebar kebencian. Saat ini sudah ada UU ITE, dan kalau kita salah tulis sedikit di sosial media dan internet bisa terkena undang-undang lho. Nggak mau, ‘kan, masuk penjara Cuma karena nggak wise?

Internet Baik?

#InternetBAIK itu adalah segala kelebihan internet, seperti sekarang sudah kita dapat bereksplorasi dalam mengembangkan hobi. Kayak saya yang suka nulis ya ngeblog. Yang suka berdagang, bisa jualan online. Belajar pun sudah dipermudah dengan beragam aplikasi bahkan kelas online gratis dan berbayar. Menyimpan file yang besar juga sudah dapat dilakukan secara online, jadi kalau file kita hilang dari flashdisk, kita dapat mengunduhnya dari internet (penting nih buat yang lagi ngerjain tesis kayak saya, hehe). Komunikasi dan koneksi dengan orang lain juga jadi lebih mudah berkat internet. Ada Skype, webex, webinar, tele conference, banyak sekali jenis komunikasi yang update. Transaksi online juga sudah banyak dan memudahkan kita. Berbuat kebaikan seperti mengumpulkan dana, berdonasi, juga bisa banget memanfaatkan internet.

Ingin tahu lebih lanjut dan detail soal #InternetBAIK ? Teman-teman dapat mengunduh e-book di playstore “17 Rumus Keren InternetBAIK”, di sana lengkap membahas etika online, waspada gelagat aneh anak, tips bersosmed, insiprasi dalam berinternet, bullying di internet, game dan pornografi online, dan sebagainya. Saya punya nih bukunya, tapi waktu mau diulas, eh malah nggak kebawa (saya posting tulisan ini di luar kota. Ya sudahlah). Nanti di tulisan yang berbeda akan saya ulas lagi bahasan yang belum ada di posting-an kali ini. Oke, teman-teman?:)

Gadget Security

Nah, materi dari Mak Irul ini sangat menarik.  Saya jadi mengetahui bahwa anak-anak mau nggak mau akan belajar internet entah dari siapa. Seperti quote dalam kalimat pertama tulisan ini, bahwa kita sebagai orangtua bisa saja menutup mata atau bahkan melarang anak, tetapi anak tak mungkin tak terpapar internet. Alih-alih menjadi boomerang. Lebih bijak bila kita yang mendampingi dan mengajari internet pada anak. Saya sendiri pernah kaget lho, sepulang saya PK selama dua minggu di luar Jogja, kok pulang-pulang, Najla sudah fasih main game-nya, rupanya ya diajari sama tantenya, di download-in sama kakeknya, hedeh.

Oleh karena itu, kali ini saya akan men-forward mengenai keamanan pada gadget, yaitu melalui fitur penyaring atau filter.

  1. Google Save Search

Bisa dilihat digambar ya caranya. Kalau sudah terpasang, maka konten yang keluar saat anak mengetik keywords di google, akan lebih tersaring.

  1. Youtube filtering

Anak-anak kan demen banget ya main youtube. Sebaiknya orangtua memasang filter juga nih di youtube. Caranya dengan mengarahkan kursor menuju footer halaman youtube, lalu aktifkan mode terbatas dan simpan (save). Mudah, ‘kan?

  1. Playstore filtering

Saat anak men-download aplikasi untuk belajar atau untuk nge-game, orangtua dapat mem-filter-nya dengan cara pilih menu setting, pada user control pilih menu parental control, lalu aktifkan dengan menekan tombol ON, kemudian lakukan pembatasan maksimal usia anak.

  1. Parental control

Parental control yang berupa perangkat luar atau program juga ada lho, antara lain Kakatu, Kids Place, Kids Zone, Secure Teen, dan sebagainya. Semuanya bisa didownload di Playstore. Saya sendiri penasaran dengan parental control ini, jadi nanti ketika Ayah Najla pulang, mau minta dipasangin ini, sekalian diomongin ke anak ah.

Selesai juga ilmu tentang #InternetBAIK yang saya dapatkan dalam arisan ilmu kemarin. Saya pribadi pernah nyaris kecolongan lho soal konten yang tidak baik di internet. Jadi bahasan ini menurut saya amat penting, karena kita tidak setiap jam dapat mendampingi anak kita. Meski tak dapat dipungkiri bahwa kita juga tidak dapat memastikan apakah teman-teman anak kita bebas dari konten negatif. Setidaknya saya mengajak orangtua yang membaca tulisan saya ini untuk lebih aware terhadap internet yang dipakai anaknya. Entah anak anda sudah remaja, atau bahkan masih balita, mulailah dari sekarang mendampingi dan mengajarkan ke mereka apa kebaikan internet, dan apa-apa yang tak boleh dilakukan di internet. Kalau setiap orangtua yang membaca tentang #InternetBAIK mempraktekkan ini, tanpa kita sadari akan ada jutaan jiwa anak-anak lain yang terselamatkan.

Sebagai penutup, jika teman-teman melihat kasus atau kejahatan terkait penggunaan internet, maka teman-teman dapat melaporkan ke: ID-COP. Untuk penipuan/kejahatan Internet (cybercrime POLRI). Untuk situs-situs negatif (KOMINFO): aduankonten@mail.kominfo.go.id

Referensi: Materi arisan ilmu #InternetBAIK

(Visited 87 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

4 Comments

  • entik September 24, 2016 Reply

    bener banget mak…
    aku pertama kali ikutan arisan ilmun kemarin, dan dapat banyak pencerahan tentang ber-internet yang BAIK.

    salam kenal
    member baru KEB jogja

  • cputriarty September 29, 2016 Reply

    Kok ngeri banget yah Indonesia tetcinta masuk dlm list 10 besar negara yg mengakses situs pornografi.hiks

    • dian.ismyama September 29, 2016 Reply

      Iya, serem ya. Karena jumlah penduduk yg pakai internet banyak

Leave a Reply

error: Content is protected !!