Germas dan Gema Cermat, Kunci Indonesia Sehat

facebooktwittergoogle_plusredditmail

“Mbak, tekanan darah, IMT (indeks Massa Tubuh), gula darah, dan kolesterolnya normal semua. Hanya lingkar perut saja yang berlebih. Nah, untuk mengecilkan lingkar perut, Mbak bisa melakukan olahraga rutin,” kata bu dokter dari Dinkes Yogyakarta pada saya.

Kalimat tersebut cukup menggelegar meskipun saya sadar jarang olahraga. Niat aerobik dua kali seminggu, dan renang satu kali seminggu gagal sudah, dikarenakan malas. Apalagi musim hijaun begini, duh pinginnya tiduran aja di kamar. Untung saya menjadi tercerahkan saat acara Temu Blogger Kesehatan Yogyakarta pada tanggal 21 November 2017, dengan tema Cermat Menggunakan Obat. Hari itu, saya bersama teman-teman blogger mendapat banyak sekali ilmu tentang obat dan kesehatan.

Temu Blogger Kesehatan

Saya pribadi sebenarnya sudah mengetahui mengenai Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) dan cermat menggunakan obat ini, tak lain dan bukan, karena saya adalah seorang apoteker. Meski saat ini sedang tidak berpraktek, tapi lini masa sosial media saya penuh dengan program Germas dan DAGUSIBU. Jadi saya senang sekali, ketika ilmu ini diulang kembali pada acara Temu Blogger Kesehatan.

Gema cermat

Saya juga memberi jempol kepada Kemenkes dan Dinkes, karena menggandeng blogger untuk sosialisasi hidup sehat dan penggunaan obat. Seperti kita ketahui, di era ini, internet adalah sumber utama masyarakat dalam mencari informasi. Oleh karena itu, dibutuhkan tulisan mengenai obat dan kesehatan.

cek kesehatan

Acara Temu Blogger Kesehatan dibuka dengan cek kesehatan gratis, mulai dari berat dan tinggi badan, hingga tekanan darah, lingkar perut, nilai gula darah dan kolesterol. Hasil tes kami dicatat dan kami dapat berkonsultasi dengan dokter terkait hasil tersebut. Saya pun cukup puas dengan kesehatan saya, kecuali di bagian berat badan (karena masih ingin saya turunkan), dan tentang lingkar perut yang berlebihan.

Setelah itu, ice breaking senam dari Kemenkes cukup membuat kami yang tadinya mengantuk menjadi segar kembali sehingga bisa berkonsentrasi menyerap informasi dari narasumber.

kemenkes

Moderator bersama tiga pembicara

Materi pertama dibuka oleh Bapak Indra Rizon dari Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI. Beliau menjelaskan bahwa pola penyakit tertinggi di dunia telah berubah dari penyakit menular (56% pada tahun 1990) menjadi penyakit tidak menular (57% pada tahun 2010). Penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, kanker dan diabetes menyumbang angka kesakitan tertinggi, termasuk di Indonesia. Sementara itu, orang yang mengeluh sakit, sebanyak 42% mengobati dirinya sendiri, sedangkan sisanya baru ke pusat layanan kesehatan. Wow, nyaris 50:50 ya, berarti benar bahwa pasien sekarang lebih kritis dan berusaha mencari informasi sendiri terkait penyakitnya. Memang sih, ada gejala penyakit yang self limited disease (sakit yang dapat sembuh sendiri, biasanya terkait virus dan daya tahan tubuh). Self limited disease ini dapat diobati dengan self medication, dengan beberapa catatan tentunya. Nah, mengobati diri sendiri itu perlu ilmu, nggak bisa asal. Saya aja yang sudah 7 tahun belajar tentang obat, tetap ke dokter kok kalau sakitnya dirasa bukan self limited disease, atau butuh diagnosa yang tepat. Idealnya sih mesti pintar dalam memilih dan memilah informasi kesehatan, mana yang hoax, mana yang bisa dipercaya, dan tetap tahu tanda kegawat daruratan, sehingga nggak terlambat ketika datang ke dokter atau sarana kesehatan.

GERMAS

Germas sendiri diperkenalkan melalui Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 2017, yaitu merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan bersama-sama oleh semua komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Tujuannya adalah agar kesehatan terjaga, lingkungan bersih, masyarakat produktif, dan biaya berobat berkurang.

Germas

Nah, bentuk Germas itu apa saja sih? Bentuknya antara lain adalah beraktivitas fisik minimal 30 menit/hari, makan sayur dan buah, serta memeriksakan kesehatan minimal 6 bulan sekali (cek tekanan darah, gula darah, kolesterol, tes darah lengkap, cek lingkar perut, dan deteksi dini kanker leher rahim untuk perempuan). Germas ini dilakukan di semua lapisan masyarakat ya, baik tua-muda, pengusaha-karyawan, tanpa terkecuali.

Saya yakin bila semua orang melaksanakan Germas, maka penyakit tidak menular akan turun jumlahnya di Indonesia. Memang hal ini membutuhkan komitmen semua pihak. Oleh karena itu, siapapun Anda, bergeraklah untuk menjalankan Germas, dimulai dari diri sendiri dan keluarga.

GEMA CERMAT

Gema Cermat atau Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat, dicanangkan sebagai salah satu solusi terhadap masalah penggunaan obat pada masyarakat. Tiga masalah utama yaitu kepatuhan pasien yang rendah, mispersepsi tentang obat generik (murah dan tidak manjur), serta pembelian obat keras secara bebas tanpa resep dokter. Ketiga masalah ini akan menjalar ke masalah lain, dan mengakibatkan masalah kesehatan baru, seperti dosis obat berlebih, durasi yang tidak tepat, efek samping obat, interaksi atau penyalahgunaan obat. Tentunya teman-teman tidak mau kan hal ini terjadi? Oleh sebab itu, pemerintah membuat program Gema Cermat.

Apakah Gema Cermat itu?

Gema Cermat adalah upaya pemerintah bersama masyarakat melalui rangkaian kegiatan dalam rangka mewujudkan kepedulian, kesadaran, pemahaman, dan keterampilan masyarakat dalam menggunakan obat secara tepat dan benar.

Cerdas gunakan obat?

  1. Cara memilih obat

Terus terang, pemilihan obat itu nggak mudah. Ada banyak hal tentang obat yang perlu dipelajari untuk dapat memilih. Bagi masyarakat, saya yakin poin utamanya adalah berkhasiat dan harga terjangkau. Nah, untuk berkhasiat ini, kadang pasien memahaminya berdasar pengalaman di masa lalu. Misal nih, habis minum obat A cespleng, langsung deh ketika besoknya sakit yang sama, ya pilih obat A. Bahkan kadang ada saudara atau tetangga sakit yang terlihat sama, maka menyarankan obat A. Padahal belum tentu lho sakitnya sama, atau jangan-jangan ada kontraindikasi pada saudara/tetangga tadi terhadap obat A. Oleh karena itu, pemilihan obat tetap membutuhkan dokter dan atau apoteker. Untuk obat bebas dan bebas terbatas, berkonsultasi lah dengan apoteker yang ada di apotek. Untuk obat keras, harus melalui diagnosa dokter terlebih dahulu. Oh ya, bila dalam 2-3 hari tidak sembuh atau gejala tidak berkurang dengan obat bebas dan bebas terbatas, langsung ke dokter ya. Jangan lupa perhatikan beberapa hal saat berdiskusi dengan dokter dan apoteker terkait pemilihan obat, yaitu nama zat berkhasiat berbeda dengan nama merek, beritahukan dokter atau apoteker bila Anda sedang dalam kondisi hamil/berencana akan hamil, sedang menyusui, ada alergi terhadap obat tertentu, dan sedang menggunakan obat lain. Beritahu juga bila Anda tidak bisa/kesulitan dalam menggunakan bentuk sediaan obat tertentu.


  1. Cara mendapatkan obat

Sama seperti di atas, masyarakat seharusnya mendapatkan obat melalui sarana kesehatan, seperti apotek, puskesmas, klinik, rumah sakit. Bukan dari warung, atau dari tetangga dan teman. Dapatkanlah obat di tempat yang resmi terdaftar dan berbadan hukum, serta jelas-jelas menyediakan obat asli dan berkualitas. Kalau nggak di tempat yang resmi, bisa jadi obat yang didapat palsu, atau sudah rusak lho.

  1. Cara menggunakan obat

Cara menggunakan obat ini panjang sekali penjelasannya. Biasanya sudah tertulis di kemasan atau leaflet obat. Bila obat berupa tablet/kapsul lepasan, atau racikan, maka tanyalah cara penggunaan obat pada apoteker Anda.

  1. Cara menyimpan obat di rumah

Penyimpanan obat juga nggak bisa asal. Ada yang disimpan di tempat bersuhu sejuk, ada yang di suhu dingin, dan sebagainya. Bahkan ada lho obat yang sebelum dibuka dengan sesudah dibuka, beda penyimpanannya.

  1. Cara membuang obat

Membuang obat juga nggak bisa sembarangan. Teman-teman nggak mau kan kalau obat yang sudah rusak atau sudah kadaluwarsa disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab? Oleh karena itu, yuk pelajari cara membuang obat yang benar.

Penjelasan lebih detail mengenai kelima cara cerdas menggunakan obat di atas pernah saya tulis di artikel Perlakukan Obat Secara Istimewa, dengan DAGUSIBU

Setelah mendapatkan obat baik obat bebas dan bebas terbatas di apotek, atau obat keras dengan resep dokter, tanyakan lah kelima hal berikut.

Tanya Lima O

  1. Obat ini apa nama dan kandungannya?
  2. Obat ini apa indikasi atau khasiatnya?
  3. Obat ini berapa dosisnya?
  4. Obat ini bagaimana cara menggunakannya?
  5. Obat ini apa efek sampingnya?

kemenkes

Kita lanjut ke materi kedua ya, yang dibawakan oleh Ibu Hardiah Juliani, M.Kes dari Dinkes Provinsi DIY, yaitu tentang Gema Cermat. Beberapa hal sudah saya tuliskan di atas, dimana Bu Diah juga menyoroti mengenai banyaknya iklan dan informasi di media sosial yang tidak terkendali, sedangkan pelayanan informasi dari tenaga kesehatan sangat terbatas, sehingga penting bagi masyarakat untuk membaca leaflet atau kemasan obat. Bu Diah juga menyampaikan tentang DAGUSIBU dan Tanya 5 O, serta menekankan tentang pentingnya membeli antibiotik hanya dengan resep dokter.

Nah, dimateri ketiga, Ibu Dra. Arrosianti Zahrul Falah, Apt. dari Dinkes Kota Yogyakarta menjelaskan mengenai upaya dan kebijakan PEMDA DIY mengenai Gema Cermat. Beberapa permasalahan kesehatan di DIY antara lain ISPA balita, hipertensi, obesitas, sakit gigi dan mulut, serta soal air bersih. Bu Rosi menjelaskan mengenai tujuan Gema Cermat, yaitu meningkatkan penggunaan obat yang rasional (POR), meningkatkan pemahaman masyarakat tentang POR, meningkatkan kemandirian dan perubahan perilaku masyarakat tentang POR. Gema Cermat sendiri telah diatur melalui regulasi SK Menteri Kesehatan RI HK.02.02/MENKES/427/017 sehingga pelaksanaannya memang akan dikawal.

Ada Apa dengan Antibiotik?

gema cermat

Masuk kemateri keempat yang dibawakan oleh apoteker idola saya Ibu Mariyatul Qibtiyah, S.Si, Sp.FRS., Apt. atau yang akrab disapa Bu Qibti. Beliau mewakili Komite Resistensi Pengendalian Antimikroba Kemenkes RI. Bu Qipti memaparkan dengan sangat jelas mengenai apa itu antibiotik, sakit apa saja yang membutuhkan antibiotik, sakit mana yang tidak. Buat teman-teman yang belum tahu, saya akan tuliskan sedikit di sini.

Antibiotik adalah obat untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi. Antibiotik tidak dapat mematikan virus atau jamur. Sementara infeksi sendiri dapat disebabkan oleh jamur, bakteri, virus dan parasit. Oleh karena itu, tidak semua infeksi (yang salah satu tandanya adalah demam) disebabkan oleh bakteri, dan membutuhkan antibiotik.

Bakteri Resisten

Menurut WHO, 2015, bakteri resisten adalah bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik yang pada awalnya efektif untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri tersebut.

Bakteri aslinya adalah kawan lho, karena di dalam tubuh kita terdapat bakteri baik atau flora normal. Bakteri menjadi lawan, ketika jumlahnya melebihi yang seharusnya, atau ketika bakteri jahat yang masuk ke tubuh kita. Sayangnya, antibiotik bila digunakan secara tidak tepat, maka ia dapat mematikan bakteri baik, hiks. Oleh karena itu, penggunaan antibiotik harus tepat dan cermat, baik dari segi indikasi, dosis, durasi, dan sebagainya.


Terjadinya resistensi bakteri  dapat berakibat sangat fatal. Bakteri-bakteri tersebut akan kebal, dan semakin susah untuk dimatikan. Akibatnya, biaya pengobatan dapat membengkak, dan yang paling mengerikan, terjadi kematian karena bakteri tidak dapat dikalahkan oleh antibiotik yang paling hebat sekalipun. Inilah efek dari resistensi bakteri, bakteri dapat menjadi superbugs.

Baca juga Bijak Gunakan Antibiotik, Cegah Resistensi

Cara mengatasi Bakteri Resisten

resistensi bakteri

Saya ingin membahas sedikit mengenai bijak menggunakan antibiotik. Prinsip peratama adalah perlu diingat bahwa antibiotik hanya untuk infeksi bakteri. Lalu prinsip untuk masyarakat ada tiga, yaitu 3T:

  1. Tidak membeli antibiotik sendiri (tanpa resep)

Bila teman-teman dapat membeli antibiotik tanpa resep, maka sebaiknya laporkan ke badan terkait, seperti ke Dinkes setempat, tentunya disertai bukti ya.

  1. Tidak menyimpan antibiotik

Jika antibiotik tidak habis digunakan (misal karena ternyata alergi atau terjadi efek samping), maka buanglah antibiotik sesuai dengan cara membuang obat di sini. Tidak perlu menyimpan antibiotik, apalagi jika karena sayang sudah dibeli:D

  1. Tidak memberi antibiotik sisa pada orang lain.

Nomor 2 terkait dengan T yang ke-3 ini, jangan sampai antibiotik sisa di rumah teman-teman, justru diberikan ke orang lain. Selain karena antibiotik tidak boleh didapatkan tanpa resep dokter, alasannya juga karena bisa jadi tidak tepat indikasi, tidak tepat aturan pemakaian obat (dosis, durasi, interval, dll), bahkan mungkin ada kontraindikasi antibiotik yang Anda punya terhadap orang lain. Ingat bahwa kondisi tiap orang itu berbeda-beda, dengan begitu jangan bahayakan orang lain meskipun dengan niat membantu.

Temu Blogger Kesehatan

Wah lumayan banyak juga ya ternyata yang perlu diketahui terkait Germas dan Gema Cermat. Semoga apa yang saya tulis bermanfaat ya:)

(Visited 43 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

12 Comments

  • Nelly November 30, 2017 Reply

    Hai Mbak Ismyama,
    Salam kenal, Saya Nelly dari Direktorat Pelayanan Kefarmasian Kemenkes, PJ Teknis program GeMa CerMat.
    Keren sekali tulisannya, Mbak.
    Sy mohon izin share di media sosial GeMa CerMat Kemenkes yaa..
    Dan kalo Mbak tertarik Dan punta tulisan bagus terkait Farmasi Dan Kesehatan untuk dimuat di bulletin atau Majalah terbitan Kemenkes, silakan email ke: gemacermat@kemenkes.go.id

    Terima Kasih.

    • dian.ismyama December 1, 2017 Reply

      Halo Mbak Nelly, salam kenal. Wah dengan senang hati Mbak, boleh banget di share. Saya ada sih beberapa tulisan terkait obat dan kesehatan. Insyaallah saya editing sedikit ya baru saya kirim ke email tersebut. Semoga bermanfaat:)

  • April Hamsa December 2, 2017 Reply

    Bagus ya kemenkes dan dinkes gandeng blogger utk kampanye soal germas.
    BTW Mbak Dian, saya penasaran, kalau membuang obat seharusnya bgmn ya? APa perlu dihancurkan dulu yg bentuknya pil/ kapsul gtu?

  • Putu Sukartini December 4, 2017 Reply

    Lengkap banget infonya mbak
    Saya jadi belajar banyak deh
    Suka sekali sama program GERMAS ini, bukan sekedar ajakan hidup sehat dengan teori-teori tapi langsung turun ke masayarakat untuk mempraktikkan tata cara hidup sehat

    • dian.ismyama December 5, 2017 Reply

      iya mbak, pemerintah bnr2 concern soal pencegahan

  • rani yulianty December 4, 2017 Reply

    Masalah kesehatan memang harus diingatkan terus yah, soalnya niat untuk pola hidup sehat sudah adatapi suka kesandung males

  • Cerita Bunda December 4, 2017 Reply

    Makasih banget artikelnya lengkap dan memang kita sering lupa menjaga kesehatan untuk GERMAS selalu mengingatkan kita untuk mengecek kesehatan secara teratur

  • Katerina December 4, 2017 Reply

    Beraktivitas fisik minimal 30 menit per hari itu sebenarnya nggak sulit ya. Tapi malasnya itu kadang kebangetan 😂

    • dian.ismyama December 5, 2017 Reply

      Bener mbak, kita lebih memilih buat sejam buka hp=)

Leave a Reply

error: Content is protected !!