Inside Out, Masa Kecil Kita Harus Bahagia

facebooktwittergoogle_plusredditmail

Ada yang belum menonton film Inside Out?

Gambar dari underthemaskonline.com

Bagus lho filmnya, bercerita tentang bagaimana emosi masa kecil menentukan karakter seseorang. Setiap memori baik yang indah, menyenangkan maupun menyedihkan menjadi dasar dari pulau kepribadian dan memori inti. Kelak di kemudian hari, di masa remaja atau dewasanya, akses ke kisah masa lalu menjadi dasar apa yang akan dilakukan seseorang ketika menghadapi suatu masalah. Keren, kan?! Cocok sih dengan konsep parenting, di mana masa kecil yang bahagia akan membentuk pribadi yang bahagia.

Ada beberapa memori penting yang kuingat di masa kecil. Yaitu saat menang lomba menggambar di TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), dapat hadiah tempat pensil bertingkat (yang saat itu sedang nge-trend, hehe), padahal gambar standar gunung dengan matahari, jalan berkelok dan sawah. Gunungnya pun berwarna merah:D.

Lalu juga ada saat di mana setiap beberapa kali seminggu setelah pulang sekolah, aku bersama teman-teman sebaya berlatih fashion show di rumah tetangga kami. Nantinya ketika ada acara 17 agustus, tirakatan dan sebagainya, kami akan pentas di panggung.

Hayo tebak saya yang mana?:D.

Bandingkan dengan foto saya sekarang. Atau boleh juga bandingkan dengan foto putri saya.

Saya sekarang bersama putri saya

Suami saya nebak 3 kali dan masih salah:(. Pas dikasih tahu foto saya yang mana malah bilang, “Kok cantikan Bunda yang sekarang?” Hehe, pujian nih berarti.

Selain cerita di atas, tentu saja seperti anak-anak lainnya, saya juga bermain boneka, masak-masakan dengan mie-miean dan bakso-baksoan dari tanaman pagar di depan rumah juga kulakukan. Membuat setup-setupan dari buah jambu dan mangga milik tetangga yang jatuh di tanah (nggak nyolong yang masih di pohon lho, tapi buah-buah yang sudah agak busuk dan didiamkan tergeletak di tanah). Ada juga buat kue-kuean dari tanah liat terus dikeringkan dijemur di bawah terik matahari.

Zaman saya kecil dulu, anak-anak belum mengenal gadget, jadi permainan tradisional seperti engklek, gobag sodor, lompat tali, cublak-cublak suweng, kelereng, petak umpet, masih banyak dilakukan oleh kami. Masa-masa yang indah tentunya. Karena tidak terlupakan, anak sayapun sekarang tetap diperkenalkan dengan permainan tersebut. Banyak sekali manfaatnya terutama melatih motorik dan bersosialisasi dengan teman-teman sebaya dibanding bermain satu arah dengan gadget.

Oh ya, memori masa kecil paling heboh  kalau dari foto yang saya miliki adalah ketika syukuran ulang tahun saya, potong tumpeng megang pisau sendiri, terus mama saya histeris deh ketakutan. Hoho. Ngeri-ngeri lucu gimana gitu ya …

Kehebohan waktu kecil

Sayanya sih di foto cuek-cuek aja alias excited, hehe. Kalau sekarang anak saya yang pegang pisau beneran paling cukup saya awasi dan kasih tahu agar hati-hati karena pisau itu tajam (ah yang bener, Yan?)

Itulah sekelumit kisah masa kecilku yang penuh warna. Kalau masa kecilmu gimana?:)

“Tulisan ini Diikutsertakan Dalam Pena Cinta First Giveaway”

(Visited 128 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

8 Comments

  • Sumarti Saelan September 27, 2015 Reply

    setuju mak, masa kecil memang harus bahagia tapi juga tetap terbangun karakternya 😉

  • Nuniek KR September 28, 2015 Reply

    Foto yang terakhir ekspresif bangetttt, hihi.
    Salam kenal ya mbak,

  • Liswanti October 27, 2015 Reply

    Foto anak dan mamanya mirip banget ya

    Mau berkunjung buat ngitungin katanya neh mba.
    Terima kasih sudah ikutan GAnya.

  • diba November 17, 2015 Reply

    Kalo dari film ini aku justru belajar untuk nggak menahan kesedihan. Kalo emang waktunya nangis ya nangis aja. Tapi habis itu hepi lagi. Kayak pas Bing Bobg sedih roketnya dibuang. Habis nangis ya terus ceria lagi.

    • dian.ismyama November 18, 2015 Reply

      Iya kalo diampet nangisny malah nggak baik buat psikis dan kesehatan Mak. Ya harus seimbang sih

Leave a Reply

error: Content is protected !!