FF# Tentang Kita- Mungkin Bib benar

facebooktwittergoogle_plusredditmail

Mungkin Bib benar, isi dua kepala pasti berbeda dan tak mungkin bisa disatukan. Tentu saja Bib benar, tiap individu pasti memiliki impian murninya sendiri dan idealisme versi masing-masing kacamata.

“Aku cuma ingin bicara empat mata denganmu, tak bisakah?”

“Tunggu sampai Aika tidur.” Matamu kau belalakkan tanpa kau sadari.

“Kamu pasti tertidur duluan bahkan sebelum putri kita, hufft.” Dengusku kesal.

Lalu aku pergi meninggalkanmu. Hal terakhir yang kulihat tentu saja tawa riang Aika sembari mengoceh tentang gambar di hadapannya, dan kau menimpalinya dengan segenap hatimu. Ya, segenap hatimu, seluruhnya kau berikan untuknya. Tak tersisa untukku. Rasanya sungguh janggal menyadari bila aku cemburu pada anakku sendiri. Ah, pasti aku cukup gila hingga kehilangan akal sehat.

Bib, besok kita makan siang ya?

Tumben banget, lo mau traktir gue?

Haha, bisa aja … Boleh deh.

Asyik …. Thanks ya bidadariku.

Ah, gombal! Barter sama curhatan gue ya. Wkkkkka

Waduh, siap-siap panas deh kuping gue.

C.u tomorrow.

Tiba-tiba saja rasa kesalku hilang, berganti rasa yang tak dapat kudefinisikan namanya. Setidaknya aku bisa tidur nyenyak malam ini, setelah berkomunikasi dengannya, Bib. Mungkin Bib benar, sesungguhnya hubungan paling romantis itu justru saling menyayangi tanpa komitmen. Menyadari bahwa satu sama lain selalu ada untuk mendengarkan keluh kesah, dan tak tenang bila kehilangan kabar pasangannya. Ah, senyumnya, Bib, masih saja terpeta di mataku. Bahkan kelakarnya, masih saja terngiang di gendang telingaku.

Aika sudah terpejam, kamu menghampiriku. Merebahkan punggungmu ke kasur, lalu menarik selimut, dan memunggungiku. Kalaupun bercengkerama, segala yang kami bicarakan pun tak lepas dari Aika seorang, bukan lagi tentang kami berdua. Selalu begini, hampir tiap kali begini, semenjak aku berniat mengambil kuliah master di negeri orang.

“Aku sudah diterima di Canberra University, sudah bukan waktunya membahas kau setuju atau tidak. Tapi bagaimana mempersiapkan kepergianku dan Aika.” Suara kulirihkan, berbisik sembari melingkarkan tanganku di pinggangmu.

Kamu diam saja. Aku tahu kamu belum terpejam, hanya saja tak mau lagi membahasnya, kan?

Malam itu kami lewati seperti malam-malam lainnya, dingin, hambar, tanpa rayu mesra. Mungkin itu juga yang Bib rasakan. Sayup angin dari jendela yang masih terbuka membelai rambutku. Kudukku merinding, aku terperanjat ketika tidak melihat suamiku di kasur. Lamat-lamat kudengar suara dari arah dapur. Telinga kubuka lebar-lebar, kaki kulangkahkan berjinjit.

“Yun … Ada apa malam-malam telepon? Bukankah riskan sekali kalau suamimu terbangun?”

Sedikit jeda.

“Maksudmu? Bib sudah tahu tentang kita? Bagaimana bisa?”

Gerakan suamiku mulai tak beraturan. Langkah yang maju-mundur, tangan kiri yang mengusap-usap leher belakang, bahkan sesekali mengetuk-ngetuk jemari ke meja.

“Tenangkan dirimu, Yun … Sudah, jangan menangis! Toh, dia nggak menalakmu, kan?”

Kali ini aku yang mulai berkeringat dingin. Teringat jari-jari Bib yang menyelinap masuk ke jemariku. Masih lekat  aroma black tea dan cedar wood dari tubuhnya yang basah. Berkelebat masa kala tangis pecah di bahu Bib, dan dia mengelus rambutku. Air mataku kini tumpah ruah, bagaimana mungkin karma itu benar-benar ada?

“Maksudmu, Yun? Istriku berselingkuh dengan Bib?!”

Petir itu menyambar dadaku juga. Mungkin Bib benar, yang indah justru hubungan sembunyi-sembunyi, dan berjarak karena saling merindukan.

*488 kata

Flashfiction ini diikutsertakan dalam Tantangan Menulis FlashFiction – Tentang Kita Blog Tour”

 

 

 

 

(Visited 29 times, 1 visits today)
facebooktwittergoogle_plusredditmail

3 Comments

  • diba April 16, 2015 Reply

    Maak..mantap banget ni ceritanya..

  • dian farida April 19, 2015 Reply

    makasih Bang

  • dian farida April 19, 2015 Reply

    iya benar Mas

Leave a Reply